SALAM DAMAI DARI NGANGKRUK

Salam Damai Dari Ngangkruk
          Puji syukur kehadirat Ilahi Robbi Dzat pencipta langit, bumi dan seluruh isinya. Sholawat serta salam kepada Baginda Agung, Pemimpin sejati, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya. Di hari yang berbahagia ini, Ahad 22 Oktober 2017, tiga tahun sudah kita merayakan Hari Santri, hari bersejarah Bangsa Indonesia. Hari dimana perjuangan santri dan kyai mendapat apreasi oleh sebab perjuangan dan pengorbanan mempertahankan keutuhan dan kedaulatan Negara dari kepongahan kekuatan tentara asing yang hendak mencengkeramkan kuku kolonialnya. Resolusi Jihad adalah tonggak dimulai perjuangan yang menggelora di hati setiap jiwa santri, Resolusi Jihad yang digelorakan oleh Hadrotussyikh KH. Hasyim Asy’ari menggerakkan semangat juang laskar santri sampai tersungkurnya pasukan Sekutu Inggris.
          Betapa gagahnya Kyai-Kyai kita dan santri-santrinya di masa itu, dengan teriakan takbir yang menggetarkan jiwa, satu tekad mereka “Hidup dengan kemuliaan atau mati dalam kesyahidan” itulah semboyan yang terpatri dalam hati mereka, tidak ada keluhuran dalam hidup yang tertindih kekuasaan penjajah, dan mati dalam keridhoan Ilahi adalah sebaik-baiknya jalan kematian yang harus ditempuh.
          Tujuh puluh tahun sudah tragedi itu berlangsung, dan kini perjuangan dan pengorbanan kaum santri diakui oleh Negara sebagai bagian dari sejarah Bangsa yang tak dapat dipisahkan apalagi dilupakan. Dan kini banyak dari santri yang duduk di kursi Pemerintahan mulai dari Menteri, Gubernur, Bupati sampai ketua RT. Tak sedikit pula santri yang menjadi inspirator, wirausahawan sukses. Santri dan Pesantren telah menjadi ikon Bangsa, hingga Bapak Presiden Jokowipun mulai sering blusukan ke Pesntren-Pesantren, maka sudah seharusnya trimakasih kami sampaikan kepadamu para Pahlawan-Pahlawan, Kyai-Kyai, dan Syuhada’-Syuhada’, kami santri masakini yang tak tahu apa-apa dan belum memberikan apapun untuk Bangsa ini, berdiri tegak di bumi Indonesia, semua ini karena perjuanganmu.
          Wajar saja bila kita masih merasa canggung, bingung, gundah, dengan semua ini, apakah kalian wahai para Pejuang ridho dengan pengakuan Negara terhadap peran santri? Sementara kami belum mampu memerankan diri dari kemaksiyatan yang secara nyata terus terjadi, dari kedholiman yang menjadi santapan sehari-hari. Pantaskah kami yang banyak berdiam dari kejahatan, mudah tersinggung, mudah teradu domba, mudah menyesatkan, mudah berbuat dosa, kami yang seditit berbuat baik, sedikit memperhatikan sesama, sedikit bersedekah, sedikit memperhatikan Agama, bahkan tak sedikit dari kami yang tak tahu apa-apa tapi banyak bicara, tak sedikit dari kami yang melalaikan kaedah Agama demi mengenyangkan hasrat syahwat, tak sedikit dari kami yang meremehkan sesama hanya untuk merasa lebih hebat dari dia, lalu bagaimana kami merasa pantas menerima hadiah dari jasa-jasamu, menerima estafet dari keteguhan dan pengorbananmu?
          Maka dihari yang bersejarah ini, kami santri PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, mengajak semua santri diseluruh Indonesia untuk sejenak merenung mengkosongkan hati dari segala urusan dunia yang tiada habisnya. Seorang sholeh berkata “Hati ibarat air, andai air dalam telaga tak dapat memantulkan gambaran wajah seseorang, barangkali karena keruh atau terkoyak oleh benda yang menjatuhinya, maka diamkanlah air tersebut hingga tenang, niscaya kau akan melihat wajahmu dipermukaannya, begitupun hati, kekeruhan dunia menjadikannya sukar untuk menggambarkan hakikat suatu perkara, maka tenangkanlah hatimu, niscaya hatimu akan memantulkan hakikat yang nyata.
          Mari bersama-sama mengunci lidah kita dari urusan yang tiada guna, sama-sama mengekang tangan dari tindakan yang tak bermakna, sama-sama memendam prasangka karena sebagian besarnya adalah tipu daya setan belaka, sama-sama duduk manis menikmati secangkir kopi dengan berdzikir kepada Yang Maha Esa, sama-sama menundukkan kepala untuk mengakui keluhuran Dzatnya, sama-sama memejamkan mata untuk melihat kekurangan-kekurangan diri daripada menilai sesama.
          Semoga hari santri ini benar-benar menjadi hari evaluasi diri yang sesungguhnya, hari yang berkah, hari yang seru, hari yang istimewa, dan hari yang damai untuk semesta. Salam damai dari Ngangkruk.
          Ngangkruk, 22 Oktober 2017.