BERAGAM BENTUK IBADAH ALL IN ONE

BERAGAM BENTUK IBADAH ALL IN ONE
Oleh: M. Najih Husaini bin Musta’in Syukron
Firqoh Ulya II PP. Fadllul Wahid

  A.    PENDAHULUAN
Maha benar Allah SWT dengan segala firmannya. Salah satunya ialah penggalan firman yang berbunyi???? ???? ????????? ????????? ??????????? ??????????? ?? ??????????? ”. Meski dibalut dalam bentuk pertanyaan, sesungguhnya kandungan ayat ini menegaskan betapa tingginya derajat ahli ilmu. Tentu orang berilmu tidak akan sama dengan orang yang tak berilmu, baik dalam cara berfikir maupun bertindak, termasuk dalam beribadah. Dengan ilmu yang dimiliki, seorang muslim dapat lebih memaksimalkan kualitas ibadahnya kendati masih minim secara kuantitas.
            Dalam tulisan ini kami jelaskan beragam permasalahan-permasalahan yang jarang diketahui orang. Yakni berbagai bentuk ibadah yang mempunyai nilai atau pahala lebih banyak tanpa harus mengulang atau melakukannya secara terpisah. Jadi, dengan mengerjakan satu ibadah saja namun muatannya seperti melakukan beberapa bentuk ibadah, atau yang kami sebut dengan all in one. Oleh karena itu, tema ini kami rasa cocok untuk menambah pegetahuan dalam khazanah ilmu fikih dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas ibadah seorang muslim.

  B.     PEMBAHASAN
Beberapa literatur fikih klasik kerap kali menyinggung pembahasan tentang berbagai bentuk ibadah yang masuk dalam ibadah lain. Dalam kitab-kitab fikih seperti Hasyiah Al-Bajuri, Hasyiah I’anat al-Thalibin, dan Nihayat al-Zain konsep  ini disebut dengan indiraj, berasal dari kata indaraja-yandariju-indirajan yang berarti ‘termasuk’ atau include. Kendati sering disebut dalam kitab-kitab fikih, indiraj bukan satu-satunya kata yang digunakan oleh para ulama fikih. Artinya, tidak sedikit juga fukaha yang memakai redaksi lain untuk menjelaskan berbagai macam bentuk ibadah all in one ini.
Sekarang kita perlu tahu, apa itu indiraj? Memang tidak ada pengertian secara pasti untuk menjelaskan kata indiraj, karena seperti yang sudah kita ketahui bahwa indiraj bukanlah sebuah istilah. Secara ringkas, kata indiraj dapat dijelaskan dengan memberi pengertian secara global, yaitu dua bentuk ibadah atau lebih yang masuk pada satu bentuk ibadah tanpa perlu tambahan niat. Seperti seandainya seseorangmelakukukan suatu ibadah tertentu, ternyata ia telah secara sah melakukan beberapa ibadah lain dengan pahala berlipat tanpa harus dikerjakan satupersatu. Mudahnya, ini seperti penggabungan beberapa ibadah menjadi satu.
Sebenarnya pembahasan tentang indiraj meluas mulai dari bab ubudiyyah (peribadatan) hingga bab mu’amalah (transaksi), munakahah (pernikahan), dan lain-lain. Karena begitu luasnya ruang lingkup pembahasan ini, kami membatasi dan hanya menampilkan beberapa contoh indiraj pada seputar ubudiyyah (peribadatan). Hal ini tidak lain karena indiraj dalam fikih ibadah yang meliputi thaharah (bersuci), salat, puasa, dan haji mempunyai implikasi lebih besar dibanding bab-bab lain, terutama dari sisi efisiensi dan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari.

BAB THAHARAH
1.      Kumpulan Beberapa Mandi Wajib dan Mandi Sunah
Termasuk ibadah yang bisa masuk dalam ibadah lain tanpa perlu diniatkan secara khusus (indiraj) adalah kumpulan beberapa mandi wajib. Artinya, mandi wajib kumpul dengan mandi wajib lain. Oleh karena itu, cukup niat mandi wajib untuk salah satu dari keduanya. Misalnya mandi jinabat kumpul dengan mandi haidl, cukup niat mandi jinabat saja atau niat mandi haidl saja.
Sama halnya dengan kumpulan dari beberapa mandi sunah. Artinya, mandi sunah kumpul dengan mandi sunah lain. Seperti: mandi jum’at kumpul dengan mandi meminta hujan  (istisqo’) dan mandi hari raya (‘id) cukup niat mandi jum’at saja atau mandi ‘id saja.[1]

2.      Bersuci dari Hadas Besar dengan Hadas Kecil
Selanjutnya adalah indiraj antara bersuci dari hadas kecil yang masuk ke dalam ibadah bersuci dari hadas besar. Yakni mandi wajib sebagai penghilang hadas besar dan wudlu yang mengangkat hadas kecil. Oleh karena itu, dengan melakukan mandi wajib saja, tidak perlu berwudlu secara terpisah untuk menghilangkan hadas kecil. Dengan ketentuan pada saat mandi tidak melakukan hal-hal yang dapat membatalkan wudlu, seperti menyentuh kemaluan, kencing, kentut, dan lain sebagainya.[2] Contoh, seandainya seseorang mandi besar dengan niat mandi besar (semisal jinabat atau haidl) maka tidak perlu niat wudlu untuk menghilangkan hadas kecil.

3.      Kumpulan Bersuci dari Hadas dengan Najis Hukmiyah
Bentuk indiraj selanjutnya yaitu antara hadas dengan najis hukmiyah (najis yang sudah tidak ada warna, bau, dan rasa) yang dapat disucikan dengan sekali basuh. Menurut Imam Nawawi, untuk bersuci dari hadas dan najis (hukmiyah) sekaligus, cukup dengan melakukan mandi wajib atau berwudlu dan tidak  perlu menyucikan najis hukmiyah terlebih dahulu.
Dalam masalah ini memang terdapat khilaf (perselisihan pendapat) antara Imam Nawawi dan Imam Ramli, sebagai berikut:
·         Menurut Imam Ramli, jika saat mandi terdapat najis pada anggota badan, maka najis tersebut harus disucikan terlebih dulu meski berupa najis hukmiyah. Sehingga perlu membasuh dua kali untuk  mengangkat hadas dan najis.
·         Sedangkan menurut Imam Nawawi, untuk menghilangkan hadas dan najis hukmiyah sekaligus, pembasuhan cukup dilakukan sekali saja. Dengan catatan, najis tersebut bukan najis mughalladhah, seperti liur anjing dan babi. Sedangkan bila berupa najis mughalladhah maka disucikan terlebih dahulu seperti menyucikan najis mughalladhah. Yaitu dengan tujuh kali basuhan yang salah satunya disertakan debu yang suci.
Khilaf di atas hanya berlaku pada najis hukmiyah. Sedangkan pada pembahasan najis ‘ainiyah (najis yang masih ada warna, bau, atau rasa), tidak terjadi perbedaan pendapat ini. Artinya, jika pada badan terdapat najis yang masih meninggalkan warna, bau atau rasa, maka untuk bersuci dari hadas dan najis (‘ainiyah), Imam Nawawi dan Imam Ramli sepakat untuk melakukan dua kali pembasuhan. Pembasuhan pertama untuk menghilangkan najis ‘ainiyah dan pembasuhan kedua untuk mengangkat hadas.[3]

4.      Niat Tayamum Fardu dan Sunah
Niat bertayamum memiliki tiga tingkatan, yaitu:
·         pertama, niat bertayamum untuk melakukan salat maktubah (salat lima waktu)termasuk salat sunah yang menjadi wajib karena nadzar, thawaf fardu, khutbah jum’at.
·         kedua, niat bertayamum untuk menunaikan salat sunah, thawaf sunah, dan salat jenazah (meskipun salat jenazah hukumnya fardu kifayah, namun dalam masalah ini disamakan dengan ibadah sunah).
·         ketiga, niat bertayamum untuk mengerjakan ibadah-ibadah selain yang telah disebutkan pada tingkatan pertama dan kedua, meliputi sujud tilawah, sujud syukur, membaca dan menyentuh mushhaf al-Qur’an, dan lain-lain.
Konsekuensi hukumnya sebagai berikut:
 ü  Apabila niat salah satu dari tingkatan yang pertama maka memasukkan semua yang ada dalam tingkatan yang pertama dan semua yang ada dalam tingkatan kedua dan ketiga. Contoh, bila seseorang tayamum dengan niat untuk melakukan salat fardu (meskipun salat yang dinadzari), thawaf fardu dan khutbah jum’at, maka boleh melakukan salat fardu, thawaf fardu dan khutbah jum’at, juga boleh melakukan salat sunah, thawaf sunah dan salat jenazah dan juga boleh melakukan  sujud tilawah, membaca/menyentuh al-Qur’an dan lain sebagainya (yang masuk dalam tingkatan yang ketiga).
 ü  Apabila niat salah satu dari tingkatan yang kedua maka memasukkan semua yang ada dalam tingkatan yang kedua dan semua yang ada dalam tingkatan ketiga, tidak tingkatan yang pertama. Contoh, bila seseorang tayamum dengan niat untuk melakukan salat sunah atau thawaf sunah dan salat jenazah, maka boleh melakukan salat sunah, thawaf sunah dan salat jenazah, juga boleh melakukan sujud tilawah, sujud syukur dan lain sebagainya (yang masuk dalam tingkatan ketiga). Tidak boleh melakukan salat fardu atau thawaf fardu dan khutbah jum’at.
 ü  Apabila niat salah satu dari tingkatan yang ketiga maka hanya memasukkan semua yang ada dalam tingkatan yang ketiga. Tidak memasukkan yang ada pada tingkatan pertama dan kedua. Contoh, bila seseorang tayamum dengan niat untuk melakukan sujud tilawah, sujud syukur dan lain sebagainya (yang masuk dalam tingkatan ketiga) maka boleh melakukan sujud tilawah, sujud syukur dan lain sebagainya (yang masuk dalam tingkatan ketiga). Tidak boleh melakukan salat fardu atau thawaf fardu dan khutbah jum’at dan juga tidak boleh melakukan salat sunah, thawaf sunah dan salat jenazah.[4]

BAB SALAT
1.      Tahiyyat alMasjid
Salat sunah tahiyyat al-masjid adalah salat sunah yang berjumlah minimal 2 rakaat yang bisa dilakukan setiap waktu di dalam masjid. Salat ini disunahkan bagi setiap orang yang baru masuk masjid. Kesunahan untuk mengerjakan salat ini gugur apabila masuk lalu duduk di dalam masjid.
Salat ini bisa terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau salat sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih di dalam masjid.[5] Contoh, seandainya seseorang masuk dalam masjid langsung melakukan salat shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain tahiyyat al-masjid), maka sudah memasukkan salat tahiyyat al-masjid.
2.      Salat Sunah Thawaf
Salat sunah thawaf adalah salat sunah 2 rakaat yang dilakukan setelah thawaf. Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau salat sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih di Masjidil Haram.[6] Contoh, seandainya seseorang setelah thawaf melakukan salat shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain sunah thawaf), maka sudah memasukkan salat sunah thawaf.
3.      Salat Sunah Ihram
Salat sunah ihram adalah salat sunah 2 rakaat yang dilakukan menjelang niat ihram untuk ibadah haji atau umrah. Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau salat sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih di tempat-tempat miqat ihram.[7] Contoh, seandainya seseorang sebelum ihram melakukan salat shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain sunah ihram), maka sudah memasukkan salat sunah ihram.
4.      Salat Sunah Wudlu
Salat sunah wudlu adalah salat sunah 2 rakaat yang dilakukan setelah wudlu. Dengan catatan antara wudlu dan salat sunah tersebut tidak ada jeda waktu yang lama. Yakni sekira tidak dianggap berpaling dari kesunahan salat itu dan masih bisa dinisbatkan pada wudlu.
Salat ini dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih yang dilakukan sesaat setelah wudlu. Adapun tayamum dan mandi wajib/sunah juga dapat disamakan dengan wudlu. Artinya, sesaat seusai melakukan tayamum atau mandi wajib/sunah juga ada kesunahan mengerjakan salat layaknya salat sunah wudlu.[8] Contoh, seandainya seseorang sesaat seusai wudlu melakukan salat shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain sunah wudlu), maka sudah memasukkan salat sunah wudlu.
5.      Salat Awwabin
Salat awwabin disebut juga salat ghaflah, ialah salat sunah 2 rakaat yang dilakukan diantara salat maghrib dan ‘isya’. Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih yang dilakukan diantara salat maghrib dan ‘isya’.[9] Contoh, seandainya seseorang diantara salat maghrib dan ‘isya’ melakukan salat qadha’ shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain salat awwabin), maka sudah memasukkan salat awwabin.
6.      Salat Istikharah
Salat istikharah adalah salat sunah 2 rakaat yang dilakukan bagi orang yang mencari pilihan atas sesuatu yang dipilih di sisi Allah dan yang lebih utama. Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih, pagi,siang, maupun malam (kecuali pada lima waktu yang diharamkan).[10] Contoh, seandainya seseorang dalam keadaan bimbang akan menikahi salah satu dari dua wanita, kemudian dia melakukan salat shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain istikharah), maka sudah memasukkan salat istikharah.
7.      Salat Hajat
Salat hajat adalah salat sunah 2 rakaat yang dilakukan oleh orang yang memiliki hajat (kebutuhan). Misalnya, orang yang tertimpa permasalahan dan sulit untuk menghadapinya. Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih.[11] Contoh, seandainya seseorang tertimpa masalah yang sulit untuk dia hadapi kemudian dia melakukan salat shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain salat hajat), maka sudah memasukkan salat hajat.
8.      Salat Zawal
Salat zawal adalah salat sunah 2 rakaat yang dilakukan setelah zawal (tergelincirnya matahari) dan sebelum salat qabliyah dhuhur. Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih.[12] Contoh, seandainya seseorang setelah zawal melakukan salat qadha’ shubuh (fardu) atau melakukan salat hajat (sunah selain salat zawal), maka sudah memasukkan salat zawal.
9.      Salat sunah akan bepergian
Salat sunah akan bepergian disebut juga salat safar adalah salat sunah 2 rokaat, yang dilakukan ketika hendak bepergian. Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan melakukan salat fardu atau sunah lain yang  berjumlah 2 rokaat atau lebih, sepertihalnya salat tahiyyat al-masjid.[13] Contoh, seandainya seseorang hendak bepergian melakukan salat shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain sunah akan bepergian), maka sudah memasukkan salat sunah akan bepergian.
10.  Salat sunah usai bepergian.
Salat sunah usai bepergian adalah salat sunah 2 rokaat yang dilakukan di masjid sebelum masuk rumah, namun bila sudah masuk rumah masih ada kesunahan. Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj)  dengan cara melakukan salat fardu atau sunah lain yang  berjumlah 2 rokaat atau lebih, sepertihalnya salat tahiyyat al-masjid.[14] Contoh, seandainya seseorang setelah bepergian dan sebelum masuk rumah melakukan salat shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain sunah usai bepergian) di masjid, maka sudah memasukkan salat sunah usai bepergian.
11.  Salat Tahajud
Salat tahajud adalah salat sunah 2 rakaat yang dilakukan setelah salat ‘isya’ –meskipun jama’ taqdim–, dan setelah tidur (meskipun tidurnya dilakukan sebelum waktu‘isya’). Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih.[15] Contoh, seandainya seseorang setelah tidur dan setelah melakukan salat ‘isya’ melakukan salat qadha’ shubuh (fardu) atau melakukan salat hajat (sunah selain tahajjud), maka sudah memasukkan salat tahajjud.
12.  Satu Sujud Sahwi untuk Beberapa Sunah Ab’adl
Apabila seseorang lupa atau dengan sengaja tidak melakukan beberapa sunah ab’adl (sunah yang dapat diganti dengan sujud sahwi), maka cukup melakukan satu  sujud sahwi (sujud sebanyak 2 kali sebelum salam), dan tidak harus mengulang sujud sahwi sebanyak jumlah sunah ab’adl yang ditinggal.[16] Misalnya ketika tidak melakukan do’a qunut dan tasyahud awal, maka cukup dengan melakukan satu sujud sahwi.

BAB PUASA
1.      Satu Kafarat untuk Beberapa Kali Jima’
Seperti yang telah kita ketahui, pada siang hari bulan Ramadhan syari’at telah mengharamkan jima’/wathi (bersetubuh). Selain akan berdampak membatalkan puasa, jima’ pada siang hari bulan Ramadhan juga merupakan salah satu dari dosa-dosa besar. Konsekuensi dari tindakan tersebut adalah kewajiban membayar satu kafarat untuk satu hari puasa. Bila seseorang berulang kali melakukan wathi dalam satu hari bulan Ramadhan, maka kafaratnya tidak berlipat sesuai dengan jumlah wathi-nya, karena sudah masuk ke dalam kafarat yang pertama.[17]
2.      Puasa Arafah
Puasa ‘Arafah adalah puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa ‘Arafah dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan puasa fardu, baik qadha’ atau nadzar.[18] Contoh, seandainya seseorang pada tanggal 9 Dzulhijjah melakukan puasa fardu baik qadha’ atau nadzar, maka sudah memasukkan puasa ‘Arafah.
3.      Puasa Asyura’
Puasa ‘Asyura’ adalah puasa sunah yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram. Puasa ‘Asyura’ dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan puasa fardu, baik qadha’ atau nadzar.[19] Contoh, seandainya seseorang pada tanggal 10 Muharram melakukan puasa fardu baik qadha’ atau nadzar, maka sudah memasukkan puasa ‘Asyura’.
4.      Puasa Tasu’a’
Puasa Tasu’a’ adalah puasa sunah yang dilakukan pada tanggal 9 Muharram. Puasa Tasu’a’ dapat terlaksana (indiraj) dengan cara melakukan puasa fardu, baik qadha’ atau nadzar.[20] Contoh, seandainya seseorang pada tanggal 9 Muharram melakukan puasa fardu baik qadha’ atau nadzar, maka sudah memasukkan puasa Tasu’a’.
5.      Puasa Enam Hari Bulan Syawal
Puasa enam hari bulan Syawal adalah puasa selama enam hari –baik tersambung atau terputus–pada bulan Syawal setelah hari raya idul fitri.Waktu puasa ini dimulai sejak hari kedua hingga hari terakhir bulan Syawal. Puasa ini dapat terlaksana (indiraj) dengan cara melakukan puasa fardu, baik qadha’ atau nadzar.[21] Contoh, seandainya seseorang pada bulan Syawal melakukan puasa fardu baik qadha’ atau nadzar, maka sudah memasukkan puasa enam hari bulan Syawal.
6.      Puasa Ayyamul Bidl
Puasa Ayyamul Bidh adalah puasa sunah yang dilakukan pada tanggal 13,14, dan 15 setiap bulan. Khusus bulan Dzulhijjah puasa tersebut dilakukan pada 14, 15, dan 16. Puasa pada tanggal 16 ini merupakan ganti dari tanggal 13, karena tanggal 13 bulan Dzulhijjah adalah salah satu dari tiga hari tasyriq (11,12, dan 13 Dzulhijjah). Sedangkan puasa pada hari tasyriq adalah haram.
Puasa Ayyamul Bidh juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan puasa fardu, baik qadha’ maupun nadzar. [22] Contoh, seandainya seseorang pada tanggal-tanggal diatas melakukan puasa fardu baik qadha’ atau nadzar, maka sudah memasukkan puasa Ayyamul Bidh.
7.      Puasa Senin dan Kamis
Puasa Senin dan Kamis adalah puasa sunah yang dilakukan pada hari Senin dan hari Kamis, selama tidak bersamaan dengan hari-hari yang diharamkan untuk melakukan puasa. Puasa senin dan kamis dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan puasa fardu, baik qadha’ maupun nadzar.[23] Contoh, seandainya seseorang pada hari senin atau kamis melakukan puasa fardu baik qadha’ atau nadzar, maka sudah memasukkan puasa senin – kamis.

BAB HAJI DAN UMRAH
1.      Ihram Haji atau Umrah dengan Ihram Masuk Makkah
Dalam beberapa literatur fikih dijelaskan, bahwa niat ihram untuk haji atau umrah itu berbeda dengan niat ihram untuk memasuki kota Makkah. Meski demikian, seandainya seseorang masuk tanah haram dengan niat ihram haji atau umrah, maka niat ihram tersebut juga mencakup niat ihram untuk masuk kota Makkah.[24]
2.      Thawaf Fardu/Nadzar dengan Thawaf Qudum
Sebenarnya kalau ada seseorang baru masuk makkah disunnahkan untuk melakukan thawaf qudum. Nah, sekarang kalau ada seseorang baru masuk makkah langsung melakukan thawaf fardu (thawaf ifadlah) atau nadzar maka sudah memasukkan thawaf qudum.[25]
3.      Hanya Satu Dam (denda) untuk Orang Ihram Haji dan Umrah yang Membunuh Hewan Buruan
Termasuk hal-hal yang diharamkan untuk orang yang ihram haji dan umrah adalah membunuh hewan buruan di tanah haram, yang akan berdampak wajib membayar dam (denda) dan normalnya wajib membayar dua dam (denda) dari ihram haji dan umrah. Namun dalam masalah ini, sudah cukup dengan membayar satu dam (denda) karena ihram haji dan umrah masih satu jenis sehingga dianggap satu.[26]

  C.    PENUTUP
Uraian di atas merupakan sedikit contoh dari sekian banyak macam-macam bentuk indiraj dalam fikih ibadah. Masih banyak contoh-contoh lain yang serupa dan tidak hanya sebatas ini saja. Kami berharap semoga hanya dengan ini saja dapat memberi manfaat dan menjadi penyemangat dalam beribadah.
Sekian dan terima kasih.

  D.    DAFTAR PUSTAKA
·         Syaikh Ibrahim al Bajuri, Hasyiyah al Bajuri.
·         Syaikh Jalaluddin Abdurrohman as Syuyuti, Al Asybah Wa an Nadhoir.
·         Syaikh Muhammad bin Qosim al Ghozi, Fath al Qorib.
·         Syaikh Abu bakr as Syatho, Hasyiah I’anat at Tholibin.
·         Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibary, Fath al Mu’in.,
·         Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.
·          Syarh bughyah al Mustarsyidin.
·         Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syarof an Nawawi. Minhaj at tholibin
·         Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain
·         Mausu’ah Kuaitiyah
·         Syaikh ‘Abdul Hamid asy Syarwani, Hawasyi As Syarwani wa al ‘Abbadi


DAFTAR PUSTAKA
1.        Kumpulan beberapa mandi baik wajib atau sunah
????? ???????? – 1/145
??? ????? ???? ????? ??? ????? ????? ???? ??? ????? ???? ?? ?????? ????? ?? ????? ???? ?????? ????? ???? ??????? ???? ?????? ??? ?????? ???? ??? ?? ?????? ??? ?? ???? ????? ??? ?? ?????? : ??? ????? ???? ???? ???? ?? ??????? ??? ???
????? ??????? ??? ??? ??????? – ????? (1/ 230)
??? ?? ???? ??? ????? ?????? ???? ????? ???????? ????? ???? ????? ??? ?????? ????????? ?????? ?????? ??? ?? ?? ????? ???? ????? ????? ????? ???? ????? ??? ???? ???????? ??? ???????
2.       Kumpulan hadats kecil dan hadats besar
??????? ???????? ??????? – ????? (?: 241)
??????? ???????
 ??? ????? ????? ?? ??? ???? ? ?? ????? ???????? ??? ?????? ?? ????? ?????
 ??? ???? ??? :
 ??? ????? ??? ? ????? ??? ????? ??? ?????? ??? ?? ????? ????? ? ???
3.       Kumpulan hadats dan najis hukmiyah
??? ?????? ??????
(?????? ??????? ?? ???? ??? ????) ?? ??????? ???? ?????? ???????? ????? ??? ???? ???? ????? ?? ????? ???????? ???? ?????? ???????? ????? ????? ????? ????? ?? ??? ???? ??????? ????? ??? ??? ???? ??????? ????? ??? ?????? ?????                                            
??????? ???????? ??????? – ????? (?: 241)
? ?? ????? ??? ? ????? ????? ??? ???? ???? ????? ?? ????? ??? ??????
4.       Tingkatan-tingkatan pada tayamum
????? ???????? (1/ 58)
??????? ??????? ???? ??????? ?????? ??? ?????? ??? ?????? ???? ?????? ???? ????? ?????? ????? ????? ????? ?????? ??? ??????? ??? ??????
 ??????? ??????? ??? ?????? ???? ?????? ????? ??????? ????? ??? ???? ??? ????? ?????? ???? ?????? ??????? ??????? ?? ??? ??? ????? ??????? ?????? ?????? ?????? ??? ?????? ?????? ??????
 ???? ??? ???? ?? ??????? ?????? ?????? ????? ???? ??? ??? ?? ???? ?????? ??? ???? ??????? ????????
 ???? ??? ????? ?? ??????? ?????? ?????? ????? ??????? ??? ??? ?? ??????
 ???? ??? ???? ?? ??????? ???????? ???? ??????? ???? ?????? ????????
5.       Tahiyyatul masjid
???? ?????????? (?: 79)
(?????) : ????? ???? ????? ?? ????? ??? : ?????? ? ?????? ?????? ? ???????? ? ??????? ? ????? ?????? ? ?????????? ? ??????? ? ??????? ??????? ?? ????? ? ??????? ?? ? ???? ?? ??????? ? ??? ????? ???? ?? ????? ??? ?? ????? ???? ????? ??? ????? ??? ???? ? ????? ??? ??? ?????? ?? ????? ?? ???? ?? ??? ? ????? ??? ?????? ? ??? ????? ??? ?? ????? ?? ???? ???.
??? ???? ?????????? (? 2/ ? 87)
???? (????? ?? ?????) ??? ????? ?????? ????? ???? ????? ?? ??? ?? ??? ????? ?? ???? ????? ????? ??? ?? ????? ??? ?????? ????? ??????? ???? ????? ??? ???????? ??? ????. ???.
??? ?????? – (? 1 / ? 67)
( ? ) ??? ( ????? ???? ) ????? ???? ??? ???? ????? ?? ?? ??? ?????? ????? ????? ??? ????? ????? ????? ?? ???? ?????? ???????? ????? ?? ???? ?????? ???? ??????? ??? ??? ????? ?????? ??? ???? ??? ???? ?????? ????? ?????? ??????? ?????? ???? ?????? ?? ?? ??? ?? ???? ????? ???? ??? ?????? ?? ?? ????? ????? ????? ?? ????? ?? ???? ??? ?? ???? ???? ?? ????? ???? ???? ???? ??? ????? ?????? ???????? ???? ????? ?? ??? ???
6.       Salat sunah thowaf
??????? ?????? – (? 1 / ? 124)
?????? ??????????? ????????????? ?????????? ????????: ?????? ????????????? ???????????? ?????? ???????????  .. ??? ?? ??? … ???????? ????????? ?????? ??????? ????????
???????????? ????????? ??????? ????????? ????????????? … ??? ?? ??? … ?????? ????????? ???????? ???????????? ?????? ??????????? ???????? ??? ????????? ???? ??? ???????? ?????????????? ????? ???????????? ???????????.
7.       Salat sunah ihram
????? ????? – (? 1 / ? 124)
 ???? ???? ??? ??????? ????? ???? ???? ???? ????
8.       Salat sunah wudlu
????? ????? – (? 1 / ? 104)
???? ???? ??? ?????? ??? ?????? ??? ???? ??? ????? ???????? ????? ??? ???? ?? ???? ?????? ??? ??? ????? ????? ??? ?????? ?? ??? ?? ??? ????? ?? ???? ?? ???? ?????? ?? ??? ???? ?????? ????? ????? ???? ?????? ????? ??????? ??? ???? ???? ?????? ?? ??? ?? ????? ??? ?? ????? ?? ?? ?????? ???? ?????? ?? ?????? ??? ???? ??????? ???????? ????? ?? ???? ??? ????? ?? ?? ???? ??????? ?? ??????? ?????? ???? ???? ??? ?????
 ???? ??????? ??????? ?????? ???? ???? ??? ????? ???????? ??? ??? ??? ??????
9.       Salat awwabin
????? ????? – (? 1 / ? 103)
???? ???? ???????? ????? ???? ?????? ?????? ??? ???? ?????? ??? ???? ????? ?????? ??? ??? ?????? ?? ?????? ?????? ????? ?? ??? ?????? ????? ???????? ?? ??? ??????? ?????? ?????? ??????? ?? ??????? ????? ????? ????? ??? ?????? ????? ??????
 ??? ???? ????? ??? ??? ???? ???????? ?? ??? ???? ?????? ??? ??? ?? ??? ????????? ???????? ?? ???? ???? ???????? ???? ??????? ??? ???? ???? ???? ?? ???? ???????? ???? ??????? ???? ??? ??? ?? ??? ????? ??? ????? ?? ???? ??? ?????? ???? ????? ????? ???????? ?????? ??? ?? ????? ???? ????? ???? ?????
10.   Salat istikharah
???????? ??????? ???????? – (? 3 / ? 241)
???????? : ??? ???????? . ?? ??? ??? ????? ??? ?? ??????? ??? ???? ??????? ? ??????? ? ?? ?????? ?????? ?? ?????????
????? ???????? – (? 1 / ? 257)
)???? ?????? ??????? ) ?? ???? ?????? ????????? ?? ??? ????? ???? ???? ?? ????? ??????? ?? ????? ????????? ?? ????? ???? ??????? ??? ?? ????? ???? ???? ?? ???? ???? ????? ?? ????  ??? ?? ????? ??? ?? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ????? ?? ??? ???? ?????
11.      Salat hajat
????? ????? – (? 1 / ? 123)
 ???? ???? ?????? ??? ??? ???? ????? ????? ???? ?? ???? ???? ?????? ????? ???? ??? ????? ??? ?????? ??????
 ??? ?? ???? ?? ????? ??? ??? ?? ?? ?????? ???? ?? ??? ?? ???? ????? ???? ???? ???? ???? ?? ?? ???? ?????? ?????? ???? ?????? ??? ?? ???? ??? ???? ??? ??? ????? ???? ??? ???? ???? ?? ????? ???? ???? ?????? ????? ?? ????? ?? ???? ?????? ????? ?? ????? ????? ?????? ???? ?? ???? ?????? ?????? ?? ????? ?????? ?????? ???? ?????? ??????? ??????? ??????? ???? ?? ??????? ?? ??? ???? ?? ???? ??? ????? ???? ???? ?? ????? ???? ?? ???? ????? ???? ?? ????? ???? ????? ?? ??? ???? ?? ???
 ??? ????? ??? ??? ???? ?? ??????? ???????? ????????? ??? ??? ????? ???? ?? ??? ????? ??????? ???? ???? ???? ????? ???????? ?? ????? ?????? ????? ?????? ????? ?????? ??? ????? ??? ???? ???? ???? ????? ?? ??? ??? ???? ?????? ?????? ?? ??? ??? ???? ????? ?????? ????? ???? ?? ????? ?????? ?????? ??? ?? ????????
 ????? ??? ????? ?????? ????? ?????? ?????? ???????? ?? ?? ?? ???????? ?? ?? ??? ?? ??? ?? ???? ??? ????? ??? ??? ??? ????? ??? ???? ?? ?? ???? ??? ??????
12.    Salat sunah zawal
??? ???? ?????????? (? 2/ ? 87)
???? (???????) ?? ???? ?? ???? ???? ??? ????? ????? ??????? ?? ???? ???? ???? ??? ??????. ???. ? ?
13.    Salat sunah akan bepergian
????? ????? – (? 1 / ? 107)
 ???? ???? ????? ??? ?????? ??? ????? ?????? ????? ???? ???? ??? ????? ??? ?? ????? ??? ???? ???? ???? ??? ??? ?? ?????? ??? ??? ???? ?? ????? ??? ??? ???? ?? ???? ????? ?????? ?? ???? ??? ?? ???? ???? ???? ???? ???? ?????? ?????? ? { ?? ?? ???? ??? } 112 ??????? ????? 1 ?? ???? ????? ??? ????? ??? ???? ??????? ??? ?? ???? ????? ??? ?????? ?? ???? ????? ???? ??? ???? ??? ???? ??? ????
14.    Salat sunah usai bepergian
??? ???? ?????????? (? 2/ ? 87)
???? (??????? ?? ?????) ??? ?????? ??????? ?? ?????? ??? ????? ????? ??? ?????? ??????. ???
15.    Salat tahajjud
???????? (? 2/ ? 267)
( ???????? : ?????? ???????????? ) ??????? ??? ???????????? ? ???????????? ???????? ??????????? ????? ? ? ????????? ???????? ?????? ???????????? ?????? ????? ????????? ?? ????? ???? ???????? ???? ???????? ?????????? ? ? ????? ????????? ?????? ???????? .? ?? . ????????? ????????? ?????? ???????????? ?????? ?????? ????????? ?????????????? ? ????????????? ??????? ?????? ?????? ?????????? ?????? ??????????? ???? ??????????? ?????? ????????? ???????? ?????? ?????? ????? ????????? ?????? ?????? ?????????? ??????? ??????? ?????? ?????????? ??????? ???????? ???? ???????? ????? ??? ???????? ???????? ???????? ??????? ?????????? ? ??????????? ??????????? ? ??????????? ???? ??????? ??????? ???? ??????? ????????????? ??????????? ?????? ????? ?????????? .? ?? .
16.    Lupa beberapa sunah ab’ad dalam salat
??????? ???????? ??????? – ????? (?: 241)
? ?? ???? ????? ?? ?????? : ?? ????? ?????? ????? ??????? ??????? ?? ?????? ??? ????? ????? ????? ??? ??? ??????? ? ?? ??? ????????? ??? ??????
17.     Wathi dua kali di siang hari bulan ramadhan cukup satu kafaroh
??????? ???????? ??????? – ????? (?: 241)
? ?? ??? ?? ???? ????? ????? ?? ????? ??????? ????? ???? ?? ????? ???? ????? ?? ?? ??? ?? ??????? ????? ??? ???? ??? ? ?? ???? ?? ??????? ???????? ?????? ?? ??? ???
18.     Puasa ‘arofah
????? ????? – (? 1 / ? 195)
  ??? ?? ??? ??????  ??? ???? ????? ( ??? ) ?????? ??? ???? ??? ????? ( ??? ) ??? ( ???? ) ???? ????? ??? ???? ?? ????? ???? ??? ???? ???? ???? ??? ?? ??? ???? ???? ???? ????? ??????? ?????????? ????? ????? ???? ?????? ???? ???? ???? ?????? ??? ?? ??? ?? ???? ????? ?? ?? ?????? ??? ?? ????? ?????? ???
??? ?????? ???? ??? ????? – ????? (2/ 306)
(???) ???? ??? ??????? ????? ???? ???? ??? ???? ????? ??? ??? ????? ???? ???????.
????? ??????? ????: ?? ?????? ?? ???? ?? ?? ?????.
??? ????? – ????? – ????? ???? ?? ????? ???? ??? ????? ??? ???????? ??? ??? ?????? ????? ????? ???? ??? ??? ?????.
????? ???????? (2/ 306)
(????: ???? ???) ???? ??????? ??????? ??? ??? ??? ???? ??? ??? ???? ?? ??? ?????? ?? ??? ?????? ??????? ?????: ??? ?? ????? ???? ????? ???? ?? ???? ??? ?????? ???????? ????? ?????? ??? ?? ??? ?? ???? ?????? ??? ?? ????? ?? ????? ?? ??? ??? ????? ???? ???
??? ????? ??? ?? ???? ?? ?????? ??? ??? ????? ???? ??? ??? ????? ???.
19.    Puasa ‘asyura
????? ????? – (? 1 / ? 196)
( ? ) ?????? ??? ??? ( ??????? ) ??? ???? ?????? ???? ??? ???? ???? ???? ??? ??? ???? ???? ????? ??????? ????? ??? ??? ???? ?????? ???????? ???? ??? ????? ??? ????? ??? ???? ???? ???? ??????? ??? ???? ?? ???????? ?????? ??? ???? ???? ???? ???? ???????? ???? ???? ?????? ???? ?????? ?? ????? ???????
20.  Puasa tasu’a’
????? ????? – (? 1 / ? 197)
( ? ) ?????? ??? ??? ( ??????? ) ??? ???? ?????? ???? ??? ???? ???? ???? ??? ??? ??? ??? ???? ?????? ?????? ??????? ???? ??? ???? ???? ???? ?? ????
21.    Puasa enam bulan syawal
????? ????? – (? 1 / ? 197)
( ? ) ?????? ??? ( ??? ?? ???? ) ????? ?? ??? ????? ?? ????? ??? ?? ???? ??? ????? ?????
 ?????? ???? ???? ????? ????? ???? ????? ??? ???? ?????? ???? ???? ????? ?? ??????? ???? ????? ????? ?????? ?????? ?????? ?? ??? ????? ??? ??????? ???????? ???? ????? ???? ????? ????? ???? ???? ??????
22.   Pasa ayyamul bidh
????? ????? – (? 1 / ? 197)
( ? ) ?????? ??? ( ???? ) ??????? ( ????? ) ?? ?? ??? ??? ?????? ??? ??????? ??? ?? ????? ???? ?????? ??? ??? ?????? ??? ???? ?? ???? ??????? ??????? ????
23.   Puasa senin kamis
????? ????? – (? 1 / ? 197)
 ( ? ) ?????? ??????? ??? ??? ( ??????? ??????? ) ???? ??? ???? ???? ???? ??? ????? ?????? ???? ????? ????? ???? ????? ??????? ???? ?? ???? ???? ???? ????
24.   masuk tanah haram dengan niat ihram haji atau umrah, memasukkan ihram masuk makkah
??????? ???????? ??????? – ????? (?: 241)
??? ??? ????? ????? ??? ??? ?? ???? ??? ??? ??????? ????? ???.
25.   Orang yang baru datang ke makkah melakukan thowaf fardu / nadzar, memasukkan thowaf qudum
??????? ???????? ??????? – ????? (?: 241)
 ? ?? ??? ?????? ?? ??? ?? ??? ??? ??? ???? ?????? ????? ?? ?? ??? ??????? ?? ???? ??? ???? ?????? ??? ??? ????? ????? ?? ???? ? ???????? ????? ? ????? ?? ?? ??? ?????? ?????? ?????? ????? ????? ?????? ???? ?? ???? ?? ???? ????? ? ?? ?????? ???? ??? ?? ??? ??????
26.   Orang yang berstatus ihram haji dan umrah bila membunuh hewan buruan di tanah haram, hanya wajib membayar satu dam
??????? ???????? ??????? – ????? (?: 241)
? ?? ??? ?????? ???? ?? ????? ???? ???? ???? ? ?????? ???????? ?? ??? ?????? ?? ??? ???? ??????? ??? ??? ???? ???? ???? ???? ? ?? ??? ?? ??? ?? ???? ???? ? ??????


[1] Syaikh Ibrahim al Bajuri, Hasyiah al Bajuri.
[2] Syaikh Jalaluddin Abdurrohman as Syuyuti, Al Asybah Wa an Nadhoir.
[3] Syaikh Muhammad bin Qosim al Ghozi, Fath al Qorib. Syaikh Jalaluddin Abdurrohman as Syuyuti, Al Asybah Wa an Nadhoir.
[4] Syaikh Abu bakr as Syatho, Hasyiah I’anah at Tholibin.
[5] Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibary, Fath al Mu’in., Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.dan Syarh bughyah al Mustarsyidin.
[6] Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syarof an Nawawi. Minhaj at tholibin
[7] Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.
[8] Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.
[9] Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.
[10] Mausu’ah Kuaitiyah. dan Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.
[11] Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.
[12] Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin. dan Syarh Bughyah al Mustarsyidin
[13] Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.
[14] Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin. dan Syarh Bughyah al Mustarsyidin
[15] Syaikh ‘Abdul Hamid asy Syarwani, As Syarwani. dan Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.
[16] Syaikh Jalaluddin Abdurrohman as Syuyuti, Al Asybah Wa an Nadhoir.
[17] Syaikh Jalaluddin Abdurrohman as Syuyuti, Al Asybah Wa an Nadhoir.
[18] Syaikh Abu Bakr Syatho, Hasyiah I’anah at Tholibin. Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibary, Fath al Mu’in
[19] Syaikh Abu Bakr Syatho, Hasyiah I’anah at Tholibin. Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibary, Fath al Mu’in
[20] Syaikh Abu Bakr Syatho, Hasyiah I’anah at Tholibin. Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibary, Fath al Mu’in
[21] Syaikh Abu Bakr Syatho, Hasyiah I’anah at Tholibin. Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibary, Fath al Mu’in
[22] Syaikh Abu Bakr Syatho, Hasyiah I’anah at Tholibin. Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibary, Fath al Mu’in
[23] Syaikh Abu Bakr Syatho, Hasyiah I’anah at Tholibin. Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibary, Fath al Mu’in
[24] Syaikh Jalaluddin Abdurrohman as Syuyuti, Al Asybah Wa an Nadhoir.
[25] Syaikh Jalaluddin Abdurrohman as Syuyuti, Al Asybah Wa an Nadhoir.
[26] Syaikh Jalaluddin Abdurrohman as Syuyuti, Al Asybah Wa an Nadhoir.

Ngangkruk, Bandungsari, Ngaringan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah 58193, Indonesia

2 Replies to “BERAGAM BENTUK IBADAH ALL IN ONE”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *