Oleh : Ust. A.N. Muzakka bin Sundoyo

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Bait Pertama

اْلحَمْدُ لِلّهِ اْلمُوَفِّقِ لِلْعُلَا (1) حَمْدًا يُوَافِيْ بِرَّهُ اْلمُتَكَامِلَا

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang mengkaruniakan kemampuaan untuk meraih kemuliaan. Pujian yang sepadan dengan kebaikan Allah secara sempurna”.

Penjelasan Terkait Al Hamd:

1) Ma’na Al-Hamdu:

Al-hamd adalah memuji kebaikan dengan menggunakan alat bicara meskipun berupa tangan disertai unsur mengagungkan baik secara láhir maupun bátin, artinya tidak beri’tikad dan tidak menampakkan gerak tubuh yang bertentangan dengan apa yang dipujikan.[1]

2) Alasan Mushannif Mengucapkan Al-Hamdu:[2]

1. Mengikuti Al-Qur’an.

2. Mengamalkan hadits-hadits berikut:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ أَنْ يُحْمَدَ

Artinya:“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla suka dipuji”.

حَمْدُ اللهِ أَمَانٌ لِلنِّعْمَةِ مِنْ زَوَالِهَا

Artinya: “Pujian terhadap Allah adalah pelindung ni’mat agar tidak hilang”.

مَنْ لَبِسَ ثَوْبًا فَقَالَ: اْلحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هٰذَا الثَّوْبَ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلَا قُوَّةٍ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barang siapa memakai pakaian lalu berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memakaikan pakaian ini tanpa usaha dan kemampuan dariku, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”.

3) Kalimat Pujian Yang Terbaik:[3]

اْلحَمْدُ لِلّهِ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهْ

Artinya: “Aku memuji Allah dengan pujian yang sepadan dengan ni’matNya dan mengimbangi tambahan-Nya”.

          Kalimat ini dianggap sebagai kalimat pujian terbaik berdasarkan riwayat yang mengatakan Bahwa disaat Allah menurunkan Nabi Adam di bumi, Nabi Adam berkata:

يَا رَبِّ، عَلِّمْنِيْ اْلمَكَاسِبَ، وَعَلِّمْنِيْ كَلِمَةً تَجْمَعُ لِيْ فِيْهَا اْلمَحَامِد

Artinya: “Yá Rabbi, ajarilah saya tentang berbagai pekerjaan, dan ajarilah saya kalimah yang mengumpulkan pujian-pujian”.Kemudian Allah memberikan wahyu:

أَنْ قُلْ ثَلَاثًا عِنْدَ كُلِّ صَبَاحٍ وَمَسَاءٍ: اْلحَمْدُ لِلّهِ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهْ

Artinya: “Ucapkanlah tiga kali ketika pagi dan sore:“Aku memuji Allah dengan pujian yang sepadan dengan ni’matNya dan mengimbangi tambahan-Nya”.

          Oleh karena itu apabila ada orang sumpahakan mengucapkan majámi’ul mahámid (kumpulan pujian), maka yang diucapkan adalah redaksi tersebut.

4) Keistimewaan Al-Hamdulillah:

Sebagian al Arif Billah mengatakan: Al-Hamdu lillahitu terdiri dari delapan huruf, seperti halnya pintu-pintu surga, maka barangsiapa mengucapkan al-hamdu lillah dari dalam hati yang jernih, maka ia berhak masuk surga sesuai kemauannya.[4]

Bait Kedua

ثُمَّ الصَّلَاةُ عَلَى الرَّسُوْلِ اْلمُصْطَفَى (2) وَاْلآلِ مَعْ صَحْبٍ وَتُبَّاعٍ وِلَا

Artinya: “Kemudian shalawat teruntuk Rasul yang terpilih, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikutinya”.

 

  • Penjelasan Terkait Shalawat:

1) Nisbat Shalawat:

Ada empat macam Shalawat:[5]

1. Shalawat dari Allah artinya rahmat.

2. Shalawat dari malaikat artinya memintakan ampunan.

3. Shalawat dari manusia artinya merendahkan diri dan do’a.

4. Shalawat dari jin artinya merendahkan diri dan do’a (sama dengan manusia).

 

2) Alasan Mushannif Mengucapkan Shalawat:[6]

1. Berdasarkan Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu”.

2. Hadits-Hadits berikut:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِيْ كِتَابٍ، لَمْ تَزَلِ اْلمَلَائِكَةُ تَسْتَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِيْ فِيْ ذٰلِكَ اْلكِتَابِ

Artinya: “Barangsiapa menulis shalawat kepadaku di dalam buku, maka malaikat tidak berhenti memintakan ampunan untuknya selama namaku masih ada dalam buku tersebut”.

مَنْ أَكْثَرَ مِنَ الصَّلَاةِ عَلَيَّ فِيْ حَيَاتِهِ، أَمَرَ اللهُ جَمِيْعَ مَخْلُوْقَاتِهِ أَنْ يَسْتَغْفِرُوْا لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ

Artinya: “Barangsiapa memperbanyak shalawat terhadapku disaat hidup, maka Allah akan memerintahkan semua makhluk untuk memintakan ampunan untuknya setelah ia mati”.

أَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلَاةِ عَلَيَّ، فَإِنَّهَا نُوْرٌ فِي اْلقَبْرِ، وَنُوْرٌ عَلَى الصِّرَاطِ، وَنُوْرٌ فِي اْلجَنَّةِ

Artinya: “Perbanyaklah kalian semua bershalawat kepadaku, sesungguhnya shalawat itu cahaya di dalam kubur, cahaya di atas Shirath, dan cahaya didalam surga”.

3) Ketentuan Bershalawat:

Hedakya bershalawat dalam keadaan:[7]

1. Suci.

2. Menghadap qiblat.

3. Berusaha membayangkansosokNabi yang mulia.

4. Tartil (Mengucapkan Shalawat dengan benar).

5. Tidak tergesa-gesa  dalam melafalkan.

 

4) Yang dimaksud (Al):[8]

1. Menurut As-Syáfi’i dan mayoritas ‘Ulama: Orang mukmin dari baní hásyim dan baní mutthalib.

2. Qíl: Keturunan Sayyidah Fáthimah.

3. Qíl: Setiap orang mukmin yang taqwa.

4. Qíl: Setiap orang mukmin.

Namun yang diharapkan dalam bait ini adalah setiap orang mukmin, sehingga kalimat Shohbin setelahnya masuk di dalamya.

 

5) Yag dimaksud Shohbin (sahabat):

Sahabat yaitu orang yang pernah berkumpul dengan baginda Nabi dalam keadaan beriman.[9]

Jumlah Sahabat:[10]

1. Menurut Abú Zur’ah: 124.000 (seratus dua puluh empat ribu).

2. Menurut Ar-Ráfi’í: 160.000 (seratus enam puluh ribu).

Sahabat Terakhir:

Sahabat Nabi yang meninggal terahir adalah Abú Thufail, ‘Ámir bin Wátsilah Al-Laitsí. Ia meninggal pada tahun 100 (seratus) Hijriyyah.[11]

Sahabat Yang Paling Utama:

Semua sahabat nabi itu adil, namun yang lebih utama dari semuanya adalah sepuluh yang disabdakan Nabi akan masuk surga, yakni: 1. Abú Bakr. 2. ‘Umar. 3. ‘Utsmán. 4. ‘Alí. 5. Sa’d bin Abí Waqqás. 6. Sa’íd bin Zaid. 7. Tholhah bin ‘Ubaidillah. 8. Az-Zubair bin Al-‘Awwám. 9. Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarroh. 10. ‘Abdur Rahman bin ‘Auf. Dan yang lebih utama dari sepuluh sahabat ini adalah Khulafáur Rásyidún yaitu: 1. Abú Bakr. 2. ‘Umar. 3. ‘Utsmán. 4. ‘Alí. Lalu urutan keutamaan dari keempat tersebut adalah sesuai urutan kekhalifahannya:

Masa Kepemimpinan Khulafaur Rsyidin:

1. Abú Bakar menjadi khalifah selama 2 tahun lebih 3 bulan 10 malam, dan meninggal pada usia 63 tahun.

2. ‘Umar bin Al-Khottob menjadi khalifah selama 10 tahun setengahlebih 8 hari, dan meninggal pada usia 63 tahun.

3. ‘Utsmán bin ‘Affán menjadi khalifah kurang lebih selama 12 tahun, dan meninggal pada usia 82 tahun.

4. ‘Alí bin Abí Thálib menjadi khalifah selama 4 tahun lebih 9 bulan, dan meninggal pada usia 63 tahun.[12]

Bait Ketiga

تَقْوَى اْلإِلٰهِ مَدَارُ كُلِّ سَعَادَةٍ (3) وَتِبَاعُ أَهْوَا رَأْسُ شَرِّ حَبَائِلَا

Artinya: “Taqwa kepada Allah merupakan sumber dari semua kebahagiaan, sedangkan mengikuti hawa nafsu merupakan sumber keburukan jeratan syaitan”.

Penjelasan:

1) Arti Taqwa:

Perbedan pendapat ‘Ulama terkait arti taqwa:

1. Menjalankan perintah Allah dan menjahui laranganNya baik secara dhahir ataupun batin disertai dengan mengagungkan dan rasa takut kepadaNya.

2. Menghindari selain Allah.

3. Menurut Abú ‘Abdillah: Menjahui sesuatu yang dapat menjauhkan diri dari Allah.

4. Meninggalkan semua dosa.

4. Beramal sesuai cahaya yang datang dari Allah, karena khawatir siksaanNya.[13]

2) Faedah Taqwa:

          Faedah takwa sangatlah banyak, diantaranya:[14]

1. Allah selalu menyertai. Allah berfirman:

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ اْلمُتَّقِيْنَ

Artinya: “Ketahuilah,sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang bertaqwa”.

2. Mendapatkan ilmu Baru. Allah berfirman:

وَاتَّقُوْا اللهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللهُ

Artinya: “Bertaqwalah kalian semua kepada Allah, dan Allah akan mengajari kalian semua”.

3. Selamat dari neraka. Allah berfirman:

ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِيْنَ اتَّقَوْا

Artinya: “Kemudian kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa”.

3) Arti Hawa Nafsu:

          Hawanafsu adalah condongnya hati pada hal-hal yang bertentangan dengan syara’.[15]

Bait Keempat Dan Kelima

إِنَّ الطَّرِيْقَ شَرِيْعَةٌ وَطَرِيْقَةٌ (4) وَحَقِيْقَةٌ فَاسْمَعْ لَهَا مَا مُثِّلَا

فَشَرِيْعَةٌ كَسَفِيْنَةٍ وَطَرِيْقَةٌ (5) كَاْلبَحْرِ ثُمَّ حَقِيْقَةٌ دُرٌّ غَلَا

Artinya: “Sesungguhya jalan menuju Allahadalah Syari’at, Thariqah, dan Haqiqat. Jika Syariat seperti halnya perahu, maka tarekat bagaikan samudra, sedangkan hakikat adalah mutiara mewah di dalamnya”.

Pejelasan:

Jalan menuju Allah itu ada tiga:

Syariat. Yakni menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
Tareqat. Yakni berusaha megikuti dan mengamalkan semua yang mejadi sunnah Rasulullah SAW. 
Hakikat. Yakni buah dari menjalakan tarekat.

Syariat diumpamakan kapal atau perahu untuk megarungi ilmu tarekat yang luasnya diumpamakan samudra, dan di dalam tarekat tersebut terdapat hakikat yang diumpmakan bongkahan mutiara  yang menjadi tujuan utama pelaut dalam mengarungi samudra.

Maka ketignya harus dimiliki oleh seorang Salik Ilallah. Seseorang yang mengaku sampai derajat hakikat namun tidak bersyari’at maka batil, sedangkan yang bersyari’at tanpa berhaqiqat itu sia-sia. Contoh: seseorang yang mengaku sudah sampai derajat hakikat lalu ia tidak mau shlolat karena beri’tikad bahwa keberuntungan itu sudah ditentukan pada zaman azali, sehingga shalat atau tidaknya seseorang tidak akan mempegaruhi keberutunnya. Maka jelas ini batil; karena Nabi yang merupakan Sayyidul Anbiya’ saja tetap melakukan Sholat.

Lalu seseorang yang mengaku bersyariat kemudian megatakan “Seandainya tidak karena amal yang sudah saya lakukan, makatidak mungkin saya masuk surga”  tanpa menyadari bahwa masuk surganya seseorang itu murni karena anugerah Allah SWT, maka ibadah atau amal yang ia itu lakukan hanyalah sia-sia belaka. Artinya keberadaan sholat dan ibadahnya tidak dianggap ada.

Untuk penjelasan yang lebih panjang tentang hal ini dan lebih sesuai dengan waqiiyyah pertariqatan di Indonesia bisa kalian baca buku “Suluk Santri Tarekat” karya Syaikhina KH. Habibul Huda.

 

Pengajian Ramadhan 1441 H. di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah

Diampu oleh: KH. Habibul Huda Bin Najid



[1]Kifáyatul Atqiyá Waminhájul Ashfiyá “Sullámul Fudlolá ‘Ala Hidáyatil Adzkiyá”, hal: 15, cet: Dárul Kutub Al-Islámiyyah.

[2]Kifáyatul Atqiyá Waminhájul Ashfiyá, hal: 15, cet: Dárul Kutub Al-Islámiyyah.

[3]Kifáyatul Atqiyá Waminhájul Ashfiyá, hal: 15, cet: Dárul Kutub Al-Islámiyyah.

[4]Kifáyatul Atqiyá Waminhájul Ashfiyá, hal: 16, cet: Dárul Kutub Al-Islámiyyah.

[5]Nailur Rojá Bi Syarhi Safínatin Najá, hal: 53, cet: Dárul Minháj.|Kifáyatul Atqiyá Waminhájul Ashfiyá “Sullámul Fudlolá ‘Ala Hidáyatil Adzkiyá”, hal: 17, cet: Dárul Kutub Al-Islámiyyah.| Syarah Al-Bahjah Al-Wardiyyah, juz: 1/ hal: 19, cet: Maktabah Syámilah.

[6]Kifáyatul Atqiyá Waminhájul Ashfiyá, hal: 17, cet: Dárul Kutub Al-Islámiyyah.

[7]Kifáyatul Atqiyá Waminhájul Ashfiyá, hal: 18, cet: Dárul Kutub Al-Islámiyyah.

[8]Kifáyatul Atqiyá Waminhájul Ashfiyá, hal: 19, cet: Dárul Kutub Al-Islámiyyah

[9]Al-Yáqutun Nafís “Ta’líq”, hal: 13, cet: Al-Hidáyah.

[10]Nailur Rojá Bi Syarhi Safínatin Najá, hal: 55, cet: Dárul Minháj.

[11]Nailur Rojá Bi Syarhi Safínatin Najá, hal: 55, cet: Dárul Minháj.

[12]Nailur Rojá Bi Syarhi Safínatin Najá, hal: 55-57, cet: Dárul Minháj.

[13]Kifáyatul Atqiyá Waminhájul Ashfiyá, hal: 20, cet: Dárul Kutub Al-Islámiyyah.

[14]Kifáyatul Atqiyá Waminhájul Ashfiyá, hal: 20, cet: Dárul Kutub Al-Islámiyyah.

[15]Kifáyatul Atqiyá Waminhájul Ashfiyá, hal: 21, cet: Dárul Kutub Al-Islámiyyah.