Oleh: Ust. Shofi Habibi

Hal-hal Yang Masuk dalam Perintah

  • Khitab dari Allah SWT ini mencakup segenap orang mukmin. Sedangkan bagi orang yang lupa, masih kecil dan orang gila tidak masuk dalam khitab karena mereka bukan termasuk orang yang terbebani syari’at (mukallaf). Akan tetapi, bagi orang yang lupa ketika sudah ingat kembali, wajib untuk melakukan perkara yang ia tinggalkan dan mengganti apa yang ia rusak.
  • Bagi orang-orang kafir, mereka juga terkena khitab untuk menjalankan syari’at dan perkara yang menjadikan sahnya syari’at, yakni harus beragama Islam dikarenakan adanya firman Allah yang berbunyi:

 مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَر, قَالُوا لَم نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ.

Artinya: apa yang menjadikanmu masuk kedalam neraka saqor, dan mereka (orang kafir) menjawab, kami tidak menjalankan sholat.

Faedah adanya khitob kepada orang kafir dari ayat di atas adalah agar mereka disiksa karena tidak menjalankan syari’at, yang mana syari’at tidak akan bisa sah jika mereka kerjakan dalam keadaan kafir. Sebab, keabsahan syari’at bergantung pada niat, sementara keabsahan niat bergantung pada Islam. Namun, ketika mereka masuk Islam, mereka tidak akan disiksa diakhirat, supaya untuk mendorong mereka segera masuk Islam.

  • Perintah untuk melakukan sesuatu itu berarti melarang untuk melakukan kebalikannya. Begitu juga, larangan untuk melakukan sesuatu itu berarti perintah untuk melakukan kebalikannya. Jadi, apabila dikatakan “diamlah” kepada seseorang, maka ini adalah larangan untuk bergerak, atau “jangan bergerak” maka ini adalah perintah untuk diam.

 

Nahi (Larangan)

Nahi adalah larangan untuk melakukan sesuatu dengan ucapan kepada orang yang lebih rendah kedudukannya, yang bersifat wajib.

 

Hukum-Hukum Yang Timbul dari Nahi (Larangan)

Bentuk larangan yang mutlaq ini menunjukkan ruskanya perkara yang dilarang / tidak adanya keabsahan menurut syari’at.

  • Larangan adakalanya yang berkaitan dengan ibadah. Dalam hal ini, kerusakan timbul dari ibadah itu sendiri, seperti sholat dan puasanya perempuan yang sedang haidl. Mungkin juga disebabkan oleh perkara lain yang tidak bisa terlepas dari ibadah tersebut, seperti puasa pada hari raya dan sholat pada waktu-waktu yang dimakruhkan.
  • Larangan juga ada yang berkaitan dengan mu’amalah (pekerjaan sehari-hari). Dalam larangan ini, boleh jadi kerusakan timbul dari bentuk akadnya, seperti dalam Bai’ul Hashot (jual beli barang yang terkena lemparan batu), mungkin juga dari perkara lain yang ada didalam akad seperti Bai’ul Malaqih (menjual janin hewan yang masih dalam kandungan), atau dari perkara di luar akad yang tidak bisa terlepas dari akad tersebut, seperti menjual satu uang dirham dengan dua uang dirham. Jika perkara lain tersebut masih bisa terlepas, maka hukum pekerjaan yang dilakukan tetap sah meskipun tetap ada hukum haram, seperti wudlu dengan air dari hasil ghashab, atau jual beli pada saat adzan jum’ah telah berkumandang.

 

Bentuk-bentuk Shighat Amr Yang Menunjukkan Makna Selain Amr

Terkadang ada lafadz yang shighat-nya berupa amr, tapi yang dimaksud adalah mubah, seperti contoh وإذا حللتم فاصطادوا.  artinya: jika kamu semua sudah tahallul dari ihram maka berburulah, atau menunjukkan makna tahdid (menakukut-nakuti) seperti contoh إعملوا ما شئتم artinya kerjakanlah sesukamu atau menunjukkan makna taswiyah (menyamakan) seperti contoh فاصبروا أو لا تصبروا artinya maka bersabarlah kalian atau tidak bersabar atau menunjukkan makna menciptakan seperti contoh كونوا قردة خاسئين artinya jadilah kalian kera yang hina.

 

Pengajian Ramadhan 1441 H. di PP. Fadllul Wahid Ngangkruk, Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah

Diampu oleh: KH. Habibul Huda Bin Najid