Oleh: Ust. A. N. Muzakka bin Sundoyo

Bait Ke-Enam

فَشَرِيْعَةٌ أَخْذٌ بِدِيْنِ اْلخَالِقِ (6) وَقِيَامُهُ بِاْلأَمْرِ وَالنَّهْيِ انْجَلَا

Artinya: “Syari’at adalah  berkomitmen terhadap agama Sang Pencipta, menjalankan perintahNya, dan menjahui laranganNya”.

Penjelasan:

    Syari’at adalah komitmen seorang Salik Ilalllah terhadap agama islam dan selalu mengindahkan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dengan kata lain syari’at adalah istiqomah. Menurut Syeikh Ali bin Haitami “Syariat adalah semua hal yang berkaitan dengan taklif (hukum-hukum Allah yang berhubungan dengan perbuatan manusia, yakni wajib, sunah, makruh, haram, dan mubah). Dengan devinisi ini syari’at sama dengan fikih; karena pembahasan fikih berkutat pada hukum-hukum taklif. Artiya dengan megetahui hukum fikih, maka seseorang telah mengetahui syariat Allah. Sehingga tidak mengherankan jika dahulu Al Marhum Syaikhina Syeikh Abdul Wahid Zuhdi mengatakan kepada santri-santrinya “Jadikanlah fikih sebagai ahlak kalian”;  karena fikihlah Syariat Allah yang mejadi garis aman seseorang tidak terjatuh pada perkara dosa.

 

Bait Ke-Tujuh

وَطَرِيْقَةٌ أَخْذٌ بِأَحْوَطَ كَاْلوَرَعْ (7) وَعَزِيْمَةٍ كَرِيَاضَةٍ مُتَبَتِّلَا

Artinya: “Tharíqah adalah berkomitmen dengan sikap kehati-hatian seperti wira’i, dan sikap sabar melawan hawa nafsu, seperti: riyadloh (Jawa: tirakat)”.

Penjelasan:

Tarikat menurut Para Sufi adalah kehati-hatian dalam melangkah dan meninggalkan hal-hal yang bersifat Ruhshoh (diringankan hukumnya), seperti memilih hidup wira’i dengan meninggalkan hal-hal yang Syubhat (belum jelas halal haramnya), dan hal-hal yang mubah secara fikih namun dikawatirkan keharamannya, seperti yang dilakukan oleh Sayyidina Umar Ra. ketika meninggalkan sembilan sepersepuluh harta halalnya, karena kawatir jatuh pada keharaman.

Sebenarnya Ulama’  berselisih pendapat terkait dengan arti kalimat wira’i yang menjadi prinsip hidup para sufi di atas:

  • Menurut Imam Qusyairí: Wira’i adalah meninggalkan perkara syubhat.
  • Menurut Imam Al-Ghazálí: Wira’i mempunyai empat tingkatan:
  1. Wira’inya orang-orang adil, yakni meninggalkan perkara-perkara yang haram menurut fikih, seperti: riba, mu’amalah yang fasid, dll.
  2. Wira’inya orang-orang shalih: yakni meninggalkan perkara syubhat.
  3. Wira’inya golongan Muttaqin, yakni meninggalkan perkara yang mubah (tidak ada kerugiannya sama sekali) karena kawatir jatuh pada larangan Allah SWT. Seperti yang dilakukan Sayyidina Umar di atas.
  4. Wira’inya gologan Siddiqin, yakni meninggalkan perkara-perkara yang tidak ada mudaratnya sama sekali. Seperti yang dilakukan oleh Malik bin Dinar yang tidak pernah memakan kurma baik yang basah maupun yang kering selama hidup di Bashroh sampai hari wafatnya.

          Selain komitmen terhadap kehati-hatian, tarekat juga komitmen terhadap Azimah. Artinya serius dan sabar terhadap kesulitan demi melawan hawa nafsu, seperti melakukan riyadhoh (tirakat) bangun malam, zuhud, uzlah, puasa, diam, meninggalkan kesenangan-kesenangan duniawi, dan hal-hal lain yang lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

 

Bait Ke-Delapan

 

وَحَقِيْقَةٌ لِوُصُوْلِهِ لِلْمَقْصِدِ (8) وَمُشَاهَدَةْ نُوْرَ التَّجَلِّيْ بِانْجِلَا

Artinya: “Haqíqat adalah sampainya seorang sálik pada tempat tujuan, dan menyaksikan terangnya cahaya tajalli.

Penjelasan:

Yang dimaksud dengan “tempat tujuan” dalam bait ini adalah mengenal Allah dan meyaksikan cahaya Tajalli[1]. Sedangkan yang dimaksud dengan tajalli sendiri menurut Imam Ghozali adalah terbukanya hati melihat cahaya-cahaya keghaiban. Artiya apa-apa yang menjadi kehendak dan larangan Allah SWT. selalu muncul dalam benak hatinya, sehingga mejadi penuntunnya dalam menentukan langkah hidup. Ada juga yang berpendapat bahwa Tajalli adalah Allah SWT. Pendapat ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Imam Qusyairi tatkala membedakan antara Syari’at dan Hakikat. Beliau berkata “Syari’at adalah komitmen terhadap pengapdian diri kepada Allah, sedangkan Hakikat adalah meyaksikan ketuhanan Allah, artiya meyaksikan degan mata hatiya”. Wallahu A’lam

 

Pengajian Ramadhan 1441 H. di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah

Diampu oleh: KH. Habibul Huda Bin Najid

 

 

 

[1]KifáyatulAtqiyáWaminhájulAshfiyá, hal: 28, cet: DárulKutub Al-Islámiyyah.