AL-QUR’AN

MENGAGUNGKAN AL-QUR’AN

(M. Minanurrohman Bin A. Sayyidi)

Firqoh Ulya II PP. Fadllul Wahid

Pada dasarnya semua bentuk ibadah itu ditujukan hanya untuk mengagungkan Allah SWT, tidak terkecuali ibadah yang hubungannya dengan al-Qur’an, baik saat membacanya, menghapalkannya, merenungkan maknanya, atau menulisnya. Seseorang yang membaca atau memahami kandungan makna al-Qur’an secara tidak langsung sedang  bermunajat kepada Allah SWT; karena semua surat, ayat bahkan huruf yang ada dalam al-Qur’an hakikatnya adalah murni dari firman-Nya. Al Qur’an juga merupakan bukti terbesar dari kenabian Rasulullah Muhammad SAW, yang hingga saat ini bahkan untuk selamanya akan terjaga keagungan dan keotentikannya. Maka sudah sepantasnya seseorang yang sedang berinteraksi dengan al-Qur’an harus memakai tata-krama dan mentaati semua peraturan yang telah ditetapkan oleh para Ulama’ dalam rangka memuliakannya. Dan di bawah ini telah kami rangkum beberapa hukum yang berkaitan dengan al-Qur’an, berikut pengertiannya:

Pengertian Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhamad SAW sebagai mukjizat yang hanya dengan satu surat saja mampu untuk menundukkan musuh-musuhnya, dan dengan hanya membacanya seseorang telah dianggap melakukan ibadah, meskipun tidak faham maknanya.

Membaca Al-Qur’an Binnadhor (Melihat Tulisan) Didalam Sholat

Rasulullah SAW bersabda:

” أفضل عبادة أمتي تلاوة القرآن “

artinya: “Ibadah umatku yang paling utama adalah  membaca Al-Qur’an”.

Mungkin berawal dari hadits ini semua umat islam berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan terbanyak dalam membaca al-Qur’an, apalagi ketika memasuki Bulan Ramadhan, hampir semua umat islam dimanapun tempatnya berama-ramai menghidupkan hari-hari puasa dengan membaca al-Qur’an. Pagi, sore, siang, malam, gelap, terang, di Masjid, di Mushola, di rumah, di pasar, di TV, dan tidak perduli dimanapun tempatnya semua orang bersemangat melantunkannya. Namun ada satu fenomena yang terkadang masih janggal di mata kalayak umum, bahkan acapkali menjadi pertanyaan yang berulang-ulang ketika Ramadan tiba, yakni membaca al-Qur’an Binnadhor (Melihat tulisannya) pada saat sholat tarawih. Maksudnya membawa al-Qur’an ditangan untuk dibaca dalam keadaan sholat tarawih setelah membaca Surat al-Fatihah. Lalu seperti apahukum yang sebenarnaya?

Hukum membaca Al-Qur’an Binnadhor dalam sholat terjadi perbedaan pendapat diantara para Ulama’:

  1. Menurut Madzhab Syafi’i: diperbolehkan dan tidak sampai membatalkan sholat.
  2. Menurut Madzhab Hanafi: tidak diperbolehkan dan juga membatalkan sholat; karena membawa, membaca, dan membolak balik kertas al-Qur’an dianggap gerakan yang banyak.
  3. Menurut Madzhab Maliki: hukumnya makruh, baik dalam sholat fardlu atau sunah, hanya saja ketika dalam sholat sunah kemakruhannya hanyalah saat membaca di tengah-tengah sholat, bukan di awalnya.
  4. Menurut Madzhab Imam Ahmad bin Hambal: hukumnya makruh secara mutlak ketika dilakukan dalam sholat fardhu. Namun beliau memperbolehkan membacanya dalam sholat Tarawih bagi yang tidak Hafidz al-Qur’an, sedangkan bagi yang Hafidz hukumnya adalah makruh.

Kemudian untuk membaca al-Qur’an Binnadhor di luar sholat tidaklah menjadi perdebatan; karenasemua Ulama’ bersepakat atas keutamannya. Hanya saja mereka berbeda pendapat apakah yang lebih utama adalah membaca Binnadhor (dengan melihat tulisan) atau membaca dengan hafalan?

Sebagian ulamamengatakan lebih utama membaca Binnadhor; karena melihat tulisan al-Qur’an terhitung ibadah tersendiri, namun menurut Imam an-Nawawi jika dengan menghafal seeorang menjadi lebih khusyuk, maka denganhafalan lebih utama.

Membaca Al-Qur’an Bagi Seorang Yang Hadats

Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ { كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقْرِئُنَا الْقُرْآنَ مَا لَمْ يَكُنْ جُنُبًا

Artinya:  Dari Ali Ra berkata: “Rosulullah membacakan al-Qur’an kepadaku  selama beliau tidak dalam keadaan junub”.

Dari hadits ini para Ulama’ mencetuskan hukum bahwa orang yang hendak membaca al Qur’an harus terlepas dari hadats besar, sekalipun ia bisu. Artinya si bisu yang junub tidak boleh mengisyaratkan bahasa al-Qur’an. Hal ini tiada lain tujuannya adalah untuk menjaga keutamaan dan keagungan Allah SWT. Sedangkan bagi yang sedang hadats kecil baginya tetap boleh untuk membaca al-Qur’an.

Kemudian larangan membaca al-Qur’an bagi orang yang hadats besar tersebut, sekira menetapi beberapa keriteria berikut ini:

  1. Olehnya membaca al Qur’an terdengar dirinya sendiri.
  2. Olehnya membaca, diniatkan untuk membaca bacaanAl-Qur’an. Sehingga jika olehnya membaca ditujukanuntuk berdzikir atau berdo’a atau mencari keberkahan atau menghafal, atau dimutlakkan (tidak bertujuan apapun), maka hukumnya tidak haram.
  3. Tidak dalam keadaan darurat. Sehingga bagi Faqidut Thohuroin (seseorang yang tidak memungkinkan bersuci dengan air dan debu) boleh membaca Surat al-Fatihah di dalam sholatnya.

Perhatian: Menurut Madzhab Qodimnya Imam Syafi’i dan Madzhab Malik, perempuan diperbolehkan membaca al-Qur’an dalam keadaan haidl.

Membaca Al-Qur’an Dengan Selain Huruf Arab

Seseorang tidak boleh membaca al-Qur’an yang ditulis menggunakan Bahasa selain Arab, seperti latin, Hindi, dan Persia, entah ia bisa baca tulis Arab atau tidak. Hal ini karena terdapat Firman Allah SWT:

“إنا أنزلناه قرآنا عربيا”

Sesungguhnya Aku (Allah) telah menurunkan kepada Muhammad Qur’an yang berbahasa Arab”.

Namun ada riwayat yang mengatakan bahwa Imam Abi Hanifah dahulu pernah memperbolehkan membaca al-Qur’an yang ditulis dengan Bahasa Persia secara mutlak, begitu juga dengan Imam Abu Yusuf yang memperbolehkan membacanya jika memang tidak bisa membaca tulisan Arab, namun belakangan diketahui bahwa Imam abu Hanifah telah menarik pernyataannya tersebut.

Mushaf Utsmani

Allah SWT dengan keagungannya berfirman dalam al-Qur’an:

إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون

Sungguh Aku (Allah) telah menurunkan al Qur’an dan sungguh aku akan menjaganya”.

Ayat ini menegaskan bahwa al Qur’an adalah Kitab yang pasti terjaga keotentikannya; karena Allah sendiri yang menyatakan akan menjaganya. Keotentikan al-Qur’an ini terbukti dengan adanya Umat Islam dari generasi ke generasi yang senantiasa menjaganya dari perubahan dan penyelewengan dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang mereka miliki, dan pastinya dengan cara penjagaan yang berbeda-beda pula. Di zaman Kenabian, para sahabat menjaganya dengan hafalan dan tulisan. Ada yang hapal sebagiannya dan tidak sedikit pula yang hafal keseluruhannya. Namun untuk penulisan al-Qur’an di Masa Kenabian ini belum rapi serapi zaman sekarang; karena keterbatasan alat dan materi tulis-menulis pada saat itu, sehingga para sahabat hanya menulisnya dengan alat-alat seadanya. Ada yang menulis di kulit pohon kurma, ada yang menulis di tulang belulang, dan adajuga yang menulis di bebatuan khusus.

Kemudian di zaman Khalifah Abu Bakar Sidik, terjadi peperangan besar antara kaum muslimin dan kaum musyrikin yang mengakibatkan gugurnya para Qurro’ (Penghafal Qur’an) di medan perang. Hingga akhirnya sahabat Umar Ra mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan al-Qur’an yang ada di tangan para sahabat; agar keutuhan al-Qur’an tetap terjaga. Sempat melalui perdebatan yang sengit antara keduanya, namun ahirnya Khalifah Abu Bakar menerima saran Sahabat Umar Ra, lalu memerintahkan beberapa sahabat yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan dari tangan para sahabat-sahabat yang lain. Dan setelah al-Qur’an terkumpul, kemudian Khalifah Abu Bakar menaruhnya di rumah Sayyidah Hafshah.

Berlanjut pada masa kepimpinan Utsman bin Affan RA. Masa di mana Agama Islam sudah tersebar di berbagai belahan dunia dan banyaknya sahabat  Nabi yang telah berhijrah ke beberapa negara taklukan islam, setelah sebelumnya, di masa kehalifahan Umar bin Khottob keinginan untuk berhijrah tersebut hampir tidak pernah digaungkan. Namun dibalik kejayaan agama islam di masa ini, terdapat permasalahan yang pelik di antara umat islam terkait dengan bacaan al-Qur’an yang sahih; karena setiap dari sahabat yang berhijrah mempunyai pemahaman tentang bacaan al Qur’an yang berbeda-beda. Sehingga Khalifah Utsman bin Affan merasa perlu untuk menyatukan kepahaman mereka  agar tidak terjadi pertumpahan darah akibat fenomena tersebut. Ahirnya dengan persetujuan para Sahabat termasuknya yaitu Ali bin Abi Thalib. Khalifah Utsman mengumpulkan al-Qur’an dalam satu Mushaf yang saat ini dikenal dengan Mushaf  Utsmani. Lalu beliau memerintahkan untuk menyebarkannya ke berbagai daerah Islam dan membakar semua Mushaf selain Mushaf Utsmani.

Dari kejadian tersebut para Ulama’ menetapkan hukum wajib untuk mengikuti dan memakai Mushaf yang penulisannya sesuai dengan Mushaf Utsmani, karena dibalik tersusunnya penulisan Mushaf Utsmani tersebut terdapat Ijma’ dari para Sahabat Nabi SAW.

Menulis Al Qur’an Dengan Selain Huruf Arab

Ulama’ berbeda pendapat dalam menyikapi permasalahan boleh dan tidaknya menulis al-Qur’an menggunakan huruf selain Arab:

  1. Sebagian Ulama’ termasuk As Syihab ar Romli mengatakan boleh; karena tulisan Ajam (selain Arab) yang dipakai dapat menunjukkan bunyi Bahasa al-Qur’an yang diharapkan, tanpa merubah kalimatnya dan esensi dari kandungan maknanya.
  2. Sebagian Ulama’ yang lain termasuk Ibnu Hajar mengatakan tidak boleh, karena ada sebagian bilangan huruf Arab yang tidak ditemukan dalam huruf latin, akibatnya jika al Qur’an ditulis dengan menggunakan huruf latin, maka akan berdampak merubah dan merusak tatanan kalimat yang ada dalam al Qur’an. Sedangkan adanya riwayat yang menyebutkan bahwa sahabat Salman al Farisi pernah menuliskan Surat al-Fatihah dengan bahasa Persia untuk penduduknya, itu bukan murni Surat al-Fatihah yang beliau tulis, melainkan Tafsir dari Surat al-Fatihah lah yang beliau tulis.

MenerjemahkanAl Qur’an Kedalam Bahasa Ajam

Menerjemahkan ayat al-Qur’an kedalam Bahasa Ajam hukum asalnya tidak diperbolehkan, karena dapat dipastikan penerjemahannya akan merubah kandungan dari makna al-Qur’an. Abul Husain bin al-Faris berkata dalam Fiqh al-Arobiyyah: “Tidak akan ada seorang pun yang mempu menerjemahkan al-Qur’an kedalam Bahasa Ajam seperti halnya kitab Injil yang diterjemahkan dari Bahasa Suryani kedalam Bahasa Etopia dan Persia, begitu juga kitab-kitab Allah yang lain yang berbahasa Arab. Hal ini karena kosa kata dalam Bahasa Ajam tidak seluas kosa kata dalam Bahasa Arab”. Namun ketika kita telaah lebih dalam, sebenarnya boleh menerjemahkan al-Qur’an kedalam bahasa Ajam, hanya saja penerjemahannya bukan murni menerjemahkan isi al-Qur’an, melainkan menerjemahkan tafsirnya. Maka tidak mengherankan jika di era sekarang, hampir semua orang di belahan Dunia ini telah menerjemahkan al-Qur’an kedalam Bahasa mereka masing-masing, berdasarkan diperbolehkannya menerjemahan tafsir al-Qur’an kedalam Bahasa Ajam tersebut.

Menyentuh Dan Membawa Al-Qur’an

Berawal dari Firman Allah SWT dalam Surat al-Waqi’ah Ayat 79 yang berbunyi:  لايمسه الاالمطهرون “Tidak ada yang menyentuhnya selain Hamba-hamba yang disucikan”, Para Ulama’ berbeda pendapat dalam menyikapi permasalahan boleh dan tidaknya seseorang yang berhadats menyentuh al-Qur’an. Hal ini lantaran mereka berbeda pendapat dalam menafsirkan kalimat Illal Mutthohharun. Sebagian dari mereka ada yang mengartikan Para Malaikat yang suci, sebagian lagi ada  mengartikan yang suci dari dosa, ada juga yang mengartikan yang suci dari jinabat dan hadats, dsb. Bagi Ulama’ yang mentafsirkan Illal Muthohharun dengan yang suci dari jinabat dan hadats, maka seorang yang sedang hadats tidak diperbolehkan menyentuh al-Qur’an, karena al-Qur’an hanya diperuntukkan bagi yang suci dari hadats saja. Mereka juga memperkuat pendapatnya dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abi Bakar:

أن فى الكتاب الذى كتبه رسول اللَّه -صلى اللَّه عليه وسلم- لعمرو بن حزم: (ألا يمس القرآن إلا طاهر)

“Sesungguhnya dalam surat yang ditulis Rasulullah SAW kepada Umar bin Hazm terdapat kalimat: “Janganlah menyentuh al-Qur’an kecuali orang yang suci”, hal ini terlepas dari adanya kaidah Ushul yang mengatakan “Hukum tidak bisa diambil dari dalil yang bersifat kalam khabar (berita)”.

Membawa Al-Qur’an Dalam Wadah Bagi Orang Yang Hadats

Sebelumnya telah disebutkan bahwa terdapat perbedaan pendapat terkait boleh tidaknya orang yang berhadats menyentuh al-Qur’an. Kemudian bagaimana hukumnya jika seseorang yang hadats membawa al-Qur’an dalam suatu wadah? Apakah hukumnya juga sama?

Madzhab Syafi’i mengatakan: membawa al-Qur’an dalam suatu wadah diperbolehkan jika dalam wadah tersebut juga terdapat barang yang lain, dan dalam membawanya tidak ditujukan untuk membawa al-Qur’an. Sehingga jika dalam wadahnya hanya berisi al-Qur’an saja, atau juga berisi barang lain namun diniatkan untuk membawa al-Qur’annya, maka hukum membawanya adalah haram. Dan perlu diketahui bahwa wadah yang dimaksud disini menurut Imam Nawawi adalah semua benda yang bisa dijadikan wadah baik pembuatannya dihususkan untuk wadah al-Qur’an atau tidak, lalu menurut Imam Al Halibi adalah segala bentuk wadah baik kecil atau besar, kemudian menurut Sebagian Ulama’ kursi juga dianggap sebagai wadah, hanya saja dibedakan besar dan kecilnya. Jika kursinya kecil, maka orang yang hadats  tidak  boleh menyentuh kursinya dari bagian manapun, dan jika kursinya besar, maka yang haram untuk disentuh hanyalah tempat yang sejajar dengan al-Qur’an saja.

Perhatian:

  • Terdapat beberapa situasi yang memperbolehkan seorang yang hadats menyentuh dan membawa al-Qur’an:
  • Dalam situasi darurat, seperti ketika melihat al-Qur’an hampir terbakar atau tercebur kedalam air dan tidak memungkinkan untuk bersuci terlebih dahulu.
  • Ketika al-Qur’an ditulis bersama dengan tafsirnya dan prosentase jumlah tafsirnya lebih banyak dari al-Qur’an.
  • Terdapat berbedaan Ulama’ terkait kaset yang berisikan bacaan Surat-Surat al Qur’an, apakah hukumnya sama dengan al-Qur’an atau tidak? Sebagian Ulama’ kontemporer mengatakan: hukumnya sama seperti al-Qur’an, karena kaset tersebut didalamnya berisikan komponen yang bertuliskan al-Qur’an. Dan sebagian Ulama’ yang lain mengatakan tidak dihukumi seperti al-Qur’an, layaknya wanita yang dilihat dibalik kaca, karena yang dilihatnya bukanlah hakikat dari wanita tersebut. Sedangkan untuk aplikasi al-Qur’an dalam HP, menurut Sayyid Prof. Abdullah Muhamad Baharun (Rektor Universitas al Ahgaff Yaman): jika aplikasinya dibuka maka hukumnya sama dengan al-Qur’an, jika tidak maka tidak.
  • Hukum menyentuh dan membawa al-Qur’an yang ditulis menggunakan huruf Ajam (selan Arab) hukumnya sama dengan menyentuh dan membawa al-Qur’an yang bertuliskan Arab, sedangkan membawa dan menyentuh al-Qur’an terjemahan itu hukumnya sama dengan membawa kitabTafsir. Artinya bagi yang sedang hadats diperbolehkan menyentuh dan membawanya.

Cara Merawat Al Qur’an Yang Sudah Usang

Ulama’ berbeda pendapat dalam tata-cara merawat al-Qur’an yang sudah usang dan tidak layak baca, sebagai berikut:

  1. Menurut Madzhab Hanafi: Tidak boleh dibakar, melainkan hendaknya dibungkus kain yang suci, lalu dikubur di tempat yang tidak dipandang hina dan tidak dilalui oleh manusia, dan juga dalam menguburnya harus ditutupi, supaya tidak terkena debu.
  2. Menurut Madzhab Ahmad bin Hambal: al-Qur’an sudah tidak layak baca boleh untuk dibakar.
  3. Menurut Madzhab Malik: Diperbolehkan membakarnya, bahkan wajib ketika bertujuan menjaganya dan khawatir akan terinjak-injak.
  4. Menurut Imam Nawawi: Membakarnya hukumnya makruh.

Perhatian: Al-Qur’an yang masih layak baca tidak boleh dibakar, bahkan ketika dibakar dengan tujuan menghina, maka yang membakar dianggap kafir.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman bin Kamal AssuyutiIlmuttafsir

Muhammad bin Ahmad Al QurthubiAljami Alahkam

Al GhazaliIhya’ Ulumuddin

Alawi bin Abbas Almaliki Ibanatul Ahkam

Muhammad bin Abdillah Azzarkasi Alburhan fiulumilquran

Abdurrahman bin Kamal AssuyutiAl Itqon fi ulumilqur’an

Muhammad Zakariyya bin Syarof AnnawawiAttibyan

Abu bakar Utsman bin Muhammad Syatho Addimyathi Ianatuttholibin

Muhammad Zakariyya bin Syarof Annawawi Almajmu Syarh Almuhaddzab

Sulaiman Aljamal Hasiyah Aljamal

AssyarqowiHasiyah Assyarqowi

Fatawi al Azhar

Syihabuddin AlqulyubiHasiyah Al Qulyubi

Musa Al HijawiIqna’ Hamish Bujairami alalkhatib

Syihabuddin Arromli Nihayatul Muhtaj

Sulaiman bin Muhammad Albujairami Hasiyah bujairami alalkhatib

Muhammad bin Ahmad Assyathiri Syarh Al Yaqut

Abdul Wahab Assya’roni Mizan Kubro

Mausuah Fiqhiyyah Kuwait

1  Abdurrahman bin Kamal Assuyuti Ilmuttafsir 7

علم التفسير (7)

(القران) حده الكلام – الى ان قال – وزاد بعض المتأخرين في الحد المتعبد بتلاوته

2  Al Ghazali Ihya’ Ulumuddin 283/1

إحياء علوم الدين (1/ 283، بترقيم الشاملة آليا)

 وقال صلى الله عليه وسلم ” أفضل عبادة أمتي تلاوة القرآن “

3Muhammad bin Abdillah Azzarkasi Alburhan fiulumilquran 461/1

Mausuah Fiqhiyyah Kuwait 11/38

البرهان في علوم القرآن – (ج 1 / ص 463)

واختاره النووي في الأذكار إن كان القارئ من حفظه يحصل له من التدبر والتفكر وجمع القلب أكثر مما يحصل له من المصحف فالقراءة من الحفظ أفضل وإن استويا فمن المصحف أفضل قال وهو مراد السلف

الموسوعة الفقهية الكويتية (38/ 11)

الْقِرَاءَةُ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي الصَّلاَةِ وَغَيْرِهَا

15 – ذَهَبَ أَبُو حَنِيفَةَ إِلَى أَنَّهُ لَيْسَ لِلْمُصَلِّي أَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ ، فَإِنْ قَرَأَ بِالنَّظَرِ فِي الْمُصْحَفِ فَسَدَتْ صَلاَتُهُ مُطْلَقًا ، أَيْ قَلِيلاً كَانَ مَا قَرَأَهُ أَوْ كَثِيرًا ، إِِمَامًا كَانَ أَوْ مُنْفَرِدًا ، وَكَذَا لَوْ كَانَ مِمَّنْ لاَ يُمْكِنُهُ الْقِرَاءَةُ إِلاَّ مِنْهُ لِكَوْنِهِ غَيْرَ حَافِظٍ .وَقَدِ اخْتَلَفَ الْحَنَفِيَّةُ فِي تَعْلِيل قَوْلِهِ ، فَقِيل : لأِنَّ حَمْل الْمُصْحَفِ وَالنَّظَرَ فِيهِ وَتَقْلِيبَ الأْوْرَاقِ عَمَلٌ كَثِيرٌ ، وَقِيل : لأِنَّهُ تَلَقَّنَ مِنَ الْمُصْحَفِ ، فَصَارَ كَمَا إِذَا تَلَقَّنَ مِنْ غَيْرِهِ ، وَصَحَّحَ هَذَا الْوَجْهَ فِي الْكَافِي تَبَعًا لِتَصْحِيحِ السَّرَخْسِيِّ ، وَعَلَيْهِ فَلَوْ لَمْ يَكُنْ قَادِرًا عَلَى الْقِرَاءَةِ إِلاَّ مِنَ الْمُصْحَفِ فَصَلَّى بِلاَ قِرَاءَةٍ فَإِنَّهَا تُجْزِئُهُ .وَذَهَبَ الصَّاحِبَانِ إِلَى تَجْوِيزِ الْقِرَاءَةِلِلْمُصَلِّي مِنَ الْمُصْحَفِ مَعَ الْكَرَاهَةِ لِمَا فِي ذَلِكَ مِنَ التَّشَبُّهِ بِأَهْل الْكِتَابِ (1) .

وَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ يُكْرَهُ لِلْمُصَلِّي الْقِرَاءَةُ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي فَرْضٍ أَوْ نَفْلٍ لِكَثْرَةِ الشَّغْل بِذَلِكَ ، لَكِنَّ كَرَاهَتَهُ عِنْدَهُمْ فِي النَّفْل إِنْ قَرَأَ فِي أَثْنَائِهِ ، وَلاَ يُكْرَهُ إِِنْ قَرَأَ فِي أَوَّلِهِ ، لأَِنَّهُ يُغْتَفَرُ فِي النَّفْل مَا لاَ يُغْتَفَرُ فِي الْفَرْضِ (2) ، قَال ابْنُ قُدَامَةَ : وَرُوِيَتِ الْكَرَاهِيَةُ فِي ذَلِكَ عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ وَالْحَسَنِ وَمُجَاهِدٍ وَالرَّبِيعِ .

وَأَجَازَ الْحَنَابِلَةُ الْقِرَاءَةَ فِي الْمُصْحَفِ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ إِنْ لَمْ يَكُنْ حَافِظًا ، لِمَا وَرَدَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فِي مَوْلًى لَهَا اسْمُهُ ذَكْوَانُ كَانَ يَؤُمُّهَا مِنَ الْمُصْحَفِ (3) ، وَيُكْرَهُ فِي الْفَرْضِ عَلَى الإْطْلاَقِ ، لأِنَّ الْعَادَةَ أَنَّهُ لاَ يُحْتَاجُ إِلَيْهِ فِيهِ ، وَيُكْرَهُ لِلْحَافِظِ حَتَّى فِي قِيَامِ رَمَضَانَ ، لأِنَّهُ يُشْغَل عَنِ الْخُشُوعِ وَعَنِ النَّظَرِ إِلَى مَوْضِعِ السُّجُودِ (4) .

وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّ الْمُصَلِّيَ لَوْ قَرَأَ فِي مُصْحَفٍ وَلَوْ قَلَّبَ أَوْرَاقَهُ أَحْيَانًا لَمْ تَبْطُل صَلاَتُهُ ، لأِنَّ ذَلِكَ يَسِيرٌ أَوْ غَيْرُ مُتَوَالٍ لاَ يُشْعِرُ بِالإْعْرَاضِ (5)

أَمَّا فِي غَيْرِ الصَّلاَةِ فَإِنَّ الْقِرَاءَةَ مِنَ الْمُصْحَفِ مُسْتَحَبَّةٌ لاِشْتِغَال الْبَصَرِ بِالْعِبَادَةِ ، وَقَدْ ذَهَبَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ إِلَى تَفْضِيل الْقِرَاءَةِ مِنَ الْمُصْحَفِ عَلَى الْقِرَاءَةِ عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ ، لأِنَّهُ يَجْمَعُ مَعَ الْقِرَاءَةِ النَّظَرَ فِي الْمُصْحَفِ ، وَهُوَ عِبَادَةٌ أُخْرَى ، لَكِنْ قَال النَّوَوِيُّ : إِنْ زَادَ خُشُوعُهُ وَحُضُورُ قَلْبِهِ فِي الْقِرَاءَةِ عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ فَهُوَ أَفَضْل فِي حَقِّهِ (1

4 Alawi bin Abbas Almaliki Ibanatul Ahkam179/1

ابانة الاحكام (1/179)

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ { كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقْرِئُنَا الْقُرْآنَ مَا لَمْ يَكُنْ جُنُبًا } رَوَاهُ احمد وصححه ابن حبان

5 Abu bakar Utsman bin Muhammad Syatho Addimyathi Ianatuttholibin 138/1

إعانة الطالبين (1/ 85

قوله: وقراءة قرآن) أي ويحرم قراءة قرآن.

وقوله: بقصده أي القرآن، أي وحده أو مع غيره.

وخرج بذلك ما إذا لم يقصده.

كما ذكر بأن قصد ذكره أو مواعظه أو قصصه أو التحفظ ولم يقصد معها القراءة لم يحرم.

وكذا إن أطلق، كأن جرى به لسانه بلا قصد شئ.

والحاصل أنه إن قصد القرآن وحده أو قصده مع غيره كالذكر ونحوه فتحرم فيهما.

وإن قصد الذكر وحده أو الدعاء أو التبرك أو التحفظ أو أطلق فلا تحرم، لانه عند وجود قرينة لا يكون قرآنا إلا بالقصد.

ولو بما لا يوجد نظمه في غير القرآن، كسورة الاخلاص.

واستثنى من حرمة القراءة قراءة الفاتحة على فاقد الطهورين في المكتوبة، وقراءة آية في خطبة جمعة، فإنها تجب عليه لضرورة توقف صحة الصلاة عليها.

وقوله: ولو بعض آية قال في بشرى الكريم ولو حرفا منه وحيث لم يقرأ منه جملة مفيدة يأثم على قصده المعصية وشروعه فيها لا لكونه قارئا اه.

6 Muhammad Zakariyya bin Syarof Annawawi Almajmu Syarh Almuhaddzab 356/2

المجموع شرح المهذب – (ج 2 / ص 356)

[ ويحرم قراءة القرآن لقوله صلى الله عليه وسلم: (لا يقرأ الجنب ولا الحائض شيئا من القرآن) ]

* [ الشرح ] هذا الحديث رواه الترمذي والبيهقي من رواية ابن عمر رضى الله عنهما وضعفه الترمذي والبيهقي وروى لا يقرأ بكسر الهمزة علي النهى وبفتحها على الخبر الذي يراد به النهى وقد سبق بيانه في آخر باب ما يوجب الغسل وهذا الذى ذكره من تحريم قراءة القرآن علي الحائض هو الصحيح المشهور وبه قطع العراقيون وجماعة من الخراسانيين وحكى الخراسانيون قولا قديما

للشافعي أنه يجوز لها قراءة القرآن وأصل هذا القول أن أبا ثور رحمه الله قال قال أبو عبد الله يجوز للحائض قراءة القرآن فاختلفوا في أبي عبد الله فقال بعض الاصحاب أراد به مالكا وليس للشافعي قول بالجواز واختاره امام الحرمين والغزالي في البسيط وقال جمهور الخراسانيين أراد به الشافعي وجعلوه قولا قديما قال الشيخ أبو محمد وجدث أبا ثور جمعهما في موضع فقال قال أبو عبد الله ومالك واحتج من أثبت قولا بالجواز اختلفوا في علته على وجهين أحدهما أنها تخاف النسيان لطول الزمان بخلاف الجنب والثاني أنها قد تكون معلمة فيؤدى إلى انقطاع حرفتها فان قلنا بالاول جاز لها قراءة ما شاءت إذ ليس لما يخاف نسيانه ضابط فعلى هذا هي كالطاهر في القراءة وان قلنا بالثاني لم يحل الا ما يتعلق بحاجة التعليم في زمان الحيض هكذا ذكر الوجهين وتفريعهما امام الحرمين وآخرون هذا حكم قراءتها باللسان فأما اجراء القراءة علي القلب من غير تحريك اللسان والنظر في المصحف وامرار ما فيه في القلب فجائز بلا خلاف وأجمع العلماء علي جواز التسبيح والتهليل وسائر الاذكار غير القرآن للحائض والنفساء وقد تقدم ايضاح هذا مع جمل من الفروع المتعلقة به في باب ما يوجب الغسل والله أعلم

7  Sulaiman Aljamal Hasiyah Aljamal 252/1

حاشية الجمل (1/ 252)

( قَوْلُهُ : كَلَوْحٍ ) فِيهِ إشَارَةٌ إلَى اعْتِبَارِ مَا يُعَدُّ لِلْكِتَابَةِ عُرْفًا لَا نَحْوِ عَمُودٍ مَثَلًا فَإِنَّهُ لَا يَحْرُمُ إلَّا مَسُّ الْأَحْرُفِ وَحَرِيمِهَا وَلَوْ مُحِيَتْ أَحْرُفُ الْقُرْآنِ مِنْ اللَّوْحِ ، أَوْ الْوَرَقِ بِحَيْثُ لَا تُقْرَأُ لَمْ يَحْرُمْ مَسُّهُمَا وَلَا حَمْلُهُمَا ؛ لِأَنَّ شَأْنَهُ انْقِطَاعُ النِّسْبَةِ عُرْفًا وَبِذَلِكَ فَارَقَ الْجِلْدَ ا هـ بِرْمَاوِيٌّ .

( فَائِدَةٌ ) سُئِلَ الشِّهَابُ الرَّمْلِيُّ هَلْ تَحْرُمُ كِتَابَةُ الْقُرْآنِ الْعَزِيزِ بِالْقَلَمِ الْهِنْدِيِّ ، أَوْ غَيْرِهِ فَأَجَابَ بِأَنَّهُ لَا يَحْرُمُ لِأَنَّهَا دَالَّةٌ عَلَى لَفْظِهِ الْعَزِيزِ وَلَيْسَ فِيهَا تَغْيِيرٌ لَهُ بِخِلَافِ تَرْجَمَتِهِ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ لِأَنَّ فِيهَاتَغْيِيرًا

وَعِبَارَةُ الْإِتْقَانِ لِلسُّيُوطِيِّ هَلْ يَحْرُمُ كِتَابَتُهُ بِقَلَمٍ غَيْرِ الْعَرَبِيِّ قَالَ الزَّرْكَشِيُّ لَمْ أَرَ فِيهِ كَلَامًا لِأَحَدٍ مِنْ الْعُلَمَاءِ وَيَحْتَمِلُ الْجَوَازَ ؛ لِأَنَّهُ قَدْ يُحْسِنُهُ مَنْ يَقْرَؤُهُ ، وَالْأَقْرَبُ الْمَنْعُ انْتَهَتْ ، وَالْمُعْتَمَدُ الْأَوَّلُ ا هـ بِرْمَاوِيٌّ .

