Motto, Visi, dan Misi PP. Fadllul Wahid

Motto, Visi, dan Misi PP. Fadllul Wahid
a. Motto PP. fadllul wahid
          “Ilmu, ‘Amal dan Akhlakul karimah”.
b. Visi PP. fadllul wahid
1. Mencetak santri yang berilmu, beramal dan  Berakhlaqul Karimah.
2. Pondok Pesantren Fallul Wahid menjadi Pondok salaf yang mencetak santri penerus Ulama’us Sholikhin.
c.   Misi PP. fadllul wahid.
     
1. Pondok Pesantren Fadllul Wahid semaksimal mungkin mencetak santri yang menguasai ilmu fiqh, hadits, nahwu shorof dan lain-lain.
2. Pondok Pesantren Fadllul Wahid bersungguh-sungguh mencetak santri yang optimal mengamalkan ilmunya baik untuk dirinya sendiri maupun masyarakat pada umumnya.

GARIS BESAR PROGRAM PENDIDIKAN PP FADLLUL WAHID

 GARIS BESAR PROGRAM PENDIDIKAN PP FADLLUL WAHID

??? ???? ?????? ?????? ? ????? ??? ?? ???????? ? ??? ?????? ??? ???? ?????? ??????? ???? ???? ??? ????? ???? ???? ??? ????? ???? ?????? . ??? ??? ? ??? ????? ????? ??? ?? ????……(???? ????).
A.MUQADDIMAH
Tepatkah bahwa pondok pesantren merupakan jawaban atau solusi untuk Menggugurkan kewajiban seseorang dari hal thalabul ilmi? Dengan kata lain, apakah sudah terpenuhi kewajiban orang tua dalam hal pendidikan anak ketika sang anak sudah masuk pondok pesantren? Lalu membutuhkan waktu berapa lama untuk memenuhi target pendidikan tersebut?
                 Seorang muslim berkewajiban secara fardu ‘ain mengetahui hukum-hukum islam , mengetahui apa yang akan dan harus ia lakukan , mengetahui hal-hal yang secara normal ia akan terbentur atau terpaksa harus melakukan, serta mengetahui pula hal-hal yang bisa merusak akidah dan amal ibadahnya . Sedangkan secara fardu kifayah harus ada orang yang mendalami dan menguasai ilmu agama(bukan sekedar fardu ‘ain), sehingga dapat di jadikan rujukan pertanyaan, sekaligus dapat membimbing masyarakat yang membutuhkanya.
                 Semua itu tentu harus ada yang dapat menjaga kelangsungan dan menjawab tantangan sebagai benteng pertahanan serta dapat menjawab masalah-masalah yang relatif berat dan sulit yang muncul. Ringkasnya , harus ada orang yang bisa mencari kebenaran , menjelaskan kebenaran dan mempertahankanya.
                 Kalau kita melihat keadaan santri-santri pondok pesantren salaf tradisional, ternyata wakyu belajarnya tidak sama. Ada yang belum satu tahun sudah boyong, dan hal ini biasanya karena factor tidak kerasan. Ada yang hanya dua tahun , sehingga setelah mereka berada di rumah jadinya pun beragam. Namun juga ada yang meneruskan jenjang pendidikan lain(atasnya). Secara factual kelompok inilah yang paling besar jumlahnya. Ada yang sampai tiga atau empat tahun, bahkan ada yang sampai lima tahun. Tetapi kelompok ini relatif lebih sedikit. Dan selanjutnya ada yang mendapat kesempatan thalabul ilmi lebih lama , hingga Sampai Sembilan tahun atau bahkan lebih.
B. RANCANGAN PENDIDIKAN
Dengan  mempertimbangkan keadaan dan kebutuhan, pendidikan pondok pesantren salaf tradisional minimal dapat di bagi tiga atau empat jenjang kelas. Yaitu dua tahun, tiga tahun dan empat tahun.
1. KELAS 2 TAHUN
Kelompok yang pertama ini ada yang masa tinggalnya di pesantren hanya dua tahun dan ada pula yang lebih(meneruskan kelas atasnya).
Untuk yang hanya dua tahun , ditargetkan harus sudah bisa memahami betul cara beribadah dan bisa melakukanya dengan benar, juga tahu mana yang wajib , sunah,mubah dan haram. Dengan kata lain , santri sudah bisa mandiri dalam beribadah, yang berarti pula sudah terpenuhi kewajiban thalabul ilmi fardu ‘ainya . Kelompok ini diproyeksikan sebagai muslim awam yang terampil atau aktif.
Bagi yang melanjutkan lagi , selain mengetahui pengetahuan tersebut, mereka juga di persiapkan untuk jenjang pendidikan berikutnya. Sehingga , tidak akan di rasa adanya jurang pemisah, tetapi justru dalam perjalanan belajarnya akan terasa ada kesinambungan. Dengan demikian , pengajaran dan pendidikan untuk jenjang kelas dua tahun ini di tata sedemikian rupa guna memenuhi kebutuhan seorang awam dan sekaligus menjadi pondasi atau batu loncatan untuk jenjang pendidikan berikutnya dengan sistem cepat dan tepat.
2. KELAS 3 TAHUN
Kelompok  ini disiapkan untuk mampu menjadi guru dan pimpinan di daerahnya masing-masing. Untuk memenuhi target tersebut , santri di upayakan bisa memahami sebuah fan(bidang) ilmu agama yang ada dan juga di upayakan mampu memahami kitab-kitab salaf dengan hanya sedikit ketergantungan kepada orang lain. Santri jenjang ini juga di targetkan mengerti hukum islam, baik ubudiyah maupun muamalah yang kerap muncul atau terjadi dalam masyarakat luas. Kelompok ini juga harus bisa memahami dan dapat menerima keterangan berbagai hal baru dan bisa menerangkannya kepada masyarakat. Untuk mengatur sistem pendidikan tersebut haruslah meliputi pendidikan semua fan, pengertian semua hukum yang berkaitan dengan perilaku dan kebudayaan masyarakat, pengertian hakikat ahlussunnah wal jamaah serta sedikit pengenalan tentang semua aliran agama atau sekte yang ada di Indonesia.
3. Kelas 4 Tahun
Kelompok ini di rancang untuk dapat menjadi rujukan kelompok sebelumnya, sehingga kelompok ini harus betul-betul memahami hukum dan bisa menjawab masalah waqiiyyah (terjadi) atau bahkan masalah-masalah yang jarang terjadi, atau mungkin belum diterangkan ulama-ulama salaf secara sharih. Kelompok ini juga harus bisa mempertahankan ajaran atau akidah ahlussunnah sekaligus dapat mengcounter paham-paham lain yang tidak sesuai. Maka dalam jenjang pendidikan kelompok kelas empat tahun ini dibutuhkan kecermatan dan ketelitian yang lebih maksimal dalam memahami kitab-kitab salaf guna mencari jawaban masalah waqiah secara benar. Santri kelompok ini juga harus mampu memahami dalil-dalil ahlussunnah wal jamaah serta kelemahan-kelemahan kelompok lain secara lebih cermat dan teliti.
Adapun jenjang-jenjang pendidikan berikutnya adalah kelompok yang sudah mempunyai fan ilmu yang diperdalam dan dikaji. Sehingga, kelompok terahir ini hanya diarahkan dan dibimbing sesuai bakat dan kemauannya masing-masing untuk menjadi seorang profesional yang menekuni disiplin ilmu sesuai dengan bakat dan keahliannya.
Demikian sekilas dasar pemikiran tentang pendidikan pondok pesantren salaf tradisional. Walhamdu lillahi robbil alamin.

TK Al Kuttab


TATA TERTIB PONDOK PESANTREN ANAK-ANAK

AL-KUTTAB

BANDUNGSARI NGARINGAN GROBOGAN JAWA TENGAH

HAK-HAK SANTRI AL-KUTTAB
1.  Mendapatkan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan jenjang masing-masing.
2.  Mendapatkan perlakuan yang sama dari Dewan Guru baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam kegiatan belajar mengajar.
3.  Mempergunakan sarana dan prasarana serta fasilitas yang disediakan oleh pondok pesantren sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan.
4.   Mendapatkan uang saku setiap hari sesuai ketentuan.
5.   Mendapatkan kebutuhan makan sehari-hari.
6.  Menempati dan mempergunakan lemari untuk menyimpan barang-barang milik pribadi semisal pakaian.
7.  Mencucikan pakaian yang kotor pada binatu bagi yang belum mampu mencuci pakaiannya sendiri.
8.  Mengadu dan meminta bantuan kepada Dewan Guru jika mengalami kesulitan atau ketidaknyamanan dalam hal apapun.
9.    Mendapatkan rasa aman,nyaman dan tentram di dalam pondok pesantren.
KEWAJIBAN-KEWAJIBAN SANTRI AL-KUTTAB
1.     Mengikuti segala kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan pondok pesantren baik yang bersifat kurikuler ataupun ekstrakurikuler.
2.        Mengikuti jama’ah sholat maktubah.
3.        Melaksanakan sholat rowatib.
4.        Mengikuti jama’ah sholat dhuha.
5.        Mengikuti pembacaan rotib tahlil secara bersama.
6.        Mengikuti acara dziba’an dengan tertib.
7.        Menjaga kebersihan pondok sesuai dengan jadwal piket yang tercantum.
8.        Mengikuti ro’an atau bersih-bersih bersama pada hari libur.
9.       Selalu menutup aurat semisal dengan cara memakai celana yang panjangnya sampai ke bawah lutut.
10.   Saling menghormati dan menyayangi sesama teman.
11.   Memakai songkok, baju, dan sarung saat keluar dari lingkungan pondok pesantren.
12.   Mengumandangkan adzan sholat maktubah bagi yang piket.
13.   Berperilaku dan tutur kata yang sopan.
14.   Memimpin pembacaan Asma-ul Husna atau Aqidatul Awwam bagi yang bertugas.
15.  Menghormati setiap tamu yang datang di pondok pesantren AL – KUTTAB.
16.   Menghormati, mematuhi, dan menjunjung tinggi nama baik Dewan Guru.
17.   Berkata jujur.
18.   Membuang sampah pada tempatnya.
19.   Berpakaian rapi saat hendak makan.
20.   Saat hendak memasuki pondok harus cuci kaki sehabis bermain.
21.   Saat bermain menggunakan kaos dan celana di bawah lutut.
22. Menjaga dan menjunjung tinggi nama baik pondok pesantren           AL-KUTTAB.
23.   Menjaga kedamaian dan ketentraman suasana pondok pesantren.
LARANGAN SANTRI AL-KUTTAB
1.        Bertingkah laku dan berkata yang tidak sopan.
2.        Memaki dan berkata kotor.
3.        Mengolok-olok atau mengejek teman.
4.        Mengucilkan sesama teman.
5.        Bermain di sungai.
6.        Bermain playstation.
7.        Menyimpan atau membeli barang yang tidak pantas semisal kaset dangdut.
8.        Menyimpan atau mempergunakan barang orang lain atau teman tanpa meminta izin dari pemilik (ghosob)
9.        Membantah perintah dan kata-kata Dewan Guru.
10.   Berhutang kepada teman.
11.   Memaksa sesama teman untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.
12.   Berkelahi atau bermusuhan sesama teman.
13.   Merusak fasilitas pondok.
14.   Masuk ke dalam kolah kamar mandi tanpa ada kebutuhan.
15.   Bermain-main dengan lampu yang ada di pondok.
16.   Membawa alat elektronik semisal radio dan HP.
17.   Bermain di luar lingkungan pondok tanpa seizin Dewan Guru.
18.   Bermain atau bergaul dengan anak-anak atau warga sekitar secara berlebihan.
19.   Berkuku panjang.
20.   Memakai aksesoris yang tidak pantas semisal kalung, gelang kaki dan gelang tangan.
21.   Bermain-main di atas lemari pakaian.
22.   Mencukur rambut dengan gaya yang tidak pantas menurut etika santri.
23.   Mewarnai atau menyemir rambut.
24.   Berambut panjang atau gondrong.
25.   Berlarian, berteriak atau bermain bola di dalam ruangan.
26.   Membuat kegaduhan pada saat jam tidur malam.
27.   Pulang ke rumah tanpa seizin Dewan Guru.
28.   Menyimpan atau memiliki senjata tajam semisal pisau.
29.   Memasuki ruang guru tanpa izin.
30.   Menonton televisi melewati jam 09.00 malam.
31.   Bergaul, bermain dan bercanda dengan orang-orang yang lebih besar (cah gedhe) secara berlebihan.
ATURAN TAMBAHAN
SEGALA SESUATU YANG BELUM TERCANTUM AKAN DIATUR SESUAI DENGAN KEBIJAKAN KEPENGURUSAN PONDOK PESANTREN
AL-KUTTAB
PENTING : Segala aktifitas setelah jam 09.00 malam harus dihentikan demi menjaga toleransi bertetangga dan demi kenyamanan santri-santri pondok serta stabilitas suasana dan kondisi pondok pesantren AL-KUTTAB.
                        

GARIS BESAR PROGRAM PENDIDIKAN PP. FADLLUL WAHID


GARIS BESAR PROGRAM
PENDIDIKAN
PP. FADLLUL WAHID
????????? ?????? ?????????? ??????????????? ????????? ?????? ???? ??????? ??????????? ???????????? ???????????? ? ???? ???????? ???? ????? ??????? ???? ?????? ???????? ????? ??????? ???? ? ?????????? ???? ??? ?????? ?????? ??????? ???????? ??? ??????? ???? ? ?????????? ????? ?????????? ???????? ??????????? . ?????????? ????? ????? ????????? ??????? ??? ????????? ????? ????????? ????? ???????????? ????? ???????????? ??????? ??????? ??????? ????????? ????? ????????? ??????? ??? ????????? ????? ????????? ????? ???????????? ????? ???????????? ??????? ??????? ???????  (??? ???)
A.       MUQADDIMAH
Tepatkah bahwa pondok pesantren adalah jawaban atau solusi untuk menggugurkan kewajiban seseorang dalam hal thalabul ilmi? Atau dengan kata lain, kewajiban orang tua dalam mendidik anak ketika sudah di masukkkan ke lembaga pendidikan pondok pesantren apakah sudah terpenuhi? Lalu membutuhkan waktu berapa lama untuk memenuhi target pendidikan tersebut?
Seorang muslim wajib ‘ain hukumnya mengetahui dasar-dasar hukum Islam, mengetahui apa yang akan dan harus ia lakukan, mengetahui hal-hal yang sewajarkan ia akan bersinggungan langsung atau terpaksa harus melakukan, serta mengetahui hal-hal apa saja yang bisa merusak akidah dan amal ibadahnya. Sedangkan dari sisi fardlu kifayah, harus ada seseorang yang secara khusus memperdalam dan menguasai ilmu agama (yang bukan sekedar fardhu ‘ain), hingga layak menjadi rujukan pertanyaan, sekaligus dapat membimbing masyarakat luas yang membutuhkan.
Untuk merealisasikan semua itu tentu harus ada yang mampu menjaga eskistensi kelimuan Islam, siap menjawab berbagai tantangan, serta dapat menjawab masalah-masalah yang relatif berat dan sulit yang muncul. Ringkasnya, seharusnya ada ilmuan Islam yang bisa mencari kebenaran, menjelaskan kebenaran, dan mempertahankannya.
Kalau kita melihat realitas lapangan, banyak santri-santri pondok pesantren salaf tradisional masa belajarnya tidak sama. Ada yang belum genap satu tahun sudah boyong. Hal ini biasanya karena faktor tidak kerasan. Ada yang hanya dua tahun, sehingga setelah berada di rumahnya masing-masing, mereka menjadi beragam dan variatif. Namun, juga ada yang meneruskan jenjang pendidikan atasnya. Secara factual, kelompok terakhir inilah yang paling besar jumlahnya. Diantara mereka ada yang mondok sampai tiga atau empat tahun, bahkan lima tahun. Tetapi kelompok yang terakhir ini relatif lebih sedikit. Selanjutnya ada santri yang berkesempatan thalabul ilmi lebih lama, hingga sampai sembilan tahun atau bahkan lebih.
B.       RANCANGAN PENDIDIKAN
Dengan  mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan, pendidikan pondok pesantren salaf tradisional minimal dapat di bagi tiga atau empat jenjang kelas. Yaitu dua tahun, tiga tahun, dan empat tahun.
1.        KELAS 2 TAHUN
Kelompok yang pertama ini ada yang masa tinggalnya di pesantren hanya dua tahun dan ada yang lebih (meneruskan kelas atasnya).
