Oleh: Ust. Ahmad Rozikan

SIFAT - SIFAT ALLAH SWT

Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa mengenal Allah SWT tidaklah mungkin kecuali dengan mengetahui sifat – sifatNya. Lalu apa yang dimaksud dengansifat itu sendiri? Sifat adalah status yang melekat pada suatu dzat, seperti sifat pintar, tampan, kaya, dan dermawan yang melekat pada diri seorang Zaid. Begitu juga dengan sifat-sifat Allah, seperti Wujud, Qidam, Baqa’ dst. Yang dimaksud dengan sifat-sifat tersebut adalah status-status yang melekat pada DzatNya.

Kemudian sifat-sifat Allah ini, oleh Ulama’ dikelompokkan mejadi tiga bagian sesuai dengan perincian Hukum Aqli yang telah dijelaskan pada kajian sebelumnya, yakni sifat wajib, sifat muhal dan sifat jaiz.

 

A. Sifat Wajib[1]

Secara umum, semua sifat kesempurnaan dan sifat keagungan adalah sifat wajib bagi Allah, sehingga jumlahnya tidak terhitung. Akantetapi yang wajib diketahui oleh mukallaf hanyalah duapuluh, yaitu (1) Wujud –ada-, (2) Qidam -dahulu-, (3) Baqo’-kekal-, (4) Mukholafatu lilhawaditsi –berbeda dengan makhluqNya-, (5) Qiyamuhu bi nafsihi –tidak butuh pada makhluq-, (6) Wahdaniyyah -esa-, (7) Qudroh -kuasa-, (8) Irodah –berkehendak-, (9) Ilmu -mengetahui-, (10) Hayat -hidup-, (11) Sama’ -mendengar-, (12) Bashor -melihat-, (13) Kalam -berfirman-, (14) Kaunuhu Qodiron -Allah Dzat Yang Kuasa-, (15) Kaunuhu Muridan -Allah Dzat Yang Berkehendak-, (16) Kaunuhu ‘Aliman -Allah Dzat Yang Mengetahui-, (17) Kaunuhu Hayyan -Allah Dzat Yang Hidup-, (18) Kaunuhu Sami’an -Allah Dzat Yang Mendengar-, (19) Kaunuhu Bashiron -Allah Dzat Yang Melihat-, (20) Kaunuhu Mutakalliman -Allah Dzat Yang Berfirman-.

 

B. Sifat Muhal/Mustahil[2]

Secara umum juga, semua sifat yang menunjukkan kekurangan atau kelemahan adalah sifat muhal bagi Allah, sehingga jumlahnya juga tidak terhitung, akan tetapi yang wajib diketahui oleh mukallaf hanyalah duapuluh, yang merupakan kebalikan dari duapuluh sifat wajib Allah di atas, yaitu (1) Adam –tidakada-, (2) Hudus -baru-, (3) Fana’ -musnah-, (4) Mumatsalatu lilhawaditsi –serupa dengan makhluq-, (5) Ihtiaju lighoirihi –butuh pada yang lain-, (6) Ta’addud -berbilangan-, (7) Ajzun -lemah-, (8) Karohah -terpaksa-, (9) Jahlun -bodoh-, (10) Mautun -mati-, (11) Shummun -tuli-, (12) ‘Umyun -buta-, (13) Bukmun -bisu-, (14) Kaunuhu ‘Ajizan -Allah Dzat Yang Lemah-, (15) Kaunuhu Karihan -Allah Dzat Yang Terpaksa-, (16) Kaunuhu Jahilan -Allah Dzat Yang Bodoh-, (17) Kaunuhu Mayyitan -Allah Dzat Yang Mati-, (18) Kaunuhu Ashomma -Allah Dzat Yang Tuli-, (19) Kaunuhu A’ma -Allah Dzat Yang Buta-, (20) Kaunuhu Abkama -Allah Dzat Yang Bisu-.

 

C. Sifat Jaiz[3]

Sifat jaiz Allah hanya ada satu, yaitu fi’li kull imumkinin autarkuhu, artinya Allah berhak menciptakan atau mentiadakan setiap hal yang bersifat mumkin (boleh terjadi boleh tidak), seperti menciptakan manusia, mentiadakan imannya Abu Jahal dan lain – lain.

 

D. Klasifikasi (Pengelompokan) Sifat-Sifat Wajib Allah

Duapuluh sifat wajib Allah diatas dibagi menjadi empat kelompok:

  1. Nafsiyyah adalah sifat (status) yang tanpanya keberadaaan suatu dzat tidak akan nyata. Yaitu sifat wujud –ada-.

 

  1. Salbiyyah adalah sifat yang menafikan hal – hal yang tidak layak bagi Allah. Adapun yang masuk dalam kelompok ini jumlahnya ada lima, yaitu (1) Qidam -dahulu-, (2) Baqo’ -kekal-, (3) Mukholafatu lilhawaditsi –berbeda dengan makhluqNya-, (4) Qiyamuhu bi nafsihi –tidak butuh pada makhluq-, (5) Wahdaniyyah -esa-.

 

  1. Ma’ani adalah sifat yang keberadaanya mandiri, artinya tidak bergantung pada sifat lain. Adapun yang masuk dalam kelompok ini jumlahnya ada tujuh, yaitu (1) Qudroh -kuasa-, (2) Irodah –berkehendak-, (3) Ilmu -mengetahui-, (4) Hayat -hidup-, (5) Sama’ -mendengar-, (6) Bashor -melihat-, (7) Kalam -berfirman-.

 

  1. Ma’nawiyyah adalah sifat yang merupakan konsekuensi dari adanya sifat ma’ani. Adapun yang masuk dalam kelompok ini jumlahnya ada tujuh, yaitu (1) Kaunuhu Qodiron -Allah Dzat Yang Kuasa-, (2) Kaunuhu Muridan -Allah Dzat Yang Berkehendak-, (3) Kaunuhu Aliman -Allah Dzat Yang Mengetahui-, (4) Kaunuhu Hayyan -Allah Dzat Yang Hidup-, (5) Kaunuhu Sami’an -Allah Dzat Yang Mendengar-, (6) Kaunuhu Bashiron - Allah Dzat Yang Melihat-, (7) Kaunuhu Mutakalliman -Allah Dzat Yang Berfirman-.

 

Pengajian Ramadhan 1441 H. di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah

Diampu oleh: KH. Habibul Huda Bin Najid

 

[1]Sifat wajib adalah sifat yang pasti ada pada Dzat Allah.

[2]Sifat muhal / mustahil adalah sifat yang tidak mungkin ada pada Dzat Allah.

[3]Sifat jaiz adalah sifat yang menjadi kewenangan Allah.