Oleh: Ust. Adib Khoironi

  1. Masalah Ke-enam belas

Dalam permasalahan sebelumnya telah dijelaskan bahwa ketika ada seseorang mempunyai dua air, antara air mutlak dan tidak, maka ia dituntut untuk ijtihad yaitu menentukan pilihan air yang ia anggap suci yang akan ia gunakan untuk bersuci, lalu haruskah ia berijtihad setiap kali akan melakukan bersuci, ataukah ia berijtihad setiap kali akan shalat?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar harus berijtihad setiap kali bersuci walaupun berupa bersuci yang diperbarui.
  • Sedangkan menurut Imam Ar-Ramli ijtihad harus dilakukan setiap kali akan shalat.

 

  1. Masalah Ke-tujuh belas

Bejana yang terbuat dari emas atau perak itu dilarang oleh syari’at. Begitu pula bejana selain emas dan perak yang ditambal menggunakan keduanya dengan tujuan memperindah, dan tambalan tersebut cukup besar/banyak. Namun, apabila tambalannya  berupa perak, sedikit, dan karena ada kebutuhan untuk menambal maka diperbolehkan. Lalu apabila tambalan dengan perak karena adanya kebutuhan akan tetapi mendominasi apakah juga diperbolehkan?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar, tidak diperbolehkan karena kesombongan yang ditimbulkan akan lebih kuat[1].
  • Sedangkan menurut Imam Ramli, diperbolehkan karena adanya hajat, maka tidak termasuk tambalan yang diharamkan[2].

 

  1. Masalah Ke-delapan Belas

Sudah kita ketahui bahwa menggunakan bejana yang terbuat dari emas atau perak tidak diperbolehkan, kecuali dalam keadaan darurat. Adapun bejana selain mas dan perak, apabila disepuh dengan emas atau perak maka diperbolehkanketika sepuhannya sedikit, sekira apabila dibakar sepuhannya tidak ada yang lepas. Sedangkan ketika sepuhannya banyak, sekira ketika dibakar ada yang lepas, maka hukumnya haram. Sebaliknya, apabila bejana tersebut terbuat dari emas atau perak, lalu disepuh menggunakan bahan logam lain, semisal besi dan alumunium, maka hukumnya sebagai berikut:

  • Menurut Imam Ibnu Hajar diperbolehkan[3].
  • Menurut Imam Ramli diperbolehkan ketika sepuhannya banyak, dan haram apabila sebaliknya, karena sepuhannya dianggap sedikit sehingga seperti tidak ada[4].
  • Sedangkan menurut Imam Rafi’i haram secara mutlak[5].

 

  1. Masalah Ke-sembilan belas

Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli sepakat bahwa hukumnya makruh bersiwak (dihukumi seperti bersiwak yaitu gosok gigi) setelah waktu dzuhur, ketika tidak ada perkara yang menjadikan berubahnya bau mulut, seperti perubahan yang disebabkan tidur atau dia lupa memakan makanan yang berbau tidak sedap. Lalu apabila bau mulut berubah disebabkan oleh hal-hal tersebut, apakah tetap makruh bersiwak setelah waktu dzuhur?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar makruh. Karena dengan ia menggosok gigi, akan hilang juga bau mulut akibat berpuasa[6].
  • Sedangkan menurut Imam Raml itidak makuh. Dalam masalah ini, ia mengikuti pendapat ayahandanya yang menuqil pendapat At-Thobari dalam Syarah Tanbih[7].

Dalam hal ini, Syaikh Khatib As-Syirbini sepakat dengan Imam Ramli[8].

 

  1. Permasalahan Ke-duapuluh

Bersiwak merupakan hal yang sangat dianjurkan dalam Islam, lebih-lebih saat akan berwudhu. Anjuran ini berdasarkan sabda nabi:

 لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ

Artinya: seandainya saja tidak memberatkan pada umatku niscaya akan saya perintahkan (wajibkan) bersiwak setiap berwudhu.

Adapun perkara-perkara yang bisa digunakan untuk bersiwak adalah perkara yang kasar, dan yang lebih utama yang mempunyai bau harum seperti kayu arok[9]. Lalu, apakah boleh bersiwak menggunakan perkara yang kasar tapi najis?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar sah walaupun setelahnya wajib untuk membasuh mulut, karena tujuan dari siwak adalah membersihkan dan tujuan itu bisa tercapai dengan barang kasar walaupun najis[10].
  • Menurut Imam Ramli tidak sah, sebab ada hadis yang berbunyi:

{ السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ }

Artinya: siwak itu mensucikan mulut.

Dengan demikian, bersiwak menggunakan barang najis bukan mensucikan mulut tapi malah menajiskan mulut[11].

Pendapat Imam Ibnu Hajar di atas  cocok dengan pendapatnya Al-Isnawi, dan Syarah Ar-Raudh[12].

Sedangkan Khatib As-Syirbini, dalam masalah ini, sepakat dengan Imam Ramli[13].

 

  1. Masalah Ke-duapuluh satu

Pada masalah sebelumnya sudah dijelaskan bahwa kriteria perkara yang bisa dibuat bersiwak adalah perkara yang kasar, dan yang lebih utama yang mempunyai bau harum seperti kayu arok. Jika perkara kasar tersebut adalah jari (baik jarinya sendiri ataupun jarinya orang lain) apakah tetap sah untuk bersiwak?

Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli sepakat bahwa bersiwak menggunakan jari sendiri walaupun kasar tidak sah. Ini sesuai pendapat al-ashoh dalam madzhab Syafi’i. Sedangkan menurut Imam Nawawi (yang mengikuti pendapatnya Imam Ar-Ruyani) hukumnya sah bersiwak menggunakan jarinya sendiri yang kasar[14]. Begitu juga, ketika menggunakan jari orang lain yang (tidak terputus) hukumnya tetap sah[15]. Sedangkan bersiwak memakai jari yang terputus/terpisah, baik miliknya sendiri maupun milik orang lain, dua ulama’ ini berbeda pendapat sebagai berikut:

  • Menurut Imam Ibnu Hajar bersiwak menggunakan jari putus hukumnya sah[16].
  • Sedangkan menurut Imam Ramli, hukumnya tidak sah[17].

 

  1. Masalah kedua puluh dua

Niat merupakan hal paling penting dalam ibadah, karena niatlah yang membedakan suatu pekerjaan itu dikatakan sebagai ibadah atau tidak. Suatu pekerjaan, walaupun kelihatannya sama persis dengan ibadah, tapi apabila tidak ada niat maka tidak dikatakan sebagai ibadah. Seperti contoh:  ada dua orang yang sama-sama mandi pada pagi hari jum’at, apabila yang satu niat mandi sunah hari jum’at dan yang satu mandi tanpa ada niat, maka orang yang mandi dengan niat tadi mendapat pahala melakukan kesunahan, sedangkan orang yang satunya tidak mendapatkan apa-apa. Adapun dalil disyariatkannya niat yaitu:

{ إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ }

Artinya: sesungguhnya setiap amal itu membutuhkan niat (supaya dikatakan sah).

Adapun niat itu dilakukan saat awal kali melakukan suatu ibadah, seperti dalam sholat niatnya saat takbirotul ikrom, sedangkan pada wudhu niatnya dilakukan saat membasuh wajah. Lalu ketika niat wudhu dilakukan tidak saat membasuh wajah tapi merupakan anggota yang menjadikan sempurnanya basuhan wajah, apakah niat tersebut mencukupi ?

  • Menurut Imam Ramli tidak mencukupi ketika dimulai dari anggota tersebut karena anggota tersebut merupakan taba'iyah[18].
  • Sedangkan menurut Imam Ibnu Hajar sah, melihat penjelasan beliau dalam kitah Tuhfah Al-Muhtaj bahwa termasuk dari wajah yaitu semisal dari jenggot[19].

تحفة المحتاج في شرح المنهاج - (ج 2 / ص 357)

( وَيَجِبُ قَرْنُهَا ) أَيْ النِّيَّةِ ( بِأَوَّلِ ) مَغْسُولٍ ( مِنْ الْوَجْهِ ) وَمِنْهُ مَا يَجِبُ غَسْلُهُ مِنْ نَحْوِ اللِّحْيَةِ قَالَ بَعْضُهُمْ وَمِنْ مُجَاوِرِهِ مِنْ نَحْوِ الرَّأْسِ وَظَاهِرُ كَلَامِهِمْ يُخَالِفُهُ ، وَيَظْهَرُ أَنَّ مَا يَجِبُ غَسْلُهُ مِنْ الْأَنْفِ الْآتِي لَيْسَ كَالْمُجَاوِرِ ؛ لِأَنَّ هَذَا بَدَلٌ عَنْ جُزْءٍ مِنْ الْوَجْهِ فَأُعْطِيَ حُكْمَهُ بِخِلَافِ ذَاكَ وَذَلِكَ لِيَعْتَدَّ بِمَا بَعْدَهُ فَلَوْ قَرَنَهَا بِأَثْنَائِهِ كَفَى وَوَجَبَ إعَادَةُ غَسْلِ مَا سَبَقَهَا لِوُقُوعِهِ لَغْوًا بِخُلُوِّهِ عَنْ النِّيَّةِ الْمُقَوِّمَةِ لَهُ

 

  1. Masalah ke-dua puluh tiga

Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli sepakat bahwa orang yang masih mempunyai wudhu disunahkan untuk memperbarui wudhunya ketika ia akan melakukan ibadah, dengan ketentuan wudhu yang pertama sudah digunakan untuk shalat, walaupun hanya satu rakaat. lalu apabila ia memperbarui wudhu dengan niat menghilangkan hadas atau niat supaya diperbolehkan sholat dll apakah mencukupi ?

  • Menurut imam Ibnu Hajar mencukupi selama tidak dituju makna hakikatnya seperti halnya dalam sholat I’adah[20].
  • Menurut Imam Ramli (yang mengikuti pendapat ayahnya) tidak mencukupi[21].

Dalam hal ini, Khotib As-Syirbini sependapat dengan Imam Ramli[22].

Pendapat Imam Ramli juga selaras dengan pendapat Syaikh Zakariya Al-Ansori[23].

 

  1. Masalah ke-dua puluh empat

Seseorang ketika berwudhu apabila niatnya adalah berwudhu disertai dengan niat mendinginkan anggota tubuh maka menurut Ibnu Abdissalam wudhu tersebut tidak ada pahalanya sama sekali.

Menurut Imam Ibnu Hajar, diberi pahala sesuai kadar niatnya untuk berwudhu.

Sedangkan menurut Imam Al-Ghozali, diberi pahala sesuai dengan niatnya apabila niat untuk akhirat yang lebih mendominasi.

 

  1. Masalah ke-dua puluh lima

Membasuh wajah merupakan fardhu wudhu yang kedua setelah niat. Adapun batas wajah yang wajib dibasuh yaitu: lebarnya antara kedua telinga,  panjangnya antara tempat tumbuhnya rambut dan ujung dagu[24]. Lalu rambut bagian dalam yang tumbuh pada wajah, dan memanjang melewati batas wajah, apakah juga wajib dibasuh saat berwudhu?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar, wajib dibasuh bagian luar dan dalamnya walaupun lebat[25].
  • Sedangkan menurut Imam Ramli, yang wajib dibasuh bagian luarnya saja ketika lebat[26].

 

  1. Masalah ke-dua puluh enam

Fardlunya wudhu yang nomer empat yaitu mengusap sebagian kepala. Usapan ini sah dilakukan walaupun pada sebagian kecil dari kepala, bahkan hanya satu helai rambut. Namun menurut Al-Baghowi, pendapat yang lebih utama yaitu apabila usapan itu kurang dari kadar ubun-ubun maka tidak sah, karena nabi tidak mengusap kurang dari itu[27]. Lalu apabila pada kepala seseorang ada kain, kemudian ia menaruh tangannya yang basah pada kain tersebut sehingga airnya meneresap sampai mengenai kepala tapi ia tidak bertujuan untuk mengusap kepalanya, apakah usapan tersebut sah/mencukupi?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar sah. Karena, apabila membasuh tidak perlu niatmaka begitu pula dengan mengusap.
  • Adapun pendapat yang mengatakan tidak sah memberi alasan karena lemahnya usapan beda halnya dengan membasuh yang dianggap kuat.

 

 

Pengajian Ramadhan 1441 H. di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah

Diampu oleh: KH. Habibul Huda Bin Najid

 

 

 

 

[1]Tuhfah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 31.

[2] Nihayah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 321.

[3]Tuhfah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 17.

[4]Nihayah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 315.

[5] Asna Al-Mathalib juz: 1, hlm: 141.

[6]Tuhfah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 462.

[7] Hasyiyah Ar-Ramli juz: 1, hlm: 36.

[8] Tuhfah Al-Habib juz: 1, hlm: 177.

[9] Fathul mu’in hlm: 16.

[10]Tuhfah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 431.

[11]Nihayah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 56.

[12] Hawasyi As-Syarwani juz: 1, hlm: 215.

[13]Mugni Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 248.

[14]Asna Al-Mathalib juz:1, hlm: 189.

[15]Tuhfah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 431.Nihayah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 56.

[16]Tuhfah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 431.

[17]Nihayah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 56.

[18]Nihayah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 14.

[19]Tuhfah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 357.

 

[20]Tuhfah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 342.

[21]Nihayah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 490.

[22]Mugni Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 204.

[23]Asna Al-Mathalib juz:1, hlm: 159.

[24] Fathul mu’in hlm: 14.

[25]Tuhfah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 387.Fathul mu’in hlm: 14.

[26]Nihayah Al-Muhtaj juz: 2, hlm: 22.

[27]Fathul mu’in hlm: 15.