CUKA HALAL ATAU HAROM ?

CUKA HASIL EVOLUSI MIRAS

M. Nurul Basyari bin Ali Nur Hamid

Firqoh Ulya II PP. Fadllul Wahid

Akal pikiran merupakan salah satu anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat manusia. Dengannya manusia mampu menampung luasnya samudra ilmu pengetahuan, bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar, dapat memahami agungnya kekuasaan Tuhan, dan menjadikan manusia berbeda dengan hewan. Manusia dengan akalnya mampu mengalahkan semua makhluk Tuhan, ia bisa terbang lebih jauh dari seekor burung Elang, ia mampu melebihi jauhnya jangkauan ikan tuna di lautan, dan bahkan ia mampu mengungguli kebaikan Malaikat yang setiap saat taat kepada Tuhan.

Akal pikiran juga menjadi salah satu unsur penting dalam tegaknya syari’at islam, terbukti Hifdzul ‘aqli (Menjaga Akal) menjadi salah satu poin dari lima pilar Maqosid Syar’iyyah (tujuan-tujuan pensyari’atan hukum islam). Artinya segala bentuk aktivitas atau perbuatan apapun yang dapat menghilangkan akal fikiran hukumnya adalah haram, begitu juga dengan mengkonsumsi sesuatu yang dapat menghilangkan fikiran ! Namun ironinya di Negara yang sangat kita cintai ini semakin hari semakin banyak anak bangsa yang mabok-mabokan di pinggir jalan dan beramai-ramai memakai obat-obatan terlarang, mulai dari yang tua sampai yang muda, yang miskin sampai yang kaya, dan yang tinggal di kota sampai yang tinggal di desa! Na’udzubillah Tsumma na’udzubillah Min Dzalik.

Memang fenomena ini sangat memilukan dan menyayat hati bagi orang-orang yang mau berfikir, namun untuk membrantas dan menghilangkannya bukanlah suatu hal yang mudah. Akan tetapi setidaknya dari setiap elemen masyarakat ikut andil dalam menghilangkan penyakit masyarakat tersebut seseuai dengan batas kemampuan masing-masing. Berangkat dari ini kami menulis sekelumit tentang permasalahan fikih yang berkenaan dengan hal-hal yang memabokkan dan juga secara spesifik kami membahas permasalahan cuka yang merupakan hasil evolusi dari minuman keras. Hal ini kami lakukan untuk mengingatkan sesama anak bangsa tentang hukum miras secara fikih; agar mereka yang lupa dapat mengingatnya kembali, dan mereka yang lalai dapat merenungkannya kembali, dan juga semoga tulisan ini dapat menjadi amalan yang bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca yang budiman.

Jenis-Jenis Muskir (Hal-Hal Yang Memabukkan)

Telah dijelaskan dalam naskah-naskah kitab kuning bahwa perkara yang memabukkan ada dua jenis, yaitu :

  1. Mai’ (cair) seperti: minuman keras, towak, air fermentasi tape dll.
  2. Jamid  (beku) seperti: ganja dan sabu-sabu.

Kedua jenis muskir ini sama-sama haram untuk dikonsumsi, namun tidak sama dalam hukum kenajisannya. Untuk yang cang cair (mai’) materinya dihukumnya najis, sedangkan yang beku (jamid) materinya dihukumi suci.

Pembagian Muskir Mai’

          Benda cair yang memabokkan ada dua macam:

  1. Khamr. Secara etimologi adalah perasan anggur yang telah berevolusi menjadi benda cair memabokkan. Sedangkan secara terminologi adalah setiap minuman yang memabukkan baik itu perasan anggur, perasan kurma, air tape, madu, dll.
  2. Nabidz. Yaitu minuman keras yang terbuat dari selain perasan anggur, seperti perasan kurma, madu, tape dll.

Pembagian Muskir Jenis khamr

Khamr ada dua macam:

  1. Khamr Muhtaramah (berharga), yakni minuman keras yang pada awal pemerasannya tidak ditujukan untuk dibuat Khamr,  melainkan ditujukan untuk dibuat cuka, atau diperas tanpa ada tujuan apapun.
  2. Khamr Ghairu Muhtaramah (tidak berharga), yakni minuman keras yang pemerasannya memang ditujukan untuk dibuat khamr.

Perincian ini diperuntukkan khamr yang merupakan hasil perasan orang islam, sementara khamr hasil perasan orang non muslim semuanya dihukumi Muhtaromah.

Perubahan Khamr Menjadi Cuka

Telah disebutkan sebelumnya bahwa Muskir Mai’ materinya dihukumi najis, namun husus untuk Muskir Mai’ yang berjenis Khamr tidak selamanya najis, melainkan bisa berubah menjadi suci jika telah berevolusi menjadi cukak. Ulama’ telah menyebutkan bahwa ada beberapa perkara najis yang dapat berubah menjadi suci, yaitu :

  1. Kulit bangkai yang disamak, selain babi dan anjing beserta anak-pinaknya–.
  2. Khamr yang telah berubah menjadi cuka.
  3. Darah menjangan yang telah berubah menjadi misik.

kemudian proses perubahan khamr menjadi cuka sendiri secara umum ada tiga bentuk, yaitu :

  1. Menjadi cuka dengan sendirinya tanpa ada upaya apapun.
  2. Menjadi cuka  dengan  terkena terik matahari (dijemur).
  3. Menjadi cuka sebab tercampur dengan benda tertentu sekalipun tidak mempengaruhi perubahan seperti berupa batu.

Untuk cuka hasil evolusi dari proses pertama dan kedua, baik khamrnya jenis Muhtaramah ataujenis Ghairu Muhtaramah, baik terbuat dari kurma atau terbuat dari yang lain, para Ulama’ telah bersepakat bahwa hukumnya adalah suci dan boleh untuk dikonsumsi; karena keharaman dan kenajisan khamr itu alasannya adalah memabukan, sementara khamr yang telah berubah menjadi cuka tidak lagi memabukkan, maka hukumnya adalah suci. Sedangkan untuk cuka yang merupakan hasil evolusi dari proses ketiga, baik proses perubahannya disengaja atau tidak, baik benda yang mencampurinya suci atau najis, dan baik yang mencampuri mempengaruhi perubahannya atau tidak, Para Ulama’ mengatakan hukumnya tetap najis dan tetap haram untuk dikonsumsi.

Perhatian:Untuk cuka yang merupakan evolusi dari miras yang bukan terbuat dari perasan anggur atau disebut juga dengan Nabidz hukumnya adalah khilaf. Menurut Imam As-Subki dan Imam Al-Baghowi hukumnya adalah suci, sedangkan menurut Al-Qodli Abu Tayyibhukumnya tetap haram dan najis.

KESIMPULAN :

  1. Khamr, baik itu muhtarom atau ghairu muhtarom, ketika berubah menjadi cuka dengan sendirinya, atau dengan cara dijemur dengan terik matahari hukumnya adalah suci, sehingga boleh untuk dikonsumsi.
  2. Nabidz (minuman memabukkan yang terbuat dari selain perasan anggur) seperti halnya kebanyakan mira-miras di Indonesia, ketika berubah menjadi cuka hukumnya adalah khilaf. Menurut Imam As-Subki dan Imam Al-Baghowi, menjadi suci, sedangkan menurut Al-Qodli Abu Tayyib tetap haram dan najis.
  3. Khamr, baik muhtarom atau ghairu muhtarom, begitu juga nabidz, ketika berubah menjadi cuka sebab tercampur benda lain, baik suci atau najis, baik disengaja atau tidak, hukumnya tetap najis dan tidak boleh dikonsumsi.

Wallahu A’lam.[]

MENYAMAK KULIT

MENYAMAK KULIT HEWAN

(Ahmad Lufhfi Habib bin Nurlan)

Firqoh Ulya Tsani PP. Fadllul Wahid

Sering kita jumpai, pada zaman yang serba modern ini, produk-produk dari kulit binatang dijual di toko-toko, pasar-pasar tradisional, hingga di mall-mall besar. Produk seperti jaket, sandal, sepatu, tas, ikat pinggang, alat rebana, bedug, dll yang terbuat dari kulit hewan telah menjadi kebutuhan atau sekadar tuntutan tren fashion kekinian. Bahan yang digunakan adalah kulit terbaik dari aneka ragam hewan yang dapat dimanfaatkan kulitnya, baik dari hewan yang halal dimakan dagingnya, seperti: sapi, kerbau, dan kambing atau dari hewan yang tidak halal, seperti: ular, buaya, harimau, dll.

Untuk membuat tas, jaket, sepatu atau produk-produk terbaik dari kulit hewan diperlukan proses yang cukup panjang, antara lain dengan cara menyamak kulit tersebut. Proses penyamakan ini sangat mementukan kwalitas produk. Sehingga, tata cara menyamak kulit harus dilakukan dengan benar agar kulit tidak cepat busuk dan produk tidak lekas rusak.

Dalam perspektif fikih, perlu dibedakan antara menyamak kulit hewan yang mati karena disembelih dan kulit hewan yang mati tanpa disembelih (bangkai), antara binatang yang halal dan yang haram. Lantas, apakah semua kulit yang telah disamak bisa menjadi suci dari najis, dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari?

Berikut ini mari kita bahas proses penyamakan yang benar sesuai syari’ah, aspek hukum-hukum fikih dan tujuan penyamakan.

 Apa Itu Menyamak?

Penyamakan adalah proses atau cara menghilangkan sisa-sisa yang ada pada kulit binatang, sepertisisa-sisadaging, darah atau kotoran-kotoran lain yang dapat membuat kulit menjadi busuk.[1] Menyamak juga merupakan proses untuk mengubah benda (kulit) yang najis menjadi suci. Singkatnya, ialah sebuah proses penyucian kulit binatang. Binatang halal yang mati tanpa disembelih atau telah mati menjadi bangkai dapat dimanfaatkan kulitnya setelah melalui proses penyamakan. Begitu juga binatang yang haram dagingnya seperti harimau, baik matinya karena disembelih maupun tidak. Jadi, untuk memanfaatkan kulit binatang halal yang mati karena disembelih tidak perlu untuk menyamak terlebih dahulu, karena kulit tersebut suci dan tidak perlu disucikan kembali.

Kulit yang telah diproses pasti akan lebih awet dan tidak akan busuk, berbeda dengan kulit yang tidak diproses, pasti tidak tahan lama dan cepat membusuk. Akan tetapi, penyamakan kulit harus dilakukan dengan cara yang benar, agar tercapai hasil yang diinginkan (tidak cepat busuk dll).