وَعِبَارَةُ ق ل عَلَى الْمَحَلِّيِّ وَتَجُوزُ كِتَابَتُهُ لَا قِرَاءَتُهُ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ وَلِلْمَكْتُوبِ حُكْمُ الْمُصْحَفِ فِي الْحَمْلِ ، وَالْمَسِّ انْتَهَتْ

8  Muhammad Zakariyya bin Syarof Annawawi, Attibyan 185/1

التبيان في آداب حملة القرآن – (ج 1 / ص 185)

اعلم أن القرآن العزيز كان مؤلفا في زمن النبي صلى الله عليه وسلم : على ما هو في المصاحف اليوم ولكن لم يكن مجموعا في مصحف بل كان محفوظا في صدور الرجال فكان طوائف من الصحابة يحفظونه كله وطوائف يحفظون أبعاضا منه فلما كان زمن أبي بكر الصديق رضي الله عنه وقتل كثير من حملةالقرآن خاف موتهم واختلاف من بعدهم فيه فاستشار الصحابة رضي الله عنهم في جمعه في مصحف فأشاروا بذلك فكتبه في مصحف وجعله في بيت حفصة أم المؤمنين رضي الله عنها فلما كان في زمن عثمان رضي الله عنه وانتشر الإسلام خاف عثمان وقوع الاختلاف المؤدي إلى ترك شئ من القرآن أو الزيادة فيه فنسخ من ذلك المجموع الذي عند حفصة الذي أجمعت الصحابة عليه مصاحف وبعث بها إلى البلدان وأمر بإتلاف ما خالفها وكان فعله هذا باتفاق منه ومن علي بن أبي طالب وسائر الصحابة وغيرهم رضي الله عنهم وإنما لم يجعله النبي صلى الله عليه وسلم : في مصحف واحد لما كان يتوقع من زيادته ونسخ بعض المتلو ولم يزل ذلك التوقع إلى وفاته صلى الله عليه وسلم : فلما أمن أبو بكر وسائر أصحابه ذلك التوقع واقتضت المصلحة جمعه فعلوه رضي الله عنهم واختلفوا في عدد المصاحف التي بعث بها عثمان فقال الإمام أبو عمرو الداني أكثر العلماء على أن عثمان كتب أربع نسخ 1 – فبعث إلى البصرة إحداهن 2 – وإلى الكوفة أخرى 3 – وإلى الشام أخرى 4 – وحبس عنده أخرى وقال أبو حاتم السجستاني كتب عثمان سبعة مصاحف* بعث واحدا إلى مكة * وآخر إلى الشام * وآخر إلى اليمن * وآخر إلى البحرين * وآخر إلى البصرة * وآخر إلى الكوفة * وحبس بالمدينة واحدا وهذا مختصر ما يتعلق بأول جمع المصحف وفيه أحاديث كثيرة في الصحيح وفي المصحف ثلاث لغات ضم الميم وكسرها وفتحها فالضم والكسر مشهورتان والفتح ذكرها أبو جعفر النحاس وغيره

9 Mausuah Fiqhiyyah Kuwait 12/38

الموسوعة الفقهية الكويتية (38/ 12)

اتِّبَاعُ رَسْمِ الْمُصْحَفِ الإمَامِ :

16 – ذَهَبَ جُمْهُورُ فُقَهَاءِ الأْمَّةِ إِلَى وُجُوبِ الاِقْتِدَاءِ فِي رَسْمِ الْمَصَاحِفِ بِرَسْمِ مُصْحَفِ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، لِكَوْنِهِ قَدْ أَجْمَعَ الصَّحَابَةُ عَلَيْهِ (2) .

10 Abdurrahman bin Kamal Assuyuti  Al Itqon fi ulumilqur’an 453/2

الإتقان في علوم القرآن – (ج 2 / ص 453)

فصلفي آداب كتابته:

 6193 – يستحب كتابة المصحف وتحسين كتابته وتبيينها وإيضاحها وتحقيق الخط دون مشقة وتعليقه فيكره وكذا كتابته في الشيء الصغير

11 Assyarqowi Hasiyah Assyarqowi 178/1

Ahmad bin Muhammad Almahamilin Allubab filfiqhissyafi’i

اللباب في الفقه الشافعي (ص: 55)

باب ما يُمنَع الجُنُب منه2

ويمتنع3 الجنب من ثمانية4 أشياء/5:

قراءة القرآن6، وكتابته7، ومسُّه8، والصلاة9، والسجود10، والطواف، والخطبة11، واللبث في المسجد، وله أن يعبُر فيه12.

  • الى ان قال –  7 هذا أحد الوجهين، والوجه الثاني – الأصح عندهم – جواز كتابة القرآن على ورق، أو أي شيء بين يديه بشرط أن لا يمس المكتوب ولا يحمله.

حاشية الشرقاوي (178/1)

قوله (للدراسة) اي للقرأن وخرج بذلك ما كتب فيه للتبرك كالتميمة – الى ان قال – ويجوز كتابة التميمة للكافر على المعتمد

12 Muhammad bin Abdillah Azzarkasi Alburhan fiulumilquran 464/1, Fatawi al Azhar 15/8, Abu bakr Utsman bin Muhammad Syatho Addimyathi Ianatuttholibin 135/1

البرهان في علوم القرآن – (ج 1 / ص 464)

مسألة: في حكم قراءة القرآن بالعجمية

لا تجوز قراءته بالعجمية سواء أحسن العربية أم لا في الصلاة وخارجها لقوله تعالى: {إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً} وقوله: {وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآناً أَعْجَمِيّاً}وقيل عن أبي حنيفة تجوز قراءته بالفارسية مطلقا وعن أبى يوسف إن لم يحسن العربية لكن صح عن أبي حنيفة الرجوع عن ذلك حكاه عبد العزيز في شرح البزرودي

واستقر الإجماع على أنه تجب قراءته على هيئته التي يتعلق بها الإعجاز لنقص الترجمة عنه ولنقص غيره من الألسن عن البيان الذي اختص به دون سائر الألسنة وإذا لم تجز قراءته بالتفسير العربي لمكان التحدي بنظمه فأحرى أن لا تجوز الترجمة بلسان غيره ومن هاهنا قال القفال من أصحابنا عندي أنه لا يقدر أحد أن يأتي بالقرآن بالفارسية قيل له فإذن لا يقدر أحد أن يفسر القرآن قال ليس كذلك لأن هناك يجوز أن يأتي ببعض مراد الله ويعجز عن البعض أما إذا أراد أن يقرأه بالفارسية فلا يمكن أن يأتي بجميع مراد الله أي فإن الترجمة إبدال لفظه بلفظة تقوم مقامها وذلك غير ممكن بخلاف التفسير وما أحاله القفال من ترجمة القرآن ذكره أبو الحسين بن فارس في فقه العربية أيضا فقال لا يقدر أحد من التراجم على أن ينقل القرآن إلى شيء من الألسن كما نقل الإنجيل عن السريانية إلى الحبشية والرومية وترجمت التوراة والزبور وسائر كتب الله تعالى بالعربية لأن العجم لم تتسع في الكلام اتساع العرب ألا ترى أنك لو أردت أن تنقل قوله تعالى: {وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ} لم تستطع أنتأتي بهذه الألفاظ مؤدية عن المعنى الذي أودعته حتى تبسط مجموعها وتصل مقطوعها وتظهر مستورها فتقول إن كان بينك وبين قوم هدنة وعهد فخفت منهم خيانة ونقضا فأعلمهم أنك قد نقضت ما شرطته لهم وآذنهم بالحرب لتكون أنت وهم في العلم بالنقض على سواء وكذلك قوله تعالى: {فَضَرَبْنَا عَلَى آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَداً} انتهي

فظهر من هذا أن الخلاف في جواز قراءته بالفارسية لا يتحقق لعدم إمكان تصوره ورأيت في كلام بعض الأئمة المتأخرين أن المنع من الترجمة مخصوص بالتلاوة فأما ترجمته للعمل به فإن ذلك جائز للضرورة وينبغي أن يقتصر من ذلك على بيان المحكم منه والغريب المعنى بمقدار الضرورة من التوحيد وأركان العبادات ولا يتعرض لما سوى ذلك ويؤمر من أراد الزيادة على ذلك بتعلم اللسان العربي وهذا هو الذي يقتضيه الدليل ولذلك لم يكتب رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلى قيصر إلا بآية واحدة محكمة لمعنى واحد وهو توحيد الله والتبري من الإشراك لأن النقل من لسان إلى لسان قد تنقص الترجمة عنه كما سبق فإذا كان معنى المترجم عنده واحدا قل وقوع التقصير فيه بخلاف المعاني إذا كثرت وإنما فعل النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لضرورة التبليغ أو لأن معنى تلك الآية كان عندهم مقررا في كتبهم وإن خالفوه

فتاوى الأزهر – (ج 8 / ص 85)

السؤال

هل تجوز كتابة القرآن بغير الحروف العربية ليستطيع قراءته أهل اللغات الأخرى ؟

الجواب

أثير هذا الموضوع عندما أثير موضوع ترجمة القراَن الكريم ، وحاول بعض المجددين أن يجيز كتابة القرآن بحروف غير الحروف العربية ، ولكن عارضه أهل الذكر من علماء الدين ، وصدرت بذلك فتوى رسمية من لجنة الفتوى بالأزهر الشريف ، ونشرت بمجلة الأزهر “المجلد السابع ص 45 ” بتوقيع الشيخ حسين والى رئيس اللجنة وهذا نصها :لا شك أن الحروف اللاتينية المعروفة خالية من عدة حروف توافق العربية ، فلا تؤدى جميع ما تؤديه الحروف العربية ، فلو كتب القرآن الكريم بها على طريقة النظم العربى . -كما يفهم من الاستفتاء -لوقع الإخلال والتحريف فى لفظه ، وتبعهما تغير المعنى وفساده. وقد قضت نصوص الشريعة بأن يُصان القرآن الكريم من كل ما يعرضه للتبديل أو التحريف ، وأجمع علماء الإسلام سلفا وخلفا على أن كل تصرف فى القرآن الكريم يؤدى إلى تحريف فى لفظه أو تغيير فى معناه ممنوع منعا باتا، ومحرم تحريما قاطعا .وقد التزم الصحابة رضى الله عنهم ومن بعدهم إلى يومنا هذا، كتابة القرآن الكريم بالحروف العربية ومن هذا يتبين أن كتابة القرآن العظيم بالحروف اللاتينية المعروفة لا تجوز. انتهى .

إعانة الطالبين (1/135 ( د ك الاسلامية ط 2019

(قوله: وكتابته بالعجمية) بالرفع، معطوف على تمكيأي ويحرم كتابته بالعجمية.

ورأيت في فتاوى العلامة ابن حجر أنه سئل هل يحرم كتابة القرآن الكريم بالعجمية كقراءته ؟ فأجاب رحمه الله بقوله: قضية ما في المجموع عن الاصحاب التحريم، وذلك لانه قال: وأما ما نقل عن سلمان رضي الله عنه أن قوما من الفرس سألوه أن يكتب لهم شيئا من القرآن، فكتب لهم فاتحة الكتاب بالفارسية.

فأجاب عنه أصحابنا بأنه كتب تفسير الفاتحة لا حقيقتها.اه. فهو ظاهر أو صريح في تحريم كتابتها بالعجمية، وإلا لم يحتاجوا إلى الجواب عنه بما ذكر

13 Syihabuddin Alqulyubi Hasiyah Al Qulyubi 53/1

 حاشية الجمل (1/ 252)

( فائدة ) سئل الشهاب الرملي هل تحرم كتابة القرآن العزيز بالقلم الهندي ، أو غيره فأجاب بأنه لا يحرم لأنها دالة على لفظه العزيز وليس فيها تغيير له بخلاف ترجمته بغير العربية لأن فيها تغييرا .

وعبارة الإتقان للسيوطي هل يحرم كتابته بقلم غير العربي قال الزركشي لم أر فيه كلاما لأحد من العلماء ويحتمل الجواز ؛ لأنه قد يحسنه من يقرؤه ، والأقرب المنع انتهت ، والمعتمد الأول ا هـ برماوي .

وعبارة ق ل على المحلي وتجوز كتابته لا قراءته بغير العربية وللمكتوب حكم المصحف في الحمل ، والمس انتهت .

حاشيتا قليوبي – وعميرة على كنز الراغبين (1/ 158)

فُرُوعٌ ) يَحْرُمُ لَزْقُ أَوْرَاقِ الْقُرْآنِ بِنَحْوِ النِّشَاءِ وَالرَّسْرَاسِ وَجَعْلُهَا وِقَايَةً وَلَوْ لِعِلْمٍ ، وَوَضْعُ مَأْكُولٍ عَلَيْهَا مَعَ أَكْلِهِ وَإِلَّا فَلَا وَبَلْعُهَا بِلَا مَضْغٍ وَوَضْعُ نَحْوَ دَرَاهِمَ فِيهَا ، وَوَضْعُهَا عَلَى نَجَسٍ ، وَمَسُّهَا بِشَيْءٍ نَجَسٍ وَلَوْ مِنْ بَدَنِهِ لَا حَرْقُهَا بَالِيَةً ، بَلْ هُوَ أَوْلَى مِنْ غَسْلِهَا ، وَيَجِبُ غَسْلُ مُصْحَفٍ تَنَجَّسَ وَإِنْ أَدَّى إلَى تَلَفِهِ وَكَانَ لِمَحْجُورٍ وَلَا ضَمَانَ .

نَعَمْ لَا تَحْرُمُ الْوِقَايَةُ بِوَرَقَةٍ مَكْتُوبٍ عَلَيْهَا نَحْوَ الْبَسْمَلَةِ ، وَيَحْرُمُ السَّفَرُ بِالْمُصْحَفِ إلَى بِلَادِ الْكُفَّارِ إنْ خِيفَ وُقُوعُهُ فِي أَيْدِيهِمْ ، وَيَحْرُمُ كِتَابَةُ الْقُرْآنِ بِنَجَسٍ وَلَوْ مَعْفُوًّا عَنْهُ كَمَسِّهِ بِهِ ، لَا قِرَاءَتُهُ بِفَمٍ نَجَسٍ ، وَقِيلَ : يَحْرُمُ .

وَيَجُوزُ كِتَابَتُهُ لَا قِرَاءَتُهُ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ ، وَلَهَا حُكْمُ الْمُصْحَفِ فِي الْمَسِّ وَالْحَمْلِ ،

14 Sulaiman Aljamal Hasiyah Aljamal 252/1

حاشية الجمل 1/ 252

( قَوْلُهُ : كَلَوْحٍ ) فِيهِ إشَارَةٌ إلَى اعْتِبَارِ مَا يُعَدُّ لِلْكِتَابَةِ عُرْفًا لَا نَحْوِ عَمُودٍ مَثَلًا فَإِنَّهُ لَا يَحْرُمُ إلَّا مَسُّ الْأَحْرُفِ وَحَرِيمِهَا وَلَوْ مُحِيَتْ أَحْرُفُ الْقُرْآنِ مِنْ اللَّوْحِ ، أَوْ الْوَرَقِ بِحَيْثُ لَا تُقْرَأُ لَمْ يَحْرُمْ مَسُّهُمَا وَلَا حَمْلُهُمَا ؛ لِأَنَّ شَأْنَهُ انْقِطَاعُ النِّسْبَةِ عُرْفًا وَبِذَلِكَ فَارَقَ الْجِلْدَ ا هـ بِرْمَاوِيٌّ .

( فَائِدَةٌ ) سُئِلَ الشِّهَابُ الرَّمْلِيُّ هَلْ تَحْرُمُ كِتَابَةُ الْقُرْآنِ الْعَزِيزِ بِالْقَلَمِ الْهِنْدِيِّ ، أَوْ غَيْرِهِ فَأَجَابَ بِأَنَّهُ لَا يَحْرُمُ لِأَنَّهَا دَالَّةٌ عَلَى لَفْظِهِ الْعَزِيزِ وَلَيْسَ فِيهَا تَغْيِيرٌ لَهُ بِخِلَافِ تَرْجَمَتِهِ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ لِأَنَّ فِيهَا تَغْيِيرًا .

وَعِبَارَةُ الْإِتْقَانِ لِلسُّيُوطِيِّ هَلْ يَحْرُمُ كِتَابَتُهُ بِقَلَمٍ غَيْرِ الْعَرَبِيِّ قَالَ الزَّرْكَشِيُّ لَمْ أَرَ فِيهِ كَلَامًا لِأَحَدٍ مِنْ الْعُلَمَاءِ وَيَحْتَمِلُ الْجَوَازَ ؛ لِأَنَّهُ قَدْ يُحْسِنُهُ مَنْ يَقْرَؤُهُ ، وَالْأَقْرَبُ الْمَنْعُ انْتَهَتْ ، وَالْمُعْتَمَدُ الْأَوَّلُ ا هـ بِرْمَاوِيٌّ .

وَعِبَارَةُ ق ل عَلَى الْمَحَلِّيِّ وَتَجُوزُ كِتَابَتُهُ لَا قِرَاءَتُهُ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ وَلِلْمَكْتُوبِ حُكْمُ الْمُصْحَفِ فِي الْحَمْلِ ، وَالْمَسِّ انْتَهَتْ

15 Abu bakr Utsman bin Muhammad Syatho Addimyathi Ianatuttholibin 85/1

)إعانة الطالبين (1/ 83)

(قوله: وكتابته بالعجمية) بالرفع، معطوف على تمكين.

أي ويحرم كتابته بالعجمية.

ورأيت في فتاوى العلامة ابن حجر أنه سئل هل يحرم كتابة القرآن الكريم بالعجمية كقراءته ؟ فأجاب رحمه الله بقوله: قضية ما في المجموع عن الاصحاب التحريم، وذلك لانه قال: وأما ما نقل عن سلمان رضي الله عنه أن قوما من الفرس سألوه أن يكتب لهم شيئا من القرآن، فكتب لهم فاتحة الكتاب بالفارسية.

فأجاب عنه أصحابنا بأنه كتب تفسير الفاتحة لا حقيقتها.

اه.

فهو ظاهر أو صريح في تحريم كتابتها بالعجمية، وإلا لم يحتاجوا إلى الجواب عنه بما ذكر.

16 idem 15

17 Alawi bin Abbas Almaliki Ibanatul Ahkam137/1

ابانة الاحكام (1/137)

عن عبد الله بن ابي بكر رضي الله عنه : أن في الكتاب الذي كتبه رسول الله صلى الله عليه وسلم لعمرو بن حزم ان لا يمس القران الا طاهرز رواه مالك مرسلا ووصله النسائي وابن حبان وهو معلول

18 Musa Al Hijawi Iqna’ Hamish Bujairami alalkhatib 530/1

حاشية البجيرمي على الخطيب (3/ 266)

 ( و ) كذا يحرم ( حمله ) أي المصحف ؛ لأنه أبلغ من المس ، نعم يجوز حمله لضرورة كخوف عليه من غرق أو حرق أو نجاسة ، أو وقوعه في يد كافر ، ولم يتمكن من الطهارة ، بل يجب أخذه حينئذ كما ذكره في التحقيق والمجموع ، فإن قدر على التيمم وجب وخرج بالمصحف غيره كتوراة وإنجيل ومنسوخ تلاوة من القرآن ، وإن لم ينسخ ذحكمه فلا يحرم ، ويحل حمله في متاع تبعا له إذا لم يكن مقصودا بالحمل ولو مع الأمتعة فإنه يحرم ، وإن كان ظاهر كلام الشيخين يقتضي الحل في هذه الصورة كما لو قصد الجنب القراءة وغيرها

19 Idem18

20 Assyarqowi Hasiyah Assyarqowi 178/1

حاشية الشرقاوي (178/1)

قوله (الا في متاع الخ) – الى ان قال – ومحل جواز الحمل فيما ذكر حيث  لم يعد ماسا له بأن غرز فيه شيئا وحمله اذ مسه حرام ولو بحائل ولو بلا قصد, فما ذكر استثناء من الحمل فقط دون المس كما اشار الى ذلك الشارح بالتفريع.   

21 Syihabuddin Arromli Nihayatul Muhtaj 124/1

نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج – مفهرس تفصيليا ومشكول (1/ 381)

( قَوْلُهُ : وَمَا كُتِبَ ) حَقِيقَةً أَوْ حُكْمًا لِيَدْخُلَ الْخَتْمُ كَمَا سَيَأْتِي ( قَوْلُهُ : كَلَوْحٍ ) يُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ مِمَّا يُكْتَبُ عَلَيْهِ عَادَةً حَتَّى لَوْ كَتَبَ عَلَى عَمُودٍ قُرْآنًا لِلدِّرَاسَةِ لَمْ يَحْرُمْ مَسُّ غَيْرِ الْكِتَابَةِ ا هـ خَطِيبٌ ا هـ زِيَادِيٌّ .

وَيُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّهُ لَوْ نَقَشَالْقُرْآنَ عَلَى خَشَبَةٍ وَخَتَمَ بِهَا الْأَوْرَاقَ بِقَصْدِ الْقِرَاءَةِ وَصَارَ يَقْرَأُ الْحُرْمَةَ وَلَيْسَ مِنْ الْكِتَابَةِ مَا يُقَصُّ بِالْمِقَصِّ عَلَى صُورَةِ حَرْفِ الْقُرْآنِ مِنْ وَرِقٍ أَوْ قُمَاشٍ فَلَا يَحْرُمُ مَسُّهُ ، وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ بِحَيْثُ يُعَدُّ لَوْحًا لِلْقُرْآنِ عُرْفًا ، فَلَوْ كَبُرَ جِدًّا كَبَابٍ عَظِيمٍ فَالْوَجْهُ عَدَمُ حُرْمَةِ مَسِّ الْخَالِي مِنْهُ عَنْ الْقُرْآنِ ، وَيَحْتَمِلُ أَنَّ حَمْلَهُ كَحَمْلِ الْمُصْحَفِ فِي أَمْتِعَةٍ

22 Sulaiman bin Muhammad Albujairami Hasiyah bujairami alalkhatib 498/3

حاشية البجيرمي على الخطيب (10/ 479)

وقوله ” كتابة ” وضابط المكتوب عليه كل ما ثبت عليه الخط كرق وثوب سواء كتب بحبر أو نحوه ونقر صور الأحرف في حجر أو خشب أو خطها على الأرض ، فلو رسم صورتها في هواء أو ماء فليس كتابة في المذهب كما قاله الزيادي .

23 Muhammad bin Ahmad Assyathiri Syarh Al Yaqut 85  dar-alminhaj

شرح الياقوت النفيس (83-82)

حكم المصحف المسجل على الاشرطة

ظهر حديثا في الاسواق اشرطة تسجيل مسجل فيها القران الكريم بأكمله يتكون المصحف من عشرين شريطا تقريبا, فهل حكم هذا المصحف كحكم المصحف المكتوب؟ الذي ارى ان التسجيل على الشريط يحصل بأحرف منقوشة تثبت على الشريط وعلى هذا فسيكون له حكم المصحف وقد قامت بعض الجمعية في مصر بتسجيل هذا المصحف بقراءة مجودة واصوات جميلة على اسطوانات خاصة وعلى اشرطة كاست, وتسمى مصحفا واعتقد ان له حكم المصحف والاحوط للمسلم ان يحتاط.

