Oleh: Ust Adib Khoironi

Bersuci atau dalam ilmu fikih lebih dikenal denggan thaharoh merupakan ibadah yang begitu penting. Hampir semua ibadah dalam Islam disyaratkan adanya thoharah. Setidaknya, ada empat jenis thoharoh, yaitu: mandi, wudhu, menghilangkan najis dan tayamum. Mandi digunakan untuk bersuci dari hadast besar. Wudhu untuk bersuci dari hadats kecil. Menghilangkan najis untuk mensucikan perkara yang terkena najis. Sedangkan tayamum untuk bersuci dalam keadaan darurat dengan beberapa ketentuannya.

Adapun perkara yang bisa digunakan untuk bersuci yaitu air, debu, perkara yang bisa digunakan untuk menyama’ dan batu untuk istinja’. Selain menjadi sumber kehidupan, air merupakan alat bersuci yang paling utama. Sebab, hadats besar maupun kecil bisa hilang dengan air. Begitu pula najis, dapat disucikan menggunakan air. Namun, tentunya tidak semua air bisa digunakan untuk thaharah. Hanya air yang berstatus mutlak saja yang bisa digunakan untuk bersuci.

Pada pembahasan kali ini Syaikh Ali Bashobirin menjelaskan seputar permasalahan-permasalahan yang menjadi objek khilafiyah antara Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli. Yaitu beberapa permasalahan yang berkaitan dengan status air.

 

Masalah Pertama

Air yang berubah disebabkan oleh perkara mukhalith (perkara yang dapat melebur dengan air, seperti: sirup, kopi, dll) dapat mengubah status air menjadi suci tapi tidak mensucikan. Para ulama memberikan pengecualian pada beberapa hal, seperti garam dan turab (tanah). Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah pengecualian ini secara mutlak atau hanya kusus untuk tanah yang suci saja? lalu bagaimana perubahan air yang disebabkan oleh turab musta’mal, apakah dapat memengaruhi kesucian air? Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat sebagai berikut:

  • Menurut Imam Ramli, perubahan tersebut tidak memengaruhi status air. Artinya, air tetap suci dan mensucikan. Sebab, perubahan tersebut berasal dari perkara suci, dan perubahannya hanya sekedar menjadi keruh. Perubahan seperti ini tidak bisa mengubah status air yang aslinya suci–mensucikan menjadi tidak mensucikan. Buktinya, pada salah satu basuhan untuk mensucikan sesuatu dari najis mughallazhah, air mutlak justru harus dicampur dengan tanah[1].

 

  • Menurut Imam Ibnu Hajar, perubahan di atas dapat mengubah status air menjadi tidak mensucikan[2], karena disamakan dengan perubahan yang disebabkan air musta’mal[3].

Alasan Ibnu Hajar ini tentu memiliki celah untuh disanggah. Air dan turab merupakan dua alat bersuci yang berbeda. Air merupakan alat bersuci dalam keadaan biasa atau normal. Sedangkan turab merupakan alat bersuci dalam keadaan darurat. Oleh karena itu, menyamakan kedua hal yang jelas berbeda ini tentu tidak tepat. Sanggahan ini sekaligus menjadi alasan yang lebih tepat bagi pendapat yang mengatakan bahwa air tersebut tetap  suci–mensucikan.

Dalam hal ini, Imam Khatib Assyirbini dan Syaikh Al-Islam Zakariya Al-Anshari sependapat dengan Imam Ar-Ramli.

 

Masalah Kedua

Perubahan yang disebabkan oleh ter/tar yang mukhalith, apakah dapat mengubah status air?

Ibnu Hajar dan Ar-Ramli bersepakat bahwa perubahan yang diakibatkan oleh sesuatu baik mukhalith maupun mujawir yang mengendap atau menempel pada tempat menggenang dan mengalirnya tidak dapat memengaruhi status kemutlakan air. Namun, dua ulama’ ini berbeda pandangan dalam menilai ter/tar yang mukhalith, ketika dijadikan pelapis bagian dalam untuk pembuatan qirbah (tempat air minum), apakah perubahan pada air yang diakibatkan ter/tar tersebut dapat mengubah stastus air menjadi tidak mutlak (tidak menyucikan)?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar, perubahan tersebut tidak mengubah status air. Artinya, air yang berubah itu tetap suci dan dapat menyucikan. Ibnu Hajar memberi alasan bahwa, dalam konteks ini, ter/tar merupakan sesuatu yang menempel pada tempat berdiamnya air. Oleh karenanya, air tersebut tetap dapat digunakan bersuci, meskipun telah berubah dengan perkara yang mukhalith[4].

