Oleh: Ust. Adib Khoironi

Masalah Kedelapan

Hewan yang diragukan apakah termasuk hewan yang darahnya mengalir atau tidak, apakah dilukai untuk mengetahuinya ?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar yang mengikuti pendapatnya Imam Haramain tidak dilukai[1], karena termasuk menyiksa, dan hewan tersebut dihukumi sebagai hewan yang tidak mengalir darahnya karena melihat hukum asli. Seperti halnya air yang tetap dihukumi suci ketika ragu atas kenajisannya[2].
  • Sedangkan menurut Imam Ar-Ramli yang mengikuti pendapatnya Imam Ghozali diperbolehkan melukai karena adanya hajat (keperluan)[3].

Syaikh Zakariya Al Ansori[4],Dan Khotib As Syirbini[5] dalam hal ini sepakat dengan Imam Ar-Ramli.

 

Masalah Kesembilan

Ketika ada air terkena najis yang di-ma’fu,(seperti bangkai hewan yang tidak mengalir darahnya), maka air tersebut tidak menjadi najis, baik air tersebut banyak (dua qullah atau lebih/>175liter) maupun sedikit. Syaratnya, air tersebut tidak berubah (sifat-sifatnya). Sedangkan ketika ada perubahan maka dihukumi najis. Namun, apabila perubahan yang ada pada air yang banyak telah hilang maka air tersebut kembali dihukumi suci-mensucikan. Dalam hal ini tidak ada perkhilafan. Begitu pula pada air sedikit yang perubahannya hilang dengan cara ditambahi air, sampai dua qullah atau lebih[6]. Sedangkan apabila perubahan yang ada pada air sedikit telah hilang, apakah air tersebut kembali suci ?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar kembali suci karena perkara yang menjadikan tidak dima’fut elah hilang[7].
  • Menurut imam Ar-Ramli tetap najis[8].

Dalam hal ini Syaikh Zakariya Al Ansori sepakat dengan Imam Ibnu Hajar[9].

Sedangkan Syaikh Khotib As Syirbini sepakat dengan Imam Ar Ramli[10].

 

Masalah Kesepuluh

Imam Ibnu Hajar dan Imam Ar-Ramli sepakat bahwa benda cair tidak menjadi najis apabila kejatuhan hewan yang darahnya tidak mengalir, baik nantinya menjadi mati didalamnya atau tidak. Mereka berdua juga sepakat bahwa benda cair menjadi najis ketika dijatuhi bangkai yang timbulnya tidak dari benda cair itu sendiri dan dijatuhi oleh orang yang sudah tamyiz[11]. Sedangkan beliau berdua berbeda pendapat ketika ada benda cair dijatuhi bangkai yang aslinya timbul dari barang cair itu sendiri (seperti ulat yang timbul dari air cuka).

  • Menurut Imam Ibnu Hajar tidak menjadi najis[12].
  • Sedangkan menurut Imam Ar-Ramli menjadi najis[13].

Dalam hal ini Imam Ibnu Hajar ikut dengan Imam Nawawi dari dhohirnya ibarot pada kitab Raudhah Al-Thalibin dan Majmu’. Sedangkan Imam Ar-Ramli ikut dengan pendapat ayahnya dan Syaikh Zakariya Al-Ansori[14].

Khatib Al-Syirbini dalam hal ini sepakat dengan Imam Ar-Ramli [15].

 

Masalah Kesebelas

Ketika ada benda cair dijatuhi bangkai oleh orang yang tidak tamyiz maka tidak menjadi najis ini menurut Khotib As-Syirbini atau dengan tanpa ada tujuan[16]. Sedangkan menurut Al-Bulqini, ketika dijatuhi menjadi najis secara mutlak. Menurut Imam Ar-Ramli menjadi najis sebab secara umumnya olehnya melakukan termasuk iktiyari[17]. Begitu juga menurut Imam Ibnu Hajar[18].

 

Masalah Keduabelas

Air banyak ketika tercampur najis tidak menjadi berubah menjadi najis selama bentuk dan sifatnya tidak berubah. Perubahan bentuk dan sifat hanya terlihat ketika najis dan air sifatnya berbeda. Sedangkan ketika najis dan air sifatnya sama, maka untuk mengetahui perubahan tersebut harusdengan cara mengira-ngiirakannya (rasa dikira-kirakan dengan cuka, warna dengan tinta dan  bau dengan minyak misik)[19].

Adapun air yang sedikit menjadi najis ketika tercampur dengan najis, walaupun tidak ada perubahan. Kemudian, apabila air sedikit yang terkena najis tersebut mencampuri air yang banyak, maka untuk mengkira-kirakan adanya perubahan harus dengan mempertimbangkan kadar najisnya saja. Gambarannya yaitu: ketika ada 1 liter air tercampur dengan 10 tetes najis, maka air ini dihukumi mutanajis. Lalu, jika air tersebut mencampuri air yang banyak, maka dalam hal ini, yang dibuat pertimbangan untuk mengira-ngirakan adanya perubahan adalah 10 tetes saja, tidak 1 liter.

Dalam permasalahan ini, Ibnu Hajar dan Ar-Ramli sepakat hukumnya seperti itu. Akan tetapi, ketika yang tercampur dengan najis adalah benda cair (selain air), kemudian benda cair inilah yang mencampuri air yang banyak, manakah yang dibuat kadar untuk mengkira-kirakan, najisnya saja ataukah najis + benda cair tadi ?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar semuanya (najis + benda cair) karena benda cair tersebut telah menjadi najis dan tidak bisa disucikan[20].
  • Menurut Imam Ar-Ramli hanya najisnya saja sebab benda cair tersebut bukanlah perkara najis (namun perkara yang terkena najis), walaupun tidak bisa disucikan[21].

 

Masalah Ketigabelas

Apabila ada seseorang mempunyai 2 air, yaitu air mutlak dan air mawar yang telah hilang sifat maka ketika ia ingin menggunakannya untuk bersuci, ia tidak harus berijtihad (menentukan pilihan salah satu untuk digunakan berwudhu) terlebih dahulu. Akan tetapi, ia harus berwudhu dengan keduanya[22]. Sedangkan apabila ia berijtihad dengan tujuan untuk diminum, apakah bagi dia boleh bersuci menggunakan yang ia sangka air dari ijtihadnya itu?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar tidak diperbolehkan.
  • Menurut Imam Ar-Ramli boleh[23].

Pendapat yang mengatakan diperbolehkan sebenarnya adalah pendapatnya Al-Mawardi yang diikuti oleh Imam Ar-Ramli serta dipilih oleh Syaikh Zakariya Al-Ansori[24].

Sedangkan Imam Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah Al-Muhtaj juga menyebutkan pendapatnya Imam Al-Mawardi. Hanya saja, beliau diam dan tidak berkomentar[25]. Beliau juga tidak mengatakan dengan tegas bahwa hal itu tidak diperbolehkan. Maka, sebenarnya dari mana Syaikh Ali Bin Ahmad Bashobirin mempunyai kesimpulan bahwa Imam Ibnu Hajar berpendapat tidak diperbolehkan. Waallahu a’lam bisshowab.

Imam Ibnu Hajar dan Imam Ar-Ramli sepakat apabila berijtihad dengan tujuan untuk bersuci tidak diperbolehkan.

 

Masalah Keempatbelas

Apabila ada seseorang yang mempunyai 2 air, yaitu air mutlak dan air najis. Kemudian ketika ia akan bersuci ia dituntut untuk menentukan pilihan; mana air yang ia anggap suci yang akan ia gunakan untuk bersuci (ijtihad), sementara waktu sholat hampir habis, manakah yang harus ia pilih, tetap melakukan ijtihad dengan konsekuensi waktu sholat habis ataukah tidak ijtihad supaya bisa tetap sholat dalam waktunya?

  • Menurut Imam Ibnu Hajar tidak ijtihad tapi tayamum lalu sholat dan nanti sholatnya diulangi[26].
  • Menurut Imam Ar-Ramli tetap ijtihad (menentukan pilihan dari 2 air tersebut untuk digunakan bersuci)[27].

Dalam hal ini Syaikh Zakariya Al-Ansori[28] dan Khatib As-Syirbini[29] sependapat dengan imam Ibnu Hajar.

 

Pengajian Ramadhan 1441 H. di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah

Diampu oleh: KH. Habibul Huda Bin Najid

 

[1]Tuhfah Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 385.

[2] I’anah Al-Tholibin juz: 1, hlm: 44.

[3] Nihayah Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 237.

[4] Ghuror Al-Bahiyah juz: 1, hlm: 102.

[5] Mugni Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 91.

[6] Fathul ‘aly hlm: 53.

[7] Fathul Jawad juz: 1, hlm: 25.

[8]Nihayah Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 237.

[9] Asna Al-Mathalib juz:1, hlm: 72.

[10]Mugni Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 92.

[11] Fathul ‘aly hlm: 48.

[12]Tuhfah Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 389.

[13]Nihayah Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 237.

[14]Fathul ‘aly hlm: 48.

[15] Bujayromi ‘ala al-khatib juz: 1, hlm: 292.

[16]Mugni Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 92.

[17]Nihayah Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 237.

[18]Tuhfah Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 388./I’anah Al-Tholibin juz: 1, hlm: 44.

[19] I’anah Al-Tholibin juz: 1, hlm: 31.

[20]Tuhfah Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 435.

[21] Fatawa al-ramli hlm: 14.

[22] Al-muhaddab hlm: 9.

[23]Nihayah Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 282.

[24]Asna Al-Mathalib juz:1, hlm: 120.

[25]Tuhfah Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 462.

[26]Tuhfah Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 440.

[27]Nihayah Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 263.

[28]Asna Al-Mathalib juz:1, hlm: 116.

[29]Mugni Al-Muhtaj juz: 1, hlm: 114.