Oleh: Ust. Adib Khoironi

بسم الله الرحمن الرحيم

Sekilas tentang kitab إثمد العينين  
Nama: إِثْمِدُ العَيْنَيْن فِيْ بَعْضِ اخْتِلَافِ الشَيْخَيْن ابن حجر الهيتمي والشمس الرملي      

Pengarang: الشيخ علي بن أحمد بن سعيد باصبرين (Syaikh Ali Bin Ahmad Bin Said Basobirin)
Fan: Fiqih
Pembahasan: Sebagian permasalahan yang diperkhilafan oleh  Imam Ibnu Hajar dan Imam Ar-romli


Khutbat Al-Kitab

Syaikh Ali Bin Ahmad Bin Said Bashobirin (الشيخ علي بن أحمد بن سعيد باصبرين) memulai penulisan kitab ini dengan basmalah, hamdalah, sholawat dan salam, hamdalah kepada dzat yang memintarkan dalam hal agaman pada hamba-hambanya yang terpilih, dzat yang memberi taufiq sehingga hamba-hambanya bisa melakukan hal yang benar, dan dzat yang menjadikan kita mendapatkan hidayah.

Sholawat dan salam kepada nabi Muhammad, nabi yang bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ خَيْرًا يُفَقِّهُ فِي الدِيْن

Artinya: barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka ia akan dipintarkan dalam hal agama.

Dan kepada keluarga, sahabat, istri-istri, keturunan dan ali bait nabi yang suci-suci, dan orang-orang yang mengikutinya dalam kebaikan sampai hari kiamat.

Setelah mushonif membaca basmalah, hamdalah dan sholawatdan salam, beliau menjelaskan bahwa sebenarnya dalam hati beliau sudah terbersit mulai 5 tahun yang lalu untuk mengumpulkan perkhilafan antara Imam Ibnu Hajar dan Imam Ar-romli.Namun untuk memulainya, beliau masih menunggu waktu yang pas,waktuyang tidak terganggu dengan permasalahan-permasalahan dunia. Pada masa menunggu tersebut, tiba-tiba ada bisikan dari hatif (suara tanpa rupa) yang berupa :

الوَقْتُ سَيْفٌ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُقطعكَ

Artinya: waktu itu ibarat pedang, ketika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu.

Setelah mendengar itu beliau menjadi ragu, untuk maju atau mundur, dan tidak tahu mana yang harus ia pilih, dalam keadaan itu beliaupun memohon kepada Allah agar memilihkan yang terbaik untuk dirinya.

Setelah itu beliau berencana untuk pergi dari Hijaz menuju daerah Mesir, dan ketika sampai di laut merah, pada tanggal 22 robius tsani tahun 1260 H, beliau berkumpul dengan beberapa teman, dan disitu beliau menemukan karangan dari gurunya yaitu Syaikh Said Bin Muhammad Ba'asyan (الشيخ سعيد بن محمد باعشن ) yang bernama kitab Busyro Al Karim (بشرى الكريم), yang mana kitab tersebut banyak menyinggung permasalahan-permasalahan yang diperkhilafkan oleh Imam Ibnu Hajar dan Imam Ar-Ramli,dua ulama’ hebat yang sering kali berbeda pendapat dalam sebagian besar pemasalahan fikih, lalu beliau memulai mempelajari kitab tersebut pada tanggal 2 jumadil ula, dalam waktu hanya sepuluh hari seluruh isi kitab hampir dihatamkan, kecuali 2 kuras saja.

Syaikh Ali Bin Ahmad Bin Said Bashobirin berkomentar bahwa kitab Busyro Al Karim merupakan kitab yang sangat teliti, indah, ringkas tapi luas maknanya, bersih dari haswu, yang jarang ditemukan pada zaman itu, dan sangat berharga di setiap zaman, beliaupun membuatkan beberapa syi’ir untuk kitab tersebut:

كتاب لو ان الحرف منه ببدرة * لكان الذي يعطيه في حيز الغبن

"Kitab ini seandainya satu hurufnya di tukar dengan 10.000 dirham, maka niscaya orang yang menukarkannya jatuh ke tempat kerugian".

أحاط بتوحيد وفقه وأعلنا * بخلف الإمامين بوجه لنا مغني

"Kitab ini mencakup tauhid, fikih, dan memberi kejelasan tentang perhilafan dua imam dengan satu cara yang menjadikaan kita merasa cukup".

وجاد بما ضنت به من شوارد * نهاية رملي كذا التحفة المغني

"Menghimpun permasalahan-permasalahan yang tersebar pada kitab Nihayah-nya Imam Romli, begitu juga Tuhfah-nya Imam Ibnu Hajar dan Mughni-nya Imam Khatib Al-Syirbini".

جزى االله بالخيرات عن نسيجه * وأسكننا فضلا وإياه في عدن

"Semoga Allah membalas mushannif dengan kebaikan atas susunan (kitab) ini, dan karena keutamaanNya, menempatkan kita dan mushannif di surga adn".

Syaikh Ali Bin Ahmad Bin Said Bashobirin menjadikannya kitab Busyra Al-Karim sebagai referensi utama dalam menyusun kitab ismidul ainain (إِثْمِدُ العينين). Karena pembahasan dalam kitab Busyra Al Karim hanya sebatas bab ubudiyyah saja, maka Syaikh Ali melengkapinya dengan menambahkan beberapa perkhilafan Syaikhain (Ibn Hajar dan Al-Ramli) dalam madzhab (Syafi'i) menggunakan metode serupa.  Selain itu, Syakikh Ali juga menambahkan prolog yg berisikaidah pemfatwaan dari pendapat-pendapat Syaikhain.

Dalam mempelajari kitab ismidul ainain, ada beberapa hal yang perlu diketahui:

Ketika Syaikh Ali menyampaikan dengan عند حج , maka secara otomatis Imam Ar Romli berbeda pendapat dalam hal itu, begitupun sebaliknya.
Ketika disampaikan dengan semisal قال (ف) نحو التحفة  maka tidak bisa difaham adanya perkhilafan atau kesamaan pendapat dalam masalah tersebut.
Pengertian rumus-rumus:
حج: Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami

م ر : Syaikh Muhammad Al-Ramli

ع ش: Syaikh Ali Syibramalisi

سم : Syaikh Ibnu Qasim

 ز ي: Syaikh Az Ziyadi

خط: Syaikh Al Khotib

ق ل : Syaikh Al Qulyubi

شيخنا : Syaikh Said Baasyan

الأسنى : Syarah Ar Roudl (Asnal Mathalib)

الشرح : Syarah Ibn Hajar (Minhajul Qowim)

الحاشية : Hasyiyah Ibnu Hajar 'alaManasikAl-Hajj karya Imam Nawawi

Pada setiap permasalahan yang menjadi perkhilafkan antara Imam Ibnu Hajar dan Imam Ar-Romli, maka yang didahulukan dalam penyebutan adalah pendapatnya Imam Ibnu Hajar, kecuali dalam permasalahan pertama. Hal ini tidak dimaksudkan untuk mengunggulkan (tarjih) atau mengutamakannya (tafdhil). Namun, semata karena khawatir terjadinya kekeliruan dalam penisbatan pada orang yang memiliki pendapat tersebut.

 

Pengajian Ramadhan 1441 H. di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah

Diampu oleh: KH. Habibul Huda Bin Najid