AL-QUR’AN

MENGAGUNGKAN AL-QUR’AN

(M. Minanurrohman Bin A. Sayyidi)

Firqoh Ulya II PP. Fadllul Wahid

Pada dasarnya semua bentuk ibadah itu ditujukan hanya untuk mengagungkan Allah SWT, tidak terkecuali ibadah yang hubungannya dengan al-Qur’an, baik saat membacanya, menghapalkannya, merenungkan maknanya, atau menulisnya. Seseorang yang membaca atau memahami kandungan makna al-Qur’an secara tidak langsung sedang  bermunajat kepada Allah SWT; karena semua surat, ayat bahkan huruf yang ada dalam al-Qur’an hakikatnya adalah murni dari firman-Nya. Al Qur’an juga merupakan bukti terbesar dari kenabian Rasulullah Muhammad SAW, yang hingga saat ini bahkan untuk selamanya akan terjaga keagungan dan keotentikannya. Maka sudah sepantasnya seseorang yang sedang berinteraksi dengan al-Qur’an harus memakai tata-krama dan mentaati semua peraturan yang telah ditetapkan oleh para Ulama’ dalam rangka memuliakannya. Dan di bawah ini telah kami rangkum beberapa hukum yang berkaitan dengan al-Qur’an, berikut pengertiannya:

Pengertian Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhamad SAW sebagai mukjizat yang hanya dengan satu surat saja mampu untuk menundukkan musuh-musuhnya, dan dengan hanya membacanya seseorang telah dianggap melakukan ibadah, meskipun tidak faham maknanya.

Membaca Al-Qur’an Binnadhor (Melihat Tulisan) Didalam Sholat

Rasulullah SAW bersabda:

” أفضل عبادة أمتي تلاوة القرآن “

artinya: “Ibadah umatku yang paling utama adalah  membaca Al-Qur’an”.

Mungkin berawal dari hadits ini semua umat islam berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan terbanyak dalam membaca al-Qur’an, apalagi ketika memasuki Bulan Ramadhan, hampir semua umat islam dimanapun tempatnya berama-ramai menghidupkan hari-hari puasa dengan membaca al-Qur’an. Pagi, sore, siang, malam, gelap, terang, di Masjid, di Mushola, di rumah, di pasar, di TV, dan tidak perduli dimanapun tempatnya semua orang bersemangat melantunkannya. Namun ada satu fenomena yang terkadang masih janggal di mata kalayak umum, bahkan acapkali menjadi pertanyaan yang berulang-ulang ketika Ramadan tiba, yakni membaca al-Qur’an Binnadhor (Melihat tulisannya) pada saat sholat tarawih. Maksudnya membawa al-Qur’an ditangan untuk dibaca dalam keadaan sholat tarawih setelah membaca Surat al-Fatihah. Lalu seperti apahukum yang sebenarnaya?

Hukum membaca Al-Qur’an Binnadhor dalam sholat terjadi perbedaan pendapat diantara para Ulama’:

  1. Menurut Madzhab Syafi’i: diperbolehkan dan tidak sampai membatalkan sholat.
  2. Menurut Madzhab Hanafi: tidak diperbolehkan dan juga membatalkan sholat; karena membawa, membaca, dan membolak balik kertas al-Qur’an dianggap gerakan yang banyak.
  3. Menurut Madzhab Maliki: hukumnya makruh, baik dalam sholat fardlu atau sunah, hanya saja ketika dalam sholat sunah kemakruhannya hanyalah saat membaca di tengah-tengah sholat, bukan di awalnya.
  4. Menurut Madzhab Imam Ahmad bin Hambal: hukumnya makruh secara mutlak ketika dilakukan dalam sholat fardhu. Namun beliau memperbolehkan membacanya dalam sholat Tarawih bagi yang tidak Hafidz al-Qur’an, sedangkan bagi yang Hafidz hukumnya adalah makruh.

Kemudian untuk membaca al-Qur’an Binnadhor di luar sholat tidaklah menjadi perdebatan; karenasemua Ulama’ bersepakat atas keutamannya. Hanya saja mereka berbeda pendapat apakah yang lebih utama adalah membaca Binnadhor (dengan melihat tulisan) atau membaca dengan hafalan?

