BUKU SULUK SANTRI TAREKAT

Katalog Buku Tarekat

Open Pre order “1-10 September”
———————————————————-
Judul: Suluk Santri Tarekat
Ajaran tarekat Syadziliyah Pondok PETA Tulungagung
.
Buku ini menjadi panduan yang mengasyikkan bagi para pembaca, karena ditulis dari pengalaman pribadi sang penulis selama mendalami tarekat. Khususnya para salik tarekat yang berafiliasi kepada Pondok PETA Tulungagung Jawa Timur.
.
Kata Pengantar: KH. Charir M. Sholahuddin al-Ayyubi
Penulis: KH. Habibul Huda, Lc. (Pengasuh PP. Fadllul Wahid Ngangkruk Bandungsari Ngaringan Grobogan Jawa Tengah)
Dimensi: A5, 14,8 × 21Cm.
Tebal: 214 Halaman
Harga: 65.000
Info: 085641393219 (Pengurus PP. Fadllul Wahid)

Guru Mursyid Adalah Cermin Seorang Murid

Guru Mursyid Adalah Cermin Seorang Murid
          Selasanan, 5 Februhari 2018, KH. Habibul Huda menyampaikan mauidhah hasanah dengan tema “Guru Mursyid Adalah Cermin Seorang Murid”. Mengawali Mauidhahnya KH. Habibul Huda menuturkan bahwa seseorang dalam menempuh jalan thareqat itu tiada lain hanya untuk memahami bahwa manusia bukanlah siapa-siapa, tidak punya apa-apa, dan tidak bernilai apa-apa dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sehingga jika seseorang yang menganggap dirinya santri thareqat mempunyai anggapan bahwa dirinya mempunyai kekuatan dan kelebihan lalu disombongkan, maka sejatinya dia telah gagal dalam berthareqat.
Kemudian KH. Habibul Huda mengajak para hadirin untuk sejenak membayangkan dan memahami seperti apa sosok pemimpin umat manusia, yaitu Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad adalah Al Insan Al Kamil (manusia sempurna), Mahluk yang paling tinggi derajatnya di sisi Tuhan, dan merupakan pemimpin dunia dan akhirat, namun demikian Nabi tetap memposisikan dirinya sebagai seseorang yang rendah di hadapan Tuhan, bahkan para ulama menyebutkan bahwa sifat termulia dan tertinggi dari Nabi Muhammad SAW adalah sifat kehambaannya kepada Tuhan. Allah berfirman dalam Al Qur’an Al Karim, Surat Al Isra’, Ayat 1:
????? ???? ???? ????? ???? ?? ?????? ?????? ??? ?????? ?????? ???? ?????? ???? ????? ?? ?????? ??? ?? ?????? ??????.
“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya (Nabi Muhammad SAW) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho, yang telah memberkahi sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, lagi Maha Melihat.”
          Dalam Ayat ini Ulama memahami bahwa sifat kehambaan Nabi Muhammad SAW adalah sifat termulia dari Beliau; sebab seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu kejadian terpenting dalam Islam, namun demikian dalam ayat tersebut Allah secara khusus menyebut Nabi dengan sebutan ???? (hambaNya). Hal ini tiada lain kecuali karena kehambaan adalah sifat termulia dari Nabi Muhammad SAW. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Imam Fahrur Rozi dalam kitab tafsirnya Mafaatihul Ghaib.
          Dari ini santri thareqat harus menginstropeksi diri, sejauh mana tingkat keberhasilan dalam berthareqat. Apakah benar-benar sudah mengikuti jejak Rasulullah SAW yang senantiasa merendahkan diri di hadapan Tuhan dan segenap makhlukNya, atau malah kesombongan yang menjadi karakternya. Hendaknya seseorang selalu berkaca, melihat seperti apa diri yang sesungguhnya. Ibarat seseorang yang bercermin di depan kaca untuk mendapatkan seperti apa gambaran dirinya, begitu pula kita memerlukan kaca cermin untuk melihat kepribadian dan hakikat diri kita.
Dalam masa kenabian dapat kita pastikan cermin itu terlihat jelas dalam sosok Nabi, karena seseorang yang hidup dimasa itu dapat dengan mudah melihat Rasulullah SAW. Rasulullah adalah kaca cermin bagi para Sahabatnya; karena Rasulullah adalah Mursyidul A’dham dimasa itu. Namun di masa sekarang siapa yang berhak menjadi cermin untuk hidup dan kepribadian kita? Jawabannya tiada lain adalah Guru Mursyid kita. Di dalam kitab Al Anwar Al Qudsiyyah karya Imam Abdul Wahhab As Sya’roni Hal: 148, cetakan ???????disebutkan:
???? ???? ??? ?? ??? ???? ???? ????: ???? ?? ???? ??? ?? ????? ??? ?? ??? ??????? ????? ?? ???? ??? ?? ????? ??? ????-???? ???? ??????.
Sayyid ‘Ali bin Wafa berkata: segala pertolongan dan anugrah Tuhan  yang engkau lihat dalam dirimu, itu hakikatnya adalah limpahan kebaikan dari gurumu, dan segala kekurangan yang engkau lihat dalam diri gurumu, itu hakikatnya adalah gambaran dari dirimu sendiri- maka sesungguhnya guru adalah kaca cermin dari wujud seorang murid.
Ratusan tahun yang silam, ada seorang mursyid yang menggunakan media mimpi dalam membimbing murid-muridnya. Dikisahkan suatu ketika ada seorang murid bermimpi bertemu dengan Syaikh Abi Yazid, namun si murid tersebut keheranan melihat sosok Abi Yazid yang berwajah laksana babi, hingga murid ini terbangun dari tidurnya dengan perasaan bingung. Akhirnya ia memberanikan diri menemui Syaikh Abi Yazid untuk mengutarakan mimpi yang membuatnya gelisah tersebut, lalu Syeikh Abi Yazid menjawab “Aku adalah cermin dari wujud murid, maka engkau dapat melihat wajahmu pada diriku, lalu engkau mengira bahwa gambaran dari dirimu itu adalah gambaran dari diriku?” dengan penuh penyesalan si murid menyadari bahwa sungguh benar apa yang diucapkan oleh gurunya, dia menyadari bahwa dirinya masih jauh dari kebaikan. Mulai sejak itu dia selalu menginstropeksi dan memperbaiki kepribadian hidupnya, sampai akhirnya dia dapat bertemu lagi dengan gurunya dalam mimpi dengan gambaran utuh sebagai manusia. Sebagai catatan: ulama menyebutkan bahwa syetan dan jin tidak dapat menjelma menjadi Rasulullah SAW dalam mimpi seseorang, begitupun syetan dan jin tidak dapat menjelma menjadi mursyid yang kamil mukammil dalam mimpi seorang murid.
