Oleh: Ust. Ahmad Rozikan

MENGENAL ALLAH SWT

       Setiap muslim yang mukallaf (baligh dan berakal) wajib mengenal atau mengetahui Allah SWT. Dan tentunya mengenal Allah tidak mungkin dengan melihat sosoknya, melainkan dengan mengetahui sifat-sifatNya, seperti yang sudah dijelaskan dalam kajian sebelumnya. Kemudian disamping wajib mengetahui sifat-sifat Allah, seorang mukallaf juga wajib mengetahui dalil-dalil atau bukti-bukti kebenaran dari sifat-sifat tersebut, meskipun hanya melalui Dalil Ijmali (Dalil yang bersifat umum atau global). sehingga jika seorang mukallaf tidak mengetahuinya, maka ia dianggap sebagai Muqollid (hanya ikut-ikutan saja dalam berakidah), dan keimanannya masih diperselisihkan keafsahannya.

Dalil Ijmali dan Dalil Tafsili

Dalil ijmali adalah dalil yang bersifat umum, artinya seseorang yang berargument menggunakannya tidak mampu menguraikannya secara rinci dan tidak mampu mempertahankannya jika ada sanggahan atau keisykalan terkait dengan dalil tersebut, seperti seseorang yang ditanya tentang dalil wujudnya Allah? Kemudian ia menjawab “Dalilnya adalah wujudnya alam ini”, tanpa ia mampu menguraikannya dan menjawab pertanyaan seseorang yang datang menyanggahnya.

Sedangkan dalil tafsili adalah dalil yang bersifat rinci, artinya seseorang yang berargument menggunakannya mampu menguraikannya secara gamblang dan mampu mempertahakannya jika terdapat saggahan atau keisykala terkait dengan dalil tersebut, seperti seseorang yang ditanya tentang dalil wujudnya Allah SWT? Kemudian ia menjawab “Dalilnya adalah alam ini mengalami perubahan, dan setiap yang berubah adalah perkara baru, sedangkan perkara baru pasti membutuhkan sang pencipta”, dan ia mampu mejawab jika ada seseorang yang datang menyanggahnya.

Arti Muqollid

Muqollid adalah seseorang yang dalam berakidah hanya mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya.

Muqollid dibagi menjadi dua:

  1. Muqollid jazim, yaitu muqollid yang keteguhan imannya kuat, artinya apabila si-muqollad (orang yang diikuti) merubah akidahnya, maka ia tetap dalam keimanannya.
  2. Muqollid ghoir al-jazim, yaitu muqollid yang lemah pendirian imanya, artinya apabila si-muqollad merubah akidahnya maka ia ikut merubah akidahnya.

Hukum Imanya Muqollid

Keimanan muqollid yang ghoru jazim itu tidak sah secara pasti, artinya ia masih dianggap kafir. Sedangkan keimanan muqollid yang jazim, Ulama’ berbeda pendapat:

  1. Pendapat Imam As-Sanusi (termasuk salah satu ulama’ muhaqqiqin): Imannya muqollid jazim tidak sah, artinya masih dianggap
  2. Pendapat kedua: Imannya muqollid jazim sah tetapi berdosa jika ia sebenarnya mampu untuk belajar.
  3. Pedapat ketiga: Iman muqollid jazim sah tetapi berdosa secara mutlak.
  4. Pedapat keempat: Iman muqollid jazim sah dan tidak berdosa secara mutlak.

Disampaikan oleh Imam Ibnu Hajar bahwa sebagian ulama’ mengingkari kewajiban mengenal Allah dengan ketentuan di atas; sebab setiap orang di dunia inidilahirkan dalam keadaan fitrah yang secara otomatis label keimanan melekat kepadanya, sebagaimana sabda beliau Nabi Muhammad SAW:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُوْلَدُ عَلَى الفِطْرَةِ

“Setiap manusia terlahir dalam keadaan suci”

Pendapat ini selaras dengan apa yang di sampaikan oleh Abu Manshur Al Maturidi yang mengatakan bahwa muslim yang awam adalah orang yang beriman kepada Allah dan mengenalNya, sehingga kelak di akhirat akan menjadi penghuni surga.[1]

 

Pengajian Ramadhan 1441 H. di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah

Diampu oleh: KH. Habibul Huda Bin Najid

 

[1]Al Khulashoh Asy Syafiyah Fi Isthilahat Al Fuqoha’Asy Syafi’iyyah karya KH. Habibul Huda