GARIS BESAR PROGRAM PENDIDIKAN PP. FADLLUL WAHID


GARIS BESAR PROGRAM
PENDIDIKAN
PP. FADLLUL WAHID
????????? ?????? ?????????? ??????????????? ????????? ?????? ???? ??????? ??????????? ???????????? ???????????? ? ???? ???????? ???? ????? ??????? ???? ?????? ???????? ????? ??????? ???? ? ?????????? ???? ??? ?????? ?????? ??????? ???????? ??? ??????? ???? ? ?????????? ????? ?????????? ???????? ??????????? . ?????????? ????? ????? ????????? ??????? ??? ????????? ????? ????????? ????? ???????????? ????? ???????????? ??????? ??????? ??????? ????????? ????? ????????? ??????? ??? ????????? ????? ????????? ????? ???????????? ????? ???????????? ??????? ??????? ???????  (??? ???)
A.       MUQADDIMAH
Tepatkah bahwa pondok pesantren adalah jawaban atau solusi untuk menggugurkan kewajiban seseorang dalam hal thalabul ilmi? Atau dengan kata lain, kewajiban orang tua dalam mendidik anak ketika sudah di masukkkan ke lembaga pendidikan pondok pesantren apakah sudah terpenuhi? Lalu membutuhkan waktu berapa lama untuk memenuhi target pendidikan tersebut?
Seorang muslim wajib ‘ain hukumnya mengetahui dasar-dasar hukum Islam, mengetahui apa yang akan dan harus ia lakukan, mengetahui hal-hal yang sewajarkan ia akan bersinggungan langsung atau terpaksa harus melakukan, serta mengetahui hal-hal apa saja yang bisa merusak akidah dan amal ibadahnya. Sedangkan dari sisi fardlu kifayah, harus ada seseorang yang secara khusus memperdalam dan menguasai ilmu agama (yang bukan sekedar fardhu ‘ain), hingga layak menjadi rujukan pertanyaan, sekaligus dapat membimbing masyarakat luas yang membutuhkan.
Untuk merealisasikan semua itu tentu harus ada yang mampu menjaga eskistensi kelimuan Islam, siap menjawab berbagai tantangan, serta dapat menjawab masalah-masalah yang relatif berat dan sulit yang muncul. Ringkasnya, seharusnya ada ilmuan Islam yang bisa mencari kebenaran, menjelaskan kebenaran, dan mempertahankannya.
Kalau kita melihat realitas lapangan, banyak santri-santri pondok pesantren salaf tradisional masa belajarnya tidak sama. Ada yang belum genap satu tahun sudah boyong. Hal ini biasanya karena faktor tidak kerasan. Ada yang hanya dua tahun, sehingga setelah berada di rumahnya masing-masing, mereka menjadi beragam dan variatif. Namun, juga ada yang meneruskan jenjang pendidikan atasnya. Secara factual, kelompok terakhir inilah yang paling besar jumlahnya. Diantara mereka ada yang mondok sampai tiga atau empat tahun, bahkan lima tahun. Tetapi kelompok yang terakhir ini relatif lebih sedikit. Selanjutnya ada santri yang berkesempatan thalabul ilmi lebih lama, hingga sampai sembilan tahun atau bahkan lebih.
B.       RANCANGAN PENDIDIKAN
Dengan  mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan, pendidikan pondok pesantren salaf tradisional minimal dapat di bagi tiga atau empat jenjang kelas. Yaitu dua tahun, tiga tahun, dan empat tahun.
1.        KELAS 2 TAHUN
Kelompok yang pertama ini ada yang masa tinggalnya di pesantren hanya dua tahun dan ada yang lebih (meneruskan kelas atasnya).
Untuk yang hanya dua tahun, pondok pesantren menargetkan mereka harus sudah mampu memahami betul tata cara beribadah dan bisa melakukanya dengan benar. Mereka juga tahu mana yang wajib, sunah, mubah dan haram. Dengan kata lain, santri kelompok ini sudah bisa mandiri dalam beribadah, yang berarti pula sudah terpenuhi kewajiban thalabul ilmi fardu ‘ainnya. Kelompok ini diproyeksikan menjadi muslim awam yang kreatif atau aktif.
Bagi yang melanjutkan lagi, selain mengetahui berbagai kebutuhan tersebut, mereka juga dipersiapkan untuk masuk jenjang pendidikan berikutnya. Sehingga hilang jurang pemisah, dan dalam perjalanan belajarnya terasa ada inter koneksi atau berkesinambungan. Dengan demikian, pengajaran dan pendidikan untuk jenjang kelas dua tahun ini di manej sedemikian rupa guna memenuhi kebutuhan seorang awam dan sekaligus menjadi pondasi atau batu loncatan untuk jenjang pendidikan berikutnya dengan sistem cepat dan tepat.
2.        KELAS 3 TAHUN
Kelompok  ini dipersiapkan untuk mampu menjadi guru dan pimpinan di daerahnya masing-masing. Untuk memenuhi target tersebut, santri diupayakan bisa memahami sebuah fan (bidang) ilmu agama dan diupayakan mampu memahami kitab-kitab salaf dengan sedikit ketergantungan kepada orang lain. Santri jenjang ini juga ditargetkan mengerti hukum Islam, baik ubudiyah maupun muamalah yang kerap muncul atau terjadi di masyarakat luas. Kelompok ini juga harus bisa memahami dan responsif terhadap berbagai hal baru dan bisa menerangkannya kepada masyarakat dari sisi hukumnya. Untuk mengatur dan mendukung keberhasilan program tersebut perlu diajarkan semua fan (cabang ilmu), hukum-hukum yang berkaitan dengan berbagai perilaku dan kebudayaan masyarakat, hakikat aliran theologi ahlussunnah wal jamaah, serta sedikit pengenalan tentang semua aliran agama atau sekte yang berkembangan di Indonesia.
3.        Kelas 3 Tahun
Kelompok ini diprogram untuk dapat menjadi rujukan kelompok sebelumnya. Dengan demikian, kelompok ini harus betul-betul memahami hukum dan bisa menjawab masalah waqiiyyah(fakta kasus) atau bahkan masalah-masalah yang jarang terjadi, atau mungkin belum diterangkan ulama-ulama salaf secara jelas. Kelompok ini juga harus bisa mempertahankan ajaran atau akidah ahlussunnah sekaligus dapat mengcounter paham-paham lain yang tidak sesuai. Maka, untuk merealisasikan pendidikan kelompok kelas tiga tahun ini dibutuhkan kecermatan dan ketelitian yang lebih dalam memahami kitab-kitab salaf guna mencari jawaban dan solusi masalah waqiah secara benar dan tepat. Santri kelompok ini juga harus mampu memahami dalil-dalil ahlussunnah wal jamaah serta kelemahan-kelemahan kelompok lain secara cermat dan teliti.
Adapun jenjang pendidikan berikutnya adalah kelompok yang sudah memilih satu fan ilmu yang diperdalam dan dikaji lebih jauh. Kelompok terahir ini hanya diarahkan dan dibimbing sesuai bakat dan kemauannya masing-masing untuk menjadi seorang profesional yang menekuni disiplin ilmu sesuai dengan bakat dan keahliannya.
Demikian sekilas dasar pemikiran pendidikan pondok pesantren salaf tradisional. Semoga bermanfaat. Walhamdu lillahi robbil alamin.
—***—

FADLLULWAHID

Pondok Pesantren Fadllul Wahid terletak di area pesawahan lebih persisnya tanah yang tinggi (angkruk, jawa) desa Bandungsari yang jauh dari kota ± 5 km arah barat kecamatan Ngaringan, 32 km arah timur dari kota kabupaten Grobogan Jawa Tengah. Atau secara geografis terletak pada koordinat 111.09 BT -7.03 LS. Pesantren ini berada agak jauh dari perkampungan karena memang asal mulanya bekas pesawahan yang cukup luas (7 hektar).

ada 7 komplek di dalamnya, yang masing-masing diberi nama para perawi hadits, yaitu:
1- Komplek A (Abu Hurairah)
2- Komplek B (Ibnu Umar)
3- Komplek C (Anas bin Malik)
4- Komplek D (Ibnu Abbas)
5- Komplek E (Jabir bin Abdillah)
6- Komplek F (Abu Sa’id al-Khudri)
7- Komplek G (Abul Hasan As-Syadziliy)

Secara sosial dan kultur masyarakat sekitar berasal dari masyayih, santri, pelajar dan petani. Heterogenitas juga dilihat dari beragamnya agama (Islam dan Kristen) yang dipeluk masyarakat sekitar pesantren. Tidak lebih dari radius 2 km terdapat 1 buah gereja dan beberapa masjid serta musholla yang berjejer-jejer. Namun demikian, bagi pemeluk Kristen jumlahnya sangat minim hanya segolongan saja. Meskipun demikian, kerukunan dan toleransi antar umat beragama terbina sangat baik sehingga tidak ada perselisihan yang berarti. Taraf ekonomi masyarakat sekitar didominasi oleh kalangan 65 % petani, 20 % pedagang, 10 % wiraswasta, dan 5 % buruh.