          Kemudian KH. Habibul Huda kembali mengajak para hadirin untuk sama-sama merenungkan sepertia apa gambaran sosok Guru Mursyid di dalam hati, mungkin barangkali banyak dari kita yang merasa aneh dengan Guru Mursyid, atau bahkan menuduh yang bukan-bukan pada Guru Mursyid, maka sesungguhnya itu bukan Mursyid yang salah, melainkan diri kita sendirilah yang bermasalah. “Tanya dan koreksi hati kalian; karena hati tidak pernah bohong. Dalam diri seseorang ada dua anggota tubuh yang tidak pernah berbohong, yang pertama lidah, seseorang yang baru menikah misalnya, mulutnya akan dengan mudah memuji masakan istrinya, walau seperti apapun masakannya, namun lidahnya tidak pernah bohong, andai masakan itu enak ia rasakan enak, dan andai tidak sedap ia rasakan tidak sedap. Yang kedua adalah hati, semanis apapun mulut seseorang memuji orang lain, andai ia tidak menyukai sikapnya hatinya akan jujur berkata tidak suka. Begitu pula ketika kita ditanya perihal guru Mursyid, mungkin mulut akan menyanjung setinggi langit, namun sebenarnya apa yang ada dalam hati? Wallahu A’lam kita sendiri yang tahu.”
Di akhir mauidhahnya KH Habibul Huda menuturkan bahwa keberadaan Mursyid yang jauh dari jangkauan dan sulit untuk ditemui, itu bukanlah hal yang buruk bagi kita, bahkan mungkin itu adalah yang terbaik, karena belum tentu dekat dengan Mursyid berdampak baik untuk kita, bahkan bisa sebaliknya. KH. Habibul Huda menganalogikan hal ini dengan orang Jawa yang baru berhaji untuk pertama kali, banyak dari mereka yang menangis haru saat pertama kali  berhadapan langsung dengan Ka’bah yang selama ini menjadi tempat berkiblat setiap kali melakukan ibadah sholat. Namun belum tentu hal ini dapat dirasakan oleh orang yang bertempat tinggal di Makkah atau orang yang sering melihat Ka’bah.
Dalam analogi ini KH. Habibul Huda mengkisahkan peristisa tatkala ia menjadi Tenaga Musiman (TEMUS) Haji di Tahun 2006, Ia mempunyai teman kenalan yang hampir setiap hari berada satu mobil dengangnya, dan setiap kali masuk waktu Sholat ia selalu mengajak temannya tersebut untuk masuk ke Masjidil Haram guna melakukan sholat berjamaah, namun setiap kali ia mengajak temannya itu, maka di saat itu pula temannya selalu berkata “ya silahkan kamu duluan”dan kejadian itu berulang sampai kurang lebih tiga bulan lamanya. Hal ini tentu saja mengherankan, karena temannya tadi adalah orang muslim Indonesia yang bekerja disana, dan bertempat di Makkah Al Mukarromah, namun tidak sekalipun ia memandangi Ka’bah; karena dia selama ini tidak pernah melakukan sholat. Betapa mengherankan orang yang dekat sekali dengan Ka’bah, namun tidak pernah mau menghadapnya diwaktu sholat. Mungkin ini dapat menjadi pelajaran bagi kita bahwa kedekatan seseorang dengan sesuatu yang mulia belum tentu dapat menjadikannya lebih baik. Wallahu A’lam.
(Intisari Ngaji Selasanan Di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk)

Zakat, Rukun Islam Yang Terabaikan

Zakat, Rukun Islam Yang Terabaikan
         
Dalam acara Selasanan, KH. Habibul Huda mengingatkan para jama’ah tentang pentingnya kesadaran orang Islam untuk tetap patuh pada syariat. Pelaksanaan syariat ini tidak hanya pada aspek ibadah ritual, tetapi juga pada aspek ibadah sosial. KH. Habibul Huda  menyoroti rendahnya kesadaran umat Islam terhadap persoalan zakat. bahwa sebentar lagi para petani memasuki masa panen raya, atau bahkan di sebagian daerah sudah masuk masa panen. Sungguh ini merupakan nikmat dari Allah SWT yang harus kita syukuri. Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an Al Karim, Surat Ibrahim, Ayat 7:
{??? ????? ???????? ???? ????? ?? ????? ?????}
Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya akan kutambahkan (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengkufuri (nikmatku), sesungguhnya siksaku sangatlah pedih.
          Termasuk wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT atas panen raya ini adalah dengan membayar zakat jika hasil panen sampai satu nishab.
          Zakat memang merupakan kewajiban yang berat untuk dilaksanakan, bukan hanya oleh orang-orang muslim dimasa sekarang, namun juga kaum muslim dimasa lampau. Dalam sejarah Islam, akan kita dapati bahwa kaum Muslimin setelah wafatnya Rasulullah SAW banyak dari mereka yang tidak melaksanakan syariat berupa kewajiban zakat. Mereka beranggapan bahwa zakat menjadi tidak wajib dengan wafatnya Rasulullah SAW. Saking banyaknya kaum muslimin dimasa itu yang tidak mau mengeluarkan zakat, sampa-sampai masa itu disebut-sebut sebagai “Masa Penolakan Zakat.”
Sahabat Abu Bakar RA yang menjadi Khalifah dimasa itu kemudian  mengambil langkah tegas dalam menangani hal ini dengan mengatakan:
“?????? ?? ??? ??? ?????? ???????”
“Akan saya perangi seseorang yang membeda-bedakan antara kewajiban Sholat dan zakat”.
          Kemudian Para Sahabat yang lain menanyakan keputusan ini kepada Abu Bakar RA,: “Wahai Abu Bakar, sungguh apa yang engkau putuskan ini adalah perkara yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW sebelumnya”, lalu Sahabat Abu Bakar RA menjawab: “Tidaklah sempurna iman seseorang jika ia masih membeda-bedakan Rukun-Rukun Islam.” Dengan membawa pasukannya, Sahabat Abu Bakar benar-benar melaksanakan apa yang Ia ucapkan. Mereka berangkat memerangi kaum muslimin yang menolak membayar zakat diseluruh kawasan Negara Islam. Dalam satu riwayat disebutkan: Ketika Sahabat Abu Bakar RA bersama pasukan memerangi penduduk Yaman yang menolak zakat, sampailah mereka di Kota Tareem, Hadramaut, namun ternyata tidak satupun dari penduduk Tareem yang mereka dapati menolak membayar zakat. Melihat begitu setia dan kuatnya penduduk Tareem dalam beragama, Sahabat Abu Bakar mendoakan Tareem dengan tiga perkara; yang pertama, Tareem tidak akan surut Ulama’nya, yang kedua, tidak akan surut sumber airnya, dan yang ketiga, tidak akan surut keberkahannya. Sungguh terkabul doa Sahabat Abu bakar RA, Kota Tareem benar-benar menjadi kota pencetak kader Ulama’ sampai sekarang, bahkan mungkin kota ini adalah kota yang terbanyak Ulama’nya. Di Kota yang sangat panas ini sumber air juga sangat melimpah, banyak persawahan, ladang-ladang, dan perkebunan yang kebutuhan airnya cukup diambilkan dari sumur-sumur yang berdiameter  sepuluh sampai duabelas meter saja. Sungguh keberkahan Kota ini dapat kita jumpai sampai sekarang. Walaupun Komunis menjajah Kota ini 48 tahun lamanya, Ulama’ dan sumber-sember kehidupan di Kota Tareem ini tidak pernah surut. Segala upaya Komunis untuk merubah Kota ini tidak berhasil, bahkan setelah Kota ini merdeka, sejumlah Universitas Islam dan Ribath-Ribath banyak didirikan.
          Selanjutnya KH. Habibul Huda menuturkan bahwa zakat itu berhubungan erat dengan halal dan haramnya harta yang kita makan dan yang kita tasharufkan. Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa dalam harta zakawi (harta yang wajib dizakati) yang mencapai satu nishab itu ada 10% hak fakir miskin didalamnya. Sehingga jika ada seseorang menjual harta zakawi  yang ia miliki, sebelum ia mengeluarkan zakatnya, maka akad jual beli pada kadar zakat (10% padi semisal, untuk yang murni tersirami air hujan) hukumnya tidak sah, sementara untuk yang 90% sisanya, hukumnya tetap sah. Namun dalam madzhab Syafi’i sendiri ada khilaf (perbedaan pendapat) dalam hal penjualan ini, sebagai berikut:
1.     Penjualannya tidak sah dalam kadar zakatnya saja, seperti yang disebutkan di atas. Dan ini pendapat yang paling kuat (?????).
2.     Penjualan batal secara mutlaq, baik pada kadar zakat atau yang lain.
3.     Penjualan sah secara mutlaq, baik pada kadar zakat atau yang lain.
Perbedaan pendapat ini bermula dari perbedaan mereka dalam memahami hubungan zakat, apakah zakat terikat dengan harta, sebagai Syarikah (???? ??????), atau semacam ganti rugi dalam kriminal (??? ???????), atau seperti barang gadaian (???? ???????), atau hanya berhubungan dengan tanggungan pemilik harta saja (???? ?????)?
Kemudian melihat realita zaman sekarang, di Indonesia yang begitu fakir miskin, dan melihat rakyat Indonesia, yang  secara umum hasil panennya tidak begitu banyak, ditambah lagi merebaknya praktek penjualan padi dengan sistem “tebas” oleh para petani dengan tanpa menyisihkan kadar zakat sebelumnya, sehingga jika para petani hendak mengeluarkan zakat, maka mereka harus bertanya terlebih dahulu kepada penebas tentang berapa hasil panenya, yang disisi lain hal ini akan menimbulkan beberapa permasalahan baru, diantaranya: berapa jumlah padi yang ditukar dengan jajanan dalam praktek “Ngurup” (penukaran padi dengan berbagai rokok & jajanan), kemudian berapa jumlah padi yang diberikan kepada rombongan pengasak (orang yang mengambil sisa) disaat proses pemanenan (Ngedos atau Blower atau sebagainya), yang keduanya mengakibatkan nota jumlah panen menjadi berkurang dan tidak sempurna. Maka KH. Habibul Huda memberi solusi dalam permasalahan ini, untuk mengeluarkan zakat dengan membayarkan uang senilai 10% dari hasil panen dengan niat berzakat, mengikuti madzhab Hanafi. Dengan mengikuti Madzhab Hanafi, pembayaran zakat terasa lebih mudah, dan lebih bermanfaat untuk fakir miskin; karena memang tujuan memberi zakat adalah mengangkat kemiskinan, seperti yang disampaikan oleh Imam As Sarohsi Al Hanafi dalam kitab Al Mabsuth. Selain itu ada beberapa pertimbangan lain untuk mengikuti Madzhab Hanafi, diantaranya:
1.     Minimnya orang muslim yang mengeluarkan zakat, sehingga andai pemeratan zakat pada mustahiqqin diberlakukan, maka mereka akan mendapatkan bagian padi zakat yang sangat sedikit. Mungkin mereka akan berkata “Aweh kok mung semene! Ora sumbut olehe ngopeni”. Dan jika diberikan dengan jumlah yang lumayan banyak, maka  hanya sebagian mustahiq saja yang mendapatkan bagian, sehingga dimungkinkan timbul kecemburuan.  
2.     Jika misalnya kita bagikan padi sejumlah 10 Kg, maka akan terlihat tidak pantas; sebab 10 Kg padi itu terbilang jumlah yang sedikit, namun bila diberikan dengan bentuk qimah dari padi tersebut (misalnya Rp. 40.000), maka akan terlihat lebih layak dan lebih pantas.
          Di akhir Mauidhohnya KH. Habibul Huda mengingatkan bahwa kita ini Ahli Thareqah, kelompok yang dikatakan sebagai golongan yang sungguh-sungguh menuju jalan Allah SWT, namun apakah kita benar-benar sudah melakukan kewajiban agama? Apakah kita sudah berzakat? Kalau kita yang notabenenya santri saja sudah tidak mau membayar zakat, lalu bagaimana dengan yang lain? Maka sebelum diselenggarakannya haul Al magfurlah KH. Abdul Wahid Zuhdi yang ke 10, mari kita sama-sama melaksanakan rukun Islam yang terabaikan ini, sesuai dengan Tema Haul tahun ini Pedoman Uripe Santri Iku Syari’at, Yen Kapan Santri Ora Gelem Nglakoni, Terus Sopo Sing Arep Nglakoni”.
          Inilah saripati mauidlah hasanah pada kegiatan rutin selasanan di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk.***
Wallahu A’lam Bishawaf          
        

Catatan Kecil Tentang Ikhlas (Ngaji Selasanan)

 
Catatan Kecil TentangIkhlas


Ngangkruk 1 Januari 2018Selasanan, adalah istilah populer yang berlaku di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, istilah tersebut merujuk pada hari Senin malam Selasa dimana dilakukan kegiatan Khususiyah yaitu wiridan bersama mengamalkan wirid Sadziliyah.Selasanan dimulai sehabis magrib sampai kurang lebih pukul  21.30 WIB. Untuk rangkaian acaranya adalah wiridan bersama mulai sehabis Magrib sampai Adzan Isya’. Dilanjutkan sholat Isya’ berjama’ah dengan serangkaian wiridnya. Kemudian dilanjutkan dengan sholat-sholat sunnah berjamaah, dan diakhiri dengan mauidhoh hasanah.

Ada beberapa catatan menarik yang dapat diambil dari mauidhoh oleh Al Mukarom KH. Habibul Huda. Dalam mauidhoh hasanahnya Beliau menyampaikan bahwa ada dua perkara yang sulit diraih oleh manusia sebagai hamba Tuhan. Yang pertama: Taufiq yang turun dari langit, dan yang kedua adalah ikhlas yang terangkat kelangit.
Ibadah yang dilakukan seseorang itu terkadang bukanlah taufiq dari Tuhan, melainkan hanya istidroj (pemberian nikmat dari Tuhan kepada yang mengkufurinya sebagai bentuk kemurkaan Allah) atau penglulu dalam istilah Jawa, hal ini dikarenakan ibadah membutuhkan keikhlasan niat hanya kepada Tuhan, sementara kebanyakan dari manusia dalam ibadahnya jauh dari kata “ikhlas.”
Ikhlas memang  merupakan perkara hati, akan tetapi qorinatul hal (tanda-tanda kejadian perkara) terkadang cukup untuk menilai ikhlas tidaknya seseorang dalam beribadah. KH. Habibul Huda mencontohkan: kebanyakan orang ketika dimintai sumbangan oleh sanak famili atau tetangganya yang sedang punya hajat, maka mereka biasanya akan memberikan sumbangan ala kadarnya, sementara ketika ia punya hajat sendiri, sebesar apapun biayanya ia akan keluarkan asal  hajatannya lancar, padahal tujuan dari hajatan itu sama yaitu memberi hadiah atau suguhan untuk tamu. Artinya mereka dalam memberikan sumbangan dilihat dari qorinatul halnya bukan atas dasar keihlasan untuk Tuhan semata, melainkan ada niatan lain seperti karena malu atau yang lain.
Problematika keihlasan tidak hanya terjadi pada kaum muslimin saat ini, bahkan terjadi dikalangan Sahabat Nabi. Suatu ketika Nabi Muhammad SAW. bersama rombongan Sahabatnya pergi menuju suatu daerah, ditengah-tengah perjalanan mereka bertemu dengan kelompok Yahudi, dan peperanganpun tidak dapat terelakkan dari kedua kelompok. Ada salah satu sahabat yang begitu tangguh dalam berperang, ia begitu hebat, tak kenal lelah, bahkan membabi buta dalam pertempuran, lalu ada satu sahabat lain yang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW; ”Wahai Nabi Utusan Allah berapa besar pahala yang diperoleh si fulan yang berjihad dengan begitu hebatnya?” Nabi menjawab: “ia adalah ahli neraka.” Dengan keheranan sahabat ini melanjutkan pertanyaannya: “lalu seperti apa gambaran seseorang yang ahli surga wahai Nabi?” dan Nabi diam tidak menjawab. Akhirnya sahabat ini mempunyai inisiatif untuk mengikuti sahabat yang tangguh tadi dalam peperangannya. Dan sampailah pada suatu tempat dimana sahabat yang tangguh tadi terkena tombak dari musuh, betapa herannya ia melihat sahabat yang ia kira tangguh tersebut malah munusukkan tombak yang mengenainya kedalam tubuhnya lebih dalam karena tak kuasa menahan sakit. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW, sahabat ini menyaksikan dengan mata kepalanya bahwa sahabat yang ia kira tangguh berjihad tersebut mati bukan karena terbunuh dimedan perang melainkan bunuh diri karena tidak kuasa menahan sakit.
Maka keikhlasan menjadi tolak ukur dalam ibadah seseorang agar dapat diterima oleh Tuhan, tanpa adanya ikhlas ibadah seperti tak berbekas. Dan diantara tujuan kita wiridan bersama dengan bimbingan Guru Mursyid adalah melatih keikhlasan dalam ibadah sedikit demi sedikit.
Kemudian kita tidak usah heran melihat orang-orang non muslim atau orang-orang fasiq bila dalam kenyatan harta mereka lebih melimpah, dan kehidupan mereka lebih layak; karena hal itu bukan berarti mereka mendapat taufiq dari Tuhan melainkan kenikmatan yang mereka peroleh hanyalah penglulu dari Tuhan.
KH. Habibul Huda kemudian mengakhiri mauidhohnya dengan mengutip Firman Tuhan dalam Al Qur’an Al Karim:
{??????? ?????? ????????? ???????????? ?????????????? ????????? ???????? ??????? ???????????????????????????}. )???? ?????? ??? 2(
Artinya: Dialah Dzat  Yang menciptakan mati dan hidup; untuk menguji kalian semua, siapa diantara kalian yang paling baik amalnya. Ia adalah Dzat yang maha tinggi lagi maha pengampun.
            Dipenghujung acara para jama’ah sama-sama melantunkan tiga bait dari sholawat Al Bushiri, berdoa kepada Tuhan dengan bertawasul melalui hamba Tuhan yang paling mulia, sebaik-baiknya ciptaan Tuhan Nabi Muhammad SAW.*****
           

Mencari Berkah Di bulan Maulid Bersama Kiyai Pesantren


Mencari Berkah Di bulan Maulid Bersama Kiyai Pesantren


??? ???? ?????? ??????

            Alhamdulillahirobbil ‘alamin segala puji bagi Alloh Pencipta alam semesta. Solawat dan salam semoga selalu tercurahkan kehadirat Pemimpin umat, sebaik-baiknya Makhluk Tuhan, nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatNya. 
          Ahad malam Senin ba’dal Magrib 17 Desember 2017 kami para santri PP. Fadllul Wahid Ngangkruk Bandungsari Ngaringan Grobogan beramai-ramai menuju pelataran rumah KH. Habibul Huda bin Naajid Pengasuh PP. Fadllul Wahid. Tetangga terdekat Pondok Pesantren juga ikut berbaur bersama kami sebagai tamu undangan. Dan tak ketinggalan anak-anak Al Kuttab PP. Fadllul Wahid dengan berseragam orange didampingi Bapak Mamad DKK ikut meramaikan acara ini. 

Rebana Al Mahbubiin pimpinan Bapak Sufyan  terlihat sudah standby diteras ndalemdari sejak sebelum kami datang, sementara Bapak Mamad dan Bapak Muhlisin sibuk menata dan merapikan duduk para santri.

Selang beberapa menit kemudian panitia acara memberikan microphonekepada Romo KH. Habibul Huda untuk membuka acara. Dengan penuh wibawa Beliau awali acara dengan hamdalah solawat dan salam, kemudian Beliau meminta semua santriuntuk benar-benah hidmat, husyuk, dan hati yang hudur untuk bersama- sama mencari berkah dengan membaca maulid Ad Diba’i, Beliau menyampaikan bahwa didalam kitab tadzkirunnas diterangkan bahwa Nabi Muhammad SAW senantiasa hadir dalam majlis yang dibacakan Maulid Ad Diba’i mulai dari awal sampai akhir pembacaan, kemudian Beliau melanjutkannya dengan membacakan suratul Al Fatihah yang dihadiahkan untuk arwah-arwah Pejuang islam yang sudah wafat terhusus Nabi Muhammad SAW.
Dengan penuh hidmad dan husyuk semua santri dan tamu undangan bersama-sama membaca maulid Ad Diba’I dengan diiringi rebana Al Mahbubin yang menambah semakin semaraknya acara ini. 

 Setelah selesai pembacaan Maulid romo KH. Habibul Huda memberikan Tausiyahatau Mauidol Hasanah kepada semua Hadirin. Dalam tausiyahnya Beliau menceritakan tentang awal-awal Beliau berhidmah di Pesantren Ngangkruk dari mulai diskusi Beliau dengan Ayah mertuanya Pendiri Pesantren Ngangkruk Romo KH. Abdul Wahid Zuhdi Allohu yarham tentang keluh kesah kurang gregetnya program untuk santri tingkat Aliyah, sampai diterapkannya hafalan Al Yaqut An nafis, dan program-program baru yang tidak ada sebelumnya diera kepemimpinan KH. Abdul Wahid Zuhdi. Kemudian Beliau menyampaikan rasa syukur yang mendalam kepada Alloh SWT atas keberhasilan salah satu santri putra PP. Fadllul Wahid yang bernama Zaenal Muttaqin santri asal Magetan Jawa Timur yang baru saja berhasil menjuarai lomba Qiroatul Kutub Nasional dalam bidang usul fiqih dan juga santri putri asal grobogan Jawa Tengah yang bernama Dwi Ambar Sari yang sebelumnya terlebih dahulu menyabet juara satu tingkat nasional dalam bidang nahwu kategori alfiyah ibnu malik, sampai-sampai KH. Habibul Huda menyembelih kambing untuk melaksanakan nadzarnya saat santrinya juara. Kemudian Beliau menyampaikan kepada semua santri bahwa jika ada pertanyaan dari masyarakat tentang mengapa santri PP. Fadllul Wahid yang bisa dikatakan baru seumur jagung tapi mapan dalam keilmuan agamanya? Maka beliau meminta para santrijika ada pertanyaan semacam itu jawablah dengan mengatakan “karena santri Fadllul Wahid Olehnya belajar itu dengan metode angkremangkrem artinya continue terus-menerus, Beliau mengibaratkan ayam betina yang sedang bertelor, bila sang betina tidak rutin dan continue dalam mengerami apa jadinya telor-telor tersebut, pastilah busuk dan tidak akan menetas, begitupun santri andai dalam belajar santri kok yab-yaban pastilah santri kurang berkualitas hasilnya.
Ditengah mauidloh yang begitu husuk dan antusias tiba-tiba turun hujan, santripun menjadi ramai karena kehujanan, dan Romo KH. Hbibul Huda mengakhiri mauidlohnya, suasanapun menjadi ramai kembali oleh suara para santri mengantree dibagi nasi kambing, pak Sufyan DKKpun langsung merespon dengan memukul rebana menyertai santainya santri yang sedang makan bersama.
Akhirnya semoga KH. Habibul Huda, K. Zubair Abdul Wahid, dan seluruh keluarga KH. Abdul Wahid Zuhdi beserta seluruh masyayikh dipanjangkan usianya, Pesantren semakin maju, santri semakin istiqomah dalam belajar, dan yang pasti Pesantren penuh cerita, penuh rasa, dan siap membela Bangsa dan Negara.