As’ilah Bahtsul Masa’il Kubro PP. Fadllul Wahid 2018

As’ilah Bahtsul Masa’il Kubro PP. Fadllul Wahid 2018
Dalam Rangka:
Memperingati Haul Syeikh Abdul Wahid Zuhdi Yang Ke 10

JALSAH I
1.     ANEH TAPI NYATA
Deskripsi masalah
Aneh tapi nyata seorang laki – laki di Grobogan memiliki janin diperutnya namanya Ganang yudho putra warga dusun Ngampel desa Panunggalan Pulokulon, dia masih berstatus pelajar SMA, usianya baru  17 tahun, sementara janin yang ada di perutnya berjenis kelamin laki – laki beratnya 3 kg, janin itu telah dikeluarkan dari perut Ganang melalui operasi Caesar di RSI Sultan Agung Semarang, ketika dikeluarkan kondisi janin tidak bernyawa.
Pada selasa (2410) janin tersebut dimakamkan dipemakaman desa setempat, peristiwa ini cukup membuat geger warga setempat, banyak yang bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang laki – laki memiliki  janin, apalagi sudah menunjukkan adanya kaki dan tangan.
          Ganang dioperasi pada selasa pagi (24/10) sebelum dioperasi perut atasnya memang membesar dan berukuran tak wajar, bahkan putra ketiga dari empat bersaudara ini kerap mengalami sesak di dada.
          Menurut ibu kandung Ganang, Sri Munastatik sejak berusia 1,5 tahun anaknya memiliki benjolan diperut kanan yang terus membesar, saat itu masih dibiarkan, dikira tidak ada masalah.
Ketika usianya menginjak 7 th perutya kian membesar sempat dikira kanker karena ada tulang lunak didalamnya, bahkan sudah mau dioperasi, namun saran dari dokter untuk menunggu hingga Ganang dewasa agar kuat fisiknya.
 Beranjak remaja putra dari serda Masduri babinsa Jambon anggota kodim 0717/Purwodadi ini sering mengeluhkan sakit di dada dan sakit diperut, orang tuanya pun kembali membawanya kedokter di Purwodadi.
          Kali ini, dokter mendiagnosa ada liver yang membengkak, untuk mengatahui detailnya keluarga diminta membawa Ganang kerumah sakit.
Setelah diperiksa, diagnosa dokter di RS berbeda, Ganang diprediksi menderita tumor. Namun dokter umum di RS itu menganjurkan Ganang untuk dirujuk ke RSI Sultan Agung Semarang.
           “Hari kamis  (19/10) lalu kami membawanya ke RSI Sultan Agung setelah dilakukan pemeriksaan dan rontgen diketahui ada janin diperutnya, janin tersebut merupakan kembaranya dulu  yang tidak jadi” imbuh ibu kandung Ganang, Sri Munastatik,
Kemudian , pada selasa 12/ 10 lalu, dilakukan tindakan operasi pada benjolan tubuh Ganang yang semakin membesar dan janin itupun berhasil diangkat.(JAWAPOS.COM)
Pertanyaan:
a.     Menurut pandangan fiqih berstatus apakah bayi/janin tersebut bagi Ganang?
b.     Bila bayi/janin tersebut berstatus sebagai anak Ganang lalu Ganang berstatus sebagai apa ? bapak ataukah ibu?
c.      Bila berstatus sebagai kembarannya Ganang (dan seandainya masih hidup) kapan bayi/janin tersebut dikatakan lahir ? apakah lahirnya sama dengan Ganang/ sejak di keluarkan dari perut Ganang?
d.     Apakah Ganang juga terkena hukum seperti halnya orang yang melahirkan?
LBI PP. FADLLUL WAHID
2.     PROYEK PEMERINTAH
Deskripsi Masalah
Pemerintah pusat mempunyai rancangan rencana tentang reklamasi proyek pembuatan Pulau buatan di teluk Jakarta. Tepatnya berada disekitar pantai utara Jakarta. Proyek tersebut sudah berlangsung dan sudah mencapai setengah perjalanan. Namun seperti proyek-proyek pemerintah yang lainya, proyek ini pun tak lepas dari pro dan kontra.
Pertanyaan
1)Bagaimana pandangan fiqh mengenai tindakan dan proyek-proyek yang dilakukan oleh pemerintah?
2)Bolehkah pemerintah daerah membatalkan proyek pemerintah pusat tersebut?
3)Jika sudah teralisasi, bagaimana status pulau tersebut?
PP. AL-MAIMUNIYYAH KUDUS
3.     ENDORSE
Deskripsi masalah
Endorsement adalah salah satu cara mempromosikan barang dagangan para Online Shop dengan memberikan barang secara gratis kepada artis / selebgram, yang nantinya akan mereka posting hasil foto dengan memakai produk dari salah satu Online Shop pada akun pribadi mereka.
