Oleh: Ust. A. N. Muzakka bin Sundoyo

Sekilas Tentang Zakat Fitrah

         Zakat dikelompokkan menjadi dua, yaitu zakat harta (mál) dan zakat fitrah, juga dinamakan zakat badan.  Zakat fitrah diwajibkan pada tahun kedua Hijriyyah, yang mana kewajiban tersebut telah disepakati oleh empat madzhab: Madzhab Hanafí, Madzhab Máliki, Madzhab Syáfi’í, dan Madzhab Hanbalí.

Ada Ulama yang mengatakan zakat fitrah tida kwajib, seperti Ibnul Labbán, pendapat ini jelas salah. Bahkan, orang yang mengatakan zakat fitrah tidak wajib bisa dikatakan murtad.[1]

          Termasuk keistimewaan zakat fitrah yaitu; zakat fitrah merupakan pembersih bagi orang puasa dari perkataan salah dan keji. Fadhilah lain yang tak kalah penting bagi para hamba Allah ialah mana kala pahala puasa Ramadlan akan digantungkan di antara langit dan bumi, kecuali apabila sudah mengeluarkan zakat fitrah.[2]         

A. Yang Wajib Mengeluarkan Zakat Fitrah:

Seseorang wajib mengeluarkan zakat fitrah apabila memenuhi 3 persyaratan:

  1. Islam;
  2. Menemui akhir Bulan Ramadan dan awal Bulan Syawwal;
  3. Mempunyai kelebihan harta untuk dirinya dan orang-orang yang wajib ia nafkahi pada hari ‘íd dan malam harinya.

Disamping wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri, juga wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk orang-orang yang wajib ia nafkahi asalkan Islam, seperti: istri, orang tua, dan anak (juga dipersyaratkan menemui akhir Bulan Romadlon dan awal Bulan Syawwal).[3]

  • Istri yang wajib dinafkahi:

Istri wajib dinafkahi ketika telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada suami. Adapun istri yang sedang mengalami ‘iddah ini dibagi menjadi 2:

  1. Apabila talaknya raj’i (talak 1 atau 2), dan talak báin (talak 3) sedangkan istri dalam keadaan hamil: maka wajib diberi nafkah selama masa iddah
  2. Apabila talaknya báin sedangkan istri tidak hamil, dan istri yang ditinggal mati suami (meskipun hamil): maka hak istri yang wajib diberikan adalah sebatas bertempat tinggal (fasilitas) selama masa iddah[4]
  • Orang tua yang wajib dinafkahi:

Seorang anak wajib menafkahi orang tuanya apabila memiliki kelebihan, dan orang tuanya tidak mampu mencukupi kebutuhannya sendiri meskipun mampu untuk bekerja.[5]

  • Anak yang wajib dinafkahi:

Orang tua wajib memberi nafkah pada anaknya apabila ia memiliki kelebihan untuk dirinya sendiri beserta istrinya. Sementara sang anak tidak mampu mencukupi kebutuhannya, dan tidak mampu untuk bekerja.

Apabila sebenarnya sang anak mampu untuk bekerja, hanya saja tersibukkan dengan ilmu syara’ (semisal: mondok), dan bisa diharapkan keberhasilannya, maka menurut sebagian ulama’ orang tua tetap wajib memberinya nafkah (tidak boleh dituntut untuk bekerja).[6]

 

B. Pelaksanaan Zakat Fitrah:

Dalam pelaksanaan zakat fitrah, ada 2 syarat sebagai berikut:

1. Adanya niat, seperti:

  • Ketika untuk diri sendiri:

هَذِهِ زَكَاةُ مَالِيْ

Artinya: “Ini zakat hartaku”.

هَذِهِ فَرْضُ صَدَقَةِ مَالِيْ

Artinya: “Ini kewajiban shodaqoh hartaku”.

 

  • Ketika untuk orang tua:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ اْلفِطْرِ عَنْ أَبِيْ

Artinya: “Saya niat mengeluarkan zakat fitrah atas nama ayahku”.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ اْلفِطْرِ عَنْ أُمِّيْ

Artinya: “Saya nia tmengeluarkan zakat fitrah atas nama ibuku”.

 

  • Ketika untuk anak:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ اْلفِطْرِ عَنْ وَلَدِيْ الصَّغِيْرِ

Artinya: “Saya niat mengeluarkan zakat fitrah atas nama anakku yang masih kecil”.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ وَلَدِيْ اْلكَبِيْرِ

Artinya: “Saya niat mengeluarkan zakat fitrah atas nama anakku yang sudah dewasa”.

 

Atas nama orang yang wajib dinafkahi:

    Apabila mengeluarkan zakat fitrah atas nama orang-orang yang wajib dinafkahi, seperti: istri, orang tua, dan anak (dengan ketentuan diatas), maka tidak dipersyaratkan izin terlebih dahulu.

Atas nama orang yang tidak wajib dinafkahi:

    Apabila mengeluarkan zakat fitrah atas nama orang-orang yang tidak wajib dinafkahi, seperti: anak yang sudah baligh (dengan ketentuan diatas), maka harus izin terlebih dahulu. (apabila tidak izin terlebih dahulu, maka zakat tersebut tidak sah).

Waktu niat:

    Waktu untuk melangsungkan niat yaitu ketika menyerahkan zakat fitrah pada mustahiq atau wakil, atau menyerahkan (mewakilkan) niatnya pada wakil. Diperbolehkanjuga mendahulukan niat sebelum menyerahkan pada mustahiq atau wakil, dengan syarat: telah dibedakan antara harta yang akan dizakatkan dari hartanya yang lain.

 

2. Diberikan pada mustahiq (orang yang berhak menerima zakat).

Orang yang berhak menerima zakat ituada 8 golongan:1. Fakir. 2. Miskin. 3. Amil. 4. Muallaf. 5. Budak. 6. Orang yang hutang. 7. Sabilillah. 8. Ibnussabil.[7]

Kalau kita melihat realita yang ada saat ini, sebagian dari 8 tersebut ada yang sudah tidak berlaku, seperti: Budak.

Panitia zakat:

    Secara terminologi ilmu fiqh, amil zakat ialah orang-orang yang diangkat oleh hakim (Negara) untuk mengambil zakat dari orang-orang yang wajib membayar dan menyerahkan pada mustahiq. Oleh karenaitu, apabila yang mengangkat tidak hakim, maka panitia zakat tidak bisa dikatakan sebagai amil. Apabila tidak amil, maka tidak boleh menerima zakat atas nama amil, kecuali apabila panitia tersebut termasuk kategori fakir, atau miskin, ataupun yang lainnya (yang termasuk ashnáf). Dengan demikian, ia boleh menerima zakat.[8]

Kyai, guru ngaji, atau semisalnya:

    Menurut kesepakatan empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali), definisi sabilillah adalah orang yang berperang untuk menegakkan kalimah Allah. Oleh karena itu, kyai, guru ngaji, masjid, dan semisalnya ini tidak bisa dikategorikan dalam sabilillah (ataupun atas nama sabililkhoir).  Jadi, mereka tidak boleh menerima zakat atasn ama sabilillah (ataupun atas nama sabililkhoir), kecuali apabila orang-orang tersebut termasuk kategori fakir, miskin, atau ashnáf yang lain, maka boleh menerima zakat.[9]

 

C. Waktu Pembayaran Zakat Fitrah:

    Waktu pembayaran zakat fitrah diklasifikasi menjadi 5, yaitu:

  1. Waktu wajib: ketika sudah menemui akhir Bulan Ramadlan dan awal Bulan Syawwal hingga fajar hari 'íd.
  2. Waktu fadhilah/sunnah: pada hari ‘íd setelah munculnya fajar hingga saat sholat ‘íd, dan yang lebih utama setela hmelakukan sholat subuh.
  3. Waktu jawaz/mubah: dimulai dari awal Bulan Ramadlan hingga akhir Bulan Ramadlan.
  4. Waktu makruh: membayarkan zakat fitrah setelah sholat ‘íd sampai terbenamnya matahari, kecuali adanya maslahat, seperti: menunggu kerabat atau orang fakir yang shálih.
  5. Waktu haram: mengakhirkan zakat fitrah setelah hari ‘íd, kecuali apabila ada udzur, maka boleh diakhirkan. Namun, zakat fitrahnya dikatakan sebagai qadha, meskipun tanpa dosa, seperti ketika mustahiq zakat tidak ada saat ia ingin membayarkan zakatnya.[10]

D. Ukuran Zakat Fitrah:

Besaran zakat fitrah yang harus dibayarkan adalah 1 sha’ (satuan ukuran takaran) makanan pokok. Sehingga, para ulama berbeda pendapat saat ukuran tersebut dikonversi menjadi ukuran berat. Ada yang berpendapat bahwa, ukurannya sekitar 2,4 kg beras sampai sekitar 2,75 kg beras. Maka dari itu, demi kehati-hatian dalam pembayaran zakat fitrah, sebaiknya mengeluarkan 2,8 kg.[11]

Zakat fitrah menggunakan uang:

Dalam madzhab Syáfi’i, tidak diperbolehkan pembayaran zakat fitrah dalam bentuk uang. Untuk itu, solusinya adalah mengikuti ulama madzhab lain, seperti: madzhab Hanafi yang memperbolehkan pembayaran zakat fitrah menggunakan uang. Sedangkan ukurannya, apabila mengikuti madzhab Hanafi, yaitu 1 sho’ (3.8 kg) kurma, anggur dan gandum sya’ir atau 0,5 sha’ gandum khinthah.

Adapun persyaratan nishab (kepemilikan pada suatu harta) pada Madzhab Hanafi ini tidak bisa mencegah talfiq didalam taqlid.[12]

 

 

 

 

 

[1]Syarah Al-YáqútunNafís, hal: 282, cet: DárulMinháj.|FathulMu’ín, hal: 102, cet: DárulKutub Al-Islámiyyah.| Al-MízánulKubro, juz: 2/ hal: 10, cet: Al-Hidáyah.| I’ánatuthThálibín, juz: 2/ hal: 167, cetAl-Hidáyah.| Is’ádurRofíq, hal: 52, cet: Al-Haromain.

[2]FathulMu’ín, hal: 102, cet: DárulKutub Al-Islámiyyah.|Syarah Al-YáqútunNafís, hal: 283, cet: DárulMinháj.

[3]Al-YáqútunNafís, hal: 62-63, cet: Al-Hidáyah.|At-Taqrírat As-Sadídah, hal: 419, cet: Dárul ‘Ulúm Al-Islámiyyah.| NailurRojá, hal: 261, cet: DárulMinháj.

[4]Al-YáqútunNafÍs, hal: 170-171, cet: Al-Hidáyah.|FathulMu’ín, hal: 243, cet: DárulKutub Al-Islámiyyah.

[5]Al-YáqútunNafís, hal: 172, cet: Al-Hidáyah.

[6]Al-YáqútunNafís, hal: 172, cet: Al-Hidáyah.

[7]FathulMu’ín, hal: 104-106, cet: DárulKutub Al-Islámiyyah.|At-Taqrírát As-Sadídah, hal: 420-421, cet: Dárul ‘Ulúm Al-Islámiyyah.| Al-YáqútunNafís, hal: 63, cet: Al-Hidáyah.

[8]At-Taqrírát As-Sadídah, hal: 424, cet: Dárul ‘Ulúm Al-Islámiyyah.|Syarah Al-YáqútunNafís, hal: 288-289, cet: DárulMinháj.

[9]Syarah Al-YáqútunNafís, hal: 290, cet: DárulMinháj.

[10]At-Taqrírat As-Sadídah, hal: 418, cet: Dárul ‘Ulúm Al-Islámiyyah.

[11]Al-Makáyíl Wal Mawázín As-Syar’iyyah, hal: 37.

[12]Syarah Al-YáqútunNafís, hal: 283-284, cet: DárulMinháj.|Al-Makáyíl Wal Mawázín As-Syar’iyyah, hal: 37.| Mausú’ah Al-‘Allámah Al-Muhaddits . . . Al-Qhumári, juz: 16/ hal: 305, cet: DárusSalám.| Al-MízánulKubro, juz: 2/ hal: 11, cet: Al-Hidáyah.