Sebagian ulamamengatakan lebih utama membaca Binnadhor; karena melihat tulisan al-Qur’an terhitung ibadah tersendiri, namun menurut Imam an-Nawawi jika dengan menghafal seeorang menjadi lebih khusyuk, maka denganhafalan lebih utama.

Membaca Al-Qur’an Bagi Seorang Yang Hadats

Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ { كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقْرِئُنَا الْقُرْآنَ مَا لَمْ يَكُنْ جُنُبًا

Artinya:  Dari Ali Ra berkata: “Rosulullah membacakan al-Qur’an kepadaku  selama beliau tidak dalam keadaan junub”.

Dari hadits ini para Ulama’ mencetuskan hukum bahwa orang yang hendak membaca al Qur’an harus terlepas dari hadats besar, sekalipun ia bisu. Artinya si bisu yang junub tidak boleh mengisyaratkan bahasa al-Qur’an. Hal ini tiada lain tujuannya adalah untuk menjaga keutamaan dan keagungan Allah SWT. Sedangkan bagi yang sedang hadats kecil baginya tetap boleh untuk membaca al-Qur’an.

Kemudian larangan membaca al-Qur’an bagi orang yang hadats besar tersebut, sekira menetapi beberapa keriteria berikut ini:

  1. Olehnya membaca al Qur’an terdengar dirinya sendiri.
  2. Olehnya membaca, diniatkan untuk membaca bacaanAl-Qur’an. Sehingga jika olehnya membaca ditujukanuntuk berdzikir atau berdo’a atau mencari keberkahan atau menghafal, atau dimutlakkan (tidak bertujuan apapun), maka hukumnya tidak haram.
  3. Tidak dalam keadaan darurat. Sehingga bagi Faqidut Thohuroin (seseorang yang tidak memungkinkan bersuci dengan air dan debu) boleh membaca Surat al-Fatihah di dalam sholatnya.

Perhatian: Menurut Madzhab Qodimnya Imam Syafi’i dan Madzhab Malik, perempuan diperbolehkan membaca al-Qur’an dalam keadaan haidl.

Membaca Al-Qur’an Dengan Selain Huruf Arab

Seseorang tidak boleh membaca al-Qur’an yang ditulis menggunakan Bahasa selain Arab, seperti latin, Hindi, dan Persia, entah ia bisa baca tulis Arab atau tidak. Hal ini karena terdapat Firman Allah SWT:

“إنا أنزلناه قرآنا عربيا”

Sesungguhnya Aku (Allah) telah menurunkan kepada Muhammad Qur’an yang berbahasa Arab”.

Namun ada riwayat yang mengatakan bahwa Imam Abi Hanifah dahulu pernah memperbolehkan membaca al-Qur’an yang ditulis dengan Bahasa Persia secara mutlak, begitu juga dengan Imam Abu Yusuf yang memperbolehkan membacanya jika memang tidak bisa membaca tulisan Arab, namun belakangan diketahui bahwa Imam abu Hanifah telah menarik pernyataannya tersebut.

Mushaf Utsmani

Allah SWT dengan keagungannya berfirman dalam al-Qur’an:

إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون

Sungguh Aku (Allah) telah menurunkan al Qur’an dan sungguh aku akan menjaganya”.

Ayat ini menegaskan bahwa al Qur’an adalah Kitab yang pasti terjaga keotentikannya; karena Allah sendiri yang menyatakan akan menjaganya. Keotentikan al-Qur’an ini terbukti dengan adanya Umat Islam dari generasi ke generasi yang senantiasa menjaganya dari perubahan dan penyelewengan dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang mereka miliki, dan pastinya dengan cara penjagaan yang berbeda-beda pula. Di zaman Kenabian, para sahabat menjaganya dengan hafalan dan tulisan. Ada yang hapal sebagiannya dan tidak sedikit pula yang hafal keseluruhannya. Namun untuk penulisan al-Qur’an di Masa Kenabian ini belum rapi serapi zaman sekarang; karena keterbatasan alat dan materi tulis-menulis pada saat itu, sehingga para sahabat hanya menulisnya dengan alat-alat seadanya. Ada yang menulis di kulit pohon kurma, ada yang menulis di tulang belulang, dan adajuga yang menulis di bebatuan khusus.