Ada dua jenis endorse selebgram, yaitu paid promote dan paid endorse. Dalam paid promote, online shop harus menyediakan konten yang akan di-upload keInstagram, baik foto maupun caption-nya. Biasanya, dalam paid promote foto juga akan langsung dihapus setelah jangka waktu tertentu. Beda halnya dengan paid endorse.
Dalam paid endorse, konten foto maupun caption diserahkan sepenuhnya kepada selebgram. Online shop hanya tinggal mengirimkan barangnya yang akan digunakan dalam foto mereka. Biasanya foto paid endorse ini tidak akan dihapus, kecuali ada kesepakatan lain dengan pihak online shop. Untuk masalah biaya, paid  endorse tentunya lebih mahal daripada paid promote. Selebgram harus mempersiapkan waktu dan konsep untuk memotret produk paid endorse, sedangkan dalam paid promote ia hanya tinggal meng-upload saja.
Tak jarang dizaman ini para santri dan santriwati yang mempunyai banyak Followers, menjadi selebgram juga. Dan salah satu modal utamanya selebgram, adalah berdandan dan menampakkan wajah mereka. Hal ini juga tergantung barang apa yang akan dipromosikan dari pihak online shop. Untuk urusan harga sesuai kesepakatan pihak online shop dan selebgram.
Pertanyaan :
a.     Dinamakan akad apakah antara pihak online shop dan selebgram? dan bagaimana hukumnya?
b.     Bagaimanakah hokum memposting foto (wajah pribadi) di sosial media, baik akun bersifat public atau privasi?
PP. MAMBA`UL ULUM PAKIS
JALSAH II
1.     BINGUNG STATUS TANAH PEMBERIAN
Deskripsi masalah
Ketika pertemuan untuk mencari solusi kekurangan tanah, salah satu warga siap menanggung untuk membeli kekurangan tanah tersebut. Namun ia hanya mengatakan, “Itu kekurangan tanah saya siap menanggung. Saya yang membelinya, tak perlu urunan warga.” Dilema terjadi karena ia tak menyatakan mewakafkan tanah tersebut akan tetapi pertemuan tersebut memang ditujukan untuk membahas kekurangan tanah wakaf musholla dengan menggunakan dana sumbangan untuk masjid. Terkesan tanah yang dibeli tadi (melihat qarinah isi pertemuan) ditujukan untuk wakaf namun orang yang membeli tanah tak mengatakan dengan tegas itu wakaf (baik wakaf musholla seperti tanah yang disampingnya maupun wakaf masjid seperti bangunan yang hendak dibangun di atasnya). sedang dana yang terkumpul dari warga digunakan untuk melengkapi seperti biaya pengurukan dll.
Pertanyaan:
a.     Bagaimanakah status hukumnya tanah yang dibebaskan untuk menambahi kekurangan ukuran?
b.     Setelah pembangunan selesai,bagaimanakah status bangunan tersebut? Masjid atau Mushola?
c.      Bagaimana status dana yang dikucurkan oleh organisasi tersebut baik berupa uang atau material waqof?
PP. LIRBOYO.


  KITAB DAN BUKU DI PONDOK
Deskripsi masalah
Kitab cetakan Beirut begitu mempesona dimata santri. Desain covernya, bentuk ragam fontnya yang nyaman untuk dibaca. Mungkin itulah salah satu dari sekian banyak motif para santri untuk mendapatkannya. Sehingga untuk membelinya pun membutuhkan perjuangan karena mahalnya harga yang dibandingkan dengan kitab-kitab cetakan lokal. Tapi, setelah boyong,  banyak dari santri meninggalkan kitab dan bukunya di pondok. Ada yang masih menetap di rak buku kamar, ada juga yang di tempat “sitaan barang“ yang telah disita oleh pihak kebersihan dan ketertiban, karena menaruh kitab/buku disembarang tempat. Sehingga timbul usulan dari anggota ketertiban untuk menjual kitab dan buku yang sudah tidak diketahui pemiliknya atau kitab yang tak kunjung diambil oleh pemiliknya setelah memaparkan pengumuman pada papan pengumuman santri disetiap minggunya. Lalu hasil dari penjualan kitab tadi digunakan untuk dana kemaslahatan pondok. Motif penjualan ini didukung juga, karena semakin lama semakin banyak pula kitab di tempat “sitaan barang” sehingga tidak ada tempat lagi untuk menampungnya.
Pertanyaan :
a.   Bagaimanakah seharusnya prosedur yang benar untuk kasus kitab dan buku yang tidak diketahui pemiliknya?
b.  Dan bagaimana pula prosedur yang benar untuk kitab dan buku yang diketahui pemiliknya ( baik yang masih di pondok atau sudah boyong ) akan tetapi sudah tidak lagi mereka hiraukan?
c.      Bolehkah menjual kitab dan buku ( baik pada pertanyaan “a” / “b”) ?, dan dialokasikan kemanakah seharusnya hasil penjualan kitab dan buku tersbut?
d.     Cukupkah mengumukan barang dengan cara menempelkan di papan pengumuman? Dan apa saja yang harus dicantumkan (keterangan apa saja) ?
