MENYAMAK KULIT

MENYAMAK KULIT HEWAN

(Ahmad Lufhfi Habib bin Nurlan)

Firqoh Ulya Tsani PP. Fadllul Wahid

Sering kita jumpai, pada zaman yang serba modern ini, produk-produk dari kulit binatang dijual di toko-toko, pasar-pasar tradisional, hingga di mall-mall besar. Produk seperti jaket, sandal, sepatu, tas, ikat pinggang, alat rebana, bedug, dll yang terbuat dari kulit hewan telah menjadi kebutuhan atau sekadar tuntutan tren fashion kekinian. Bahan yang digunakan adalah kulit terbaik dari aneka ragam hewan yang dapat dimanfaatkan kulitnya, baik dari hewan yang halal dimakan dagingnya, seperti: sapi, kerbau, dan kambing atau dari hewan yang tidak halal, seperti: ular, buaya, harimau, dll.

Untuk membuat tas, jaket, sepatu atau produk-produk terbaik dari kulit hewan diperlukan proses yang cukup panjang, antara lain dengan cara menyamak kulit tersebut. Proses penyamakan ini sangat mementukan kwalitas produk. Sehingga, tata cara menyamak kulit harus dilakukan dengan benar agar kulit tidak cepat busuk dan produk tidak lekas rusak.

Dalam perspektif fikih, perlu dibedakan antara menyamak kulit hewan yang mati karena disembelih dan kulit hewan yang mati tanpa disembelih (bangkai), antara binatang yang halal dan yang haram. Lantas, apakah semua kulit yang telah disamak bisa menjadi suci dari najis, dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari?

Berikut ini mari kita bahas proses penyamakan yang benar sesuai syari’ah, aspek hukum-hukum fikih dan tujuan penyamakan.

 Apa Itu Menyamak?

Penyamakan adalah proses atau cara menghilangkan sisa-sisa yang ada pada kulit binatang, sepertisisa-sisadaging, darah atau kotoran-kotoran lain yang dapat membuat kulit menjadi busuk.[1] Menyamak juga merupakan proses untuk mengubah benda (kulit) yang najis menjadi suci. Singkatnya, ialah sebuah proses penyucian kulit binatang. Binatang halal yang mati tanpa disembelih atau telah mati menjadi bangkai dapat dimanfaatkan kulitnya setelah melalui proses penyamakan. Begitu juga binatang yang haram dagingnya seperti harimau, baik matinya karena disembelih maupun tidak. Jadi, untuk memanfaatkan kulit binatang halal yang mati karena disembelih tidak perlu untuk menyamak terlebih dahulu, karena kulit tersebut suci dan tidak perlu disucikan kembali.

Kulit yang telah diproses pasti akan lebih awet dan tidak akan busuk, berbeda dengan kulit yang tidak diproses, pasti tidak tahan lama dan cepat membusuk. Akan tetapi, penyamakan kulit harus dilakukan dengan cara yang benar, agar tercapai hasil yang diinginkan (tidak cepat busuk dll).

Tata Cara Menyamak

Proses menyamak yang benar iaitu membersihkan kulit binatang dari sisa-sisa kotoran seperti darah dan daging yang menempel menggunakanbahan-bahan (zat) yang rasanya tajam atau حريف  (sepet; jawa). Bahan-bahan tersebut ada kalanya berupa bahan yang suci, seperti: kulit delima, samak paya, samak serai, pasir dsb., atau bahan yang najis, seperti: kotoran burung merpati, bahkan berupa najis mughalladhah, seperti kotoran anjing. Namun, ketika menyamak menggunakan najis mughalladhah setelahnya harus disucikan layaknya menyucikan najis mughalladhah (dibasuh sebanyak tujuh kali dan salah satunya disertai dengan debu (pasir atau tanah yang suci). Kemudian proses penyamakan harus diakhiri dengan pembasuhan menggunakan air bersih dan suci. dilakukan dengan cara menghilangkan semua.[2]

Ketika ada seseorang menjemur kulit binatang dibawah sinar matahari, atau menyamak kulit tersebut menggunakan garam, debu, atau bahan (zat) lain yang dapat menghilangkan bau pada kulit (selain bahan yang rasanya tajam/sepet), kemudian kulit itu menjadi keras dan bau busuk dari kulit itu hilang sehingga menimbulkan bau wangi, maka kulit itu tetap tidak bisa menjadi suci karena kulit tersebut tidak diproses atau disamak dengan benar, yakni menggunakan bahan-bahan berasa tajam.

Dengan demikian,menyamak hanya bisa dilakukan dengan sesuatu yang rasanya tajam, tidak dengan yang lain. Meski penyamakan menggunakan bahan lain juga bisa menghilangkan bau busuk dari kulit binatang, tapi itu hanya bersifat sementara. Ketika kulit tersebut terkena air maka bau busuk yang telah hilang pasti akan kembali lagi.[3]

Tujuan Penyamakan

Tujuan penyamakan adalah supaya kulit menjadi suci, bersih, tidak bau, dan tahan lama. Semua kulit yang telah disamak berubah menjadi suci berlandaskan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim {أيّما إهاب دبغ فقد طهر}  dan {هلا أخذتم إهابها فدبغتموه، فانتفعتم به}, kecuali kulit anjing, babi, dan anak-anak hasil perkawinan silang dari anjing atau babi.

Dari hadis di atas, kita tahu bahwa semua kulit binatang–kecuali yang najis seperti anjing dan babi– dapat disamak dan dimanfaatkan, baik berupa kulit hewan yang disembelih maupun yang mati menjadi bangkai, kulit hewan yang halal maupun yang haram (kecuali anjing, babi, dan turunannya).

Hukum Kulit yang Telah Disamak

Semua bangkai binatang –kecuali ikan dan belalang– yang mati tanpa disembelih (menjadi bangkai) adalah najis dan haram dimakan, baik dari kategori hewan yang halal dagingnya maupun yang haram. Maka, kulit binatang yang aslinya suci pun berubah menjadi najis setelah menjadi bangkai. Oleh karenanya, perlu menyucikan dengan cara menyamak kulit hewan yang mati menjadi bangkai untuk dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah disamak, kulit-kulit bangkai binatang berubah dari najis menjadi suci yang masih berbalut najis (mutanajis). Jadi, hukum kulit hewan yang telah melalui proses penyamnakan berubah menjadi seperti pakaian suci yang terkena najis. Dalam arti,baru benar-benar suci dari najis setelah dibilas dengan air.

Ketika kulit sudah suci, maka produk-produk yang terbuat dari kulit itu boleh dijual-belikan, disewakan, digunakan dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Pakaian yang terbuat dari kulit boleh dikenakan saat shalat, thawaf, khutbah, dan ibadah-ibadah lainnya.[4] Bedug atau rebana dari kulit bangkai sapi atau kerbau yang telah disamak juga boleh diletakkan dan dimainkan di dalam masjid. Hanya saja, masih terjadi kontroversi dan perbedaan pendapat diantara ulama tentang memakan kulit hasil penyamakan tersebut.

Hukum Memakan Kulit yang Sudah Disamak

Perlu diketahui bahwa kulit yang disamak itu ada dua macam, yaitu

  1. Dari hewan yang sudah disembelih
  2. Dari hewan yang sudah menjadi bangkai
  • Memakan kulit yang disamak dari hewan yang sudah disembelih itu hukumnya diperbolehkan selama tidak ada madharat (dampak berbahaya).[5] Karena pada dasarnya, binatang yang disembelih menjadi halal untuk dimakan daging, kulit, dan bagian tubuh lainnya.
  • Adapun kulit dari hewan yang sudah menjadi bangkai diklasifikasikan menjadi dua, yaitu
  • Dari kategori hewan-hewan yang tidak haram dimakan seperti harimau, singa, dll.,
  • Dari kategori hewan-hewan yang halal dimakan seperti kambing, sapi, dll.
  • Memakan kulit yang telah disamak dari hewan yang haram itu hukumnya tetap tidak diperbolehkan[6], kendati sudah menjadi suci. Hal ini karena hukum-hukum hewan yang sudah mati itu seperti ketika masih hidup. Jadi, binatang yang haram dimakan tidak dapat berubah menjadi halal dengan menyembelihnya.
  • Memakan kulit yang telah disamak dari bangkai hewan yang halal itu ada dua pendapat;
  • Hukumnya tetap tidak diperbolehkan. Karena binatang tersebut sudah terlanjur menjadi bangkai, maka kulitnya pun menjadi haram untuk dikonsumsi, meski sudah berubah menjadi suci. Hukum ini berlandaskan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim {إنما حرم من الميتة أكلها}. Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama Syafi’iyah.
  • Sedangkan Imam Abu Hamid mengatakan bahwa, boleh memakan kulit hasil penyamakan sekalipun dari bangkai binatang yang halal. Hukum ini berdasarkan hadis {وذكاة الآدمي دباغه}. Pendapat ini merupakan pendapat yang diriwayatkan dari salah satu ashabus Syafi`i.[7]

Kesimpulan

  • Setiap kulit yang sudah disamak itu suci kecuali kulit anjing, babi, dan anak perkawinan silang darinya.
  • Semua kulit yang telah disamak boleh dimanfaatkan untuk apapun, termasuk untuk shalat dan tempat minuman.
  • Memakan kulit hewan yang haram dimakan dan sudah disamak itu hukumnya tidak boleh.
  • Memakan kulit hewan halal yang disembelihdan telah disamak itu hukumnya boleh.
  • Memakan kulit bangkai dari hewan halal yang telah disamak itu ada dua pendapat; pertama tidak boleh, kedua diperbolehkan memakannya.

DAFTAR PUSTAKA           

  1. Abi Al-abbas  Ahmad Al-Ramli, nihayat al-muhtaj,(dar al-fikr).
  2. Al-MausuatAl-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah.
  3. Muhammad bin Ahmad As-Shawi, hasyiyah as-shawi.
  4. Sulaiman Al-Bujairami, hasyiyah bujairami ala al-khatib, (dar al-fikr).
  5. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib As-Syirbini,al-iqna` fi halli alfadhi abi syuja`,(dar al-fikr).
  6. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib As-Syirbini, mughni al muhtaj,(dar al-kutub al-ilmiyah).
  7. Umar bin Muhammad, faid alilahi al-malik,(dar al-kutub al-ilmiyah).

[1]Umar bin Muhammad,  faidl al-ilah al-malik,(1/119).

[2]Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib As-Syirbini,al- iqna` fi halli alfadhi abi suja` dan Sulaiman Al-Bujarami,bujairami alaal- khatib, (1/ 99).

[3]Abi al-Abbas  Ahmad Ar-Ramli,nihayat al-muhtaj, (1/251).

[4]Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib As-Syirbini,mughni al-muhtaj, (1/238).

[5]Sulaiman Al-Bujarami,hasyiyah bujairami ala  al-khatib, (1/100).

[6]Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib As-Syirbini, syarahmughni al-muhtaj, (1/132).

[7]Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah,(20/233).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *