Berbagi Pengalaman

Oleh: Hadi Nashiri Zainal Muttaqin بسم الله الرحمن الرحيم Alhamdulillahirobbil

Berbagi Pengalaman

Oleh: Hadi Nashiri Zainal Muttaqin

بسم الله الرحمن الرحيم

Alhamdulillahirobbil ‘alamin segala puji bagi Alloh pencipta alam semesta. Solawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada sebaik-baiknya ciptaan Tuhan Nabi Muhammad SAW.
Pada kesempatan kali ini akan saya sampaikan sedikit pengalaman saya selama mengikuti kegiatan lomba MQK (Musabaqoh Qiro’atil Kutub) sebagai delegasi dari Pondok Pesantren Fadllul Wahid mewakili Kabupaten Grobogan.

Pada malam itu, saat musyawaroh, saya dipanggil oleh Ustadz, kemudian beliau berkata : “kowe sesok melu lomba Waroqot ya!” (besok kamu ikut lomba Warokot ya!), Warokot adalah nama salah satu kitab dalam bidang Usul Fiqih. Namun belum sempat saya menjawab Beliau sudah berkata lagi “wes mbalek kono!” (sudah balik sana!). Akhirnya sayapun hanya bisa pasrah mengingat itu adalah perintah Ustadz.
Tak terasa sudah tiba waktu pelaksanaan lomba itu pada tanggal 28–30 November 2016 di PP. Ma’hadut Tholabah Lebaksiu Kab. Tegal. Saya dan tujuh teman saya dari PP. Fadllul Wahid berangkat menuju Purwodadi pada pukul 10.00 malam WIB ditemani Ustadz. Dari Purwodadi pukul 02.00 pagi WIB dan sampai di Tegal pukul 08.00 WIB.

MQKdi Tegal ini diikuti oleh Perwakilan tiga puluh lima Kabupaten dari seluruh Provinsi Jawa Tengah. Saya mendapat nomor urut tampil kelima. Sebenarnya mulai dari awal saya sudah optimis karena melihat penampilan dari Perwakilan Kabupaten lain yang mungkin bisa dikatan biasa saja, bahkan ada yang disuruh maju masih merasa belum siap.

Hari terakhir sudah tiba, dan sebelum pulang pengumuman hasil lomba dibacakan. Saya dan teman teman tetap mengikuti pengumuman walau dengan hati yang cemas. Sebenarnya saya tidak berharap banyak untuk mendapat juara tapi tiba – tiba tak disangka nama saya disebut di urutan paling atas dan yang akan mewakili Jawa tengah di MQKtingkat Nasional.

Setelah lewat enam bulan, malam itu saya dipanggil untuk menuju kantor pondok Pesantren. Lalu saya disodori selembar kertas yang bertuliskan “SURAT TUGAS” dari KEMENAG. Ternyata didalamnya berisi tentang undangan untuk mengikuti “Orientasi Peningkatan Kualitas Kafilah” di Semarang.
Menurut informasi dari pihak KEMENAG, MQKN akan dilaaksanakan di Kab. Jepara tgl 29 November – 07 Desember 2017 Maka sayapun harus lebih serius lagi dalam belajar melihat waktu yang sudah semakin dekat.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang, selama sembilan hari di Jepara, saya mendapatkan banyak sekali pengalaman, dua hari pertama Penyambutan setiap Kafilah dari seluruh Indonesia. Hari berikutnya Pembukaan, tiga hari kemudian acara lomba, dilanjutkan Penutupan, Dharma wisata dan Pemulangan seluruh Kafilah.

Ketentuan perlombaan yang dicanangkan sangat menarik dan seru. Terdiri dari penyisihan dan juga final. Juri terdiri dari Tiga orang. Masing– masing dari Mereka ada yang menilai segi bacaan, terjemahan, dan pemahaman.

Lomba yang saya ikuti terdiri dari lima puluh satu peserta. Mereka semua sama–sama memiliki kemampuan yang hebat walaupun ada satu atau dua orang yang belum begitu siap. Akan tetapi saya tetap optimis dan yakin juara, karena memang bimbingan yang diberikan Ustadz sudah sangat maksimal.

Hari penutupan telah tiba. Saya dan seluruh teman Kafilah dengan berharap-harap cemas mengikuti pengumuman yang disampaikan. Saya mulai menyimak pengumuman walau dalam hati kemungkinan sangat kecil untuk menjadi seorang juara, saya harus siap menerima apaun yang terjadi. Satu persatu nama dipanggil. Semakin kecil harapan saya karena nama saya tidak disebut. Namun ternyata Alhamdulillah nama saya disebut di urutan pertama, saya pun pulang dengan perasaan bangga, karena berhasil membawa nama baik PP. Fadllul Wahid.

Dari pengalaman yang saya peroleh, sebenarnya Pondok Pesantren Fadllul Wahid memiliki potensi yang cukup besar untuk mengikuti perlombaan, mulai dari tingkat Provinsi sampai tingkat Nasional. Terbukti ketika undangan MQKtahun 2016-2017 PP. Fadllul Wahid bisa memberikan yang terbaik, melihat tahun sebelumnya yang belum pernah mendapat prestasi setinggi ini.
Di PP. Fadllul Wahid sendiri kitab kuning merupakan makanan pokok sehari-hari, jadi sudah tidak perlu ditanyakan lagi.

Sekian semoga bermanfaat. Amiin

Comments

There are 0 comments on this post

Leave A Comment