Kajian Kitab Durusut Tauhid Karya Sayyid Muhammad Bin Ahmad Bin Umar As Syathiri (3)

Oleh: Ust. Ahmad Rozikan

 

Istilah - Istilah Dalam Ilmu Tauhid Yang Wajib Diketahui

Diantara hal yang sering menghambat para pelajar dalam memahami bidang ilmu tertentu adalah ketidak fahaman mereka terhadap istilah-istilah yangada di dalamnya. Misalnya dalam bidang ilmu hadits, andai seorang pelajar tidak faham tentang Mushtholah Hadits, tentu ia akan kesulitan dalam mengarungi luasnya ilmu hadits yang didalamnya penuh dengan istilah, seperti Muttafaq Alaih, shohih, hasan, ghorib, mungkar, dll.  Lalu dalam bidang ilmu fikih, Pelajar yang tidak faham tentang Mushtholah Al-Fuqoha’ (istilah-istilah yang dipakai fuqoha’ dalam membingkai hukum fikih), pasti akan kesulitan memahami mana hukum yang boleh diamalkan dan mana yang tidak boleh. Begitu juga dalam bidang ilmu Tauhid, banyaknya istilah yang dipakai di dalamnya akan menghambat para pelajar jika tidak memahami terlebih dahulu apa makna dari istilah-istilah tersebut.

Dan berikut ini adalah beberapa istilah yang sering mucul dalam Ilmu Tauhid:

  1. Alam adalah selain Allah SWT, seperti bumi, langit, manusia, hewan, tumbuhan, gunung, dll.
  2. Jauhar adalah sesuatu yang substansi perwujudannya independent (tidak melekat pada perkara lain), atau disebut  juga dengan Jirmu atau Jismu yang bermakana benda. Contoh: gunung, hewan, dan
  3. Aradh adalah kebalikan dari jauhar, yakni suatu yang tidak mempunyai substansi wujud independent, artinya perwujudannya memerlukan atau menempel pada sesuatu yang lain, seperti gerakan, diam, hitam, putih, dll.
  4. Hal (حال) adalah sifat (status) tengah–tengah antara ada dan tiada, artinya tidak sampai dikatakan ada sehingga bisa dilihat, dan tidak sampai dikatakan tiada sehingga tidak ditemukan keberadaannya, melainkan hal berada di tengah-tengah antara keduanya. Contoh: sifat wujudnya Allah. Wujudnya Allah itu Hal ((حال, artinya wujudNya tidak bisa dilihat, namun bukan berarti tidak Sebagian ulama’ menafikan keberdan Hal. Mereka berkata: “Tidak ada status tegah-tengah antara ada dan tiada. Hal itu muhal (secara akal)”.
  5. Hadits adalah ada (tercipta) setelah tiada, yakni segala sesuatu selain Allah dan
  6. Qodim dan Azali, terdapat perbedaan pendapat:
  7. Sebagian Ulama’ mengatakan: qodim dan azali bermakna sama, yakni sesuatu yang tidak memiliki permulaan, atau sesuatu yang wujudnya tidak ada
  8. Sebagian Ulama’ yang lain mengatakan: qodim dan azali berbeda. Qodim adalah wujud yang tidak memiliki permulaan, sehingga tidak memasukkan Hal dan Ma’dum (tiada); karena keduanya tidak wujud, sedangkan azali adalah sesuatu yang tidak memiliki permulaan, baik sesuatu tersebut wujud, Ma’dum atau hal. Sehingga menurut pendapat ini Azali lebih umum daripada Qodim.[1]
  9. Naqidhan adalah dua status yang tidak mungkin kumpul secara bersama dan tidak mugkin tiada secara bersamaan, seperti hidup dan mati, gerak dan diam, qodim dan hadits.

Dalam istilah ilmu mantiq naqidhan lebih dikenal dengan istilah mani’atujam’in wa khuluwin.

  1. Dhiddan adalah dua status yang tidak mungkin kumpul secara bersama, akan tetapi mungkin hilang secara bersama, seperti hitam dan putih.

Dalam istilah ilmu mantiq dhiddan lebih dikenal dengan istilah mani’atu jam’in. Akantetapi dalam praktiknya, banyak istilah dhiddan yang digunakan pada perkara yang sebenarnya berstatus naqidhan.

  1. Nadzori adalah sesuatu yang butuh pemikiran dan pengamatan, seperti memahami satu adalah setengah dari seperenam sepersepuluhnya seratus duapuluh.
  2. Dhoruri atau badahi adalah sesuatu yang tidak butuh pemikiran danp engamatan, seperti mengetahui satu adalah setengah dari dua.

Pengajian Ramadhan 1441 H. di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah

Diampu oleh: KH. Habibul Huda Bin Najid

 

[1]Menurut Syeikh Al Bajuri dalam Hasyiyahnya Ala al Jauhar sebenarnya dalam permasalahan qodim dan Azali ini terdapat tiga perbedaan pendapat.Untuk lebih lengkapnya baca Aun Al Murid halaman 24, karya Asep Abdul Qodir Jaelani.