PP. MAMBA`UL ULUM PAKIS.
3
     GINJAL PENGGANJAL HUTANG
Deskripsi Masalah
Di kota Malang, ada kasus sesorang menjual ginjal dikarenakan orang tersebut terhimpit hutang. Dan bila ditotal jumlah hutangnya hingga ratusan juta, sedangkan jika tidak dibayarkan orang tersebut terancam rumah dan seisinya disita oleh deptcollector. Dan apabila rumah seisinya disita, maka dia tidak punya apa-apa lagi, dan mungkin kesulitan akan kebutuhan sandang dan pangan.
Pertanyaan
a.     Bagaimana status ginjal menurut perspektif fiqh?
b.     Bagaimana pandangan fiqh tentang penjualan ginjal seperti deskripsi diatas?
c.      Jika tidak diperbolehkan, bagaimana hukum tindakan dokter dan orang yang memberi perintah?
 PP. AL-MAIMUNIYYAH KUDUS

JALSAH III
1.     LEGENDA SANTRI
Diskripsi Masalah
Pada suatu hari kang santri Sebut saja ‘’Roy ‘’ pergi ke pasar untuk membeli kitab, Pena, Alquran & semua perlengkapan belajar di pondok pesantren. Ketika sudah selesai membeli, kang santri memutuskan untuk langsung  kembali ke pondok di karenakan langit yang tadinya cerah tak berawan nyatanya telah berubah menjadi hitam kelam bak masa lalu yang pernah dia alami. Tidak lama kemudian hujan pun  turun dengan deras ,,,,,,,Wuzzzzzzzz. Tak berfikir lama dia pun memutuskan untuk meletakan barang yang ia bawa kedalam jok motornya, dengan tujuan agar tidak basah. Walau bagaimanapun kang santri adalah sosok yang ta’dzim dengan ilmu wa ahluhu, buktinya dia berniatan yang ia duduki hanya jok motor bukan yang lain.
Pertanyaan:
a.     Bagaimana hukum menduduki jok motor yang di dalamnya ada kitab-kitab kuning ataupun al Qur’an sebagaimana kasus di atas?
b.     Apakah dibenarkan niatan kang santri sebagaiamana deskripsi diatas?
PP. MIFTAHUL ULUM DEMAK
2.     Hutang BPJS
 Biaya berobat di Indonesia terhitung mahal, sampai-sampai rakyat kecil terkadang tidak mampu menebus biaya pengobatan.  Untuk itu pemerintah telah memberikan solusi berupa BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) dengan mengharuskan iuran wajib setiap bulannya. Namun tak sedikit dari masyarakat yang menunggak dalam pembayaran, bahkan terkadang sampai menunggak beberapa tahun. Berbagai cara pun mereka tempuh untuk bisa melunasi tunggakan, akan tetapi ironisnya terkadang ada sebagian orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai ghorim (orang yang berhutang) kepada pihak BPJS, kemudian ia meminta zakat sebesar nilai tunggakan tersebut.
Nb: sanksi bagi peserta yang menunggak iuran adalah kepesertaan BPJS mereka akan dinon aktifkan sementara, dengan tujuan meningkatkan kesadaran untuk iuran rutin (perpres 19 tahun 2016). 
Pertanyaan:
a)     Bagaimana hukum Pihak BPJS menon aktifkan sementara kepesertaan bagi orang yang menunggak?
b)    Apakah status orang yang menunggak tersebut bisa dikatakan ghorim yang boleh menerima zakat?
PP. FADLLUL WAHID
3.     NU DITAROS
Deskripsi masalah
Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga sosial kemasyarakatan di bawah naungan NU (nahdlatul ulama’) yang mengemban visi dan misi untuk membudidayakan Ahlu As Sunnah Wal Jama’ah. Hal tersebut berimplikasi pada berbagai kajian keilmuan yang di telaah harus berposisi linear Ahlu As Sunnah Wal Jama’ah.
Selain itu pondok pesantren juga berfungsi sebagai lembaga sosial keagamaan yang berorientasi pada paham Ahlu As Sunnah Wal Jama’ah yang akan mendoktrin pada santriwan-santriwati pada rel-rel aswaja melalui referensi-referensi yang notabenenya berhaluan aswaja. Namun realitasnya referensi keilmuan non aswaja banyak di asumsi di kalangan pondok pesantren seperti kitab  Nailul Author, dan lain sebagainya yang di karang oleh seseorang yang bermadzhab syi’ah yakni Az-Zaidiyah, bahkan kitab tersebut di jadikan pijakan dalam menelaah lebih dalam tentang fan fiqh dan sebagainya.
Kelaziman tersebut dapat di sebabkan kurangnya perhatian dari pihak penerbit dalam memproduksi kitab-kitab yang di konsumsi oleh publik yang berdampak pada kehidupan sehari-hari dalam berbaur masyarakat setempat. Hal ini menimbulkan problematika tersendiri dalam dunia penerbitan yang perlu di tilik lebih dalam oleh kalangan santri yang berkecimpung dalam dunia bahtsul masa’il.
PERTANYAAN
a.       Adakah keharusan pihak penerbit mencantumkan madzhab penulis dalam kitab, mengingat kitab tersebut di telaah warga NU?
b.       Bagaimana hukumnya menggunakan referensi fiqh ulama’ non aswaja atau ulama’, yang tidak diketahui madzhabnya?                                                             
PP. AL KHOZINY

Guru Mursyid Adalah Cermin Seorang Murid

Guru Mursyid Adalah Cermin Seorang Murid
          Selasanan, 5 Februhari 2018, KH. Habibul Huda menyampaikan mauidhah hasanah dengan tema “Guru Mursyid Adalah Cermin Seorang Murid”. Mengawali Mauidhahnya KH. Habibul Huda menuturkan bahwa seseorang dalam menempuh jalan thareqat itu tiada lain hanya untuk memahami bahwa manusia bukanlah siapa-siapa, tidak punya apa-apa, dan tidak bernilai apa-apa dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sehingga jika seseorang yang menganggap dirinya santri thareqat mempunyai anggapan bahwa dirinya mempunyai kekuatan dan kelebihan lalu disombongkan, maka sejatinya dia telah gagal dalam berthareqat.
Kemudian KH. Habibul Huda mengajak para hadirin untuk sejenak membayangkan dan memahami seperti apa sosok pemimpin umat manusia, yaitu Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad adalah Al Insan Al Kamil (manusia sempurna), Mahluk yang paling tinggi derajatnya di sisi Tuhan, dan merupakan pemimpin dunia dan akhirat, namun demikian Nabi tetap memposisikan dirinya sebagai seseorang yang rendah di hadapan Tuhan, bahkan para ulama menyebutkan bahwa sifat termulia dan tertinggi dari Nabi Muhammad SAW adalah sifat kehambaannya kepada Tuhan. Allah berfirman dalam Al Qur’an Al Karim, Surat Al Isra’, Ayat 1:
????? ???? ???? ????? ???? ?? ?????? ?????? ??? ?????? ?????? ???? ?????? ???? ????? ?? ?????? ??? ?? ?????? ??????.
“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya (Nabi Muhammad SAW) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho, yang telah memberkahi sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, lagi Maha Melihat.”
          Dalam Ayat ini Ulama memahami bahwa sifat kehambaan Nabi Muhammad SAW adalah sifat termulia dari Beliau; sebab seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu kejadian terpenting dalam Islam, namun demikian dalam ayat tersebut Allah secara khusus menyebut Nabi dengan sebutan ???? (hambaNya). Hal ini tiada lain kecuali karena kehambaan adalah sifat termulia dari Nabi Muhammad SAW. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Imam Fahrur Rozi dalam kitab tafsirnya Mafaatihul Ghaib.
          Dari ini santri thareqat harus menginstropeksi diri, sejauh mana tingkat keberhasilan dalam berthareqat. Apakah benar-benar sudah mengikuti jejak Rasulullah SAW yang senantiasa merendahkan diri di hadapan Tuhan dan segenap makhlukNya, atau malah kesombongan yang menjadi karakternya. Hendaknya seseorang selalu berkaca, melihat seperti apa diri yang sesungguhnya. Ibarat seseorang yang bercermin di depan kaca untuk mendapatkan seperti apa gambaran dirinya, begitu pula kita memerlukan kaca cermin untuk melihat kepribadian dan hakikat diri kita.
Dalam masa kenabian dapat kita pastikan cermin itu terlihat jelas dalam sosok Nabi, karena seseorang yang hidup dimasa itu dapat dengan mudah melihat Rasulullah SAW. Rasulullah adalah kaca cermin bagi para Sahabatnya; karena Rasulullah adalah Mursyidul A’dham dimasa itu. Namun di masa sekarang siapa yang berhak menjadi cermin untuk hidup dan kepribadian kita? Jawabannya tiada lain adalah Guru Mursyid kita. Di dalam kitab Al Anwar Al Qudsiyyah karya Imam Abdul Wahhab As Sya’roni Hal: 148, cetakan ???????disebutkan:
???? ???? ??? ?? ??? ???? ???? ????: ???? ?? ???? ??? ?? ????? ??? ?? ??? ??????? ????? ?? ???? ??? ?? ????? ??? ????-???? ???? ??????.
Sayyid ‘Ali bin Wafa berkata: segala pertolongan dan anugrah Tuhan  yang engkau lihat dalam dirimu, itu hakikatnya adalah limpahan kebaikan dari gurumu, dan segala kekurangan yang engkau lihat dalam diri gurumu, itu hakikatnya adalah gambaran dari dirimu sendiri- maka sesungguhnya guru adalah kaca cermin dari wujud seorang murid.
Ratusan tahun yang silam, ada seorang mursyid yang menggunakan media mimpi dalam membimbing murid-muridnya. Dikisahkan suatu ketika ada seorang murid bermimpi bertemu dengan Syaikh Abi Yazid, namun si murid tersebut keheranan melihat sosok Abi Yazid yang berwajah laksana babi, hingga murid ini terbangun dari tidurnya dengan perasaan bingung. Akhirnya ia memberanikan diri menemui Syaikh Abi Yazid untuk mengutarakan mimpi yang membuatnya gelisah tersebut, lalu Syeikh Abi Yazid menjawab “Aku adalah cermin dari wujud murid, maka engkau dapat melihat wajahmu pada diriku, lalu engkau mengira bahwa gambaran dari dirimu itu adalah gambaran dari diriku?” dengan penuh penyesalan si murid menyadari bahwa sungguh benar apa yang diucapkan oleh gurunya, dia menyadari bahwa dirinya masih jauh dari kebaikan. Mulai sejak itu dia selalu menginstropeksi dan memperbaiki kepribadian hidupnya, sampai akhirnya dia dapat bertemu lagi dengan gurunya dalam mimpi dengan gambaran utuh sebagai manusia. Sebagai catatan: ulama menyebutkan bahwa syetan dan jin tidak dapat menjelma menjadi Rasulullah SAW dalam mimpi seseorang, begitupun syetan dan jin tidak dapat menjelma menjadi mursyid yang kamil mukammil dalam mimpi seorang murid.
          Kemudian KH. Habibul Huda kembali mengajak para hadirin untuk sama-sama merenungkan sepertia apa gambaran sosok Guru Mursyid di dalam hati, mungkin barangkali banyak dari kita yang merasa aneh dengan Guru Mursyid, atau bahkan menuduh yang bukan-bukan pada Guru Mursyid, maka sesungguhnya itu bukan Mursyid yang salah, melainkan diri kita sendirilah yang bermasalah. “Tanya dan koreksi hati kalian; karena hati tidak pernah bohong. Dalam diri seseorang ada dua anggota tubuh yang tidak pernah berbohong, yang pertama lidah, seseorang yang baru menikah misalnya, mulutnya akan dengan mudah memuji masakan istrinya, walau seperti apapun masakannya, namun lidahnya tidak pernah bohong, andai masakan itu enak ia rasakan enak, dan andai tidak sedap ia rasakan tidak sedap. Yang kedua adalah hati, semanis apapun mulut seseorang memuji orang lain, andai ia tidak menyukai sikapnya hatinya akan jujur berkata tidak suka. Begitu pula ketika kita ditanya perihal guru Mursyid, mungkin mulut akan menyanjung setinggi langit, namun sebenarnya apa yang ada dalam hati? Wallahu A’lam kita sendiri yang tahu.”
Di akhir mauidhahnya KH Habibul Huda menuturkan bahwa keberadaan Mursyid yang jauh dari jangkauan dan sulit untuk ditemui, itu bukanlah hal yang buruk bagi kita, bahkan mungkin itu adalah yang terbaik, karena belum tentu dekat dengan Mursyid berdampak baik untuk kita, bahkan bisa sebaliknya. KH. Habibul Huda menganalogikan hal ini dengan orang Jawa yang baru berhaji untuk pertama kali, banyak dari mereka yang menangis haru saat pertama kali  berhadapan langsung dengan Ka’bah yang selama ini menjadi tempat berkiblat setiap kali melakukan ibadah sholat. Namun belum tentu hal ini dapat dirasakan oleh orang yang bertempat tinggal di Makkah atau orang yang sering melihat Ka’bah.
Dalam analogi ini KH. Habibul Huda mengkisahkan peristisa tatkala ia menjadi Tenaga Musiman (TEMUS) Haji di Tahun 2006, Ia mempunyai teman kenalan yang hampir setiap hari berada satu mobil dengangnya, dan setiap kali masuk waktu Sholat ia selalu mengajak temannya tersebut untuk masuk ke Masjidil Haram guna melakukan sholat berjamaah, namun setiap kali ia mengajak temannya itu, maka di saat itu pula temannya selalu berkata “ya silahkan kamu duluan”dan kejadian itu berulang sampai kurang lebih tiga bulan lamanya. Hal ini tentu saja mengherankan, karena temannya tadi adalah orang muslim Indonesia yang bekerja disana, dan bertempat di Makkah Al Mukarromah, namun tidak sekalipun ia memandangi Ka’bah; karena dia selama ini tidak pernah melakukan sholat. Betapa mengherankan orang yang dekat sekali dengan Ka’bah, namun tidak pernah mau menghadapnya diwaktu sholat. Mungkin ini dapat menjadi pelajaran bagi kita bahwa kedekatan seseorang dengan sesuatu yang mulia belum tentu dapat menjadikannya lebih baik. Wallahu A’lam.
(Intisari Ngaji Selasanan Di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk)

Zakat, Rukun Islam Yang Terabaikan

Zakat, Rukun Islam Yang Terabaikan
         
Dalam acara Selasanan, KH. Habibul Huda mengingatkan para jama’ah tentang pentingnya kesadaran orang Islam untuk tetap patuh pada syariat. Pelaksanaan syariat ini tidak hanya pada aspek ibadah ritual, tetapi juga pada aspek ibadah sosial. KH. Habibul Huda  menyoroti rendahnya kesadaran umat Islam terhadap persoalan zakat. bahwa sebentar lagi para petani memasuki masa panen raya, atau bahkan di sebagian daerah sudah masuk masa panen. Sungguh ini merupakan nikmat dari Allah SWT yang harus kita syukuri. Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an Al Karim, Surat Ibrahim, Ayat 7:
{??? ????? ???????? ???? ????? ?? ????? ?????}
Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya akan kutambahkan (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengkufuri (nikmatku), sesungguhnya siksaku sangatlah pedih.
          Termasuk wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT atas panen raya ini adalah dengan membayar zakat jika hasil panen sampai satu nishab.
          Zakat memang merupakan kewajiban yang berat untuk dilaksanakan, bukan hanya oleh orang-orang muslim dimasa sekarang, namun juga kaum muslim dimasa lampau. Dalam sejarah Islam, akan kita dapati bahwa kaum Muslimin setelah wafatnya Rasulullah SAW banyak dari mereka yang tidak melaksanakan syariat berupa kewajiban zakat. Mereka beranggapan bahwa zakat menjadi tidak wajib dengan wafatnya Rasulullah SAW. Saking banyaknya kaum muslimin dimasa itu yang tidak mau mengeluarkan zakat, sampa-sampai masa itu disebut-sebut sebagai “Masa Penolakan Zakat.”
Sahabat Abu Bakar RA yang menjadi Khalifah dimasa itu kemudian  mengambil langkah tegas dalam menangani hal ini dengan mengatakan:
“?????? ?? ??? ??? ?????? ???????”
“Akan saya perangi seseorang yang membeda-bedakan antara kewajiban Sholat dan zakat”.
          Kemudian Para Sahabat yang lain menanyakan keputusan ini kepada Abu Bakar RA,: “Wahai Abu Bakar, sungguh apa yang engkau putuskan ini adalah perkara yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW sebelumnya”, lalu Sahabat Abu Bakar RA menjawab: “Tidaklah sempurna iman seseorang jika ia masih membeda-bedakan Rukun-Rukun Islam.” Dengan membawa pasukannya, Sahabat Abu Bakar benar-benar melaksanakan apa yang Ia ucapkan. Mereka berangkat memerangi kaum muslimin yang menolak membayar zakat diseluruh kawasan Negara Islam. Dalam satu riwayat disebutkan: Ketika Sahabat Abu Bakar RA bersama pasukan memerangi penduduk Yaman yang menolak zakat, sampailah mereka di Kota Tareem, Hadramaut, namun ternyata tidak satupun dari penduduk Tareem yang mereka dapati menolak membayar zakat. Melihat begitu setia dan kuatnya penduduk Tareem dalam beragama, Sahabat Abu Bakar mendoakan Tareem dengan tiga perkara; yang pertama, Tareem tidak akan surut Ulama’nya, yang kedua, tidak akan surut sumber airnya, dan yang ketiga, tidak akan surut keberkahannya. Sungguh terkabul doa Sahabat Abu bakar RA, Kota Tareem benar-benar menjadi kota pencetak kader Ulama’ sampai sekarang, bahkan mungkin kota ini adalah kota yang terbanyak Ulama’nya. Di Kota yang sangat panas ini sumber air juga sangat melimpah, banyak persawahan, ladang-ladang, dan perkebunan yang kebutuhan airnya cukup diambilkan dari sumur-sumur yang berdiameter  sepuluh sampai duabelas meter saja. Sungguh keberkahan Kota ini dapat kita jumpai sampai sekarang. Walaupun Komunis menjajah Kota ini 48 tahun lamanya, Ulama’ dan sumber-sember kehidupan di Kota Tareem ini tidak pernah surut. Segala upaya Komunis untuk merubah Kota ini tidak berhasil, bahkan setelah Kota ini merdeka, sejumlah Universitas Islam dan Ribath-Ribath banyak didirikan.