Kemudian di zaman Khalifah Abu Bakar Sidik, terjadi peperangan besar antara kaum muslimin dan kaum musyrikin yang mengakibatkan gugurnya para Qurro’ (Penghafal Qur’an) di medan perang. Hingga akhirnya sahabat Umar Ra mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan al-Qur’an yang ada di tangan para sahabat; agar keutuhan al-Qur’an tetap terjaga. Sempat melalui perdebatan yang sengit antara keduanya, namun ahirnya Khalifah Abu Bakar menerima saran Sahabat Umar Ra, lalu memerintahkan beberapa sahabat yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan dari tangan para sahabat-sahabat yang lain. Dan setelah al-Qur’an terkumpul, kemudian Khalifah Abu Bakar menaruhnya di rumah Sayyidah Hafshah.

Berlanjut pada masa kepimpinan Utsman bin Affan RA. Masa di mana Agama Islam sudah tersebar di berbagai belahan dunia dan banyaknya sahabat  Nabi yang telah berhijrah ke beberapa negara taklukan islam, setelah sebelumnya, di masa kehalifahan Umar bin Khottob keinginan untuk berhijrah tersebut hampir tidak pernah digaungkan. Namun dibalik kejayaan agama islam di masa ini, terdapat permasalahan yang pelik di antara umat islam terkait dengan bacaan al-Qur’an yang sahih; karena setiap dari sahabat yang berhijrah mempunyai pemahaman tentang bacaan al Qur’an yang berbeda-beda. Sehingga Khalifah Utsman bin Affan merasa perlu untuk menyatukan kepahaman mereka  agar tidak terjadi pertumpahan darah akibat fenomena tersebut. Ahirnya dengan persetujuan para Sahabat termasuknya yaitu Ali bin Abi Thalib. Khalifah Utsman mengumpulkan al-Qur’an dalam satu Mushaf yang saat ini dikenal dengan Mushaf  Utsmani. Lalu beliau memerintahkan untuk menyebarkannya ke berbagai daerah Islam dan membakar semua Mushaf selain Mushaf Utsmani.

Dari kejadian tersebut para Ulama’ menetapkan hukum wajib untuk mengikuti dan memakai Mushaf yang penulisannya sesuai dengan Mushaf Utsmani, karena dibalik tersusunnya penulisan Mushaf Utsmani tersebut terdapat Ijma’ dari para Sahabat Nabi SAW.

Menulis Al Qur’an Dengan Selain Huruf Arab

Ulama’ berbeda pendapat dalam menyikapi permasalahan boleh dan tidaknya menulis al-Qur’an menggunakan huruf selain Arab:

  1. Sebagian Ulama’ termasuk As Syihab ar Romli mengatakan boleh; karena tulisan Ajam (selain Arab) yang dipakai dapat menunjukkan bunyi Bahasa al-Qur’an yang diharapkan, tanpa merubah kalimatnya dan esensi dari kandungan maknanya.
  2. Sebagian Ulama’ yang lain termasuk Ibnu Hajar mengatakan tidak boleh, karena ada sebagian bilangan huruf Arab yang tidak ditemukan dalam huruf latin, akibatnya jika al Qur’an ditulis dengan menggunakan huruf latin, maka akan berdampak merubah dan merusak tatanan kalimat yang ada dalam al Qur’an. Sedangkan adanya riwayat yang menyebutkan bahwa sahabat Salman al Farisi pernah menuliskan Surat al-Fatihah dengan bahasa Persia untuk penduduknya, itu bukan murni Surat al-Fatihah yang beliau tulis, melainkan Tafsir dari Surat al-Fatihah lah yang beliau tulis.

MenerjemahkanAl Qur’an Kedalam Bahasa Ajam

Menerjemahkan ayat al-Qur’an kedalam Bahasa Ajam hukum asalnya tidak diperbolehkan, karena dapat dipastikan penerjemahannya akan merubah kandungan dari makna al-Qur’an. Abul Husain bin al-Faris berkata dalam Fiqh al-Arobiyyah: “Tidak akan ada seorang pun yang mempu menerjemahkan al-Qur’an kedalam Bahasa Ajam seperti halnya kitab Injil yang diterjemahkan dari Bahasa Suryani kedalam Bahasa Etopia dan Persia, begitu juga kitab-kitab Allah yang lain yang berbahasa Arab. Hal ini karena kosa kata dalam Bahasa Ajam tidak seluas kosa kata dalam Bahasa Arab”. Namun ketika kita telaah lebih dalam, sebenarnya boleh menerjemahkan al-Qur’an kedalam bahasa Ajam, hanya saja penerjemahannya bukan murni menerjemahkan isi al-Qur’an, melainkan menerjemahkan tafsirnya. Maka tidak mengherankan jika di era sekarang, hampir semua orang di belahan Dunia ini telah menerjemahkan al-Qur’an kedalam Bahasa mereka masing-masing, berdasarkan diperbolehkannya menerjemahan tafsir al-Qur’an kedalam Bahasa Ajam tersebut.

Menyentuh Dan Membawa Al-Qur’an

Berawal dari Firman Allah SWT dalam Surat al-Waqi’ah Ayat 79 yang berbunyi:  لايمسه الاالمطهرون “Tidak ada yang menyentuhnya selain Hamba-hamba yang disucikan”, Para Ulama’ berbeda pendapat dalam menyikapi permasalahan boleh dan tidaknya seseorang yang berhadats menyentuh al-Qur’an. Hal ini lantaran mereka berbeda pendapat dalam menafsirkan kalimat Illal Mutthohharun. Sebagian dari mereka ada yang mengartikan Para Malaikat yang suci, sebagian lagi ada  mengartikan yang suci dari dosa, ada juga yang mengartikan yang suci dari jinabat dan hadats, dsb. Bagi Ulama’ yang mentafsirkan Illal Muthohharun dengan yang suci dari jinabat dan hadats, maka seorang yang sedang hadats tidak diperbolehkan menyentuh al-Qur’an, karena al-Qur’an hanya diperuntukkan bagi yang suci dari hadats saja. Mereka juga memperkuat pendapatnya dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abi Bakar:

أن فى الكتاب الذى كتبه رسول اللَّه -صلى اللَّه عليه وسلم- لعمرو بن حزم: (ألا يمس القرآن إلا طاهر)

“Sesungguhnya dalam surat yang ditulis Rasulullah SAW kepada Umar bin Hazm terdapat kalimat: “Janganlah menyentuh al-Qur’an kecuali orang yang suci”, hal ini terlepas dari adanya kaidah Ushul yang mengatakan “Hukum tidak bisa diambil dari dalil yang bersifat kalam khabar (berita)”.

Membawa Al-Qur’an Dalam Wadah Bagi Orang Yang Hadats

Sebelumnya telah disebutkan bahwa terdapat perbedaan pendapat terkait boleh tidaknya orang yang berhadats menyentuh al-Qur’an. Kemudian bagaimana hukumnya jika seseorang yang hadats membawa al-Qur’an dalam suatu wadah? Apakah hukumnya juga sama?

Madzhab Syafi’i mengatakan: membawa al-Qur’an dalam suatu wadah diperbolehkan jika dalam wadah tersebut juga terdapat barang yang lain, dan dalam membawanya tidak ditujukan untuk membawa al-Qur’an. Sehingga jika dalam wadahnya hanya berisi al-Qur’an saja, atau juga berisi barang lain namun diniatkan untuk membawa al-Qur’annya, maka hukum membawanya adalah haram. Dan perlu diketahui bahwa wadah yang dimaksud disini menurut Imam Nawawi adalah semua benda yang bisa dijadikan wadah baik pembuatannya dihususkan untuk wadah al-Qur’an atau tidak, lalu menurut Imam Al Halibi adalah segala bentuk wadah baik kecil atau besar, kemudian menurut Sebagian Ulama’ kursi juga dianggap sebagai wadah, hanya saja dibedakan besar dan kecilnya. Jika kursinya kecil, maka orang yang hadats  tidak  boleh menyentuh kursinya dari bagian manapun, dan jika kursinya besar, maka yang haram untuk disentuh hanyalah tempat yang sejajar dengan al-Qur’an saja.

