CUKA HALAL ATAU HAROM ?

CUKA HASIL EVOLUSI MIRAS

M. Nurul Basyari bin Ali Nur Hamid

Firqoh Ulya II PP. Fadllul Wahid

Akal pikiran merupakan salah satu anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat manusia. Dengannya manusia mampu menampung luasnya samudra ilmu pengetahuan, bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar, dapat memahami agungnya kekuasaan Tuhan, dan menjadikan manusia berbeda dengan hewan. Manusia dengan akalnya mampu mengalahkan semua makhluk Tuhan, ia bisa terbang lebih jauh dari seekor burung Elang, ia mampu melebihi jauhnya jangkauan ikan tuna di lautan, dan bahkan ia mampu mengungguli kebaikan Malaikat yang setiap saat taat kepada Tuhan.

Akal pikiran juga menjadi salah satu unsur penting dalam tegaknya syari’at islam, terbukti Hifdzul ‘aqli (Menjaga Akal) menjadi salah satu poin dari lima pilar Maqosid Syar’iyyah (tujuan-tujuan pensyari’atan hukum islam). Artinya segala bentuk aktivitas atau perbuatan apapun yang dapat menghilangkan akal fikiran hukumnya adalah haram, begitu juga dengan mengkonsumsi sesuatu yang dapat menghilangkan fikiran ! Namun ironinya di Negara yang sangat kita cintai ini semakin hari semakin banyak anak bangsa yang mabok-mabokan di pinggir jalan dan beramai-ramai memakai obat-obatan terlarang, mulai dari yang tua sampai yang muda, yang miskin sampai yang kaya, dan yang tinggal di kota sampai yang tinggal di desa! Na’udzubillah Tsumma na’udzubillah Min Dzalik.

Memang fenomena ini sangat memilukan dan menyayat hati bagi orang-orang yang mau berfikir, namun untuk membrantas dan menghilangkannya bukanlah suatu hal yang mudah. Akan tetapi setidaknya dari setiap elemen masyarakat ikut andil dalam menghilangkan penyakit masyarakat tersebut seseuai dengan batas kemampuan masing-masing. Berangkat dari ini kami menulis sekelumit tentang permasalahan fikih yang berkenaan dengan hal-hal yang memabokkan dan juga secara spesifik kami membahas permasalahan cuka yang merupakan hasil evolusi dari minuman keras. Hal ini kami lakukan untuk mengingatkan sesama anak bangsa tentang hukum miras secara fikih; agar mereka yang lupa dapat mengingatnya kembali, dan mereka yang lalai dapat merenungkannya kembali, dan juga semoga tulisan ini dapat menjadi amalan yang bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca yang budiman.

Jenis-Jenis Muskir (Hal-Hal Yang Memabukkan)

Telah dijelaskan dalam naskah-naskah kitab kuning bahwa perkara yang memabukkan ada dua jenis, yaitu :

  1. Mai’ (cair) seperti: minuman keras, towak, air fermentasi tape dll.
  2. Jamid  (beku) seperti: ganja dan sabu-sabu.

Kedua jenis muskir ini sama-sama haram untuk dikonsumsi, namun tidak sama dalam hukum kenajisannya. Untuk yang cang cair (mai’) materinya dihukumnya najis, sedangkan yang beku (jamid) materinya dihukumi suci.

Pembagian Muskir Mai’

          Benda cair yang memabokkan ada dua macam:

  1. Khamr. Secara etimologi adalah perasan anggur yang telah berevolusi menjadi benda cair memabokkan. Sedangkan secara terminologi adalah setiap minuman yang memabukkan baik itu perasan anggur, perasan kurma, air tape, madu, dll.
  2. Nabidz. Yaitu minuman keras yang terbuat dari selain perasan anggur, seperti perasan kurma, madu, tape dll.