          Selanjutnya KH. Habibul Huda menuturkan bahwa zakat itu berhubungan erat dengan halal dan haramnya harta yang kita makan dan yang kita tasharufkan. Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa dalam harta zakawi (harta yang wajib dizakati) yang mencapai satu nishab itu ada 10% hak fakir miskin didalamnya. Sehingga jika ada seseorang menjual harta zakawi  yang ia miliki, sebelum ia mengeluarkan zakatnya, maka akad jual beli pada kadar zakat (10% padi semisal, untuk yang murni tersirami air hujan) hukumnya tidak sah, sementara untuk yang 90% sisanya, hukumnya tetap sah. Namun dalam madzhab Syafi’i sendiri ada khilaf (perbedaan pendapat) dalam hal penjualan ini, sebagai berikut:
1.     Penjualannya tidak sah dalam kadar zakatnya saja, seperti yang disebutkan di atas. Dan ini pendapat yang paling kuat (?????).
2.     Penjualan batal secara mutlaq, baik pada kadar zakat atau yang lain.
3.     Penjualan sah secara mutlaq, baik pada kadar zakat atau yang lain.
Perbedaan pendapat ini bermula dari perbedaan mereka dalam memahami hubungan zakat, apakah zakat terikat dengan harta, sebagai Syarikah (???? ??????), atau semacam ganti rugi dalam kriminal (??? ???????), atau seperti barang gadaian (???? ???????), atau hanya berhubungan dengan tanggungan pemilik harta saja (???? ?????)?
Kemudian melihat realita zaman sekarang, di Indonesia yang begitu fakir miskin, dan melihat rakyat Indonesia, yang  secara umum hasil panennya tidak begitu banyak, ditambah lagi merebaknya praktek penjualan padi dengan sistem “tebas” oleh para petani dengan tanpa menyisihkan kadar zakat sebelumnya, sehingga jika para petani hendak mengeluarkan zakat, maka mereka harus bertanya terlebih dahulu kepada penebas tentang berapa hasil panenya, yang disisi lain hal ini akan menimbulkan beberapa permasalahan baru, diantaranya: berapa jumlah padi yang ditukar dengan jajanan dalam praktek “Ngurup” (penukaran padi dengan berbagai rokok & jajanan), kemudian berapa jumlah padi yang diberikan kepada rombongan pengasak (orang yang mengambil sisa) disaat proses pemanenan (Ngedos atau Blower atau sebagainya), yang keduanya mengakibatkan nota jumlah panen menjadi berkurang dan tidak sempurna. Maka KH. Habibul Huda memberi solusi dalam permasalahan ini, untuk mengeluarkan zakat dengan membayarkan uang senilai 10% dari hasil panen dengan niat berzakat, mengikuti madzhab Hanafi. Dengan mengikuti Madzhab Hanafi, pembayaran zakat terasa lebih mudah, dan lebih bermanfaat untuk fakir miskin; karena memang tujuan memberi zakat adalah mengangkat kemiskinan, seperti yang disampaikan oleh Imam As Sarohsi Al Hanafi dalam kitab Al Mabsuth. Selain itu ada beberapa pertimbangan lain untuk mengikuti Madzhab Hanafi, diantaranya:
1.     Minimnya orang muslim yang mengeluarkan zakat, sehingga andai pemeratan zakat pada mustahiqqin diberlakukan, maka mereka akan mendapatkan bagian padi zakat yang sangat sedikit. Mungkin mereka akan berkata “Aweh kok mung semene! Ora sumbut olehe ngopeni”. Dan jika diberikan dengan jumlah yang lumayan banyak, maka  hanya sebagian mustahiq saja yang mendapatkan bagian, sehingga dimungkinkan timbul kecemburuan.  
2.     Jika misalnya kita bagikan padi sejumlah 10 Kg, maka akan terlihat tidak pantas; sebab 10 Kg padi itu terbilang jumlah yang sedikit, namun bila diberikan dengan bentuk qimah dari padi tersebut (misalnya Rp. 40.000), maka akan terlihat lebih layak dan lebih pantas.
          Di akhir Mauidhohnya KH. Habibul Huda mengingatkan bahwa kita ini Ahli Thareqah, kelompok yang dikatakan sebagai golongan yang sungguh-sungguh menuju jalan Allah SWT, namun apakah kita benar-benar sudah melakukan kewajiban agama? Apakah kita sudah berzakat? Kalau kita yang notabenenya santri saja sudah tidak mau membayar zakat, lalu bagaimana dengan yang lain? Maka sebelum diselenggarakannya haul Al magfurlah KH. Abdul Wahid Zuhdi yang ke 10, mari kita sama-sama melaksanakan rukun Islam yang terabaikan ini, sesuai dengan Tema Haul tahun ini Pedoman Uripe Santri Iku Syari’at, Yen Kapan Santri Ora Gelem Nglakoni, Terus Sopo Sing Arep Nglakoni”.
          Inilah saripati mauidlah hasanah pada kegiatan rutin selasanan di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk.***
Wallahu A’lam Bishawaf          
        

Gerhana Bulan Harusnya Menjadi I’tibar

Gerhana Bulan
Harusnya Menjadi I’tibar
          Rabu, 31 Januari 2018, terjadi gerhana bulan total yang dikenal dengan nama Gerhana Super Blue Blood Moon (gerhana disaat posisi bulan paling dekat dengan bumi, sehingga bulan tampak lebih besar dari biasanya, serta bulan pada saat terjadinya gerhana tampak kemerah-merahan seperti warna darah). BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika) mengingatkan bahwa dekatnya bulan dengan bumi akan membuat air laut pasang melebihi biasanya, dan  fenomena langka ini terjadi sekitar 150 tahun sekali.
Masyarakat Jawa tempo dulu menganggap gerhana merupakan suatu kejadian yang menakutkan. Menurut kepercayaan mereka, gerhana merupakan tanda – tanda turunnya bala’ atau bencana, sehingga semua harus diperingatkan. Janin dalam kandungan, hewan yang sedang hamil, bahkan pepohananpun harus diberi tahu terjadinya gerhana. Mereka hawatir apabila tidak diperingatkan, maka janin yang berada didalam kandungan akan dimakan oleh gerhana.
Kepercayaan ini tidak benar, Beliau Nabi SAW bersabda:
????? ????????? ??????????? ???????? ???? ?????? ??????? ??? ????????????? ???????? ?????? ????? ??????????? ??????? ?????????? ?????? ??????????? ????? ?????? ??????? ??????? ??????????.
Artinya: sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah, gerhananya matahari dan bulan bukan karena mati atau hidupnya seseorang, maka apabila kalian melihat gerhana bergegaslah berdzikir pada Allah dan shalat (gerhana).
Sedangkan masyrakat zaman NOW menganggap gerhana adalah fenomenalangka yang indah dan sayang untuk dilewatkan begitu saja, sehingga masyarakat berduyun – duyun berkumpul di tempat – tempat yang dianggap setrategisuntuk menikmati indahnya gerhana sambil kongko-kongko bareng, seperti di alun – alun kota, taman kota atau di tempat lapang lainnya. Sangking gembiranya menyambut datangnya gerhana, mereka sampai tidak  menghiraukan anjuran – anjuran agama, seperti memperbanyak istigfar, sedekah dan menjalankan shalat gerhana.
Alhamdulillah adat seperti ini tidak terjadi di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, para santri tetap menjalankan aktivitas di pondok secara normal sambil menunggu datangnya gerhana. Setelah magrib para santri masih ngaji seperti biasa. Selesai mengaji, ketika gerhana super blue blood moon sudah mulai terlihat,  para santri bergegas menuju joglo guna menjalankan Shalat Isya’ berjamaah.
Selesai Shalat Isya’ berjamaah, para santri berdzikir membaca istigfar bersama – sama yang dipimpin oleh Ust. Ahmad Sufyan. Setelah itu bersama – sama menjalankan shalat gerhana berjamaah. Bertugas sebagai imam sekaligus khotib kali ini adalah Ust. Abdur Rohim Lc. Dalam khotbahnya, Ust. Abdur Rohim Lc mendorong agar para santri dapat mengambil i’tibar dari gerhana yang terjadi, guna meningkatkan kesadaran sebagai seorang hamba, dan  mengingatkan keagungan dan kekuasaan Allah SWT. Beliau juga menjelaskan, ada tiga poin yang diajarkan oleh beliau Nabi Muhammad SAW di saat terjadinya gerhana:
1.     Memperbanyak dzikir kepada Allah SWT, yang manfaatnya akan kembali pada diri sendiri.
2.     Memperbanyak berdoa kepada Allah SWT, karena pada hakikatnya doa merupakan ibadah yang diperintah oleh Allah SWT.
3.     Memperbanyak istigfar, memohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa yang telah diperbuat.
Kegiatan shalat gerhana di PP. Fadllul Wahid sendiri diikuti lebih dari 300 santri putra. Dan selesai shalat gerhana para santri kembali menjalankan aktivitas pondok pesantren seperti biasanya, balajar komplek dan musyawaroh malam.
Semoga kegiatan seperti ini selalu menjadi tradisi yang terus terjaga dikalangan umat Islam, jangan sampai budaya-budaya yang menjauhkan umat dari agama malah menjadi trend yang digemari oleh pemuda-pemudi dimasa yang akan datang. Dan semoga kegiatan seperti ini  menjadi amal shalih yang diterima di sisi Allah SWT. AMIN YAROBBAL ALAMIN.