Oleh: Ust. A. N. Muzakka bin Sundoyo

 

Bait Ke-Enam belas

مَنْ رَامَ أَنْ يَسْلُكْ طَرِيْقَ اْلأَوْلِيَا (16) فَلْيَحْفَظَنْ هٰذِي اْلوَصَايَا عَامِلَا

Artinya: “Barangsiapa ingin menapak jalan Auliyá, maka harus menjaga wasiat-wasiat ini dan mengamalkannya”.

Penjelasan:

Setelah Nadzim mejelaskan beberapa macam jalan yang dipilih para masyayikh untuk Wusul Ilallah pada nadzom sebelumnya, maka pada bait ini Nadzim hendak menjelaskan beberapa jalan terjal yang menjadi tujuan utama para salik dan umumnya menjadi sebab mereka Wusul Ilallah. Nadzim menjelaskan bahwa barangsiapa ingin menapak  jalan Auliyá, maka harus menjaga dan mengamalkan wasiat-wasiat yang berjumlah sembilan yang akan diterangkan pada bait-bait setelahnya. Barangsiapa mampu menjaga dan mengamalkannya, maka Insya Allah akan terfutuh hatinya, dilapangkan dadanya dengan cahaya ilmu, dan mencapai derajat mukasyafah.[1]

 

Bait Ke-Tujuh belas Dan Delapan belas

أُطْلُبْ مَتَابًا بِالنَّدامَةِ مُقْلِعًا (17) وَبِعَزْمِ تَرْكِ الذَّنْبِ فِيْمَا اسْتُقْبِلَا

وَبَرَاءَةًمِنْ كُلِّ حَقِّ اْلآدَمِيْ (18) وَلِهٰذِهِ اْلأَرْكَانِ فَارْعَ وَكَمِّلَا

Artinya: “Taubatlah dengan cara menyesali kesalahan, meninggalkannya, bertekad tidak mengulanginya dimasa yang akan datang, dan membebaskan diri dari semua hak adami. Maka jagalah syarat-syarat pertaubatan ini dan sempurnakanlah”.

Penjelasan:

Pertama: Taubat

          Taubat merupakan dasar terpenting dalam agama dan merupakan tahapan awal yang harus ditempuh Para Salik Ilallah. Sehinga Nadzim meletakkanya diurutan pertama diantara wasiat-wasiat yang lain.

  • Pengertian Taubat:

Taubat secara bahasa adalah kembali, sedangkan secara istilah adalah kembali dari hal yang dibenci syara’ kepada hal yang diridhoi syara’.[2]

 

  • Syarat Taubat:[3]
  1. Menyesali dosa yang pernah dilakukan.
  2. Meninggalkannya.
  3. Bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
  4. Membebaskan diri dari hak-hak adami (jika kesalahannya berkaitan dengan sesama).

 

  • Tanda kesungguhan penyesalan:
  1. Lembutnya hati.
  2. Bercucurannya air mata.

 

  • Hutang Haq Adami

Kesalahan terhadap sesama manusia konsekuensinya lebih berat daripada kesalahan terhadap Allah SWT, sebab Haqullah dasarnya adalah Musamahah (diringankan), sedangkan Haqqul Adami dasarnya adalah Musahah (diperberat). Sehingga dosa terhadap sesama jika tidak segera dibebaskan di dunia, kelak di akhirat sungguh sangat berat perhitungan hisabnya. Untuk kejelasan lebih lanjut terkait pembahasan ini, kalian dapat membaca Hablum Miannas dalam buku Suluk Santri Tarekat karya Syaikhina Habibul Huda bin Najid.

 

Bait Ke-Sembilan Belas

وَقِهْ دَوَامًا بِاْلمُحَاسَبَةِ الَّتِيْ (19) تَنْهَاكَ تَقْصِيْرًا جَرَى وَتَسَاهُلَا

Artinya: “Jagalah pertaubatan selamanya dengan bermuhasabah yang dapat mencegahmu dari keteledoran dan kecerobohan”.

Penjelasan:

Wajib bagi kalian menjaga pertaubatan selama-lamanya dengan cara mengintropeksi diri, mengingat-ingat kembali kesalahan yang pernah dilakukan, agar tidak kembali mengulang kesalahan yang sama di kemudian hari. Maka koreksilah hidup kalian, gerak kalian, dan diam kalian setiap hari, agar kalian tahu kekurangan diri sendiri, hingga dapat menutupinya dan memperbaharui pertaubatan dan istigfar setiap kali menyadarinya. Sayyidina Umar bin Khottob Ra berkata: “Bermuhasabahlah kalian semua sebelum kalian semua dihisab, dan persiapkanlah diri kalian semua untuk Ardhul Akbar (pertunjukan besar) dihadapan Allah. Dihari itu kalian dipertontonkan dan tidak ada rahasia kalian yang tersembunyikan”. Dalam kitab Ihya’ juga disebutkan: “Barang siapa bermuhasabah sebelum dihisab, maka perhisabannya di hari kiyamat akan ringan, perbendaharaan  jawaban akan mendatanginya di hari pertanyaan, dan tempat yang indah telah menantinya dihari ia pulang”. [4]

 

Bait Ke-Duapuluh

وَبِحِفْظِ عَيْنٍ وَالِّلسَانِ وَسَائِرِ اْل (20) أَعْضَا جَمِيْعًا فَاجْهَدَنْ لَا تَكْسَلَا

Artinya:Dan dengan bersungguh-sungguh menjaga mata, lisan, dan anggota-anggota tubuh yang lain”.

Penjelasan:

Disamping kewajiban menjaga pertaubatan dengan Muhasabah, kita juga harus menjaga pertaubatan dengan menjaga tujuh anggota tubuh dari perbuatan maksiat:[5]

  1. Menjaga pandangan mata dari keharaman. Rasulullah bersabda: “النَّظْرَةٌ سَهْمٌ مَسْمُوْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسِ اْلمَرْجُوْمِ، لِأَنَّهَا تَدْعُوْ إِلَى الْفِكْرِ، وَالْفِكْرُ يَدْعُوْ إِلَى الزِّنَا” “Pandangan merupakan salah satu diantara anak panah beracun milik iblis yang terlaknat, sebab pandangan mendorong pada pikiran (kotor), dan pikiran (kotor) mendorong pada perzinaan”.
  2. Menjaga mulut dari perkataan dusta, menggunnjing sesama muslim, adu domba, mengolok-olok, mengejek, menertawakan, dan meremehkan.
  3. Menjaga telinga dari mendengarkan gunjingan, adu domba, dan semua ucapan yang diharamkan.
  4. Menjaga perut dari perkara haram, syubhat, dan syahwat. Bahkan kalau bisa juga menjaganya dari kenyang, karena kenyang dapat mengkeraskan hati, dan itu merupkan sumber kesalahan.
  5. Menjaga kedua tangan dari mengambil perkara haram, menulis kalimat yang haram diucapkan, dan memukul sesama muslim.
  6. Menjaga kedua kaki dari berjalan kepada keharaman.
  7. Menjaga kemaluaan dari perzinaan dan hal-hal yang diharamkan agama.

 

 

Pengajian Ramadhan 1441 H. di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah

Diampu oleh: KH. Habibul Huda Bin Najid

 

[1]Kifáyatul Atqiyá Waminhájul Ashfiyá, hal: 36, cet: Dárul Kutub Al-Islámiyyah.

[2]Kifáyatul Atqiyá Waminhájul Ashfiyá, hal: 37, cet: Dárul Kutub Al-Islámiyyah.

[3]Kifáyatul Atqiyá Waminhájul Ashfiyá, hal: 38, cet: Dárul Kutub Al-Islámiyyah.

[4]Kifáyatul Atqiyá Waminhájul Ashfiyá, hal: 41-42, cet: Dárul Kutub Al-Islámiyyah.

[5]Kifáyatul Atqiyá Waminhájul Ashfiyá, hal: 42-45, cet: Dárul Kutub Al-Islámiyyah.