Oleh: Ust. Ahmad Rozikan

HUKUM MUTLAQ

Pada kajian pertama telah disebutkan bahwa sebagian besar pembahasan ilmu tauhid didominasi oleh pejelasan sifat wajib, jaiz dan mustahil bagi Allah dan RasulNya. Ketiga sifat tersebut sebenarnya merupakan bagiaan dari Hukum Aqli (Hukum yang bersumber dari akal pikiran). Sedangkan Hukum Aqli adalah bagian dari Hukum Mutlaq (hukum secara umum). Maka sebelum jauh membahas tentang sifat-sifat Allah dan Rasulya, kita harus memahami dulu apa itu Hukum Mutlaq, apa itu Hukum Aqli, dan apa saja yang dibahas didalamnya; karena dengan memahami hukum-hukum tersebut, kita akan dapat memilah - milah hukum mana yang mestinya kita gunakan untuk menyikapi suatu permasalah yang ada di depan kita.

Definisi Hukum Mutlaq (Secara Umum)

Hukum Mutlaq adalah menetapkan atau menafikan status pada suatu perkara, seperti menetapkan status qidam pada Allah SWT, menafikan status hudus (baru) dari Allah SWT, menetapkan status kewajiban wudhu untuk syarat shalat, dan menetapkan status suburnya tanaman pada pemupukan.

 

Pembagian Hukum Mutlaq

Hukum mutlaq dibagi menjadi tiga: (1) Hukum Syar’i, (2) Hukum ‘Adi, (3) Hukum Aqli.

 

  1. Hukum Syar’i

Hukum syar’i adalah hukum yang bersumber dari firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW yang ditujukan kepada umat, baik berkaitan dengan Taklif (beban tugas), seperti kewajiban shalat, atau berkaitan dengan Wahd’i (aturan-aturan), seperti wudhu menjadi syarat shalat.

 

  1. Hukum ‘Adi

Hukum ‘adi adalah menetapkan atau menafikan status pada suatu perkara berdasarkan kejadian yang berulang-ulang atau adat, meskipun adat tersebut terkadang tidak berlaku pada suatu hari karena unsur semisal mukizat atau keramat. Contoh: menetapkan status “membakar” pada api, meskipun status tersebut tidak berlaku pada Nabi Ibrahim saat dibakar oleh Raja Namrut;  karena mukjizatnya.

 

Hukum ‘adi dibagi menjadi empat:

  1. Menghubungkan wujud pada wujud, seperti menghubungkan wujudnya kenyang pada wujudnya makan.
  2. Menghubungkan wujud pada tidak wujud, seperti menghubungkan wujudnya malam pada tidak wujudnya siang.
  3. Menghubungkan tidak wujud pada wujud, seperti menghubungkan tidak wujudnya siang pada wujudnya malam.
  4. Menghubungkan tidak wujud pada tidak wujud, seperti menghubungkan tidak wujudnya kenyang pada tidak wujudnya makan.

 

  1. Hukum Aqli

Hukum aqli adalah menetapkan atau menafikan status pada suatu perkara berdasarkan akal pikiran, seperti menetapkan status wujud bagi Allah dan menafikan status tiada dariNya.

 

Hukum aqli dibagi menjadi tiga: yaitu (1) wajib, (2) jaiz, (3) mustahil

 

1. Wajib adalah sesuatu yang tidak mungkin tiada secara akal.

Wajib dibagi menjadi dua:

a. Badihi (diketahui tanpa butuh berfikir), seperti wujudnya Sang Pencipta Alam.

b. Nadzori (diketahui lewat berfikir), seperti menetapkan qidam bagi Allah SWT.

 

2. Jaiz adalah sesuatu yang mungkin terjadi mungkin tidak secara akal.

Jaiz dibagi dua:

a. Dhoruri, seperti hidup dan matinya seseorang.

b. Nadzori, seperti disiksanya orang yang taat, walaupun secara syara’ tidak mugkin, kerena Allah tidak mungkin melanggar janjiNya.

 

3. Mustahil adalah sesuatu yang tidak mungkin wujud secara akal. Mustahil dibagi menjadi dua:

a. Badihi, seperti satu adalah setengahnya empat.

b. Nadzori, seperti Allah SWT mempunyai jasad. Ini tidak mungkin secara akal.

 

 

Pengajian Ramadhan 1441 H. di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah

Diampu oleh: KH. Habibul Huda Bin Najid