Untuk yang hanya dua tahun, pondok pesantren menargetkan mereka harus sudah mampu memahami betul tata cara beribadah dan bisa melakukanya dengan benar. Mereka juga tahu mana yang wajib, sunah, mubah dan haram. Dengan kata lain, santri kelompok ini sudah bisa mandiri dalam beribadah, yang berarti pula sudah terpenuhi kewajiban thalabul ilmi fardu ‘ainnya. Kelompok ini diproyeksikan menjadi muslim awam yang kreatif atau aktif.
Bagi yang melanjutkan lagi, selain mengetahui berbagai kebutuhan tersebut, mereka juga dipersiapkan untuk masuk jenjang pendidikan berikutnya. Sehingga hilang jurang pemisah, dan dalam perjalanan belajarnya terasa ada inter koneksi atau berkesinambungan. Dengan demikian, pengajaran dan pendidikan untuk jenjang kelas dua tahun ini di manej sedemikian rupa guna memenuhi kebutuhan seorang awam dan sekaligus menjadi pondasi atau batu loncatan untuk jenjang pendidikan berikutnya dengan sistem cepat dan tepat.
2.        KELAS 3 TAHUN
Kelompok  ini dipersiapkan untuk mampu menjadi guru dan pimpinan di daerahnya masing-masing. Untuk memenuhi target tersebut, santri diupayakan bisa memahami sebuah fan (bidang) ilmu agama dan diupayakan mampu memahami kitab-kitab salaf dengan sedikit ketergantungan kepada orang lain. Santri jenjang ini juga ditargetkan mengerti hukum Islam, baik ubudiyah maupun muamalah yang kerap muncul atau terjadi di masyarakat luas. Kelompok ini juga harus bisa memahami dan responsif terhadap berbagai hal baru dan bisa menerangkannya kepada masyarakat dari sisi hukumnya. Untuk mengatur dan mendukung keberhasilan program tersebut perlu diajarkan semua fan (cabang ilmu), hukum-hukum yang berkaitan dengan berbagai perilaku dan kebudayaan masyarakat, hakikat aliran theologi ahlussunnah wal jamaah, serta sedikit pengenalan tentang semua aliran agama atau sekte yang berkembangan di Indonesia.
3.        Kelas 3 Tahun
Kelompok ini diprogram untuk dapat menjadi rujukan kelompok sebelumnya. Dengan demikian, kelompok ini harus betul-betul memahami hukum dan bisa menjawab masalah waqiiyyah(fakta kasus) atau bahkan masalah-masalah yang jarang terjadi, atau mungkin belum diterangkan ulama-ulama salaf secara jelas. Kelompok ini juga harus bisa mempertahankan ajaran atau akidah ahlussunnah sekaligus dapat mengcounter paham-paham lain yang tidak sesuai. Maka, untuk merealisasikan pendidikan kelompok kelas tiga tahun ini dibutuhkan kecermatan dan ketelitian yang lebih dalam memahami kitab-kitab salaf guna mencari jawaban dan solusi masalah waqiah secara benar dan tepat. Santri kelompok ini juga harus mampu memahami dalil-dalil ahlussunnah wal jamaah serta kelemahan-kelemahan kelompok lain secara cermat dan teliti.
Adapun jenjang pendidikan berikutnya adalah kelompok yang sudah memilih satu fan ilmu yang diperdalam dan dikaji lebih jauh. Kelompok terahir ini hanya diarahkan dan dibimbing sesuai bakat dan kemauannya masing-masing untuk menjadi seorang profesional yang menekuni disiplin ilmu sesuai dengan bakat dan keahliannya.
Demikian sekilas dasar pemikiran pendidikan pondok pesantren salaf tradisional. Semoga bermanfaat. Walhamdu lillahi robbil alamin.
—***—