Tata Cara Menyamak

Proses menyamak yang benar iaitu membersihkan kulit binatang dari sisa-sisa kotoran seperti darah dan daging yang menempel menggunakanbahan-bahan (zat) yang rasanya tajam atau حريف  (sepet; jawa). Bahan-bahan tersebut ada kalanya berupa bahan yang suci, seperti: kulit delima, samak paya, samak serai, pasir dsb., atau bahan yang najis, seperti: kotoran burung merpati, bahkan berupa najis mughalladhah, seperti kotoran anjing. Namun, ketika menyamak menggunakan najis mughalladhah setelahnya harus disucikan layaknya menyucikan najis mughalladhah (dibasuh sebanyak tujuh kali dan salah satunya disertai dengan debu (pasir atau tanah yang suci). Kemudian proses penyamakan harus diakhiri dengan pembasuhan menggunakan air bersih dan suci. dilakukan dengan cara menghilangkan semua.[2]

Ketika ada seseorang menjemur kulit binatang dibawah sinar matahari, atau menyamak kulit tersebut menggunakan garam, debu, atau bahan (zat) lain yang dapat menghilangkan bau pada kulit (selain bahan yang rasanya tajam/sepet), kemudian kulit itu menjadi keras dan bau busuk dari kulit itu hilang sehingga menimbulkan bau wangi, maka kulit itu tetap tidak bisa menjadi suci karena kulit tersebut tidak diproses atau disamak dengan benar, yakni menggunakan bahan-bahan berasa tajam.

Dengan demikian,menyamak hanya bisa dilakukan dengan sesuatu yang rasanya tajam, tidak dengan yang lain. Meski penyamakan menggunakan bahan lain juga bisa menghilangkan bau busuk dari kulit binatang, tapi itu hanya bersifat sementara. Ketika kulit tersebut terkena air maka bau busuk yang telah hilang pasti akan kembali lagi.[3]

Tujuan Penyamakan

Tujuan penyamakan adalah supaya kulit menjadi suci, bersih, tidak bau, dan tahan lama. Semua kulit yang telah disamak berubah menjadi suci berlandaskan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim {أيّما إهاب دبغ فقد طهر}  dan {هلا أخذتم إهابها فدبغتموه، فانتفعتم به}, kecuali kulit anjing, babi, dan anak-anak hasil perkawinan silang dari anjing atau babi.

Dari hadis di atas, kita tahu bahwa semua kulit binatang–kecuali yang najis seperti anjing dan babi– dapat disamak dan dimanfaatkan, baik berupa kulit hewan yang disembelih maupun yang mati menjadi bangkai, kulit hewan yang halal maupun yang haram (kecuali anjing, babi, dan turunannya).

Hukum Kulit yang Telah Disamak

Semua bangkai binatang –kecuali ikan dan belalang– yang mati tanpa disembelih (menjadi bangkai) adalah najis dan haram dimakan, baik dari kategori hewan yang halal dagingnya maupun yang haram. Maka, kulit binatang yang aslinya suci pun berubah menjadi najis setelah menjadi bangkai. Oleh karenanya, perlu menyucikan dengan cara menyamak kulit hewan yang mati menjadi bangkai untuk dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah disamak, kulit-kulit bangkai binatang berubah dari najis menjadi suci yang masih berbalut najis (mutanajis). Jadi, hukum kulit hewan yang telah melalui proses penyamnakan berubah menjadi seperti pakaian suci yang terkena najis. Dalam arti,baru benar-benar suci dari najis setelah dibilas dengan air.

Ketika kulit sudah suci, maka produk-produk yang terbuat dari kulit itu boleh dijual-belikan, disewakan, digunakan dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Pakaian yang terbuat dari kulit boleh dikenakan saat shalat, thawaf, khutbah, dan ibadah-ibadah lainnya.[4] Bedug atau rebana dari kulit bangkai sapi atau kerbau yang telah disamak juga boleh diletakkan dan dimainkan di dalam masjid. Hanya saja, masih terjadi kontroversi dan perbedaan pendapat diantara ulama tentang memakan kulit hasil penyamakan tersebut.

Hukum Memakan Kulit yang Sudah Disamak

Perlu diketahui bahwa kulit yang disamak itu ada dua macam, yaitu

  1. Dari hewan yang sudah disembelih
  2. Dari hewan yang sudah menjadi bangkai
  • Memakan kulit yang disamak dari hewan yang sudah disembelih itu hukumnya diperbolehkan selama tidak ada madharat (dampak berbahaya).[5] Karena pada dasarnya, binatang yang disembelih menjadi halal untuk dimakan daging, kulit, dan bagian tubuh lainnya.
  • Adapun kulit dari hewan yang sudah menjadi bangkai diklasifikasikan menjadi dua, yaitu
  • Dari kategori hewan-hewan yang tidak haram dimakan seperti harimau, singa, dll.,
  • Dari kategori hewan-hewan yang halal dimakan seperti kambing, sapi, dll.
  • Memakan kulit yang telah disamak dari hewan yang haram itu hukumnya tetap tidak diperbolehkan[6], kendati sudah menjadi suci. Hal ini karena hukum-hukum hewan yang sudah mati itu seperti ketika masih hidup. Jadi, binatang yang haram dimakan tidak dapat berubah menjadi halal dengan menyembelihnya.
  • Memakan kulit yang telah disamak dari bangkai hewan yang halal itu ada dua pendapat;
  • Hukumnya tetap tidak diperbolehkan. Karena binatang tersebut sudah terlanjur menjadi bangkai, maka kulitnya pun menjadi haram untuk dikonsumsi, meski sudah berubah menjadi suci. Hukum ini berlandaskan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim {إنما حرم من الميتة أكلها}. Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama Syafi’iyah.
  • Sedangkan Imam Abu Hamid mengatakan bahwa, boleh memakan kulit hasil penyamakan sekalipun dari bangkai binatang yang halal. Hukum ini berdasarkan hadis {وذكاة الآدمي دباغه}. Pendapat ini merupakan pendapat yang diriwayatkan dari salah satu ashabus Syafi`i.[7]

Kesimpulan

  • Setiap kulit yang sudah disamak itu suci kecuali kulit anjing, babi, dan anak perkawinan silang darinya.
  • Semua kulit yang telah disamak boleh dimanfaatkan untuk apapun, termasuk untuk shalat dan tempat minuman.
  • Memakan kulit hewan yang haram dimakan dan sudah disamak itu hukumnya tidak boleh.
  • Memakan kulit hewan halal yang disembelihdan telah disamak itu hukumnya boleh.
  • Memakan kulit bangkai dari hewan halal yang telah disamak itu ada dua pendapat; pertama tidak boleh, kedua diperbolehkan memakannya.

DAFTAR PUSTAKA           

  1. Abi Al-abbas  Ahmad Al-Ramli, nihayat al-muhtaj,(dar al-fikr).
  2. Al-MausuatAl-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah.
  3. Muhammad bin Ahmad As-Shawi, hasyiyah as-shawi.
  4. Sulaiman Al-Bujairami, hasyiyah bujairami ala al-khatib, (dar al-fikr).
  5. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib As-Syirbini,al-iqna` fi halli alfadhi abi syuja`,(dar al-fikr).
  6. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib As-Syirbini, mughni al muhtaj,(dar al-kutub al-ilmiyah).
  7. Umar bin Muhammad, faid alilahi al-malik,(dar al-kutub al-ilmiyah).

[1]Umar bin Muhammad,  faidl al-ilah al-malik,(1/119).

[2]Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib As-Syirbini,al- iqna` fi halli alfadhi abi suja` dan Sulaiman Al-Bujarami,bujairami alaal- khatib, (1/ 99).

[3]Abi al-Abbas  Ahmad Ar-Ramli,nihayat al-muhtaj, (1/251).

[4]Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib As-Syirbini,mughni al-muhtaj, (1/238).

[5]Sulaiman Al-Bujarami,hasyiyah bujairami ala  al-khatib, (1/100).

[6]Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib As-Syirbini, syarahmughni al-muhtaj, (1/132).

[7]Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah,(20/233).

AL-QUR’AN

MENGAGUNGKAN AL-QUR’AN

(M. Minanurrohman Bin A. Sayyidi)

Firqoh Ulya II PP. Fadllul Wahid

Pada dasarnya semua bentuk ibadah itu ditujukan hanya untuk mengagungkan Allah SWT, tidak terkecuali ibadah yang hubungannya dengan al-Qur’an, baik saat membacanya, menghapalkannya, merenungkan maknanya, atau menulisnya. Seseorang yang membaca atau memahami kandungan makna al-Qur’an secara tidak langsung sedang  bermunajat kepada Allah SWT; karena semua surat, ayat bahkan huruf yang ada dalam al-Qur’an hakikatnya adalah murni dari firman-Nya. Al Qur’an juga merupakan bukti terbesar dari kenabian Rasulullah Muhammad SAW, yang hingga saat ini bahkan untuk selamanya akan terjaga keagungan dan keotentikannya. Maka sudah sepantasnya seseorang yang sedang berinteraksi dengan al-Qur’an harus memakai tata-krama dan mentaati semua peraturan yang telah ditetapkan oleh para Ulama’ dalam rangka memuliakannya. Dan di bawah ini telah kami rangkum beberapa hukum yang berkaitan dengan al-Qur’an, berikut pengertiannya:

Pengertian Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhamad SAW sebagai mukjizat yang hanya dengan satu surat saja mampu untuk menundukkan musuh-musuhnya, dan dengan hanya membacanya seseorang telah dianggap melakukan ibadah, meskipun tidak faham maknanya.

Membaca Al-Qur’an Binnadhor (Melihat Tulisan) Didalam Sholat

Rasulullah SAW bersabda:

” أفضل عبادة أمتي تلاوة القرآن “

artinya: “Ibadah umatku yang paling utama adalah  membaca Al-Qur’an”.

Mungkin berawal dari hadits ini semua umat islam berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan terbanyak dalam membaca al-Qur’an, apalagi ketika memasuki Bulan Ramadhan, hampir semua umat islam dimanapun tempatnya berama-ramai menghidupkan hari-hari puasa dengan membaca al-Qur’an. Pagi, sore, siang, malam, gelap, terang, di Masjid, di Mushola, di rumah, di pasar, di TV, dan tidak perduli dimanapun tempatnya semua orang bersemangat melantunkannya. Namun ada satu fenomena yang terkadang masih janggal di mata kalayak umum, bahkan acapkali menjadi pertanyaan yang berulang-ulang ketika Ramadan tiba, yakni membaca al-Qur’an Binnadhor (Melihat tulisannya) pada saat sholat tarawih. Maksudnya membawa al-Qur’an ditangan untuk dibaca dalam keadaan sholat tarawih setelah membaca Surat al-Fatihah. Lalu seperti apahukum yang sebenarnaya?

Hukum membaca Al-Qur’an Binnadhor dalam sholat terjadi perbedaan pendapat diantara para Ulama’:

  1. Menurut Madzhab Syafi’i: diperbolehkan dan tidak sampai membatalkan sholat.
  2. Menurut Madzhab Hanafi: tidak diperbolehkan dan juga membatalkan sholat; karena membawa, membaca, dan membolak balik kertas al-Qur’an dianggap gerakan yang banyak.
  3. Menurut Madzhab Maliki: hukumnya makruh, baik dalam sholat fardlu atau sunah, hanya saja ketika dalam sholat sunah kemakruhannya hanyalah saat membaca di tengah-tengah sholat, bukan di awalnya.
  4. Menurut Madzhab Imam Ahmad bin Hambal: hukumnya makruh secara mutlak ketika dilakukan dalam sholat fardhu. Namun beliau memperbolehkan membacanya dalam sholat Tarawih bagi yang tidak Hafidz al-Qur’an, sedangkan bagi yang Hafidz hukumnya adalah makruh.

Kemudian untuk membaca al-Qur’an Binnadhor di luar sholat tidaklah menjadi perdebatan; karenasemua Ulama’ bersepakat atas keutamannya. Hanya saja mereka berbeda pendapat apakah yang lebih utama adalah membaca Binnadhor (dengan melihat tulisan) atau membaca dengan hafalan?

Sebagian ulamamengatakan lebih utama membaca Binnadhor; karena melihat tulisan al-Qur’an terhitung ibadah tersendiri, namun menurut Imam an-Nawawi jika dengan menghafal seeorang menjadi lebih khusyuk, maka denganhafalan lebih utama.

Membaca Al-Qur’an Bagi Seorang Yang Hadats

Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ { كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقْرِئُنَا الْقُرْآنَ مَا لَمْ يَكُنْ جُنُبًا

Artinya:  Dari Ali Ra berkata: “Rosulullah membacakan al-Qur’an kepadaku  selama beliau tidak dalam keadaan junub”.

Dari hadits ini para Ulama’ mencetuskan hukum bahwa orang yang hendak membaca al Qur’an harus terlepas dari hadats besar, sekalipun ia bisu. Artinya si bisu yang junub tidak boleh mengisyaratkan bahasa al-Qur’an. Hal ini tiada lain tujuannya adalah untuk menjaga keutamaan dan keagungan Allah SWT. Sedangkan bagi yang sedang hadats kecil baginya tetap boleh untuk membaca al-Qur’an.

Kemudian larangan membaca al-Qur’an bagi orang yang hadats besar tersebut, sekira menetapi beberapa keriteria berikut ini:

  1. Olehnya membaca al Qur’an terdengar dirinya sendiri.
  2. Olehnya membaca, diniatkan untuk membaca bacaanAl-Qur’an. Sehingga jika olehnya membaca ditujukanuntuk berdzikir atau berdo’a atau mencari keberkahan atau menghafal, atau dimutlakkan (tidak bertujuan apapun), maka hukumnya tidak haram.
  3. Tidak dalam keadaan darurat. Sehingga bagi Faqidut Thohuroin (seseorang yang tidak memungkinkan bersuci dengan air dan debu) boleh membaca Surat al-Fatihah di dalam sholatnya.

Perhatian: Menurut Madzhab Qodimnya Imam Syafi’i dan Madzhab Malik, perempuan diperbolehkan membaca al-Qur’an dalam keadaan haidl.

Membaca Al-Qur’an Dengan Selain Huruf Arab

Seseorang tidak boleh membaca al-Qur’an yang ditulis menggunakan Bahasa selain Arab, seperti latin, Hindi, dan Persia, entah ia bisa baca tulis Arab atau tidak. Hal ini karena terdapat Firman Allah SWT:

“إنا أنزلناه قرآنا عربيا”

Sesungguhnya Aku (Allah) telah menurunkan kepada Muhammad Qur’an yang berbahasa Arab”.

Namun ada riwayat yang mengatakan bahwa Imam Abi Hanifah dahulu pernah memperbolehkan membaca al-Qur’an yang ditulis dengan Bahasa Persia secara mutlak, begitu juga dengan Imam Abu Yusuf yang memperbolehkan membacanya jika memang tidak bisa membaca tulisan Arab, namun belakangan diketahui bahwa Imam abu Hanifah telah menarik pernyataannya tersebut.

Mushaf Utsmani

Allah SWT dengan keagungannya berfirman dalam al-Qur’an:

إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون

Sungguh Aku (Allah) telah menurunkan al Qur’an dan sungguh aku akan menjaganya”.

Ayat ini menegaskan bahwa al Qur’an adalah Kitab yang pasti terjaga keotentikannya; karena Allah sendiri yang menyatakan akan menjaganya. Keotentikan al-Qur’an ini terbukti dengan adanya Umat Islam dari generasi ke generasi yang senantiasa menjaganya dari perubahan dan penyelewengan dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang mereka miliki, dan pastinya dengan cara penjagaan yang berbeda-beda pula. Di zaman Kenabian, para sahabat menjaganya dengan hafalan dan tulisan. Ada yang hapal sebagiannya dan tidak sedikit pula yang hafal keseluruhannya. Namun untuk penulisan al-Qur’an di Masa Kenabian ini belum rapi serapi zaman sekarang; karena keterbatasan alat dan materi tulis-menulis pada saat itu, sehingga para sahabat hanya menulisnya dengan alat-alat seadanya. Ada yang menulis di kulit pohon kurma, ada yang menulis di tulang belulang, dan adajuga yang menulis di bebatuan khusus.

Kemudian di zaman Khalifah Abu Bakar Sidik, terjadi peperangan besar antara kaum muslimin dan kaum musyrikin yang mengakibatkan gugurnya para Qurro’ (Penghafal Qur’an) di medan perang. Hingga akhirnya sahabat Umar Ra mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan al-Qur’an yang ada di tangan para sahabat; agar keutuhan al-Qur’an tetap terjaga. Sempat melalui perdebatan yang sengit antara keduanya, namun ahirnya Khalifah Abu Bakar menerima saran Sahabat Umar Ra, lalu memerintahkan beberapa sahabat yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan dari tangan para sahabat-sahabat yang lain. Dan setelah al-Qur’an terkumpul, kemudian Khalifah Abu Bakar menaruhnya di rumah Sayyidah Hafshah.

Berlanjut pada masa kepimpinan Utsman bin Affan RA. Masa di mana Agama Islam sudah tersebar di berbagai belahan dunia dan banyaknya sahabat  Nabi yang telah berhijrah ke beberapa negara taklukan islam, setelah sebelumnya, di masa kehalifahan Umar bin Khottob keinginan untuk berhijrah tersebut hampir tidak pernah digaungkan. Namun dibalik kejayaan agama islam di masa ini, terdapat permasalahan yang pelik di antara umat islam terkait dengan bacaan al-Qur’an yang sahih; karena setiap dari sahabat yang berhijrah mempunyai pemahaman tentang bacaan al Qur’an yang berbeda-beda. Sehingga Khalifah Utsman bin Affan merasa perlu untuk menyatukan kepahaman mereka  agar tidak terjadi pertumpahan darah akibat fenomena tersebut. Ahirnya dengan persetujuan para Sahabat termasuknya yaitu Ali bin Abi Thalib. Khalifah Utsman mengumpulkan al-Qur’an dalam satu Mushaf yang saat ini dikenal dengan Mushaf  Utsmani. Lalu beliau memerintahkan untuk menyebarkannya ke berbagai daerah Islam dan membakar semua Mushaf selain Mushaf Utsmani.

Dari kejadian tersebut para Ulama’ menetapkan hukum wajib untuk mengikuti dan memakai Mushaf yang penulisannya sesuai dengan Mushaf Utsmani, karena dibalik tersusunnya penulisan Mushaf Utsmani tersebut terdapat Ijma’ dari para Sahabat Nabi SAW.

Menulis Al Qur’an Dengan Selain Huruf Arab

Ulama’ berbeda pendapat dalam menyikapi permasalahan boleh dan tidaknya menulis al-Qur’an menggunakan huruf selain Arab:

  1. Sebagian Ulama’ termasuk As Syihab ar Romli mengatakan boleh; karena tulisan Ajam (selain Arab) yang dipakai dapat menunjukkan bunyi Bahasa al-Qur’an yang diharapkan, tanpa merubah kalimatnya dan esensi dari kandungan maknanya.
  2. Sebagian Ulama’ yang lain termasuk Ibnu Hajar mengatakan tidak boleh, karena ada sebagian bilangan huruf Arab yang tidak ditemukan dalam huruf latin, akibatnya jika al Qur’an ditulis dengan menggunakan huruf latin, maka akan berdampak merubah dan merusak tatanan kalimat yang ada dalam al Qur’an. Sedangkan adanya riwayat yang menyebutkan bahwa sahabat Salman al Farisi pernah menuliskan Surat al-Fatihah dengan bahasa Persia untuk penduduknya, itu bukan murni Surat al-Fatihah yang beliau tulis, melainkan Tafsir dari Surat al-Fatihah lah yang beliau tulis.

MenerjemahkanAl Qur’an Kedalam Bahasa Ajam

Menerjemahkan ayat al-Qur’an kedalam Bahasa Ajam hukum asalnya tidak diperbolehkan, karena dapat dipastikan penerjemahannya akan merubah kandungan dari makna al-Qur’an. Abul Husain bin al-Faris berkata dalam Fiqh al-Arobiyyah: “Tidak akan ada seorang pun yang mempu menerjemahkan al-Qur’an kedalam Bahasa Ajam seperti halnya kitab Injil yang diterjemahkan dari Bahasa Suryani kedalam Bahasa Etopia dan Persia, begitu juga kitab-kitab Allah yang lain yang berbahasa Arab. Hal ini karena kosa kata dalam Bahasa Ajam tidak seluas kosa kata dalam Bahasa Arab”. Namun ketika kita telaah lebih dalam, sebenarnya boleh menerjemahkan al-Qur’an kedalam bahasa Ajam, hanya saja penerjemahannya bukan murni menerjemahkan isi al-Qur’an, melainkan menerjemahkan tafsirnya. Maka tidak mengherankan jika di era sekarang, hampir semua orang di belahan Dunia ini telah menerjemahkan al-Qur’an kedalam Bahasa mereka masing-masing, berdasarkan diperbolehkannya menerjemahan tafsir al-Qur’an kedalam Bahasa Ajam tersebut.

Menyentuh Dan Membawa Al-Qur’an

Berawal dari Firman Allah SWT dalam Surat al-Waqi’ah Ayat 79 yang berbunyi:  لايمسه الاالمطهرون “Tidak ada yang menyentuhnya selain Hamba-hamba yang disucikan”, Para Ulama’ berbeda pendapat dalam menyikapi permasalahan boleh dan tidaknya seseorang yang berhadats menyentuh al-Qur’an. Hal ini lantaran mereka berbeda pendapat dalam menafsirkan kalimat Illal Mutthohharun. Sebagian dari mereka ada yang mengartikan Para Malaikat yang suci, sebagian lagi ada  mengartikan yang suci dari dosa, ada juga yang mengartikan yang suci dari jinabat dan hadats, dsb. Bagi Ulama’ yang mentafsirkan Illal Muthohharun dengan yang suci dari jinabat dan hadats, maka seorang yang sedang hadats tidak diperbolehkan menyentuh al-Qur’an, karena al-Qur’an hanya diperuntukkan bagi yang suci dari hadats saja. Mereka juga memperkuat pendapatnya dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abi Bakar:

أن فى الكتاب الذى كتبه رسول اللَّه -صلى اللَّه عليه وسلم- لعمرو بن حزم: (ألا يمس القرآن إلا طاهر)

“Sesungguhnya dalam surat yang ditulis Rasulullah SAW kepada Umar bin Hazm terdapat kalimat: “Janganlah menyentuh al-Qur’an kecuali orang yang suci”, hal ini terlepas dari adanya kaidah Ushul yang mengatakan “Hukum tidak bisa diambil dari dalil yang bersifat kalam khabar (berita)”.

Membawa Al-Qur’an Dalam Wadah Bagi Orang Yang Hadats

Sebelumnya telah disebutkan bahwa terdapat perbedaan pendapat terkait boleh tidaknya orang yang berhadats menyentuh al-Qur’an. Kemudian bagaimana hukumnya jika seseorang yang hadats membawa al-Qur’an dalam suatu wadah? Apakah hukumnya juga sama?

Madzhab Syafi’i mengatakan: membawa al-Qur’an dalam suatu wadah diperbolehkan jika dalam wadah tersebut juga terdapat barang yang lain, dan dalam membawanya tidak ditujukan untuk membawa al-Qur’an. Sehingga jika dalam wadahnya hanya berisi al-Qur’an saja, atau juga berisi barang lain namun diniatkan untuk membawa al-Qur’annya, maka hukum membawanya adalah haram. Dan perlu diketahui bahwa wadah yang dimaksud disini menurut Imam Nawawi adalah semua benda yang bisa dijadikan wadah baik pembuatannya dihususkan untuk wadah al-Qur’an atau tidak, lalu menurut Imam Al Halibi adalah segala bentuk wadah baik kecil atau besar, kemudian menurut Sebagian Ulama’ kursi juga dianggap sebagai wadah, hanya saja dibedakan besar dan kecilnya. Jika kursinya kecil, maka orang yang hadats  tidak  boleh menyentuh kursinya dari bagian manapun, dan jika kursinya besar, maka yang haram untuk disentuh hanyalah tempat yang sejajar dengan al-Qur’an saja.

Perhatian:

  • Terdapat beberapa situasi yang memperbolehkan seorang yang hadats menyentuh dan membawa al-Qur’an:
  • Dalam situasi darurat, seperti ketika melihat al-Qur’an hampir terbakar atau tercebur kedalam air dan tidak memungkinkan untuk bersuci terlebih dahulu.
  • Ketika al-Qur’an ditulis bersama dengan tafsirnya dan prosentase jumlah tafsirnya lebih banyak dari al-Qur’an.
  • Terdapat berbedaan Ulama’ terkait kaset yang berisikan bacaan Surat-Surat al Qur’an, apakah hukumnya sama dengan al-Qur’an atau tidak? Sebagian Ulama’ kontemporer mengatakan: hukumnya sama seperti al-Qur’an, karena kaset tersebut didalamnya berisikan komponen yang bertuliskan al-Qur’an. Dan sebagian Ulama’ yang lain mengatakan tidak dihukumi seperti al-Qur’an, layaknya wanita yang dilihat dibalik kaca, karena yang dilihatnya bukanlah hakikat dari wanita tersebut. Sedangkan untuk aplikasi al-Qur’an dalam HP, menurut Sayyid Prof. Abdullah Muhamad Baharun (Rektor Universitas al Ahgaff Yaman): jika aplikasinya dibuka maka hukumnya sama dengan al-Qur’an, jika tidak maka tidak.
  • Hukum menyentuh dan membawa al-Qur’an yang ditulis menggunakan huruf Ajam (selan Arab) hukumnya sama dengan menyentuh dan membawa al-Qur’an yang bertuliskan Arab, sedangkan membawa dan menyentuh al-Qur’an terjemahan itu hukumnya sama dengan membawa kitabTafsir. Artinya bagi yang sedang hadats diperbolehkan menyentuh dan membawanya.

Cara Merawat Al Qur’an Yang Sudah Usang

Ulama’ berbeda pendapat dalam tata-cara merawat al-Qur’an yang sudah usang dan tidak layak baca, sebagai berikut:

  1. Menurut Madzhab Hanafi: Tidak boleh dibakar, melainkan hendaknya dibungkus kain yang suci, lalu dikubur di tempat yang tidak dipandang hina dan tidak dilalui oleh manusia, dan juga dalam menguburnya harus ditutupi, supaya tidak terkena debu.
  2. Menurut Madzhab Ahmad bin Hambal: al-Qur’an sudah tidak layak baca boleh untuk dibakar.
  3. Menurut Madzhab Malik: Diperbolehkan membakarnya, bahkan wajib ketika bertujuan menjaganya dan khawatir akan terinjak-injak.
  4. Menurut Imam Nawawi: Membakarnya hukumnya makruh.

Perhatian: Al-Qur’an yang masih layak baca tidak boleh dibakar, bahkan ketika dibakar dengan tujuan menghina, maka yang membakar dianggap kafir.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman bin Kamal AssuyutiIlmuttafsir

Muhammad bin Ahmad Al QurthubiAljami Alahkam

Al GhazaliIhya’ Ulumuddin

Alawi bin Abbas Almaliki Ibanatul Ahkam

Muhammad bin Abdillah Azzarkasi Alburhan fiulumilquran

Abdurrahman bin Kamal AssuyutiAl Itqon fi ulumilqur’an

Muhammad Zakariyya bin Syarof AnnawawiAttibyan

Abu bakar Utsman bin Muhammad Syatho Addimyathi Ianatuttholibin

Muhammad Zakariyya bin Syarof Annawawi Almajmu Syarh Almuhaddzab

Sulaiman Aljamal Hasiyah Aljamal

AssyarqowiHasiyah Assyarqowi

Fatawi al Azhar

Syihabuddin AlqulyubiHasiyah Al Qulyubi

Musa Al HijawiIqna’ Hamish Bujairami alalkhatib

Syihabuddin Arromli Nihayatul Muhtaj

Sulaiman bin Muhammad Albujairami Hasiyah bujairami alalkhatib

Muhammad bin Ahmad Assyathiri Syarh Al Yaqut

Abdul Wahab Assya’roni Mizan Kubro

Mausuah Fiqhiyyah Kuwait

ASAL MUASAL KATA AMMA BA’DU

SEKILAS TENTANG AMMA BA’DU

Oleh : Hadi Nashiri Zainal M.

Santri Ulya Tsani PP. Fadllul Wahid

Mungkin sudah tidak asing lagi di telinga sebagian orang mengenai lafadz amma ba’du. Lafadz ini hampir pasti di gunakan dalam semua permulaan / mukaddimah suatu  pembicaraan, lebih-lebih dalam pidato ataupun sambutan.

Meskipun demikian, kebanyakan dari mereka masih tidak mengetahui sebenarnya siapa yang mengucapkan lafadz tersebut pertama kali, dan bagaimana makna sebenarnya daripada lafadz amma ba’du.

            Oleh sebab itu disini kami akan mengulas sedikit tentang amma ba’du, mungkin saja bisa sebagai wacana dan menambah wawasan kita semua.

œ Lafadz & Makna

Amma ba’du itu tersusun dari Amma dan Ba’duAmma sendiri dalam gramatika arab merupakan huruf Tafsil dan Syarat. Tafsil adalah pemisah, sedangkan Syarat adalah permulaan suatu pembahasan, biasanya dimaknai dengan adapun.[1]

Sedangkan lafadz Ba’du maknamya setelah / sesudah, dan termasuk lafadz untuk menunjukan waktu atau tempat. Sehingga kita bisa memandang maknanya dari dua sisi :

1.      Waktu , artinya waktu pengucapan lafadz setelah ba’du itu sesudah lafadz sebelum ba’du.

2.      Tempat, artinya tempatnya ucapan lafadz setelah ba’du itu jatuh setelah ucapan sebelum ba’du.[2]

œ Tujuan

Berangkat dari penjelasan lafadz dan makna daripada amma ba’du,kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tujuan pelafadzan amma ba’du itu untuk pemisah antara dua pembahasan dan pindah dari satu pembahasan menuju pembahasan yang lain.[3]

Biasanya amma ba’du bertempat diantara mukaddimah dan pokok pembahasan.  Hal ini banyak digunakan dalam konteks arab. Tapi tak jarang pula para Da’i / Muballigh juga menggunakan lafadz itu sebelum memulai pembahasannya.

œ Orang yang pertama kali mengucapkan

Setelah mengetahui sedikit penjelasan diatas, mungkin kita masih penasaran, sebenarnya siapa yang melafadzkan pertama kali ?

Dalam hal ini ada 5 perbedaan pendapat :

1.      Nabi Dawud Alaihis Salam

2.      Qos bin Sa’idah

3.      Ka’ab bin Lu’ay

4.      Ya’rib bin Qohthon

5.      Suhban bin Wail[4]

œ Hukum pelafadzan

Mengucapkan lafadz amma ba’du itu hukumnya sunnah, sebab mengikuti perbuatan beliau nabi Muhammad SAW dalam beberapa Khutbah dan tulisan-tulisan beliau. Maka secara tidak langsung kita akan mendapatkan pahala saat mengucapkannya. [5]

Mungkin cukup ini saja, semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

1)     Kholid Al Asyhari, at Tashrih ‘Ala at Taudlih, Dar al Fikr

2)     Ahmad Ad Damanhuri, Idloh Al  Mubham, Maktabah Al Hidayah

3)     Ibn Hajar Al Haitamy, Tuhfatul Muhtaj, Dar Kutub Al Ilmiyah

4)     Khotib As Syirbiny, Mughni Al Muhtaj, Dar Kutub Al Ilmiyah

5)     Sihabuddin Ahmad Al Qulyubi, Hasyiyahnya ‘Ala al Mahalli, Dar At Taufiqiyah

Baca juga: 

BERAGAM BENTUK IBADAH ALL IN ONE

KOLOSTOMI

SEKILAS NYANTRINYA KH. ABDUL WAHID ZUHDI

BUKU SULUK SANTRI TAREKAT

Katalog Buku Tarekat

Open Pre order “1-10 September”
———————————————————-
Judul: Suluk Santri Tarekat
Ajaran tarekat Syadziliyah Pondok PETA Tulungagung
.
Buku ini menjadi panduan yang mengasyikkan bagi para pembaca, karena ditulis dari pengalaman pribadi sang penulis selama mendalami tarekat. Khususnya para salik tarekat yang berafiliasi kepada Pondok PETA Tulungagung Jawa Timur.
.
Kata Pengantar: KH. Charir M. Sholahuddin al-Ayyubi
Penulis: KH. Habibul Huda, Lc. (Pengasuh PP. Fadllul Wahid Ngangkruk Bandungsari Ngaringan Grobogan Jawa Tengah)
Dimensi: A5, 14,8 21Cm.
Tebal: 214 Halaman
Harga: 65.000
Info: 085641393219 (Pengurus PP. Fadllul Wahid)