Pembagian Muskir Jenis khamr

Khamr ada dua macam:

  1. Khamr Muhtaramah (berharga), yakni minuman keras yang pada awal pemerasannya tidak ditujukan untuk dibuat Khamr,  melainkan ditujukan untuk dibuat cuka, atau diperas tanpa ada tujuan apapun.
  2. Khamr Ghairu Muhtaramah (tidak berharga), yakni minuman keras yang pemerasannya memang ditujukan untuk dibuat khamr.

Perincian ini diperuntukkan khamr yang merupakan hasil perasan orang islam, sementara khamr hasil perasan orang non muslim semuanya dihukumi Muhtaromah.

Perubahan Khamr Menjadi Cuka

Telah disebutkan sebelumnya bahwa Muskir Mai’ materinya dihukumi najis, namun husus untuk Muskir Mai’ yang berjenis Khamr tidak selamanya najis, melainkan bisa berubah menjadi suci jika telah berevolusi menjadi cukak. Ulama’ telah menyebutkan bahwa ada beberapa perkara najis yang dapat berubah menjadi suci, yaitu :

  1. Kulit bangkai yang disamak, selain babi dan anjing beserta anak-pinaknya–.
  2. Khamr yang telah berubah menjadi cuka.
  3. Darah menjangan yang telah berubah menjadi misik.

kemudian proses perubahan khamr menjadi cuka sendiri secara umum ada tiga bentuk, yaitu :

  1. Menjadi cuka dengan sendirinya tanpa ada upaya apapun.
  2. Menjadi cuka  dengan  terkena terik matahari (dijemur).
  3. Menjadi cuka sebab tercampur dengan benda tertentu sekalipun tidak mempengaruhi perubahan seperti berupa batu.

Untuk cuka hasil evolusi dari proses pertama dan kedua, baik khamrnya jenis Muhtaramah ataujenis Ghairu Muhtaramah, baik terbuat dari kurma atau terbuat dari yang lain, para Ulama’ telah bersepakat bahwa hukumnya adalah suci dan boleh untuk dikonsumsi; karena keharaman dan kenajisan khamr itu alasannya adalah memabukan, sementara khamr yang telah berubah menjadi cuka tidak lagi memabukkan, maka hukumnya adalah suci. Sedangkan untuk cuka yang merupakan hasil evolusi dari proses ketiga, baik proses perubahannya disengaja atau tidak, baik benda yang mencampurinya suci atau najis, dan baik yang mencampuri mempengaruhi perubahannya atau tidak, Para Ulama’ mengatakan hukumnya tetap najis dan tetap haram untuk dikonsumsi.

Perhatian:Untuk cuka yang merupakan evolusi dari miras yang bukan terbuat dari perasan anggur atau disebut juga dengan Nabidz hukumnya adalah khilaf. Menurut Imam As-Subki dan Imam Al-Baghowi hukumnya adalah suci, sedangkan menurut Al-Qodli Abu Tayyibhukumnya tetap haram dan najis.

KESIMPULAN :

  1. Khamr, baik itu muhtarom atau ghairu muhtarom, ketika berubah menjadi cuka dengan sendirinya, atau dengan cara dijemur dengan terik matahari hukumnya adalah suci, sehingga boleh untuk dikonsumsi.
  2. Nabidz (minuman memabukkan yang terbuat dari selain perasan anggur) seperti halnya kebanyakan mira-miras di Indonesia, ketika berubah menjadi cuka hukumnya adalah khilaf. Menurut Imam As-Subki dan Imam Al-Baghowi, menjadi suci, sedangkan menurut Al-Qodli Abu Tayyib tetap haram dan najis.
  3. Khamr, baik muhtarom atau ghairu muhtarom, begitu juga nabidz, ketika berubah menjadi cuka sebab tercampur benda lain, baik suci atau najis, baik disengaja atau tidak, hukumnya tetap najis dan tidak boleh dikonsumsi.

Wallahu A’lam.[]