فإن قيل إن التسجيل هذا انما هو صدى وقد سجل للسماع لا للقراءة ؟ انه فعلا صدى, ولكنا لو نظرنا الى القصد من الاذان حقيقة… اليس هو الاعلام؟ وقد حصل به.

ولبعض الفقهاء اقوال تعبر ان ارائهم ومفاهمهم وليس من الضروري قبولها كقولهم: لو نظر انسان الى صورة امراة في مراة …فيجوز له النظر اليها لأنها ليست المرأة الحقيقة التي ينظر اليها, انما ينظر الى الصورة في المراة حتى ولو كانت عارية , فمثل هذا الكلام فيه نظر. ومن الصعب على النفس تقبله.   

24 Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi Aljami Alahkam 227/17

تفسير القرطبي ( الجامع لأحكام القرآن ) – موافق ومحقق (17/ 226)

السادسة – واختلف العلماء في مس المصحف على غير وضوء، فالجمهور على المنع من مسه لحديث عمرو بن حزم.

وهو مذهب علي وابن مسعود وسعد بن أبي وقاص وسعيد

ابن زيد وعطاء والزهري والنخعي والحكم وحماد، وجماعة من الفقهاء منهم مالك والشافعي.

واختلفت الرواية عن أبي حنيفة، فروي عنه أنه يمسه المحدث، وقد روي هذا عن جماعة من السلف منهم ابن عباس والشعبي وغيرهما.

وروي عنه أنه يمس ظاهره وحواشيه وما لا مكتوب فيه، وأما الكتاب فلا يمسه إلا طاهر.

25Abdul Wahab Assya’roni Mizan Kubro 146/1  darul kutub alilmiyyah

الميزان الكبرى (1/46) دار الكتب العلمية

وكذلك قول الائمة الاربعة يجوز للمحدث حمله بغلاف او علاقة إلا عند الشافعي كما يجوز عنده حمله في امتعة وتفسير ودنانير وقلب ورقه بعود

26Mausuah Fiqhiyyah Kuwait 170/11

الموسوعة الفقهية الكويتية (38/ 9)

مَسُّ غَيْرِ الْمُتَطَهِّرِ الْمُصْحَفَ الْمَكْتُوبَ بِحُرُوفٍ أَعْجَمِيَّةٍ وَكُتُبَ تَرْجَمَةِ مَعَانِي الْقُرْآنِ

11 – الْمُصْحَفُ إِنْ كُتِبَ عَلَى لَفْظِهِ الْعَرَبِيِّ بِحُرُوفِ غَيْرِ عَرَبِيَّةٍ فَهُوَ مُصْحَفٌ وَلَهُ أَحْكَامُ الْمُصْحَفِ ، وَبِهَذَا صَرَّحَ الْحَنَفِيَّةُ فَفِيالْفَتَاوَى الْهِنْدِيَّةِ وَتَنْوِيرِ الأْبْصَارِ : يُكْرَهُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ لِغَيْرِ الْمُتَطَهِّرِ مَسُّ الْمُصْحَفِ وَلَوْ مَكْتُوبًا بِالْفَارِسِيَّةِ ، وَكَذَا عِنْدَ الصَّاحِبَيْنِ عَلَى الصَّحِيحِ .

وَعِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ مِثْل ذَلِكَ ، قَال الْقَلْيُوبِيُّ :

تَجُوزُ كِتَابَةُ الْمُصْحَفِ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ لاَ قِرَاءَتُهُ بِهَا ، وَلَهَا حُكْمُ الْمُصْحَفِ فِي الْمَسِّ وَالْحَمْل .

أَمَّا تَرْجَمَةُ مَعَانِي الْقُرْآنِ بِاللُّغَاتِ الأْعْجَمِيَّةِ فَلَيْسَتْ قُرْآنًا ، بَل هِيَ نَوْعٌ مِنَ التَّفْسِيرِ عَلَى مَا صَرَّحَّ بِهِ الْمَالِكِيَّةُ ، وَعَلَيْهِ فَلاَ بَأْسَ أَنْ يَمَسَّهَا الْمُحْدِثُ ، عِنْدَ مَنْ لاَ يَمْنَعُ مَسَّ الْمُحْدِثِ لِكُتُبِ التَّفْسِيرِ (1) .

الموسوعة الفقهية الكويتية (11/ 170)

وَيَرَى الشَّافِعِيَّةُ حُرْمَةَ حَمْل التَّفْسِيرِ وَمَسِّهِ ، إِذَا كَانَ الْقُرْآنُ أَكْثَرَ مِنَ التَّفْسِيرِ ، وَكَذَلِكَ إِنْ تَسَاوَيَا عَلَى الأْصَحِّ ، وَيَحِل إِذَا كَانَ التَّفْسِيرُ أَكْثَرَ عَلَى الأْصَحِّ ، وَفِي رِوَايَةٍ : يَحْرُمُ لإِخْلاَلِهِ بِالتَّعْظِيمِ . (4) وَالتَّرْجَمَةُ مِنْ قَبِيل التَّفْسِيرِ .

27 Abu bakar Utsman bin Muhammad Syatho Addimyathi Ianatuttholibin 68-69/1

إعانة الطالبين (1/ 84)

(قوله: وتمزيقه) معطوف على تمكين أيضا.

أي ويحرم تمزيق المصحف لانه ازدراء به.

وقوله: عبثا أي لا لقصد صيانته.

وعبارة فتاوي ابن حجر تفيد أن المعتمد حرمة التمزيق مطلقا، ونصها: سئل رضي الله عنه عمن وجد ورقة ملقاة في طريق فيها اسم الله تعالى، ما الذي يفعل بها ؟ فأجاب رحمه الله بقوله: قال ابن عبد السلام: الاولى غسلها، لان وضعها في الجدار تعرض لسقوطها والاستهانة بها.

وقيل: تجعل في حائط.

وقيل: يفرق حروفها ويلقيها.

ذكره الزركشي.

فأما كلام ابن عبد السلام فهو متجه، لكن مقتضى كلامه حرمة جعلها في حائط والذي يتجه خلافه، وأن الغسل أفضل فقط.

وأما التمزيق، فقد ذكر الحليمي في منهاجه أنه لا يجوز تمزيق ورقة فيها اسم الله أو اسم رسوله، لما فيه من تفريق الحروف وتفريق الكلمة، وفي ذلك ازدراء بالمكتوب.

فالوجه الثالث شاذ إذ لا ينبغي أن يعول عليه.

28 Mausuah Fiqhiyyah Kuwait 23/38

الموسوعة الفقهية الكويتية – (ج 38 / ص 23)

مَا يُصْنَعُ بِالْمُصْحَفِ إِذَا بَلِيَ

36 – ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّ الْمُصْحَفَ إِذَا بَلِيَ وَصَارَ بِحَال لاَ يُقْرَأُ فِيهِ يُجْعَل فِي خِرْقَةٍ طَاهِرَةٍ وَيُدْفَنُ فِي مَحَلٍّ غَيْرِ مُمْتَهَنٍ لاَ يُوطَأُ ، كَمَا أَنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا مَاتَ يُدْفَنُ إِكْرَامًا لَهُ ، وَقَال الْحَنَفِيَّةُ : وَلاَ يُهَال عَلَيْهِ التُّرَابُ إِلاَّ إِذَا جُعِل فَوْقَهُ سَقْفٌ بِحَيْثُ لاَ يَصِل إِلَيْهِ التُّرَابُ .

وَقَالُوا : وَلاَ يَجُوزُ إِحْرَاقُهُ بِالنَّارِ ، وَنُقِل ذَلِكَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ ، وَوَافَقَهُمْ الْقَاضِي حُسَيْنٌ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ ، وَقَال النَّوَوِيُّ : يُكْرَهُ ذَلِكَ .

وَقَال الْمَالِكِيَّةُ : يَجُوزُ إِحْرَاقُهُ ، بَل رُبَّمَا وَجَبَ ، وَذَلِكَ إِكْرَامٌ لَهُ ، وَصِيَانَةٌ عَنِ الْوَطْءِ بِالأْقْدَامِ ،

29 Mausuah Fiqhiyyah Kuwait 123/2

الموسوعة الفقهية الكويتية – (ج 2 / ص 123)

مَا يُبَاحُ إِحْرَاقُهُ وَمَا لاَ يُبَاحُ :

26 – الأْصْل أَنَّ الْمُصْحَفَ الصَّالِحَ لِلْقِرَاءَةِ لاَ يُحْرَقُ ، لِحُرْمَتِهِ ، وَإِذَا أُحْرِقَ امْتِهَانًا يَكُونُ كُفْرًا عِنْدَ جَمِيعِ الْفُقَهَاءِ .

وَهُنَاكَ بَعْضُ الْمَسَائِل الْفَرْعِيَّةِ ، مِنْهَا : قَال الْحَنَفِيَّةُ : الْمُصْحَفُ إِذَا صَارَ خَلَقًا ، وَتَعَذَّرَ الْقِرَاءَةُ مِنْهُ ، لاَ يُحْرَقُ بِالنَّارِ ، بَل يُدْفَنُ ، كَالْمُسْلِمِ .

وَذَلِكَ بِأَنْ يُلَفَّ فِي خِرْقَةٍ طَاهِرَةٍ ثُمَّ يُدْفَنَ . وَتُكْرَهُ إِذَابَةُ دِرْهَمٍ عَلَيْهِ آيَةٌ ، إِلاَّ إِذَا كُسِرَ ، فَحِينَئِذٍ لاَ يُكْرَهُ إِذَابَتُهُ ، لِتَفَرُّقِ الْحُرُوفِ ، أَوْ ؛ لأَِنَّ الْبَاقِيَ دُونَ آيَةٍ .

وَقَال الْمَالِكِيَّةُ : حَرْقُ الْمُصْحَفِ الْخَلَقِ إِنْ كَانَ عَلَى وَجْهِ صِيَانَتِهِ فَلاَ ضَرَرَ ، بَل رُبَّمَا وَجَبَ (1) .

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ : الْخَشَبَةُ الْمَنْقُوشُ عَلَيْهَا قُرْآنٌ فِي حَرْقِهَا أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ : يُكْرَهُ حَرْقُهَا لِحَاجَةِ الطَّبْخِ مَثَلاً ، وَإِنْ قُصِدَ بِحَرْقِهَا إِحْرَازُهَا لَمْ يُكْرَهْ ، وَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْحَرْقُ لِحَاجَةٍ ، وَإِنَّمَا فَعَلَهُ عَبَثًا فَيَحْرُمُ ، وَإِنْ قَصَدَ الاِمْتِهَانَ فَظَاهِرٌ أَنَّهُ يَكْفُرُ .

وَذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ إِلَى جَوَازِ تَحْرِيقِ الْمُصْحَفِ غَيْرِ الصَّالِحِ لِلْقِرَاءَةِ (2) .

ASAL MUASAL KATA AMMA BA’DU

SEKILAS TENTANG AMMA BA’DU

Oleh : Hadi Nashiri Zainal M.

Santri Ulya Tsani PP. Fadllul Wahid

Mungkin sudah tidak asing lagi di telinga sebagian orang mengenai lafadz amma ba’du. Lafadz ini hampir pasti di gunakan dalam semua permulaan / mukaddimah suatu  pembicaraan, lebih-lebih dalam pidato ataupun sambutan.

Meskipun demikian, kebanyakan dari mereka masih tidak mengetahui sebenarnya siapa yang mengucapkan lafadz tersebut pertama kali, dan bagaimana makna sebenarnya daripada lafadz amma ba’du.

            Oleh sebab itu disini kami akan mengulas sedikit tentang amma ba’du, mungkin saja bisa sebagai wacana dan menambah wawasan kita semua.

œ Lafadz & Makna

Amma ba’du itu tersusun dari Amma dan Ba’duAmma sendiri dalam gramatika arab merupakan huruf Tafsil dan Syarat. Tafsil adalah pemisah, sedangkan Syarat adalah permulaan suatu pembahasan, biasanya dimaknai dengan adapun.[1]

Sedangkan lafadz Ba’du maknamya setelah / sesudah, dan termasuk lafadz untuk menunjukan waktu atau tempat. Sehingga kita bisa memandang maknanya dari dua sisi :

1.      Waktu , artinya waktu pengucapan lafadz setelah ba’du itu sesudah lafadz sebelum ba’du.

2.      Tempat, artinya tempatnya ucapan lafadz setelah ba’du itu jatuh setelah ucapan sebelum ba’du.[2]

œ Tujuan

Berangkat dari penjelasan lafadz dan makna daripada amma ba’du,kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tujuan pelafadzan amma ba’du itu untuk pemisah antara dua pembahasan dan pindah dari satu pembahasan menuju pembahasan yang lain.[3]

Biasanya amma ba’du bertempat diantara mukaddimah dan pokok pembahasan.  Hal ini banyak digunakan dalam konteks arab. Tapi tak jarang pula para Da’i / Muballigh juga menggunakan lafadz itu sebelum memulai pembahasannya.

œ Orang yang pertama kali mengucapkan

Setelah mengetahui sedikit penjelasan diatas, mungkin kita masih penasaran, sebenarnya siapa yang melafadzkan pertama kali ?

Dalam hal ini ada 5 perbedaan pendapat :

1.      Nabi Dawud Alaihis Salam

2.      Qos bin Sa’idah

3.      Ka’ab bin Lu’ay

4.      Ya’rib bin Qohthon

5.      Suhban bin Wail[4]

œ Hukum pelafadzan

Mengucapkan lafadz amma ba’du itu hukumnya sunnah, sebab mengikuti perbuatan beliau nabi Muhammad SAW dalam beberapa Khutbah dan tulisan-tulisan beliau. Maka secara tidak langsung kita akan mendapatkan pahala saat mengucapkannya. [5]

Mungkin cukup ini saja, semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

1)     Kholid Al Asyhari, at Tashrih ‘Ala at Taudlih, Dar al Fikr

2)     Ahmad Ad Damanhuri, Idloh Al  Mubham, Maktabah Al Hidayah

3)     Ibn Hajar Al Haitamy, Tuhfatul Muhtaj, Dar Kutub Al Ilmiyah

4)     Khotib As Syirbiny, Mughni Al Muhtaj, Dar Kutub Al Ilmiyah

5)     Sihabuddin Ahmad Al Qulyubi, Hasyiyahnya ‘Ala al Mahalli, Dar At Taufiqiyah

>>  ASLINYA LAFADZ

التصريح على التوضيح – دار الفكر (ص 260 ج 2)

((فصل في أما )) بفتح الهمزة و تشديد اللام (وهي حرف شرط) أي متضمن معنى الشرط (و) حرف (توكيد دائما و ) حرف (تفصيل غالبا يدل على) المعنى (الأول) وهو الشرط (مجيء الفاء بعدها) غالبا نحو فأما الذين آمنوا فيعلمون أنه الحق من ربهم و أما الذين كفروا فيقولون لو كانت الفاء للعطف لم تدخل على الخبر إذ لا يعطف الخبر على مبتدئه ولو كانت زائدة لصح الاستغناء عنها و لما لم يصح الاستغناء عنها ولا عطفها الخبر على مبتدئه تعين أنها فاء الجزاء و أن أما للشرط (و) يدل (على) المعنى (الثالث) وهو التفصيل (استقراء مواقعها) و عطف مثلها عليها (نحو فأما اليتيم فلا تقهر) وأما السائل فلا تنهر

>>  2 PANDANGAN MAKNA

ايضاح المبهم – الهداية (ص 4)

أقول لفظة بعد تكون ظرف زمان كما في قولك جاء زيد بعد عمرو و ظرف مكان كما في قولك دار زيد بعد دار عمرو ويصح استعمالها هنا في المعنيين باعتبار أن زمن النطق بما بعدها بعد زمن النطق بما قبلها أو باعتبار أن مكانه في الرقم بعده وهي هنا دالة على الانتقال من كلام الى اخرفلا يؤتى بها في أول الكلام

>>  TUJUAN

تحفة المحتاج إلى أدلة المنهاج – دار الكتب العلمية (ص 15 ج 1 )

( أما بعد ) بالبناء على الضم لحذف المضاف إليه ونية معناه فإن لم ينو شيء نونت وإن نوي لفظه نصبت على الظرفية أو جرت بمن وهي للانتقال من أسلوب إلى آخر .

وكان صلى الله عليه وسلم يأتي بها في خطبه فهي سنة قيل وأول من قالها داود صلى الله عليه وسلم ، ورجح ويرد بأنه لم يثبت عنه تكلم بغير لغته وفصل الخطاب الذي أوتيه هو فصل الخصومة أو غيرها بكلام مستوعب لجميع المعتبرات من غير إخلال منها بشيء وفي خبر ضعيف أن يعقوب قالها وتلزم الفاء في حيزها غالبا لتضمن أما معنى الشرط مع مزيد تأكيد ومن ثم أفاد أما زيد فذاهب ما لم يفده زيد ذاهب من أنه لا محالة ذاهب ، وأنه منه عزيمة ومن ثم كان الأصل هنا كما أشار إليه سيبويه في تفسيره مهما يكن من شيء بعدما ذكر

>>  PERKHILAFAN ORANG YANG PERTAMA KALI MENGUCAPKAN

مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج –  دار الكتب العلمية(ص 33 ج 1)

( أما بعد ) أي : بعد ما ذكر من الحمد والتشهد والصلاة ، وهذه الكلمة يؤتى بها للانتقال من أسلوب إلى آخر ولا يجوز الإتيان بها في أول الكلام ، ويستحب الإتيان بها في الخطب والمكاتبات اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم .

وقد عقد البخاري لها بابا في كتاب الجمعة ، وذكر فيه أحاديث كثيرة .

وفي المبتدئ بها أقوال :

 أحدها : داود صلى الله عليه وسلم وأنها فصل الخطاب المشار إليه في الآية .

والثاني : قس بن ساعدة .

والثالث كعب بن لؤي .

والرابع يعرب بن قحطان .

والخامس سحبان بن وائل .

ولذلك قال : [ الطويل ] لقد علم الحي اليمانون أنني إذا قلت أما بعد أني خطيبها

>>  SUNNAH MELAFADZKAN

حاشيتا قليوبي – وعميرة على المحلي – دار التوفيقية (ص 12 ج 1)

قَوْلُهُ : ( أَمَّا بَعْدُ ) ذِكْرُهَا مَنْدُوبٌ تَبَعًا لَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي خُطَبِهِ وَكُتُبِهِ .

وَلَا يُؤْتَى بِهَا إلَّا بَيْنَ أُسْلُوبَيْنِ مِنْ الْكَلَامِ ، وَأَوَّلُ مَنْ نَطَقَ بِهَا دَاوُد صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ فَصْلُ الْخِطَابِ الَّذِي أُوتِيَهُ لِأَنَّ جَمِيعَ الْكُتُبِ نَزَلَتْ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِالْعَرَبِيَّةِ ابْتِدَاءً كَمَا ذَكَرْنَاهُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مُوَضَّحًا ، وَقِيلَ قُسُّ بْنُ سَاعِدَةَ ، وَقِيلَ كَعْبُ بْنُ لُؤَيٍّ ، وَقِيلَ يَعْرُبُ بْنُ قَحْطَانَ ، وَأَصْلُهَا عِنْدَ الْجُمْهُورِ مَهْمَا يَكُنْ مِنْ شَيْءٍ بَعْدَمَا تَقَدَّمَ مِنْ الْبَسْمَلَةِ وَالْحَمْدَلَةِ وَمَا بَعْدَهُمَا ، فَكَذَا فَهُمَا مُبْتَدَأٌ وَضُمِّنَ مَعْنَى الشَّرْطِ ، وَيَكُنْ فِعْلُهُ ، وَجُمْلَتُهُ هِيَ الْخَبَرُ عَلَى الصَّحِيحِ ، وَهِيَ تَامَّةٌ ، وَفَاعِلُهَا ضَمِيرٌ يَعُودُ عَلَى مَهْمَا ، وَمِنْ شَيْءٍ بَيَانٌ لِمَا ، وَلَا يَصِحُّ كَوْنُ شَيْءٍ هُوَ الْفَاعِلُ وَمِنْ زَائِدَةٌ لِخُلُوِّ الْخَبَرِ عَنْ رَابِطٍ يَعُودُ عَلَى الْمُبْتَدَأِ ، فَحُذِفَ مَهْمَا وَيَكُنْ ، وَأُقِيمَ أَمَّا مَقَامَهُمَا اخْتِصَارًا وَتَفْصِيلًا لِلْمُجْمَلِ الْوَاقِعِ فِي الذِّهْنِ .

Baca juga: 

BERAGAM BENTUK IBADAH ALL IN ONE

KOLOSTOMI

SEKILAS NYANTRINYA KH. ABDUL WAHID ZUHDI

BUKU SULUK SANTRI TAREKAT

Katalog Buku Tarekat

Open Pre order “1-10 September”
———————————————————-
Judul: Suluk Santri Tarekat
Ajaran tarekat Syadziliyah Pondok PETA Tulungagung
.
Buku ini menjadi panduan yang mengasyikkan bagi para pembaca, karena ditulis dari pengalaman pribadi sang penulis selama mendalami tarekat. Khususnya para salik tarekat yang berafiliasi kepada Pondok PETA Tulungagung Jawa Timur.
.
Kata Pengantar: KH. Charir M. Sholahuddin al-Ayyubi
Penulis: KH. Habibul Huda, Lc. (Pengasuh PP. Fadllul Wahid Ngangkruk Bandungsari Ngaringan Grobogan Jawa Tengah)
Dimensi: A5, 14,8 21Cm.
Tebal: 214 Halaman
Harga: 65.000
Info: 085641393219 (Pengurus PP. Fadllul Wahid)

Para Juara Progam 40 Hari

Ngangrkuk- Kamis 28 Dzulhijjah 1440 H, suasana jamiyyah maulid dhiba malam ini berbeda malam – malam sebelumnya. Selain melantunkan shalawat kepada beliau nabi Muhammad SAW dan membaca maulid dhiba yang telah menjadi rutinitas, malam ini seluruh santri terlebih kelas Ibtida al Ula atau yang lebih dikenal dengan kelas Mandzumah merasa cemas bercampur penasaran, pasalnya mereka sangat tidak sabar untuk menanti pengumuman siapa yang akan menjadi juara kelas yang akan diumumkan selepas pembacaan maulid.

Setelah melewati perjuangan selama 40 hari 40 malam tanpa ada waktu libur, akhirnya 112 santri yang masuk program ini berhasil menyelesaikannya. Program ini biasa dikenal dengan progam 40 hari, yang mana pada waktu tersebut santri digembleng untuk terus menulis, menghafal dan memahami tarkib pada kitab yang dikaji yaitu kitab Safinah an Naja yang dibekali dengan kitab ilmu nahwu karya KH. Abdul Wahid Zuhdi yaitu Mandzumah Fii ilm an An Nahwi. Progam ini merupakan progam yang dicetuskan oleh beliau al maghfurlah KH. Abdul Wahid Zuhdi pendiri PP. Fadllul Wahid Ngangkruk Bandungsari Ngaringan Grobogan.

Dengan terlaksananya ujian yang ketat baik bil-Lisan maupun bil-Kitabah, akhirnya rasa penasaran para santri terjawab dengan dibacakannya nama tiga santri dengan nilai tertinggi yang dinobatkan sebagai juara kelas Mandzumah tahun ajaran 1440-1441 H. Ketiga santri tersebut adalah:

1.Abdul Fattah Jalaluddin bin Fatkhur Rohman, kamar A2 Ust. Ulin Nuha dengan nilai 75
2. Muhammad Rifqi Anam bin Mursalim, kamar A1, Ust. Arifin dengan nilai72
3. M. Nasrullah Al Mubarok bin Muh. Shodikin, kamar B2 Ust. Chanif Baidlowi, dngan nilai 71,5

Malam itu juga diumumkan juara kelas Idadiyah yang merupakan kelas persiapan sebelum masuk kelas Mandzumah. Mereka yang juara adalah:

1. Deo Ahmad Dwito bin Supriyanto, kamar B2, Ust. Maimun dengan nilai 75
2. Prastiyo Wahyu Utomo bin M. Navi, kamar E1 Ust. Maimun, dengan nilai 65
3. M. Humam Ilya Sa’bana bin Moh. Irham, kamar D4, Ust. Nurul Abidin, dengan nilai 63

Semoga dengan ini dapat mendongkrak semangat para santri PP Fadllul Wahid untuk lebih giat belajar mendalami ilmu agama. Amin…

Kolostomi dan Wudlu Penyandang Stoma

Kolostomi dan Wudlu Penyandang Stoma

Oleh: Naufal Hudan Abdallah bin Fuadz

Firqoh Ulya II PP. Fadllul Wahid

  • Kolostomi dan Stoma

Kolostomi adalah operasi pembuatan lubang (stoma) di perut untuk mengeluarkan kotoran alias feses. Jenis operasi ini sering disebut sebagai terapi pengalihan usus, karena tujuan kolostomi adalah menggantikan fungsi usus besar untuk menampung dan mengeluarkan feses.

Operasi ini dilakukan dengan cara membuka salah satu ujung usus besar, lalu dihubungkan pada stoma, biasanya di sisi kiri perut. Feses tidak akan lagi keluar melalui anus, tapi melalui stoma pada dinding perut tadi.

Setelah itu, pada lubang perut akan ditempelkan sebuah kantong kolostomi untuk menampung feses yang keluar. Kantong ini harus diganti secara rutin setelah kotorannya penuh supaya tidak menimbulkan infeksi. Stoma juga perlu dibersihkan secara berkala agar tidak menyebabkan iritasi atau ruam kulit sekitar lubang perut.

Kolostomi dan Wudlu Penyandang Stoma

Pembedahan kolostomi dilakukan karena  berbagai penyakit. Di antaranya yaitu:

  1. Penyakit radang usus (IBD) seperti kolitis dan penyakit Crohn
  2. Radang kantung usus besar (divertikulitis)
  3. Kanker usus besar
  • Wudlu Penderita Kolostomi

Tindakan kolostomi sebagai tindakan pengobatan juga memberikan dampak yang mempengaruhi aspek fisik, sosial, ekonomi, dan spiritual. Aspek spiritual sangat berpengaruh terutama pada pasien muslim. Mereka melaporkan hambatan dalam pelaksanaan ritual ibadah. Salah satunya ialah dampak kolostomi terhadap wudlu dan shalat.

Fikih madzhab Syafii menyebutkan bahwa apapun (kecuali sperma) yang keluar dari lubang kemaluan maupun anus dapat menyebabkan wudlu seseorang batal. Lantas, apakah stoma yang ada pada dinding perut bisa dianalogikan layaknya anus? Mari kita cari tahu.

Dalam pandangan fikih Syafii, letak stoma mempunyai implikasi terhadap wudlu seseorang. Jika letak stoma berada dibagian atas pusar atau tepat sejajar dengan pusar, lubang ini tidak dapat dianalogikan dengan anus asli karena letaknya berada di atas atau sejajar dengan organ pencernaan. Maka sesuatu yang keluar melalui lubang tersebut hukumnya seperti muntahan, bukan kotoran hasil pencernaan. Oleh karena itu, hal ini tidak dapat menyebabkan wudlunya batal.

Berbanding terbalik ketika stoma terletak di bawah pusar, maka menurut presfektif fikih keberadaan sekaligus fungsinya dapat dijadikan sebagai pengganti anus asli. Kenapa demikian? Sebab kotoran yang keluar dari saluran tersebut identik menyerupai feses yang proses keluarnya telah melalaui organ pecernaan. Oleh karenanya, wudlu seorang penderita kolostomi batal ketika ada sesuatu yang keluar dari stoma tersebut. Apapun itu, baik berupa feses  maupun sesuatu yang tidak lazim keluar dari lubang anus seperti darah, cacing, atau benda keras yang tertelan. Ketentuan ini hanya berlaku saat lubang anus asli sama sekali tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya untuk pembuangan kotoran.

Selang beberapa waktu bersamaan dengan menempuh proses penyembuhan, ada saat dimana dokter akan menutup dan melepas kantong feses yang menempel di dinding perut. Pada waktu dokter memulai mengalihkan fungsi usus besar sesuai kondisi awal, terkadang dokter tidak langsung menutup stoma, melainkan melihat kondisi usus besar terlebih dahulu, apakah sudah berfungsi normal atau tidak. Nah, dalam kondisi ini ada dua jalur pembuangan terakhir yang terbuka, yakni stoma dan anus.

Dalam keadaan seperti ini, saat anus difungsikan kembali dan stoma masih bisa digunakan sebagai alternatif pembuangan serta letaknya berada di bawah pusar, maka kotoran yang keluar dari stoma tidak lagi dapat membatalkan wudlu. Hal ini disebabkan keberadaan stoma yang sudah tidak lagi berfungsi sebagai satu-satunya jalan pembuangan kotoran. Maka, jika anus dapat berfungsi kembali, keberadaan stoma tidak dapat menggantikan anus asli.

( ?????? ???????? ?????????? ) ???? ???????????? ???? ?????? ???? ?????? ?????? ???? ???????? ?????? ?????? ? ?????? ???? ?????????? ( ??????????? ) ???????? ???????? ( ?????? ?????????? ) ?????? ???????? ???????? ???????? ????????? ????? ??????????? : ??????????? ?????????? . ?????? ???? ?????????? ???? ????????? ????? ??????? ????????????? ?????????????? ????????????????? ????? ???????????? ? ???????????? ????? ????? ?????????? ( ???????? ) ?????? ( ???????????? ) ????????? ???????? ( ?????? ) ? ??? ??? ????? ????????????? ???? ???????? ???????? ?????? ??? ?????????? ???????????? ????????? ????? ????????? ( ??????? ??????? ??????? ) ?????? ( ??? ??????????? ) ??????????? ??????? ???????????? ? ??????? ???????? ?????????? ?????????? ?????? ?????????? ????? ??????? ? ??????????? : ??? ? ???????? ??????? ??????????? ??????? ???????????? ????????????? ? ????? ????????? ??? ??????? ?????? ???????????? ? ????? ????????? ???? ????????????? ???????? ??????????????? ???? ??????? ??????? ???????????? ? ?????? ????????????? ? ?????? ??????? ?????????????? ???????????? ??????????????? ? ??????? : ???? ???????? ??????????? ??????????? ?????????? ??? ??????

( ???? ) ????????? ( ????????? ) ???? ??????????? ? ???????????? ?????? ????????? ????? ??? ?????? ????????? ? ???? ???????? : ???? ?????? ?????? ??????????? ?????? ???????? ???? ?????? ????????? ??? ?????????? ???? ????????????? ???? ?????? ?????? ?????? ( ?????? ) ???? ???????????? ( ????????? ???? ????????? ?????? ?????????? ????? ) ???????? ?????????? ?????? ( ??? ??????????? ) ?????? ??? ????????? ????????? ??? ???????? ???? ?????? ??????????? ???? ??????? ???? ???? ??????????? ??? ??????? ?????? ??????????? ???????????? ? ?????????? ????????? ????????? ???? ???????? ?????? ??????????? ???????? ? ???????? ??? ???????????? ????? ????????? ???? ?????? ?????????? ????????? ???? ?????????? ????????????.

?????? ????????? ???? ??????? (1/ 146)

Jika organ pembuangan terakhir tersumbat entah itu anus ataupun lubang kemaluan, sekira tidak bisa difungsikan sama sekali, dan organ buatan (stoma) yang terletak di bawah pusar (lambung) terbuka lalu keluar feses atau air seni maka hal tersebut bisa membatalkan wudlu. Sebab umumnya yang keluar dari lambung adalah feses dan organ tersebut diaplikasikan sesuai organ asli (sesuatu yang keluar darinya dapat membatalkan wudlu). Termasuknya ketika yang keluar dari stoma berupa sesuatu yang langka, seperti singgat dan darah. Namun, pendapat lain mengatakan tidak sampai membatalkan jika yang keluar semacam singgat dan darah, karena adanya stoma tadi hanya sebagai alternatif. Dan menurut argumentasi yang kuat (mutamad) hanya cukup salah satunya saja yang tersumbat utnuk dapat membatalkan wudulu. Tapi dari Imam as-Shoimari mempersyaratkan harus tertutupnya kedua lubang tadi baru bisa membatalkan.

Sedangkan apabila stoma tersebut terletak di atas atau bahkan sejajar dengan pusar, serta status organ asli masih tersumbat, itu tidak sampai membatalkan. Karena apa yang keluar dari stoma tadi umumnya bukanlah feses, melainkan lebih cenderung muntahan atau sejenisnya.

Hukum-hukum seperti di atas itu juga bisa diaplikasikan saat seseorang menderita penyakit prostat dan sejenisnya, yaitu penyakit yang sekira membuat jalur pembuangan terakhir tidak difungsikan secara normal, meliputi penis dan vagina.

  • Kesimpulan
  1. Benda apapun yang keluar dari stoma yang berada di atas pusar atau sejajar dengan pusar tidak dapat membatalkan wudlu, baik anus dapat berfungsi maupun tidak berfungsi.
  2. Ketika keluarnya dari stoma yang berposisi di bawah pusar maka dapat membatalkan wudlu jika anus tidak berfungsi, dan tidak lagi membatalkan wudlu jika anus dapat difungsikan kembali.

Baca juga:

Bhttp://fadllulwahidngangkruk.com/beragam-bentuk-ibadah-all-in-one/ergam bentuk ibadah All In One