 

  • Sedangkan menurut Imam Ar-Ramli, ter/tar dapat mengubah status air menjadi tidak mutlak. Perubahan tersebut dapat memenjadikan air tidak lagi menyucikan karena diakibatkan oleh perkara mukhalith, sedangkan perkara tersebut, menurut Al-Ramli, tidak berada pada tempat berdiam atau mengalirnya air[5].

Dalam hal ini, Syaikh Ali Syibro Al malisi juga sependapat dengan Imam Ibnu Hajar[6].

 

Masalah Ketiga

Perubahan air secara alami atau disebabkan oleh perkara yang tidak bisa dihindari oleh air seperti lumut tidak dapat mengubah status air. Namun, ketika air tersebut dituangkan pada air mutlak, apakah dapat memengaruhi status air mutlak tersebut?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar hal ini tidak memengaruhi status air. Sebab, perubahan tersebut masih diragukan, apakah memang benar dari proses penuangan air atau memang dari dzatiyyah air itu sendiri. Oleh karena keraguan tidak bisa merubah status air layaknya perubahan air yang diragukan sebabnya, karena perkara mukhalith atau mujawir. Maka, air tersebut tetap suci dan mensucikan[7].

 

  • Menurut Imam Ar-Ramli, penuangan air pertama dapat menjadikan air yang kedua berubah status menjadi tidak mutlak. Air yang kedua ini tidak lagi dapat digunakan untuk bersuci. Sebab, perubahan pada air yang kedua dapat dihindarkan, berbeda dengan perubahan pada air yang pertama[8].

Dalam hal ini, Imam Ramli mengikuti pendapatnya Ayah beliau yaitu Ar-Ramli Kabir .

 

Masalah Keempat

Air mutlak yang telah berubah disebabkan perkara mukhalith dengan perubahan yang banyak statusnya juga berubah menjadi tidak dapat menyucikan. Ketika diragukan, apakah perubahannya termasuk perubahan yang banyak atau sedikit, maka hukumnya tetap suci mensucikan. Namun, apabila yang diragukan adalah, apakah perubahannya telah hilang atau tidak, maka apakah status airnya kembali menjadi suci mensucikan atau tidak?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar, keraguan ini tidak bisa mengembalikan status air[9], karena memandang hukum asli yang diyakini (air telah berubah). Oleh sebab itu, keraguan hilangnya perubahan tidak bisa mengubah statusnya menjadi mutlak kembali[10].

 

  • Sedangkan menurut Imam Ar-Ramli yang mengikuti pendapat ayahandanya, air tersebut kembali menjadi suci-mensucikan[11]. Ar-Ramli memberi alasan bahwa, keyakinan adanya perubahan pun menjadi hilang dengam keraguan itu.

Dalam hal ini, Syaikh Al Islam Zakariya Al Anshari, Al Adzra'i, dan Khatib As-Syirbini sependapat dengan Imam Ibnu Hajar.

Dalam kitab Itsmidul ‘Ainain pada permasalahan ini mungkin ada kesalahan naql dari kitab aslinya atau cetakannya, sebab yang dijelaskan dalam Kitab Ismidul ‘Ainain merupakan kebalikan hukum di atas[12].

 

Masalah Kelima

Makruh hukumnya menggunakan air yang sangat panas, sangat dingin dan air yang dipanaskan di bawah sinar matahari pada bejana logam yang digunakan pada anggota tubuh. kemakruhan itu akan hilang ketika airnya kembali dingin, lalu menggunakannya pada mayyit apakah juga dimakruhkan?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar, tidak makruh, dengan melihat zhahir-nya keterangan dalam kitab Tuhfah Al Muhtaj dan Fath Al Jawad[13]. Akan tetapi, dalam kitab Minhaj Al Qowim, Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hukumnya makruh menggunakan air tersebut pada badan, walaupun badannya mayit[14].

 

  • Sedangkan menurut Imam Ar-Ramli yang mengikuti pendapat ayahandanya Syihab Ar-Ramli (Ar-Ramli Kabir) hukumnya makruh, karena penggunaan air tersebut pada mayit termasuk suatu penghinaan, padahal kemuliaan mayit itu masih tetap ada[15].

Dalam hal ini Syaikh Zakariya Al Ansori[16] dan Syaikh Khatib As-Syirbini[17] sependapat dengan Imam Ar-Ramli.

 

Masalah Keenam

Termasuk najis yang dimaafkan yaitu: najis sedikit yang tidak bisa dilihat dengan mata. Maka dari itu, air sedikit tidak akan menjadi najis ketika terkena najis yang tidak bisa dilihat mata. Lalu apakah hukum ini juga berlaku jika najisnya berupa najis mughallazhah?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar, hukum ini tidak berlaku. Artinya, ketika najisnya berupa najis mughallazhah, maka tetap menjadikan najis, walaupun tidak bisa dilihat mata[18].

 

  • Menurut Imam Ar-Ramli, hukum ini juga berlaku pada najis mughallazhah[19].

Dalam hal ini, Syaikh Zakariya Al Ansori[20] sepakat dengan Imam Ibnu Hajar. Sedangkan Khatib As-Syirbini dari zhahir keterangan kitab Mughni Al-Muhtaj[21] sepakat dengan Imam Ar-Ramli.

Pendapat Imam Ar-Ramli dalam hal ini mengikuti pendapat ayahnya yaitu Syihab Ar-Ramli[22].

 

Masalah Ketujuh

Air tidak berubah menjadi najis ketika terkena najis yang tidak bisa dilihat dengan mata. Lalu, apakah hukum ini juga berlaku apabila disebabkan kesengajaan atau perbuatan yang disengaja?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar, hukum ini tidak berlaku. Artinya, ketika ada kesengajaan, maka menjadikan najis[23].

 

  • Imam Ar-Ramli dalam kitab Nihayah Al-Muhtaj[24] sepakat dengan Imam Ibnu Hajar, seperti yang dijelaskan As-Syarwani pada Hasyiyah Tuhfah[25].

Adapun keterangan yang ada pada Kitab Ismidul ‘Ainain, yang di-naql dari kitab Busyra Al-Karim, menyebutkan bahwa pada masalah ini ada khilafiah.

Wallahu a’lamu bisshowab.

 

Pengajian Ramadhan 1441 H. di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah

Diampu oleh: KH. Habibul Huda Bin Najid

 

 

 

 

[1] Nihayah Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 195.

[2] Minhaj Al-Qowim hlm: 60.

[3] Al-ghuror al-bahiyah, juz: 1, hlm: 80.

[4] Tuhfah al-muhtaj juz: 1, hlm: 294.

[5] Nihayah Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 195.

[6] Fathul ‘aly hlm: 62.

[7] Tuhfah al-muhtaj juz: 1, hlm: 294.

[8] Nihayah Al-Muhtaj juz: 1, hlm 187.

 

[9] Tuhfah al-muhtaj juz: 1, hlm: 291.

[10] Al-hawasyi al-syarwany juz: 1, hlm: 70.

[11] Nihayah Al-Muhtaj juz: 1, hlm 190.

[12] Fathul ‘aly hlm: 67. Busyro al-karim juz: 1, hlm: 15.

[13] Fathul ‘aly hlm: 71.

[14] Minhaj Al-Qowim hlm: 13.

[15] Nihayah Al-Muhtaj juz: 1, hlm 201.

 

[16] Asna al-mathalib juz: 1, hlm: 31.

[17] Mugni al-muhtaj juz: 1, hlm: 73.

[18] Tuhfah al-muhtaj juz: 1, hlm: 404.

[19] Nihayah Al-Muhtaj juz: 1, hlm 240.

[20] Asna al-mathalib juz: 1, hlm: 68.

[21] Mugni al-muhtaj juz: 1, hlm: 94.

[22] Hasyiyah al-romli ala al-asna juz: 1, hlm: 15.

[23] Tuhfah al-muhtaj juz: 1, hlm: 404.

[24] Nihayah Al-Muhtaj juz: 1, hlm 239.

[25] Al-hawasyi al-syarwany juz: 1, hlm: 95.