Perhatian:

  • Terdapat beberapa situasi yang memperbolehkan seorang yang hadats menyentuh dan membawa al-Qur’an:
  • Dalam situasi darurat, seperti ketika melihat al-Qur’an hampir terbakar atau tercebur kedalam air dan tidak memungkinkan untuk bersuci terlebih dahulu.
  • Ketika al-Qur’an ditulis bersama dengan tafsirnya dan prosentase jumlah tafsirnya lebih banyak dari al-Qur’an.
  • Terdapat berbedaan Ulama’ terkait kaset yang berisikan bacaan Surat-Surat al Qur’an, apakah hukumnya sama dengan al-Qur’an atau tidak? Sebagian Ulama’ kontemporer mengatakan: hukumnya sama seperti al-Qur’an, karena kaset tersebut didalamnya berisikan komponen yang bertuliskan al-Qur’an. Dan sebagian Ulama’ yang lain mengatakan tidak dihukumi seperti al-Qur’an, layaknya wanita yang dilihat dibalik kaca, karena yang dilihatnya bukanlah hakikat dari wanita tersebut. Sedangkan untuk aplikasi al-Qur’an dalam HP, menurut Sayyid Prof. Abdullah Muhamad Baharun (Rektor Universitas al Ahgaff Yaman): jika aplikasinya dibuka maka hukumnya sama dengan al-Qur’an, jika tidak maka tidak.
  • Hukum menyentuh dan membawa al-Qur’an yang ditulis menggunakan huruf Ajam (selan Arab) hukumnya sama dengan menyentuh dan membawa al-Qur’an yang bertuliskan Arab, sedangkan membawa dan menyentuh al-Qur’an terjemahan itu hukumnya sama dengan membawa kitabTafsir. Artinya bagi yang sedang hadats diperbolehkan menyentuh dan membawanya.

Cara Merawat Al Qur’an Yang Sudah Usang

Ulama’ berbeda pendapat dalam tata-cara merawat al-Qur’an yang sudah usang dan tidak layak baca, sebagai berikut:

  1. Menurut Madzhab Hanafi: Tidak boleh dibakar, melainkan hendaknya dibungkus kain yang suci, lalu dikubur di tempat yang tidak dipandang hina dan tidak dilalui oleh manusia, dan juga dalam menguburnya harus ditutupi, supaya tidak terkena debu.
  2. Menurut Madzhab Ahmad bin Hambal: al-Qur’an sudah tidak layak baca boleh untuk dibakar.
  3. Menurut Madzhab Malik: Diperbolehkan membakarnya, bahkan wajib ketika bertujuan menjaganya dan khawatir akan terinjak-injak.
  4. Menurut Imam Nawawi: Membakarnya hukumnya makruh.

Perhatian: Al-Qur’an yang masih layak baca tidak boleh dibakar, bahkan ketika dibakar dengan tujuan menghina, maka yang membakar dianggap kafir.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman bin Kamal AssuyutiIlmuttafsir

Muhammad bin Ahmad Al QurthubiAljami Alahkam

Al GhazaliIhya’ Ulumuddin

Alawi bin Abbas Almaliki Ibanatul Ahkam

Muhammad bin Abdillah Azzarkasi Alburhan fiulumilquran

Abdurrahman bin Kamal AssuyutiAl Itqon fi ulumilqur’an

Muhammad Zakariyya bin Syarof AnnawawiAttibyan

Abu bakar Utsman bin Muhammad Syatho Addimyathi Ianatuttholibin

Muhammad Zakariyya bin Syarof Annawawi Almajmu Syarh Almuhaddzab

Sulaiman Aljamal Hasiyah Aljamal

AssyarqowiHasiyah Assyarqowi

Fatawi al Azhar

Syihabuddin AlqulyubiHasiyah Al Qulyubi

Musa Al HijawiIqna’ Hamish Bujairami alalkhatib

Syihabuddin Arromli Nihayatul Muhtaj

Sulaiman bin Muhammad Albujairami Hasiyah bujairami alalkhatib

Muhammad bin Ahmad Assyathiri Syarh Al Yaqut

Abdul Wahab Assya’roni Mizan Kubro

Mausuah Fiqhiyyah Kuwait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *