BERAGAM BENTUK IBADAH ALL IN ONE

BERAGAM BENTUK IBADAH ALL IN ONE
Oleh: M. Najih Husaini bin Musta?in Syukron
Firqoh Ulya II PP. Fadllul Wahid

  A.    PENDAHULUAN
Maha benar Allah SWT dengan segala firmannya. Salah satunya ialah penggalan firman yang berbunyi? ???? ???? ????????? ????????? ??????????? ??????????? ?? ??????????? ?. Meski dibalut dalam bentuk pertanyaan, sesungguhnya kandungan ayat ini menegaskan betapa tingginya derajat ahli ilmu. Tentu orang berilmu tidak akan sama dengan orang yang tak berilmu, baik dalam cara berfikir maupun bertindak, termasuk dalam beribadah. Dengan ilmu yang dimiliki, seorang muslim dapat lebih memaksimalkan kualitas ibadahnya kendati masih minim secara kuantitas.
            Dalam tulisan ini kami jelaskan beragam permasalahan-permasalahan yang jarang diketahui orang. Yakni berbagai bentuk ibadah yang mempunyai nilai atau pahala lebih banyak tanpa harus mengulang atau melakukannya secara terpisah. Jadi, dengan mengerjakan satu ibadah saja namun muatannya seperti melakukan beberapa bentuk ibadah, atau yang kami sebut dengan all in one. Oleh karena itu, tema ini kami rasa cocok untuk menambah pegetahuan dalam khazanah ilmu fikih dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas ibadah seorang muslim.

  B.     PEMBAHASAN
Beberapa literatur fikih klasik kerap kali menyinggung pembahasan tentang berbagai bentuk ibadah yang masuk dalam ibadah lain. Dalam kitab-kitab fikih seperti Hasyiah Al-Bajuri, Hasyiah I?anat al-Thalibin, dan Nihayat al-Zain konsep  ini disebut dengan indiraj, berasal dari kata indaraja-yandariju-indirajan yang berarti ?termasuk? atau include. Kendati sering disebut dalam kitab-kitab fikih, indiraj bukan satu-satunya kata yang digunakan oleh para ulama fikih. Artinya, tidak sedikit juga fukaha yang memakai redaksi lain untuk menjelaskan berbagai macam bentuk ibadah all in one ini.
Sekarang kita perlu tahu, apa itu indiraj? Memang tidak ada pengertian secara pasti untuk menjelaskan kata indiraj, karena seperti yang sudah kita ketahui bahwa indiraj bukanlah sebuah istilah. Secara ringkas, kata indiraj dapat dijelaskan dengan memberi pengertian secara global, yaitu dua bentuk ibadah atau lebih yang masuk pada satu bentuk ibadah tanpa perlu tambahan niat. Seperti seandainya seseorangmelakukukan suatu ibadah tertentu, ternyata ia telah secara sah melakukan beberapa ibadah lain dengan pahala berlipat tanpa harus dikerjakan satupersatu. Mudahnya, ini seperti penggabungan beberapa ibadah menjadi satu.
Sebenarnya pembahasan tentang indiraj meluas mulai dari bab ubudiyyah (peribadatan) hingga bab mu?amalah (transaksi), munakahah (pernikahan), dan lain-lain. Karena begitu luasnya ruang lingkup pembahasan ini, kami membatasi dan hanya menampilkan beberapa contoh indiraj pada seputar ubudiyyah (peribadatan). Hal ini tidak lain karena indiraj dalam fikih ibadah yang meliputi thaharah (bersuci), salat, puasa, dan haji mempunyai implikasi lebih besar dibanding bab-bab lain, terutama dari sisi efisiensi dan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari.

BAB THAHARAH
1.      Kumpulan Beberapa Mandi Wajib dan Mandi Sunah
Termasuk ibadah yang bisa masuk dalam ibadah lain tanpa perlu diniatkan secara khusus (indiraj) adalah kumpulan beberapa mandi wajib. Artinya, mandi wajib kumpul dengan mandi wajib lain. Oleh karena itu, cukup niat mandi wajib untuk salah satu dari keduanya. Misalnya mandi jinabat kumpul dengan mandi haidl, cukup niat mandi jinabat saja atau niat mandi haidl saja.
Sama halnya dengan kumpulan dari beberapa mandi sunah. Artinya, mandi sunah kumpul dengan mandi sunah lain. Seperti: mandi jum?at kumpul dengan mandi meminta hujan  (istisqo?) dan mandi hari raya (?id) cukup niat mandi jum?at saja atau mandi ?id saja.[1]

2.      Bersuci dari Hadas Besar dengan Hadas Kecil
Selanjutnya adalah indiraj antara bersuci dari hadas kecil yang masuk ke dalam ibadah bersuci dari hadas besar. Yakni mandi wajib sebagai penghilang hadas besar dan wudlu yang mengangkat hadas kecil. Oleh karena itu, dengan melakukan mandi wajib saja, tidak perlu berwudlu secara terpisah untuk menghilangkan hadas kecil. Dengan ketentuan pada saat mandi tidak melakukan hal-hal yang dapat membatalkan wudlu, seperti menyentuh kemaluan, kencing, kentut, dan lain sebagainya.[2] Contoh, seandainya seseorang mandi besar dengan niat mandi besar (semisal jinabat atau haidl) maka tidak perlu niat wudlu untuk menghilangkan hadas kecil.

3.      Kumpulan Bersuci dari Hadas dengan Najis Hukmiyah
Bentuk indiraj selanjutnya yaitu antara hadas dengan najis hukmiyah (najis yang sudah tidak ada warna, bau, dan rasa) yang dapat disucikan dengan sekali basuh. Menurut Imam Nawawi, untuk bersuci dari hadas dan najis (hukmiyah) sekaligus, cukup dengan melakukan mandi wajib atau berwudlu dan tidak  perlu menyucikan najis hukmiyah terlebih dahulu.
Dalam masalah ini memang terdapat khilaf (perselisihan pendapat) antara Imam Nawawi dan Imam Ramli, sebagai berikut:
?         Menurut Imam Ramli, jika saat mandi terdapat najis pada anggota badan, maka najis tersebut harus disucikan terlebih dulu meski berupa najis hukmiyah. Sehingga perlu membasuh dua kali untuk  mengangkat hadas dan najis.
?         Sedangkan menurut Imam Nawawi, untuk menghilangkan hadas dan najis hukmiyah sekaligus, pembasuhan cukup dilakukan sekali saja. Dengan catatan, najis tersebut bukan najis mughalladhah, seperti liur anjing dan babi. Sedangkan bila berupa najis mughalladhah maka disucikan terlebih dahulu seperti menyucikan najis mughalladhah. Yaitu dengan tujuh kali basuhan yang salah satunya disertakan debu yang suci.
Khilaf di atas hanya berlaku pada najis hukmiyah. Sedangkan pada pembahasan najis ?ainiyah (najis yang masih ada warna, bau, atau rasa), tidak terjadi perbedaan pendapat ini. Artinya, jika pada badan terdapat najis yang masih meninggalkan warna, bau atau rasa, maka untuk bersuci dari hadas dan najis (?ainiyah), Imam Nawawi dan Imam Ramli sepakat untuk melakukan dua kali pembasuhan. Pembasuhan pertama untuk menghilangkan najis ?ainiyah dan pembasuhan kedua untuk mengangkat hadas.[3]

4.      Niat Tayamum Fardu dan Sunah
Niat bertayamum memiliki tiga tingkatan, yaitu:
?         pertama, niat bertayamum untuk melakukan salat maktubah (salat lima waktu)?termasuk salat sunah yang menjadi wajib karena nadzar?, thawaf fardu, khutbah jum?at.
?         kedua, niat bertayamum untuk menunaikan salat sunah, thawaf sunah, dan salat jenazah (meskipun salat jenazah hukumnya fardu kifayah, namun dalam masalah ini disamakan dengan ibadah sunah).
?         ketiga, niat bertayamum untuk mengerjakan ibadah-ibadah selain yang telah disebutkan pada tingkatan pertama dan kedua, meliputi sujud tilawah, sujud syukur, membaca dan menyentuh mushhaf al-Qur?an, dan lain-lain.
Konsekuensi hukumnya sebagai berikut:
 ?  Apabila niat salah satu dari tingkatan yang pertama maka memasukkan semua yang ada dalam tingkatan yang pertama dan semua yang ada dalam tingkatan kedua dan ketiga. Contoh, bila seseorang tayamum dengan niat untuk melakukan salat fardu (meskipun salat yang dinadzari), thawaf fardu dan khutbah jum?at, maka boleh melakukan salat fardu, thawaf fardu dan khutbah jum?at, juga boleh melakukan salat sunah, thawaf sunah dan salat jenazah dan juga boleh melakukan  sujud tilawah, membaca/menyentuh al-Qur?an dan lain sebagainya (yang masuk dalam tingkatan yang ketiga).
 ?  Apabila niat salah satu dari tingkatan yang kedua maka memasukkan semua yang ada dalam tingkatan yang kedua dan semua yang ada dalam tingkatan ketiga, tidak tingkatan yang pertama. Contoh, bila seseorang tayamum dengan niat untuk melakukan salat sunah atau thawaf sunah dan salat jenazah, maka boleh melakukan salat sunah, thawaf sunah dan salat jenazah, juga boleh melakukan sujud tilawah, sujud syukur dan lain sebagainya (yang masuk dalam tingkatan ketiga). Tidak boleh melakukan salat fardu atau thawaf fardu dan khutbah jum?at.
 ?  Apabila niat salah satu dari tingkatan yang ketiga maka hanya memasukkan semua yang ada dalam tingkatan yang ketiga. Tidak memasukkan yang ada pada tingkatan pertama dan kedua. Contoh, bila seseorang tayamum dengan niat untuk melakukan sujud tilawah, sujud syukur dan lain sebagainya (yang masuk dalam tingkatan ketiga) maka boleh melakukan sujud tilawah, sujud syukur dan lain sebagainya (yang masuk dalam tingkatan ketiga). Tidak boleh melakukan salat fardu atau thawaf fardu dan khutbah jum?at dan juga tidak boleh melakukan salat sunah, thawaf sunah dan salat jenazah.[4]

BAB SALAT
1.      Tahiyyat alMasjid
Salat sunah tahiyyat al-masjid adalah salat sunah yang berjumlah minimal 2 rakaat yang bisa dilakukan setiap waktu di dalam masjid. Salat ini disunahkan bagi setiap orang yang baru masuk masjid. Kesunahan untuk mengerjakan salat ini gugur apabila masuk lalu duduk di dalam masjid.
Salat ini bisa terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau salat sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih di dalam masjid.[5] Contoh, seandainya seseorang masuk dalam masjid langsung melakukan salat shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain tahiyyat al-masjid), maka sudah memasukkan salat tahiyyat al-masjid.
2.      Salat Sunah Thawaf
Salat sunah thawaf adalah salat sunah 2 rakaat yang dilakukan setelah thawaf. Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau salat sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih di Masjidil Haram.[6] Contoh, seandainya seseorang setelah thawaf melakukan salat shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain sunah thawaf), maka sudah memasukkan salat sunah thawaf.
3.      Salat Sunah Ihram
Salat sunah ihram adalah salat sunah 2 rakaat yang dilakukan menjelang niat ihram untuk ibadah haji atau umrah. Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau salat sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih di tempat-tempat miqat ihram.[7] Contoh, seandainya seseorang sebelum ihram melakukan salat shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain sunah ihram), maka sudah memasukkan salat sunah ihram.
4.      Salat Sunah Wudlu
Salat sunah wudlu adalah salat sunah 2 rakaat yang dilakukan setelah wudlu. Dengan catatan antara wudlu dan salat sunah tersebut tidak ada jeda waktu yang lama. Yakni sekira tidak dianggap berpaling dari kesunahan salat itu dan masih bisa dinisbatkan pada wudlu.
Salat ini dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih yang dilakukan sesaat setelah wudlu. Adapun tayamum dan mandi wajib/sunah juga dapat disamakan dengan wudlu. Artinya, sesaat seusai melakukan tayamum atau mandi wajib/sunah juga ada kesunahan mengerjakan salat layaknya salat sunah wudlu.[8] Contoh, seandainya seseorang sesaat seusai wudlu melakukan salat shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain sunah wudlu), maka sudah memasukkan salat sunah wudlu.
5.      Salat Awwabin
Salat awwabin disebut juga salat ghaflah, ialah salat sunah 2 rakaat yang dilakukan diantara salat maghrib dan ?isya?. Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih yang dilakukan diantara salat maghrib dan ?isya?.[9] Contoh, seandainya seseorang diantara salat maghrib dan ?isya? melakukan salat qadha? shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain salat awwabin), maka sudah memasukkan salat awwabin.
6.      Salat Istikharah
Salat istikharah adalah salat sunah 2 rakaat yang dilakukan bagi orang yang mencari pilihan atas sesuatu yang dipilih di sisi Allah dan yang lebih utama. Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih, pagi,siang, maupun malam (kecuali pada lima waktu yang diharamkan).[10] Contoh, seandainya seseorang dalam keadaan bimbang akan menikahi salah satu dari dua wanita, kemudian dia melakukan salat shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain istikharah), maka sudah memasukkan salat istikharah.
7.      Salat Hajat
Salat hajat adalah salat sunah 2 rakaat yang dilakukan oleh orang yang memiliki hajat (kebutuhan). Misalnya, orang yang tertimpa permasalahan dan sulit untuk menghadapinya. Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih.[11] Contoh, seandainya seseorang tertimpa masalah yang sulit untuk dia hadapi kemudian dia melakukan salat shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain salat hajat), maka sudah memasukkan salat hajat.
8.      Salat Zawal
Salat zawal adalah salat sunah 2 rakaat yang dilakukan setelah zawal (tergelincirnya matahari) dan sebelum salat qabliyah dhuhur. Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih.[12] Contoh, seandainya seseorang setelah zawal melakukan salat qadha? shubuh (fardu) atau melakukan salat hajat (sunah selain salat zawal), maka sudah memasukkan salat zawal.
9.      Salat sunah akan bepergian
Salat sunah akan bepergian disebut juga salat safar adalah salat sunah 2 rokaat, yang dilakukan ketika hendak bepergian. Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan melakukan salat fardu atau sunah lain yang  berjumlah 2 rokaat atau lebih, sepertihalnya salat tahiyyat al-masjid.[13] Contoh, seandainya seseorang hendak bepergian melakukan salat shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain sunah akan bepergian), maka sudah memasukkan salat sunah akan bepergian.
10.  Salat sunah usai bepergian.
Salat sunah usai bepergian adalah salat sunah 2 rokaat yang dilakukan di masjid sebelum masuk rumah, namun bila sudah masuk rumah masih ada kesunahan. Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj)  dengan cara melakukan salat fardu atau sunah lain yang  berjumlah 2 rokaat atau lebih, sepertihalnya salat tahiyyat al-masjid.[14] Contoh, seandainya seseorang setelah bepergian dan sebelum masuk rumah melakukan salat shubuh (fardu) atau melakukan salat dhuha (sunah selain sunah usai bepergian) di masjid, maka sudah memasukkan salat sunah usai bepergian.
11.  Salat Tahajud
Salat tahajud adalah salat sunah 2 rakaat yang dilakukan setelah salat ?isya? ?meskipun jama? taqdim?, dan setelah tidur (meskipun tidurnya dilakukan sebelum waktu?isya?). Salat ini juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan salat fardu atau sunah lain yang  berjumlah 2 rakaat atau lebih.[15] Contoh, seandainya seseorang setelah tidur dan setelah melakukan salat ?isya? melakukan salat qadha? shubuh (fardu) atau melakukan salat hajat (sunah selain tahajjud), maka sudah memasukkan salat tahajjud.
12.  Satu Sujud Sahwi untuk Beberapa Sunah Ab?adl
Apabila seseorang lupa atau dengan sengaja tidak melakukan beberapa sunah ab?adl (sunah yang dapat diganti dengan sujud sahwi), maka cukup melakukan satu  sujud sahwi (sujud sebanyak 2 kali sebelum salam), dan tidak harus mengulang sujud sahwi sebanyak jumlah sunah ab?adl yang ditinggal.[16] Misalnya ketika tidak melakukan do?a qunut dan tasyahud awal, maka cukup dengan melakukan satu sujud sahwi.

BAB PUASA
1.      Satu Kafarat untuk Beberapa Kali Jima?
Seperti yang telah kita ketahui, pada siang hari bulan Ramadhan syari?at telah mengharamkan jima?/wathi (bersetubuh). Selain akan berdampak membatalkan puasa, jima? pada siang hari bulan Ramadhan juga merupakan salah satu dari dosa-dosa besar. Konsekuensi dari tindakan tersebut adalah kewajiban membayar satu kafarat untuk satu hari puasa. Bila seseorang berulang kali melakukan wathi dalam satu hari bulan Ramadhan, maka kafaratnya tidak berlipat sesuai dengan jumlah wathi-nya, karena sudah masuk ke dalam kafarat yang pertama.[17]
2.      Puasa ?Arafah
Puasa ?Arafah adalah puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa ?Arafah dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan puasa fardu, baik qadha? atau nadzar.[18] Contoh, seandainya seseorang pada tanggal 9 Dzulhijjah melakukan puasa fardu baik qadha? atau nadzar, maka sudah memasukkan puasa ?Arafah.
3.      Puasa ?Asyura?
Puasa ?Asyura? adalah puasa sunah yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram. Puasa ?Asyura? dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan puasa fardu, baik qadha? atau nadzar.[19] Contoh, seandainya seseorang pada tanggal 10 Muharram melakukan puasa fardu baik qadha? atau nadzar, maka sudah memasukkan puasa ?Asyura?.
4.      Puasa Tasu?a?
Puasa Tasu?a? adalah puasa sunah yang dilakukan pada tanggal 9 Muharram. Puasa Tasu?a? dapat terlaksana (indiraj) dengan cara melakukan puasa fardu, baik qadha? atau nadzar.[20] Contoh, seandainya seseorang pada tanggal 9 Muharram melakukan puasa fardu baik qadha? atau nadzar, maka sudah memasukkan puasa Tasu?a?.
5.      Puasa Enam Hari Bulan Syawal
Puasa enam hari bulan Syawal adalah puasa selama enam hari ?baik tersambung atau terputus?pada bulan Syawal setelah hari raya idul fitri.Waktu puasa ini dimulai sejak hari kedua hingga hari terakhir bulan Syawal. Puasa ini dapat terlaksana (indiraj) dengan cara melakukan puasa fardu, baik qadha? atau nadzar.[21] Contoh, seandainya seseorang pada bulan Syawal melakukan puasa fardu baik qadha? atau nadzar, maka sudah memasukkan puasa enam hari bulan Syawal.
6.      Puasa Ayyamul Bidl
Puasa Ayyamul Bidh adalah puasa sunah yang dilakukan pada tanggal 13,14, dan 15 setiap bulan. Khusus bulan Dzulhijjah puasa tersebut dilakukan pada 14, 15, dan 16. Puasa pada tanggal 16 ini merupakan ganti dari tanggal 13, karena tanggal 13 bulan Dzulhijjah adalah salah satu dari tiga hari tasyriq (11,12, dan 13 Dzulhijjah). Sedangkan puasa pada hari tasyriq adalah haram.
Puasa Ayyamul Bidh juga dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan puasa fardu, baik qadha? maupun nadzar. [22] Contoh, seandainya seseorang pada tanggal-tanggal diatas melakukan puasa fardu baik qadha? atau nadzar, maka sudah memasukkan puasa Ayyamul Bidh.
7.      Puasa Senin dan Kamis
Puasa Senin dan Kamis adalah puasa sunah yang dilakukan pada hari Senin dan hari Kamis, selama tidak bersamaan dengan hari-hari yang diharamkan untuk melakukan puasa. Puasa senin dan kamis dapat terpenuhi (indiraj) dengan cara melakukan puasa fardu, baik qadha? maupun nadzar.[23] Contoh, seandainya seseorang pada hari senin atau kamis melakukan puasa fardu baik qadha? atau nadzar, maka sudah memasukkan puasa senin – kamis.

BAB HAJI DAN UMRAH
1.      Ihram Haji atau Umrah dengan Ihram Masuk Makkah
Dalam beberapa literatur fikih dijelaskan, bahwa niat ihram untuk haji atau umrah itu berbeda dengan niat ihram untuk memasuki kota Makkah. Meski demikian, seandainya seseorang masuk tanah haram dengan niat ihram haji atau umrah, maka niat ihram tersebut juga mencakup niat ihram untuk masuk kota Makkah.[24]
2.      Thawaf Fardu/Nadzar dengan Thawaf Qudum
Sebenarnya kalau ada seseorang baru masuk makkah disunnahkan untuk melakukan thawaf qudum. Nah, sekarang kalau ada seseorang baru masuk makkah langsung melakukan thawaf fardu (thawaf ifadlah) atau nadzar maka sudah memasukkan thawaf qudum.[25]
3.      Hanya Satu Dam (denda) untuk Orang Ihram Haji dan Umrah yang Membunuh Hewan Buruan
Termasuk hal-hal yang diharamkan untuk orang yang ihram haji dan umrah adalah membunuh hewan buruan di tanah haram, yang akan berdampak wajib membayar dam (denda) dan normalnya wajib membayar dua dam (denda) dari ihram haji dan umrah. Namun dalam masalah ini, sudah cukup dengan membayar satu dam (denda) karena ihram haji dan umrah masih satu jenis sehingga dianggap satu.[26]

  C.    PENUTUP
Uraian di atas merupakan sedikit contoh dari sekian banyak macam-macam bentuk indiraj dalam fikih ibadah. Masih banyak contoh-contoh lain yang serupa dan tidak hanya sebatas ini saja. Kami berharap semoga hanya dengan ini saja dapat memberi manfaat dan menjadi penyemangat dalam beribadah.
Sekian dan terima kasih.

  D.    DAFTAR PUSTAKA
?         Syaikh Ibrahim al Bajuri, Hasyiyah al Bajuri.
?         Syaikh Jalaluddin Abdurrohman as Syuyuti, Al Asybah Wa an Nadhoir.
?         Syaikh Muhammad bin Qosim al Ghozi, Fath al Qorib.
?         Syaikh Abu bakr as Syatho, Hasyiah I?anat at Tholibin.
?         Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibary, Fath al Mu?in.,
?         Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.
?          Syarh bughyah al Mustarsyidin.
?         Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syarof an Nawawi. Minhaj at tholibin
?         Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain
?         Mausu?ah Kuaitiyah
?         Syaikh ?Abdul Hamid asy Syarwani, Hawasyi As Syarwani wa al ?Abbadi

 

DAFTAR PUSTAKA

[1] Syaikh Ibrahim al Bajuri, Hasyiah al Bajuri.
[2] Syaikh Jalaluddin Abdurrohman as Syuyuti, Al Asybah Wa an Nadhoir.
[3] Syaikh Muhammad bin Qosim al Ghozi, Fath al Qorib. Syaikh Jalaluddin Abdurrohman as Syuyuti, Al Asybah Wa an Nadhoir.
[4] Syaikh Abu bakr as Syatho, Hasyiah I?anah at Tholibin.
[5] Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibary, Fath al Mu?in., Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.dan Syarh bughyah al Mustarsyidin.
[6] Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syarof an Nawawi. Minhaj at tholibin
[7] Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.
[8] Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.
[9] Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.
[10] Mausu?ah Kuaitiyah. dan Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.
[11] Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.
[12] Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin. dan Syarh Bughyah al Mustarsyidin
[13] Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.
[14] Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin. dan Syarh Bughyah al Mustarsyidin
[15] Syaikh ?Abdul Hamid asy Syarwani, As Syarwani. dan Abdurrohman al Masyhur, Bughyah al Mustarsyidin.
[16] Syaikh Jalaluddin Abdurrohman as Syuyuti, Al Asybah Wa an Nadhoir.
[17] Syaikh Jalaluddin Abdurrohman as Syuyuti, Al Asybah Wa an Nadhoir.
[18] Syaikh Abu Bakr Syatho, Hasyiah I?anah at Tholibin. Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibary, Fath al Mu?in
[19] Syaikh Abu Bakr Syatho, Hasyiah I?anah at Tholibin. Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibary, Fath al Mu?in
[20] Syaikh Abu Bakr Syatho, Hasyiah I?anah at Tholibin. Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibary, Fath al Mu?in
[21] Syaikh Abu Bakr Syatho, Hasyiah I?anah at Tholibin. Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibary, Fath al Mu?in
[22] Syaikh Abu Bakr Syatho, Hasyiah I?anah at Tholibin. Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibary, Fath al Mu?in
[23] Syaikh Abu Bakr Syatho, Hasyiah I?anah at Tholibin. Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani, Nihayat al-Zain . dan Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibary, Fath al Mu?in
[24] Syaikh Jalaluddin Abdurrohman as Syuyuti, Al Asybah Wa an Nadhoir.
[25] Syaikh Jalaluddin Abdurrohman as Syuyuti, Al Asybah Wa an Nadhoir.
[26] Syaikh Jalaluddin Abdurrohman as Syuyuti, Al Asybah Wa an Nadhoir.

Asilah Bahtsul Masail Kubro PP. Fadllul Wahid 2018

Asilah Bahtsul Masail Kubro PP. Fadllul Wahid 2018
Dalam Rangka:
Memperingati Haul Syeikh Abdul Wahid Zuhdi Yang Ke 10

JALSAH I
1.     ANEH TAPI NYATA
Deskripsi masalah
Aneh tapi nyata seorang laki laki di Grobogan memiliki janin diperutnya namanya Ganang yudho putra warga dusun Ngampel desa Panunggalan Pulokulon, dia masih berstatus pelajar SMA, usianya baru  17 tahun, sementara janin yang ada di perutnya berjenis kelamin laki laki beratnya 3 kg, janin itu telah dikeluarkan dari perut Ganang melalui operasi Caesar di RSI Sultan Agung Semarang, ketika dikeluarkan kondisi janin tidak bernyawa.
Pada selasa (2410) janin tersebut dimakamkan dipemakaman desa setempat, peristiwa ini cukup membuat geger warga setempat, banyak yang bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang laki laki memiliki  janin, apalagi sudah menunjukkan adanya kaki dan tangan.
          Ganang dioperasi pada selasa pagi (24/10) sebelum dioperasi perut atasnya memang membesar dan berukuran tak wajar, bahkan putra ketiga dari empat bersaudara ini kerap mengalami sesak di dada.
          Menurut ibu kandung Ganang, Sri Munastatik sejak berusia 1,5 tahun anaknya memiliki benjolan diperut kanan yang terus membesar, saat itu masih dibiarkan, dikira tidak ada masalah.
Ketika usianya menginjak 7 th perutya kian membesar sempat dikira kanker karena ada tulang lunak didalamnya, bahkan sudah mau dioperasi, namun saran dari dokter untuk menunggu hingga Ganang dewasa agar kuat fisiknya.
 Beranjak remaja putra dari serda Masduri babinsa Jambon anggota kodim 0717/Purwodadi ini sering mengeluhkan sakit di dada dan sakit diperut, orang tuanya pun kembali membawanya kedokter di Purwodadi.
          Kali ini, dokter mendiagnosa ada liver yang membengkak, untuk mengatahui detailnya keluarga diminta membawa Ganang kerumah sakit.
Setelah diperiksa, diagnosa dokter di RS berbeda, Ganang diprediksi menderita tumor. Namun dokter umum di RS itu menganjurkan Ganang untuk dirujuk ke RSI Sultan Agung Semarang.
           Hari kamis  (19/10) lalu kami membawanya ke RSI Sultan Agung setelah dilakukan pemeriksaan dan rontgen diketahui ada janin diperutnya, janin tersebut merupakan kembaranya dulu  yang tidak jadi imbuh ibu kandung Ganang, Sri Munastatik,
Kemudian , pada selasa 12/ 10 lalu, dilakukan tindakan operasi pada benjolan tubuh Ganang yang semakin membesar dan janin itupun berhasil diangkat.(JAWAPOS.COM)
Pertanyaan:
a.     Menurut pandangan fiqih berstatus apakah bayi/janin tersebut bagi Ganang?
b.     Bila bayi/janin tersebut berstatus sebagai anak Ganang lalu Ganang berstatus sebagai apa ? bapak ataukah ibu?
c.      Bila berstatus sebagai kembarannya Ganang (dan seandainya masih hidup) kapan bayi/janin tersebut dikatakan lahir ? apakah lahirnya sama dengan Ganang/ sejak di keluarkan dari perut Ganang?
d.     Apakah Ganang juga terkena hukum seperti halnya orang yang melahirkan?
LBI PP. FADLLUL WAHID
2.     PROYEK PEMERINTAH
Deskripsi Masalah
Pemerintah pusat mempunyai rancangan rencana tentang reklamasi proyek pembuatan Pulau buatan di teluk Jakarta. Tepatnya berada disekitar pantai utara Jakarta. Proyek tersebut sudah berlangsung dan sudah mencapai setengah perjalanan. Namun seperti proyek-proyek pemerintah yang lainya, proyek ini pun tak lepas dari pro dan kontra.
Pertanyaan
1)Bagaimana pandangan fiqh mengenai tindakan dan proyek-proyek yang dilakukan oleh pemerintah?
2)Bolehkah pemerintah daerah membatalkan proyek pemerintah pusat tersebut?
3)Jika sudah teralisasi, bagaimana status pulau tersebut?
PP. AL-MAIMUNIYYAH KUDUS
3.     ENDORSE
Deskripsi masalah
Endorsement adalah salah satu cara mempromosikan barang dagangan para Online Shop dengan memberikan barang secara gratis kepada artis / selebgram, yang nantinya akan mereka posting hasil foto dengan memakai produk dari salah satu Online Shop pada akun pribadi mereka.
Ada dua jenis endorse selebgram, yaitu paid promote dan paid endorse. Dalam paid promote, online shop harus menyediakan konten yang akan di-upload keInstagram, baik foto maupun caption-nya. Biasanya, dalam paid promote foto juga akan langsung dihapus setelah jangka waktu tertentu. Beda halnya dengan paid endorse.
Dalam paid endorse, konten foto maupun caption diserahkan sepenuhnya kepada selebgram. Online shop hanya tinggal mengirimkan barangnya yang akan digunakan dalam foto mereka. Biasanya foto paid endorse ini tidak akan dihapus, kecuali ada kesepakatan lain dengan pihak online shop. Untuk masalah biaya, paid  endorse tentunya lebih mahal daripada paid promote. Selebgram harus mempersiapkan waktu dan konsep untuk memotret produk paid endorse, sedangkan dalam paid promote ia hanya tinggal meng-upload saja.
Tak jarang dizaman ini para santri dan santriwati yang mempunyai banyak Followers, menjadi selebgram juga. Dan salah satu modal utamanya selebgram, adalah berdandan dan menampakkan wajah mereka. Hal ini juga tergantung barang apa yang akan dipromosikan dari pihak online shop. Untuk urusan harga sesuai kesepakatan pihak online shop dan selebgram.
Pertanyaan :
a.     Dinamakan akad apakah antara pihak online shop dan selebgram? dan bagaimana hukumnya?
b.     Bagaimanakah hokum memposting foto (wajah pribadi) di sosial media, baik akun bersifat public atau privasi?
PP. MAMBA`UL ULUM PAKIS
JALSAH II
1.     BINGUNG STATUS TANAH PEMBERIAN
Deskripsi masalah
Ketika pertemuan untuk mencari solusi kekurangan tanah, salah satu warga siap menanggung untuk membeli kekurangan tanah tersebut. Namun ia hanya mengatakan, Itu kekurangan tanah saya siap menanggung. Saya yang membelinya, tak perlu urunan warga. Dilema terjadi karena ia tak menyatakan mewakafkan tanah tersebut akan tetapi pertemuan tersebut memang ditujukan untuk membahas kekurangan tanah wakaf musholla dengan menggunakan dana sumbangan untuk masjid. Terkesan tanah yang dibeli tadi (melihat qarinah isi pertemuan) ditujukan untuk wakaf namun orang yang membeli tanah tak mengatakan dengan tegas itu wakaf (baik wakaf musholla seperti tanah yang disampingnya maupun wakaf masjid seperti bangunan yang hendak dibangun di atasnya). sedang dana yang terkumpul dari warga digunakan untuk melengkapi seperti biaya pengurukan dll.
Pertanyaan:
a.     Bagaimanakah status hukumnya tanah yang dibebaskan untuk menambahi kekurangan ukuran?
b.     Setelah pembangunan selesai,bagaimanakah status bangunan tersebut? Masjid atau Mushola?
c.      Bagaimana status dana yang dikucurkan oleh organisasi tersebut baik berupa uang atau material waqof?
PP. LIRBOYO.


  KITAB DAN BUKU DI PONDOK
Deskripsi masalah
Kitab cetakan Beirut begitu mempesona dimata santri. Desain covernya, bentuk ragam fontnya yang nyaman untuk dibaca. Mungkin itulah salah satu dari sekian banyak motif para santri untuk mendapatkannya. Sehingga untuk membelinya pun membutuhkan perjuangan karena mahalnya harga yang dibandingkan dengan kitab-kitab cetakan lokal. Tapi, setelah boyong,  banyak dari santri meninggalkan kitab dan bukunya di pondok. Ada yang masih menetap di rak buku kamar, ada juga yang di tempat sitaan barang yang telah disita oleh pihak kebersihan dan ketertiban, karena menaruh kitab/buku disembarang tempat. Sehingga timbul usulan dari anggota ketertiban untuk menjual kitab dan buku yang sudah tidak diketahui pemiliknya atau kitab yang tak kunjung diambil oleh pemiliknya setelah memaparkan pengumuman pada papan pengumuman santri disetiap minggunya. Lalu hasil dari penjualan kitab tadi digunakan untuk dana kemaslahatan pondok. Motif penjualan ini didukung juga, karena semakin lama semakin banyak pula kitab di tempat sitaan barang sehingga tidak ada tempat lagi untuk menampungnya.
Pertanyaan :
a.   Bagaimanakah seharusnya prosedur yang benar untuk kasus kitab dan buku yang tidak diketahui pemiliknya?
b.  Dan bagaimana pula prosedur yang benar untuk kitab dan buku yang diketahui pemiliknya ( baik yang masih di pondok atau sudah boyong ) akan tetapi sudah tidak lagi mereka hiraukan?
c.      Bolehkah menjual kitab dan buku ( baik pada pertanyaan a / b) ?, dan dialokasikan kemanakah seharusnya hasil penjualan kitab dan buku tersbut?
d.     Cukupkah mengumukan barang dengan cara menempelkan di papan pengumuman? Dan apa saja yang harus dicantumkan (keterangan apa saja) ?
PP. MAMBA`UL ULUM PAKIS.
3
     GINJAL PENGGANJAL HUTANG
Deskripsi Masalah
Di kota Malang, ada kasus sesorang menjual ginjal dikarenakan orang tersebut terhimpit hutang. Dan bila ditotal jumlah hutangnya hingga ratusan juta, sedangkan jika tidak dibayarkan orang tersebut terancam rumah dan seisinya disita oleh deptcollector. Dan apabila rumah seisinya disita, maka dia tidak punya apa-apa lagi, dan mungkin kesulitan akan kebutuhan sandang dan pangan.
Pertanyaan
a.     Bagaimana status ginjal menurut perspektif fiqh?
b.     Bagaimana pandangan fiqh tentang penjualan ginjal seperti deskripsi diatas?
c.      Jika tidak diperbolehkan, bagaimana hukum tindakan dokter dan orang yang memberi perintah?
 PP. AL-MAIMUNIYYAH KUDUS

JALSAH III
1.     LEGENDA SANTRI
Diskripsi Masalah
Pada suatu hari kang santri Sebut saja Roy pergi ke pasar untuk membeli kitab, Pena, Alquran & semua perlengkapan belajar di pondok pesantren. Ketika sudah selesai membeli, kang santri memutuskan untuk langsung  kembali ke pondok di karenakan langit yang tadinya cerah tak berawan nyatanya telah berubah menjadi hitam kelam bak masa lalu yang pernah dia alami. Tidak lama kemudian hujan pun  turun dengan deras ,,,,,,,Wuzzzzzzzz. Tak berfikir lama dia pun memutuskan untuk meletakan barang yang ia bawa kedalam jok motornya, dengan tujuan agar tidak basah. Walau bagaimanapun kang santri adalah sosok yang tadzim dengan ilmu wa ahluhu, buktinya dia berniatan yang ia duduki hanya jok motor bukan yang lain.
Pertanyaan:
a.     Bagaimana hukum menduduki jok motor yang di dalamnya ada kitab-kitab kuning ataupun al Quran sebagaimana kasus di atas?
b.     Apakah dibenarkan niatan kang santri sebagaiamana deskripsi diatas?
PP. MIFTAHUL ULUM DEMAK
2.     Hutang BPJS
 Biaya berobat di Indonesia terhitung mahal, sampai-sampai rakyat kecil terkadang tidak mampu menebus biaya pengobatan.  Untuk itu pemerintah telah memberikan solusi berupa BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) dengan mengharuskan iuran wajib setiap bulannya. Namun tak sedikit dari masyarakat yang menunggak dalam pembayaran, bahkan terkadang sampai menunggak beberapa tahun. Berbagai cara pun mereka tempuh untuk bisa melunasi tunggakan, akan tetapi ironisnya terkadang ada sebagian orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai ghorim (orang yang berhutang) kepada pihak BPJS, kemudian ia meminta zakat sebesar nilai tunggakan tersebut.
Nb: sanksi bagi peserta yang menunggak iuran adalah kepesertaan BPJS mereka akan dinon aktifkan sementara, dengan tujuan meningkatkan kesadaran untuk iuran rutin (perpres 19 tahun 2016). 
Pertanyaan:
a)     Bagaimana hukum Pihak BPJS menon aktifkan sementara kepesertaan bagi orang yang menunggak?
b)    Apakah status orang yang menunggak tersebut bisa dikatakan ghorim yang boleh menerima zakat?
PP. FADLLUL WAHID
3.     NU DITAROS
Deskripsi masalah
Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga sosial kemasyarakatan di bawah naungan NU (nahdlatul ulama) yang mengemban visi dan misi untuk membudidayakan Ahlu As Sunnah Wal Jamaah. Hal tersebut berimplikasi pada berbagai kajian keilmuan yang di telaah harus berposisi linear Ahlu As Sunnah Wal Jamaah.
Selain itu pondok pesantren juga berfungsi sebagai lembaga sosial keagamaan yang berorientasi pada paham Ahlu As Sunnah Wal Jamaah yang akan mendoktrin pada santriwan-santriwati pada rel-rel aswaja melalui referensi-referensi yang notabenenya berhaluan aswaja. Namun realitasnya referensi keilmuan non aswaja banyak di asumsi di kalangan pondok pesantren seperti kitab  Nailul Author, dan lain sebagainya yang di karang oleh seseorang yang bermadzhab syiah yakni Az-Zaidiyah, bahkan kitab tersebut di jadikan pijakan dalam menelaah lebih dalam tentang fan fiqh dan sebagainya.
Kelaziman tersebut dapat di sebabkan kurangnya perhatian dari pihak penerbit dalam memproduksi kitab-kitab yang di konsumsi oleh publik yang berdampak pada kehidupan sehari-hari dalam berbaur masyarakat setempat. Hal ini menimbulkan problematika tersendiri dalam dunia penerbitan yang perlu di tilik lebih dalam oleh kalangan santri yang berkecimpung dalam dunia bahtsul masail.
PERTANYAAN
a.       Adakah keharusan pihak penerbit mencantumkan madzhab penulis dalam kitab, mengingat kitab tersebut di telaah warga NU?
b.       Bagaimana hukumnya menggunakan referensi fiqh ulama non aswaja atau ulama, yang tidak diketahui madzhabnya?                                                             
PP. AL KHOZINY

Gerhana Bulan Harusnya Menjadi Itibar

Gerhana Bulan
Harusnya Menjadi Itibar
          Rabu, 31 Januari 2018, terjadi gerhana bulan total yang dikenal dengan nama Gerhana Super Blue Blood Moon (gerhana disaat posisi bulan paling dekat dengan bumi, sehingga bulan tampak lebih besar dari biasanya, serta bulan pada saat terjadinya gerhana tampak kemerah-merahan seperti warna darah). BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika) mengingatkan bahwa dekatnya bulan dengan bumi akan membuat air laut pasang melebihi biasanya, dan  fenomena langka ini terjadi sekitar 150 tahun sekali.
Masyarakat Jawa tempo dulu menganggap gerhana merupakan suatu kejadian yang menakutkan. Menurut kepercayaan mereka, gerhana merupakan tanda tanda turunnya bala atau bencana, sehingga semua harus diperingatkan. Janin dalam kandungan, hewan yang sedang hamil, bahkan pepohananpun harus diberi tahu terjadinya gerhana. Mereka hawatir apabila tidak diperingatkan, maka janin yang berada didalam kandungan akan dimakan oleh gerhana.
Kepercayaan ini tidak benar, Beliau Nabi SAW bersabda:
????? ????????? ??????????? ???????? ???? ?????? ??????? ??? ????????????? ???????? ?????? ????? ??????????? ??????? ?????????? ?????? ??????????? ????? ?????? ??????? ??????? ??????????.
Artinya: sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah, gerhananya matahari dan bulan bukan karena mati atau hidupnya seseorang, maka apabila kalian melihat gerhana bergegaslah berdzikir pada Allah dan shalat (gerhana).
Sedangkan masyrakat zaman NOW menganggap gerhana adalah fenomenalangka yang indah dan sayang untuk dilewatkan begitu saja, sehingga masyarakat berduyun – duyun berkumpul di tempat tempat yang dianggap setrategisuntuk menikmati indahnya gerhana sambil kongko-kongko bareng, seperti di alun alun kota, taman kota atau di tempat lapang lainnya. Sangking gembiranya menyambut datangnya gerhana, mereka sampai tidak  menghiraukan anjuran anjuran agama, seperti memperbanyak istigfar, sedekah dan menjalankan shalat gerhana.
Alhamdulillah adat seperti ini tidak terjadi di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, para santri tetap menjalankan aktivitas di pondok secara normal sambil menunggu datangnya gerhana. Setelah magrib para santri masih ngaji seperti biasa. Selesai mengaji, ketika gerhana super blue blood moon sudah mulai terlihat,  para santri bergegas menuju joglo guna menjalankan Shalat Isya berjamaah.
Selesai Shalat Isya berjamaah, para santri berdzikir membaca istigfar bersama sama yang dipimpin oleh Ust. Ahmad Sufyan. Setelah itu bersama sama menjalankan shalat gerhana berjamaah. Bertugas sebagai imam sekaligus khotib kali ini adalah Ust. Abdur Rohim Lc. Dalam khotbahnya, Ust. Abdur Rohim Lc mendorong agar para santri dapat mengambil itibar dari gerhana yang terjadi, guna meningkatkan kesadaran sebagai seorang hamba, dan  mengingatkan keagungan dan kekuasaan Allah SWT. Beliau juga menjelaskan, ada tiga poin yang diajarkan oleh beliau Nabi Muhammad SAW di saat terjadinya gerhana:
1.     Memperbanyak dzikir kepada Allah SWT, yang manfaatnya akan kembali pada diri sendiri.
2.     Memperbanyak berdoa kepada Allah SWT, karena pada hakikatnya doa merupakan ibadah yang diperintah oleh Allah SWT.
3.     Memperbanyak istigfar, memohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa yang telah diperbuat.
Kegiatan shalat gerhana di PP. Fadllul Wahid sendiri diikuti lebih dari 300 santri putra. Dan selesai shalat gerhana para santri kembali menjalankan aktivitas pondok pesantren seperti biasanya, balajar komplek dan musyawaroh malam.
Semoga kegiatan seperti ini selalu menjadi tradisi yang terus terjaga dikalangan umat Islam, jangan sampai budaya-budaya yang menjauhkan umat dari agama malah menjadi trend yang digemari oleh pemuda-pemudi dimasa yang akan datang. Dan semoga kegiatan seperti ini  menjadi amal shalih yang diterima di sisi Allah SWT. AMIN YAROBBAL ALAMIN.
         

Ngangkruk Kembali Berduka

Ngangkruk Kembali Berduka

Klambu– Belum genap sebulan sepeninggal guru besar Porsigal (Pendidikan Olahraga Silat Indah Garuda Loncat) Mbah Gholib Thohir, Ngangkruk kembali kehilangan Salah satu guru besarnya KH. M. Syamsuddluha Muslih. Sabtu 27 Januari 2018, sekitar pukul 00.00 WIB, Sang Guru (KH. M. Syamsuddluha Muslih) telah berpulang ke Rahmatulloh di Kediamannya Desa Kauman Kec. Klambu Kab. Grobogan.
Beliau adalah Putra kedua KH. Muslih, Ayah Mertua dari Al Magfurlah KH. Abdul Wahid Zuhdi.  KH. Muslih Mempunyai tiga orang anak, yang pertama KH. Nurul Huda Muslih, yang kedua KH. M. Syamsuddluha Muslih, dan yang terahir adalah Nyai Hj. Badrotul Muniroh istri dari KH. Abdul Wahid Zuhdi, sehingga KH.  M. Syamsuddluha merupakan kakak ipar dari KH. Abdul Wahid Zuhdi (Pendiri PP. Fadllul Wahid).
Ribuan pentakziyah dari berbagai daerah, berbondong-bondong menghadiri prosesi Pemakaman Beliau. Mulai dari masyarakat sekitar sampai pentakziyah yang datang dari Blora dan Demak. Tidak ketinggalan kami santri PP. Fadllul Wahid Ngangkruk berangkat dengan menyewa tiga bus sekaligus untuk menghadiri prosesi Pemakaman Beliau.
Semoga Amal Saleh Beliau senantiasa deterima oleh Alloh SWT, dan diampuni segala kesalahan-kesalahan Beliau. Dan semoga Keluarga yang ditinggalkan dikasih kesabaran dan pahala yang berlipat-lipat ganda.

.?? ???????

PESANTREN

PESANTREN
A.N. Muzakka
 
Pesantren . . . . .
Semakin hari engkau semakin di-pojokkan . . . ,
Semakin dipinggirkan . . . ,
Dan semakin di-anak tirikan.
Teroris dikatakan sebagai alumni-mu . . . ,
Kolot sebagai kebiasaanmu . . . ,
Dan pengangguran keseharianmu . . .
Itu dulu . . .
Se-iring berjalannya waktu . .
Pandangan sinis terhadapmu semakin berkurang,
Dan berubah.
Gerakan Ayo Mondok mereka serukan . . .
Tunjangan mereka berikan . . .
Kompetisi ilmiyah mereka adakan . . .
Dan HARNAS (Hari Santri Nasional) . . telah mereka putuskan.
Hai kawan . . .
Sempurnalah sudah dukungan . . .
Dan jutaan harapan terhadapmu.
Sekali lagi !!!
Hai kawan . . .
Tunjukkanlah pada mereka,
Pada semua,
Bahwa pesantrenlah lembaga . . .
Yang selalu mencetak generasi generasi . . terbaik bangsa ini.
  Sekian
Selamat GROWING to para santri