Oleh: Ust. Shofi Habibi

Bab Af’al

Perilaku yang dikerjakan oleh sang pemilik syari’at, yakni Nabi SAW, dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu:

  1. Sebagai bentuk mendekatkan diri dan taat kepada Allah
  2. Tidaksebagai bentuk mendekatkan diri dan taat kepada Allah

 

Jika berbentuk mendekatkan diri dan taat maka dibagi menjadi dua, yaitu ada kalanya:

  • Ada dalil yang menunjukkan bahwa ke-khususan tersebut hanya boleh dilakukan oleh baginda nabi, maka hukumnya hanya boleh dilakukan oleh beliau saja, seperti mempunyai istri lebih dari empat.
  • Tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa ke-khususan tersebut hanya boleh dilakukan oleh baginda nabi, karena Allah ta’ala berfirman: لقد كان لكم في رسولله أسوة حسنة artinya: sesungguhnya telah ada untuk kamu semua dalam diri rasulullah suri tauladan, maka hukumnya adalah khilaf di antara ashhab syafi’i, sebagai berikut:

- Ada yang mengarahkan pada hukum wajib diikuti, karena untuk lebih berhati-hati.

- Ada yang mengatakan sunnah untuk diikuti, karena ini adalah yang paling diyakini setelah adanya perintah.

- Ada yang mengatakan hukumnya digantungkan, karena adanya pertentangan antara dalil wajib dan sunnah didalam amr.

 

Jika tidak berbentuk mendekatkan diri dan taat, (pekerjaan sehari-hari) maka hukumnya adalah mubah untuk kita ikuti, seperti cara makan dan minum beliau.

 

Iqror (penetapan) nabi SAW terhadap ucapan seseorang, hukumnya seperti ucapan beliau sendiri. Sama halnya dengan iqror (penetapan) nabi SAW terhadap perilaku seseorang, hukumnya juga sama seperti perilaku beliau sendiri. Oleh karena beliau adalah manusia yang ma’shum (terjaga dari dosa), maka sangat tidak mungkin jika beliau tetap diam saat ada kemungkaran dihadapan beliau. Contohnya seperti iqror nabi SAW terhadap ucapan Abu Bakar RA saat memberikan harta lucutan perang orang yang dibunuh kapada orang yang membunuh. Contoh lain adalah saat seorang sahabat, Khalid bin Walid RA memakan binatang dhab (sejenis biawak).

 

Adapun perbuatan yang dilakukan oleh seseorang di luar majlis nabi SAW saat beliau masih hidup, sementara beliau mengetahui dan tidak mengingkarinya, maka hukumnya sama seperti ketika hal tersebut dilakukan dimajlisnya nabi SAW. Seperti saat beliau mengetahui sumpah Abu Bakar bahwa ia tidak akan memakan makanan saatia marah, lalu sumpah itu dilanggar ketika ia tahu makan lebih bagus untuknya.

 

Pengajian Ramadhan 1441 H. di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah

Diampu oleh: KH. Habibul Huda Bin Najid